
Semua pegawai berkumpul melingkari mereka berempat dan malah menertawai bahkan menyemangati Naufal dan Kevin yang menjadi korban keganasan Raisa dan Lia.
Aksi jambak menjabak mereka terhenti saat Papa Tio muncul. Papa Tio terkejut melihat kondisi mereka berempat yang sudah acak-acakan tidak beraturan.
"Ke ruangan saya sekarang juga! Memalukan" bentak Papa Tio.
Naufal, Raisa, Kevin, dan Lia menundukkan kepalanya karena malu dilihat oleh banyak orang. Sebelum ke ruangan Papa Tio, Naufal terlihat merapikan rambut dan pakaian Raisa yang sudah acak-acakan.
"Kamu nggak apa-apa beb? Dede bayinya gimana?" ucap Naufal sangat pelan.
"Nggak apa-apa kok beb. Dia sih duluan cari gara-gara" kata Raisa, menatap sinis Lia.
Lia balik menatap sinis Raisa, seakan penuh dendam.
"Udah jangan tatap dia lagi, entar ribut lagi loh. Kasihan dede bayinya nanti beb" ujar Naufal.
Mereka berempat menuju ke ruangan Papa Tio. Di dalam ruangan itu, suasana mulai mencekam. Papa Tio menatap keempatnya begitu menyeramkan.
"Kenapa kalian berempat bisa berkelahi?" tanya Papa Tio.
"Dia duluan mau nampar aku, Pak" kata Raisa, menunjuk Lia.
"Kamunya aja yang cari masalah" balas Lia.
"Loh, kan kamu duluan yang cari masalah sama aku. Dasar pelakor".
Lia yang tidak suka saat dibilang pelakor, ingin memukul Raisa kembali namun ditahan oleh Kevin.
"Nah ini Pak ini, dia mau mukul loh. Padahal kalau bukan pelakor mah jangan marah, dianya marah. Berarti benar dong, elo itu pelakor" ucap Raisa penuh penekanan.
"Eh sudah-sudah jangan lagi bertengkar" bentak Papa Tio.
"Kamu anak magang, berapa lama lagi disini?" tanya Papa Tio.
"2 bulan lagi, Pak" kata Lia.
"Sebulan lagi kamu keluar dari perusahaan ini".
"Tapi Pak, dari sekolah saya kan bilangnya 3 bulan".
"Saya hanya mengizinkan kamu 2 bulan atau kamu keluar sekarang juga dari perusahaan ini. Kamu itu masih SMA masih magang, berani-berani cari perkara disini. Pokoknya keputusan tidak bisa diganggu gugat. Dan kamu Kevin.." tegas Papa Tio.
"Eh iya, saya Pak?".
"Kamu kenapa bisa ikut jambak-jambakan sama mereka dan bukan melerai hah? Kamu juga Naufal" bentak Papa Tio lagi.
__ADS_1
"Saya mau melerai Pak, tapi malah ikut kejambak. Mereka berdua bringas banget" ucap Naufal.
"Iya sama saya juga, Pak" tambah Kevin.
Papa Tio terlihat menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kevin dan Lia, keluar dari ruangan saya sekarang juga. Saya mau bicara dengan Naufal dan Raisa".
"Baik, Pak" ucap Kevin dan Lia bersamaan.
Sebelum keluar dari ruangan, Kevin sempat mendekat ke arah Naufal dan berbisik pelan.
"Rasain lo" kata Kevin tersenyum menyeringai.
Naufal hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Kevin.
Dasar bodoh. Dia nggak tahu aja, kalau Bos disini adalah papa aku. Batin Naufal.
Setelah Lia dan Kevin keluar, ekspresi wajah Papa Tio yang tadinya menyeramkan dan tegas kini berubah menjadi lembut dan penuh khawatir.
"Ya ampun Raisa, kamu nggak apa-apa? Kenapa pakai acara jambak-jambakan segala? Nanti kamu sama bayi kamu kenapa-kenapa gimana?".
"Papa bisa berubah gitu ya ekspresinya hehe. Aku nggak apa-apa kok, Pa. Bayinya juga nggak apa-apa. Kami berdua mah sama-sama kuat" ujar Raisa.
"Tapi tetap aja Papa khawatir. Kamu juga Naufal, bukannya misahin istri kamu biar nggak berkelahi, malah jadi ikut-ikutan".
"Ah.. Kamu mah lebay. Mama kamu aja kalau marah bisa Papa bujuk".
"Itu mah beda, Pa. Coba aja kalau dulu Papa lihat Mama bertengkar sama Tante Intan, kayak perang dunia ketiga".
"Eh udah dong. Kenapa jadi malah curhatan para suami ini? Aku kan sebagai istri jadi terintimidasi disini" kata Raisa.
"Hehe maaf beb" ucap Naufal, sambil cengengesan.
"Oh iya, kalian berdua jadi pergi ke Surabaya kan?".
"Iya, Pa" angguk Raisa.
"Bagus. Papa sudah siapin hotel terbaik untuk kalian disana. Dan juga kalian akan menginap 4 hari 3 malam. Bagus kan?".
"Bagus banget, Pa. Aku memang rencananya mau sambil honeymoon dengan bebeb Naufal, iya kan beb?".
"Aduh romantis banget ya istrinya bebeb Naufal ini" goda Papa Tio.
"Apaan sih, Pa" kata Naufal yang sedikit malu.
__ADS_1
"Beb, kamu mau kan? Aku tanya nih" kesal Raisa.
"Iya mau kok".
"Yeaay. Dia mau, Pa. Makasih ya".
"Iya sama-sama".
"Kalau gitu, kami pamit dulu ya, Pa. Makasih udah kasih tiket pesawat dan hotel untuk kami berdua" ucap Naufal.
"Sama-sama Nak".
Raisa dan Naufal keluar dari ruangan Papa Tio dengan tersenyum bahagia. Melihat hal itu, membuat Kevin dan Lia kembali emosi.
"Lihat tuh beb, dua iblis lagi panas tuh karena ngeliat kita senang. Memang dasar ya, cocok banget tuh mereka berdua" ucap Raisa.
"Iya, biarin aja mereka beb".
Mereka pun kembali bekerja tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Lia dan Kevin.
.
.
.
Malam hari sebelum keberangkatan, Raisa terlihat mulai mengemas barang-barang yang ingin dibawa mereka untuk bekerja sekaligus berlibur di Surabaya nanti.
Saat sedang asyik mengemas barang, Naufal masuk kedalam kamar dan terkejut melihat barang bawaan Raisa.
"Beb, kamu mau pindahan rumah?" tanya Naufal.
"Nggak kok. Kenapa memangnya? Banyak banget ya bawaan aku?".
"Ya iyalah. 2 koper, 1 tas, sama tas jinjing itu bukannya kebanyakan? Aku aja cuma bawa 1 koper kecil beb. Kita cuma 4 hari disana, hari ke 4 pun kita udah pulang. Nggak usah bawa sebanyak ini" ucap Naufal.
"Tapi aku butuh semuanya beb. Gimana dong?".
"Pokoknya buat jadi satu koper aja. Kalau masih nggak cukup, tambah 1 tas yang kecil aja. Jangan banyak bawaan. Nanti kita over bagasi lagi".
"Iya deh iya. Nggak ngerti kondisi perempuan banget sih" kesal Raisa.
Mendengar hal itu, membuat Naufal mencoba mendekati Raisa dan berjongkok dihadapannya, sambil menggenggam tangan istrinya itu.
"Beb, kamu jangan marah ya. Mungkin kamu berpikir saat ini aku sangat pelit dan penuh perhitungan, apalagi hanya persoalan over bagasi. Tapi aku melakukan ini demi kebaikan kita berdua. Aku lagi ngumpulin uang, biar nanti anak kita bisa hidup berkecukupan, kamu bisa melahirkan di rumah sakit yang bagus, anak kita nantinya bisa sekolah ditempat yang bagus. Intinya aku mau yang terbaik untuk anak kita nanti beb. Kamu tahu kan, aku nggak suka minta uang ke orang tua. Menurut aku, disaat aku sudah mempunyai keluarga sendiri, itu berarti orang tua tidak bisa ikut campur dengan urusan aku maupun keuangan aku. Dan Papa juga ngajarin aku untuk bertanggung jawab, karena sekarang akan ada 2 orang yang harus aku nafkahi bukan hanya satu orang saja. Kamu bisa mengerti kan beb?".
__ADS_1
Naufal memberikan penjelasan panjang lebar, agar Raisa bisa mengerti dan tidak marah. Ia tahu, Raisa pasti marah juga karena kondisinya yang saat ini tengah hamil.
Raisa mengangguk mengerti. Kini ia sadar, apa yang dikatakan Naufal ada benarnya. Harusnya ia bisa berpikir seperti yang dipikirkan Naufal. Ia bahagia melihat suaminya yang sangat dewasa melebihi dirinya. Memang, umur tidak bisa menjadi patokan untuk seseorang bisa menjadi dewasa.