Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
48. Selamat Tinggal


__ADS_3

Tidak akan ada kelucuan di episode kali ini. Harap siapkan tisu, takutnya Anda semua terkejut 😢


...****************...


"Jangan tinggalin aku Naufal, aku mohon. Kamu sudah janji tidak akan meninggalkan aku" teriak Raisa histeris dan terus menangis sambil memeluk tubuh suaminya.


Orang yang menabrak Naufal langsung pergi begitu saja. Para warga sekitar sudah berusaha mengejar. Namun, mereka kehilangan mobil itu.


Raisa meminta tolong kepada orang-orang yang sedang berkerumun, untuk membantunya mengantarkan Naufal segera ke rumah sakit.


Dengan sigap, mereka segera membantu Raisa untuk mengangkat Naufal kedalam mobil, milik salah satu warga yang membantu.


Sesampainya di rumah sakit, Naufal langsung dibawa ke ruangan ICU, dengan Raisa yang terus menemani.


Saat sampai di depan pintu, Raisa disuruh untuk menunggu diluar selagi Dokter memeriksa keadaan Naufal.


Raisa yang sedang mengandung saat ini, hanya bisa terduduk lemas. Bajunya yang sudah bersimbah darah tidak dipedulikannya lagi. Pikirannya saat ini hanya satu, ia ingin Naufal selamat.


Untung saja, salah satu warga yang mengantarkan Raisa dan Naufal ke rumah sakit tadi sangat baik. Ia memberikan baju milik anaknya kepada Raisa, karena baju Raisa kini penuh dengan darah.


Setelah mengucapkan terima kasih, Raisa langsung mengganti bajunya. Kemudian, kembali menunggu Dokter selesai memeriksa keadaan Naufal.


Tidak lama kemudian, Dokter keluar dari ruangan. Raisa langsung berdiri dari duduknya, ingin mengetahui kondisi suaminya.


"Mohon maaf, apakah Anda keluarga dari saudara Naufal?"


"Betul, Pak. Saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya?"


"Pasien sekarang dalam keadaan koma. Benturan yang cukup keras, membuatnya harus segera di operasi secepatnya" kata sang Dokter.


"Iya, Dok. Lakukan apapun yang penting suami saya bisa selamat"


"Baik. Kalau begitu silahkan Ibu membayar administrasinya terlebih dahulu. Setelah itu, akan kami jadwalkan operasinya"


"Baik, Dok"


Disepanjang koridor rumah sakit menuju ke ruang administrasi, Raisa terus menerus berdoa agar Naufal selamat dan baik-baik saja.

__ADS_1


Saat sudah sampai, Raisa segera mengisi semua data-data yang diperlukan. Lalu mereka menyebutkan nominal yang harus dibayar untuk operasi dan juga ruang inapnya.


Karena kebetulan saat itu mereka berada di rumah sakit swasta, harga yang harus dibayar Raisa sangatlah besar.


Bagaimana ini? Gaji aku dan Naufal ngga cukup untuk membayar biaya operasi dan ruangan inap. Apa aku pakai saja semua tabungan kami berdua ya? Iya, nggak ada cara lain lagi. Naufal bilang kalau kita nggak boleh nyusahin orang tua apalagi membuat mereka khawatir. Jadi, sebaiknya aku gunakan uang tabungan saja. Sepetinya akan cukup. Batin Raisa.


Raisa meminta izin untuk mengambil uang terlebih dahulu, agar bisa membayar semua biayanya.


Dengan sangat terpaksa, ia harus mengambil semua uang tabungan yang telah mereka kumpulkan selama ini. Padahal uang itu akan digunakan untuk biaya persalinan Raisa, kuliah Raisa dan juga Naufal. Namun apa daya, musibah tidak ada yang tahu.


Raisa langsung mengambil semua saldo tabungan mereka, tanpa sisa sedikit pun. Ia kembali ke ruang administrasi dan langsung membayar lunas semuanya.


Raisa menghampiri Naufal yang sedang terbaring koma. Air matanya kembali jatuh, melihat orang yang sangat dicintainya terbaring lemah.


Digenggamnya tangan Naufal begitu erat, dengan isak tangisnya yang tidak bisa berhenti. Rasa laparnya yang sejak tadi muncul, tiba-tiba menghilang setelah melihat keadaan Naufal.


......................


Tiba-tiba alat monitor berbunyi, membuat Raisa menoleh. Ia terkejut melihat layar di monitor yang sudah menunjukkan garis hampir lurus, menandakan detak jantung Naufal sudah hampir tidak berdetak lagi.


Dengan cepat, Raisa langsung memanggil Dokter dan Perawat untuk memeriksa kondisi Naufal. Namun, Tuhan berkehendak lain, saat ia balik ke ruangan itu bersama dengan Dokter dan Perawat, nyawa Naufal sudah tidak tertolong lagi. Garis yang ada di monitor sudah lurus sempurna.


Raisa menjerit begitu keras, ia tidak percaya Naufal pergi meninggalkannya begitu cepat.


"Beb, jangan tinggalin aku. Ingat anak kamu beb. Aku mohon jangan tinggalin aku kayak gini. Aku nggak bisa membesarkan anak kita tanpa kamu, beb. Jangan tinggalin aku"


......................


Raisa terbangun dari mimpi buruknya. Wajahnya basah dengan air mata, karena mimpi itu. Ia menoleh kesebelahnya, dan melihat Naufal yang masih dalam keadaan koma. Ternyata ia tadi tertidur saat menggenggam tangan Naufal.


Perasaan Raisa semakin ketakutan saat ini, karena mimpinya barusan itu. Ia takut mimpinya menjadi kenyataan. Sepanjang hari ia terus mendoakan keselamatan Naufal, hingga ia tidak sadar dari siang ia belum makan sama sekali.


"Maafin Mama ya, Nak. Mama sampai lupa kasih kamu makan. Mama akan beli makanan yang sehat untuk kamu. Tunggu ya sayang" kata Raisa, sambil mengusap perutnya.


Raisa memutuskan untuk memesan makanan secara online karena tidak ingin meninggalkan Naufal sendirian. Ia takut, saat ia meninggalkan Naufal, kejadian yang di mimpinya akan terjadi.


Sepanjang hari Raisa terus berdoa, sholat, dan mengaji untuk terus mendoakan Naufal. Sifatnya yang periang seakan telah sirna, melihat kondisi suaminya. 2 hari yang harusnya mereka lakukan untuk berlibur, terpaksa batal karena kondisi Naufal yang sedang kritis.

__ADS_1


Beruntung, besok pagi jadwal operasi Naufal akan dilaksanakan.


Malam harinya, Mama Siva menghubungi Raisa. Raisa bingung harus mengangkatnya atau tidak. Tetapi, karena Mama Siva terus-terusan menelepon akhirnya Raisa mengangkatnya.


Halo, Assalamualaikum, Ma. Ucap Raisa, mencoba terdengar gembira.


*Waalaikumsalam. Raisa, kenapa dari tadi Mama telepon nggak diangkat?


Hehe maaf, Ma. Aku dan Naufal ketiduran*. Kata Raisa, berbohong.


Kenapa cepat banget tidur? Habis berhubungan ya? tebak Mama Siva.


Mama tahu aja deh.


Oh iya, dimana Naufal? Mama mau bicara. Akhir-akhir ini, Mama lagi rindu banget sama dia.


Raisa panik saat Mama Siva ingin berbicara dengan Naufal. Ia mencoba mencari alasan agar bisa mengakhiri telepon.


*Eh maaf Ma. Naufal lagi tidur nih, hp aku juga udah mau mati karena lobet. Hp Naufal juga. Nanti telepon lagi ya, Ma.


Ih kalian jahat banget. Bilang aja kalau nggak mau diganggu kegiatan malamnya. Hati-hati ya, kamu kan lagi hamil.


Iya, Ma. Itu pasti. Sudah dulu ya. Assalamualaikum.


Walaikumsalam*.


Raisa langsung mematikan sambungan telepon dan menghembuskan napas lega.


Untung saja Mama nggak ngotot minta bicara. Maafin aku, Mamer, Pamer, aku tidak bisa mengatakan Naufal sedang kritis karena permintaan Naufal sendiri sebelumnya. Aku harap kalian mengerti. Gumam Raisa.


"Cepat sembuh, beb. Aku dan dede bayi sangat merindukan kamu"


...****************...


Ada yang ngira tadi Naufal meninggal beneran? Maafkan author ya 😂


Dede Naufal dan Raisa harus tetap bersama, biar keseruan mereka selalu ada. Apalagi mau ada dede bayi. Lengkap sudah kebahagiaan mereka 😍

__ADS_1


Ikuti terus ceritanya ya, jangan pernah bosan dengan cerita author 😊


Terima kasih.


__ADS_2