
"Beb, maafin aku" kata Naufal.
"Aku mau tidur"
Hanya itu yang diucapkan Raisa dan tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka di malam itu.
.
.
.
Keesokan harinya, belum ada pembicaraan diantara mereka berdua. Raisa sama sekali tidak menggubris perkataan Naufal. Ia sudah sangat kecewa dengan keputusan Naufal yang sepihak dan tidak memikirkan kondisi ekonomi mereka saat ini.
Karena tidak kunjung digubris oleh Raisa, Naufal memutuskan untuk segera pergi ke sekolah. Menurutnya, hal terbaik yang bisa dilakukannya saat ini yaitu membiarkan Raisa untuk menenangkan diri lebih dahulu. Ia berencana akan bicara baik-baik dengan Raisa saat pulang kerja nanti.
"Aku pergi ya, beb. Assalamualaikum" kata Naufal.
"Walaikumsalam" balas Raisa, tanpa melihat ke arah Naufal.
Naufal akhirnya pergi ke sekolah dan tinggal lah Raisa bersama baby El di rumah.
Raisa hendak memberi asi kepada baby El karena sekarang sudah jamnya untuk memberikan asi. Namun, ternyata asi Raisa sudah tidak mau keluar lagi. Terpaksa, ia harus keluar ke supermarket untuk membelikan susu formula buat baby El.
Ia pergi dengan memasukkan baby El kedalam stroler, kemudian menaiki taksi untuk ke supermarket.
Sesampainya di supermarket, Raisa langsung menuju ke arah tempat susu bayi. Ia tidak mau matanya jelalatan kemana-mana dan membeli hal yang tidak penting.
Saat sedang memilih susu formula apa yang cocok untuk baby El, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Saat ia menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah salah satu perempuan yang dulu sering mengajak ribut dirinya dan gengnya di SMA.
"Eh ada Raisa. Udah punya anak aja nih. Sayang banget ya, padahal masih muda. Harusnya lanjut kuliah sih bukannya ngurus anak. Kayak gue gini lah, kuliah di universitas ternama" kata perempuan itu, menyombongkan dirinya.
Yaelah nih orang dari dulu nggak berubah. Kalau nggak ada El, udah aku buang nih orang di lubang buaya pakai acara sombong segala, masuk jalur khusus aja bangga. Batin Raisa.
"Iya nih udah punya anak. Tapi walaupun aku udah punya anak, wajah aku masih mudah banget loh. Kamu sendiri, belum punya anak tapi muka tua ya. Kasihan banget" balas Raisa, membuat perempuan itu mulai terpancing emosi.
"Apa maksud lo ngatain gue kayak gitu, hah?" bentaknya.
"Idih nggak malu apa teriak-teriak kayak gitu di supermarket? Kalau gue sih malu ya"
Raisa berjalan cuek, tidak menghiraukan perempuan tadi. Tiba-tiba terlintas ide usil dipikiran Raisa. Ia mengambil permen karet yang berada di dalam tasnya, kemudian mulai mengunyahnya. Lalu, ia ke kasir dan segera membayar. Beruntung, setelah ia selesai membayar, tidak lama kemudian, perempuan tadi juga ingin membayar.
__ADS_1
Raisa langsung mengambil permen karet yang berada dimulutnya, lalu menghampiri perempuan itu.
"Eh gue duluan ya. Sukses terus" kata Raisa sambil menepuk punggung perempuan itu.
Ternyata, Raisa menempelkan permen karet yang dipegangnya tadi di rambut milik teman SMAnya.
Setelah melakukan aksi usilnya, Raisa langsung berlalu pergi sambil mendorong stroler bayi dan tersenyum licik.
Perempuan itu baru sadar rambutnya sudah ditempeli permen karet, saat dia berniat untuk bersandar di tembok dan ternyata rambutnya sulit digerakkan.
"Raisa kurang ajar" teriaknya.
Raisa yang sudah berada di dalam taksi, merasa kupinnya bergerak sendiri.
"Duh kok kuping aku gerak sendiri ya. Pasti lambe turah tadi sudah sadar tuh rambutnya dikasih permen karet. Dia sih pakai acara bikin emosi segala, rasain akibatnya. Mama kamu ini jago kan, El" kata Raisa, sambil mencubit pelan pipi baby El.
Di rumah, Raisa membuatkan susu formula untuk baby El, untung saja Baby El mau meminumnya dan tidak rewel.
Raisa memutuskan untuk segera membersihkan rumah dan mulai belajar masak dengan melihat tutorial di internet. Meskipun ia masih marah dengan Naufal, tetapi ia tidak ingin melupakan kewajibannya sebagai istri yaitu untuk memasakkan suaminya makanan, karena Raisa tidak ingin terus-terusan dimasaki oleh Naufal.
Baby El sudah tertidur setelah meminum susu, sehingga Raisa bisa lebih leluasa untuk belajar memasak.
Ia belajar memasak nasi goreng, untuk makanan pertama yang dipelajarinya saat ini. Dapur benar-benar berantakan dibuat Raisa dan juga terjadi drama saat ia sedang memasak, yaitu air matanya yang terus menetes saat sedang mengiris bawang.
Saking perihnya, tanpa sadar Raisa mengucek matanya yang masih berbau bawang. Sehingga bukannya tambah baik, matanya malah tambah perih dan panas.
"Duhh panas gimana ini. Duh bodoh banget sih jadi orang" teriak Raisa, menyalahkan dirinya sendiri.
Untung saja, saat itu Naufal baru saja pulang dari sekolah dan berniat untuk memasak dan mengganti pakaian, sebelum pergi ke kantor.
"Loh beb, mata kamu kenapa?" tanya Naufal, yang melihat Raisa menutup matanya, sambil berputar-putar tidak jelas.
"Beb itu kamu? Untung kamu udah datang. Ini mata aku kena bawang, perih banget" kata Raisa.
"Ya ampun. Kamu masak? Kan aku udah bilang nggak usah. Tunggu aku ambilin air untuk dikompres"
Naufal langsung mengambil air untuk mengompres mata Raisa. Raisa yang tadinya tidak pernah menggubris perkataan Naufal, malah selalu menjawab sekarang.
"Aku cuma pengen belajar masak. Tapi tadi nangis gara-gara motong bawang"
"Lain kali ingat cuci tangan dulu ya, sebelum ngucek mata. Untung tadi bukan cabe yang dipegang, kan itu lebih bahaya" ujar Naufal.
__ADS_1
"Iya beb. Nggak gitu lagi deh"
Raisa menjawab dengan mata yang masih tertutup.
"Udah boleh buka belum nih matanya? Aku takut masih perih soalnya" kata Raisa.
"Tunggu sebentar" tahan Naufal.
Naufal memegang bahu Raisa, kemudian mulai mencium kedua mata Raisa secara bergantian dan cukup lama.
"Udah nggak sakit sekarang. Coba dibuka" ucap Naufal, setelah mencium mata Raisa.
Raisa perlahan membuka matanya dan benar saja rasa sakit dan perihnya mulai menghilang.
"Pasti ini nggak sakit lagi karena kompresan tadi kan? Bukan karena ciuman kamu kan beb?"
"Enak aja. Itu berkat kompresan dan ciuman cinta dari aku"
"Masa?" tanya Raisa tidak percaya.
"Nggak percaya? Sini aku buktiin"
Naufal menarik tubuh Raisa lebih dekat dengannya, kemudian mulai mencium mata Raisa kembali.
Tentu saja, Raisa spontan menutup matanya saat matanya dicium. Lama kelamaan ciuman itu mulai turun ke hidung, lalu ke bibir.
Raisa tersenyum dan mengerti maksud dari apa yang dilakukan Naufal.
Disela-sela ciuman, Naufal mulai berbicara.
"Maafin aku ya beb. Aku janji nggak akan memutuskan sesuatu tanpa persetujuan kamu dulu. Kamu mau aku jual aja lagi mobilnya atau gimana?"
"Nggak usah beb. Semua sudah terjadi kok. Aku cuma kecewa aja tadinya. Tapi sekarang udah baik-baik aja"
"Serius?"
"Iya. Berkat bawang tadi"
"Makasih istriku"
Naufal kembali melanjutkan ciumannya. Namun, terhenti saat suara tangisan baby El mulai terdengar.
__ADS_1
"Beb, El bangun" ucap Raisa.
"Yah gagal deh. El nggak pernah mau lihat Mama dan Papanya bermesraan deh kayaknya" kata Naufal dengan wajah cemberut.