Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
52. Pulang


__ADS_3

Para suster menertawai hal itu, sedangkan Raisa dan Naufal hanya bisa menyembunyikan wajah mereka karena malu.


Keesokan harinya, saat Raisa baru saja selesai membantu Naufal untuk memakai baju, ia mendapat satu pesan masuk dari Dani.


Dani mengatakan akan berkunjung ke rumah sakit bersama adiknya, untuk meminta maaf kepada Naufal serta akan bertanggung jawab atas kecelakaan itu.


Tentu saja melihat hal itu membuat Raisa senang. Bagaimana tidak, uang tabungan mereka habis tak tersisa untuk biaya inap dan operasi Naufal, jadi Raisa merasa bersyukur saat Dani dan adiknya ingin bertanggung jawa atas kecelakaan itu.


Raisa langsung mengirimkan alamat rumah sakit serta nomor kamar ruangan Naufal dirawat saat ini.


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar ketukan pintu dari arah luar kamar. Saat Raisa membukanya, ternyata itu adalah Dani bersama adiknya.


Mereka datang meminta maaf, mengganti seluruh biaya rumah sakit serta membawakan banyak macam makanan, yang membuat Raisa menjadi ngiler.


"Maaf ya, Naufal. Gue nggak tahu adik gue ternyata yang nabrak lo" kata Dani.


"Udah santai aja, yang penting gue masih selamat. Kalau nggak, bukan gue lagi yang marah, tapi dia tuh" tunjuk Naufal ke arah Raisa yang sedang menatap makanan yang dibawakan Dani.


"Iya ya. Gue lebih baik lo pukulin daripada lihat istri lo marah. Nakutin banget"


Naufal dan Dani tertawa , membuat orang yang sedang diceritakan terlihat bingung.


"Lagi ceritain apa sih?" tanya Raisa.


"Nggak kok, bukan apa-apa" jawab Naufal.


"Awas aja kalau lagi ceritain aku" kata Raisa, dengan tatapan membunuhnya.


"Gue sama adik gue pulang dulu ya. Maaf ya nggak bisa lama-lama, soalnya istri lo benar-benar menakutkan, Fal" bisik Dani.


"Permisi ya Raisa, mohon maaf sudah menyebabkan masalah. Fal, gue cabut dulu ya. Permisi" pamit Dani.


"Kok dia cepat pulang sih? Berantem lagi sama kamu ya beb?" tanya Raisa.


"Nggak kok"


"Terus?"


"Dia bilang dia takut liat kamu, soalnya menakutkan" kata Naufal dengan jujur.


"Kurang ajar dia. Mau cari masalah ya"


Raisa hendak menyusul Dani, namun ditahan oleh Naufal.


"Nggak usah marah-marah dong. Nanti dede bayinya sedih lihat Mamanya marah-marah mulu"


"Oh iya ya. Maafin Mama ya sayang. Soalnya Papa kamu dan temannya nyebelin" kata Raisa, sambil mengusap perutnya.


"Kok jadi aku yang salah?"

__ADS_1


"Iya kalian berdua sama-sama ngeselin"


"Jangan marah lagi, nanti aku nggak bisa sembuh loh kalau dimarahin terus"


Naufal mencoba memasang wajah sedihnya, agar bisa dikasihani Raisa.


Dan benar saja, tidak lama kemudian Raisa langsung luluh dan tidak jadi marah lagi.


"Ululu iya beb, aku maafin. Cepat sembuh ya" kata Raisa, sambil memegang kedua pipi Naufal.


Entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka sudah saling menempel dan mulai saling mengulum satu sama lain.


Lama kelamaan adegan mulai semakin panas. Naufal mulai menurunkan ciumannya ke leher Raisa, membuat Raisa mengerang nikmat.


Naufal mendorong bahu Raisa hingga tertidur di atas ranjang, sedangkan Naufal di posisi berada menidih tubuh Raisa.


Dengan perlahan-lahan karena tangannya yang sedang diinfus, Naufal mengelus tubuh Raisa dari balik baju yang masih dikenakannya.


Setelah selesai pemanasan, mereka akan mulai memasuki adegan inti. Namun, belum sempat ke adegan inti, lagi dan lagi untuk kesekian kalinya, Dokter masuk kedalam ruangan mereka, membuat Raisa dan Naufal sangat terkejut.


"Dok, tolong periksa suami saya. Kalau boleh izinin dia pulang secepatnya. Saya sudah geregetan ini terciduk 3 kali" jengkel Raisa.


"Ya mohon Pak, Bu. Ini kan rumah sakit, bukan hotel" kata Dokter.


Raisa dan Naufal terdiam, karena apa yang dikatakan Dokter ada benarnya juga.


"Beb, cepat sembuh ya. Biar kita ke hotel habis dari sini" ucap Raisa.


.


.


.


Naufal akhirnya sudah bisa diizinkan pulang oleh dokter. Perban operasinya sudah agak mengering dari sebelumnya, sehingga ia diperbolehkan pulang.


Keduanya memutuskan segera langsung pulang ke Jakarta, karena merasa sudah terlalu lama absen sekolah dan juga kerja.


Raisa sangat bersemangat saat tiba di Jakarta. Pasalnya, ia sangat merindukan rumah.


Hal yang pertama kali dilakukan Raisa saat tiba di rumah adalah tiduran di kamar mereka.


Walaupun kasur hotel jauh lebih empuk daripada kasur mereka, tapi itulah ciri khasnya yang membuat Raisa menjadi rindu.


"Beb, aku beneran rindu banget sama rumah kita ini. Pokoknya nggak ada yang ngalahin deh" ucap Raisa.


"Iya dong, rumah memang tempat yang paling nyaman" kata Naufal.


"Kayak aku yang bikin nyaman hati kamu. Iya kan?"

__ADS_1


"Iya, beb" ucap Naufal, gemas.


"Besok kita periksa kandungan kamu ya, aku nggak sabar pengen lihat debay" lanjut Naufal.


"Iya, beb. Aku juga sudah penasaran pengen lihat perkembangan bayi kita"


"Kamu mau makan apa, beb? Nanti aku masakin"


"Nggak usah kita pesan makanan aja. Kamu kan belum lama keluar dari rumah sakit. Kita juga kan sudah dapat uang dari Dani karena ganti rugi, jadi sekali-kali boleh lah beli makanan, oke beb?"


"Ya sudah kalau begitu. Sekali-kali debay dan bumil harus makan yang enak"


"Nah benar banget, itu baru suami aku yang sangat perhatian" kata Raisa, kemudian mengecup pipi Naufal.


Naufal segera memesan makanan, sesuai yang diinginkan Raisa. Setelah makanan datang, mereka baru sadar ternyata makanan yang mereka pesan terlalu banyak untuk berdua.


"Beb, kamu yakin dari tadi request kamu sebanyak ini? Aku nggak sadar loh" kaget Naufal, melihat makanan yang berjejer di meja.


"Yakin dong. Aku sih bisa makan sebanyak ini. Asal kalau aku gendut kamu nggak cari yang lain aja, beb"


"Ya, enggak lah. Kamu mau gendut atau kurus tetap cantik di mata aku"


"Biasanya yang gombal gini, ada niatan untuk main sih. Awas aja beb, kalau kamu berani macam-macam dibelakang aku. Kamu tahu kan kalau macan marah gimana" kata Raisa, sambil melotot ke arah Naufal.


"Eh..Iya, beb. Aku nggak akan macam-macam janji. Ayo kita makan sekarang"


Naufal dan Raisa langsung menyantap makan malam mereka. Kemudian, tiba-tiba Raisa menghentikan makanannya lalu menarik napas.


"Kamu kenapa, beb?" tanya Naufal.


"Besok kita kerja kan?" tanya balik Raisa.


Naufal mengangguk.


"Ketemu 2 iblis lagi. Nggak kuat aku tuh. Malas banget ketemu mereka, beb. Kamu kapan mau jujur sih ke mereka kalau kamu anak Papa Tio, biar mereka berdua tuh nggak remehin lagi" kesal Raisa


2 iblis yang dimaksudn Raisa, tentu saja adalah Kevin dan Lia.


"Aku nggak mau bilang dulu, beb. Nanti pasti akan ada waktunya"


"Ihhh waktunya tuh kapan? Greget banget aku lihat mereka berdua. Awas aja kalau mereka besok cari gara-gara lagi, aku tinju mulut mereka yang banyak bacot itu"


"Waw istri aku jago ninju nih. Mau jadi atlet MMA ya?"


"Kamu mau kita buat simulasinya, beb? Sini" panggil Raisa, siap mau meninju Naufal.


Waduh bisa bonyok kalau disimulasiinnya ke aku. Batin Naufal


"Ampun, beb. Nggak mau" tolak Naufal.

__ADS_1


Naufal langsung berlari ke kamar, karena merasa ngeri melihat tangan Raisa yang sudah ancang-ancang siap meninju.


__ADS_2