
"Loh beb, kok kabur. Tadi katanya pengen tahu" goda Raisa.
"Dasar istri mesum" teriak Naufal dari dalam kamar mandi, membuat Raisa tertawa terpingkal-pingkal.
.
.
.
Hari ini, Raisa dan Naufal harus mulai bekerja. Mereka baru ingat, kalau mereka datang bukan hanya untuk liburan sesaat. Namun, ada tanggung jawab yang harus mereka laksanakan untuk perusahaan.
Saat mereka mengunjungi toko furniture, Raisa dan juga Naufal dipandang sebelah mata oleh manager di tempat itu, karena mengetahui keduanya hanyalah anak-anak.
Mereka semua tidak tahu, kalau sebenarnya Naufal adalah anak dari pemilik perusahaan yang sedang mereka tempati untuk bekerja.
"Selamat Pagi, Pak" sapa Naufal.
"Oh iya. Jadi kalian berdua yang diutus perusahaan? Nggak habis pikir, anak muda disuruh jadi peninjau toko" kata Pak manager, tertawa meremehkan.
Naufal hanya diam. Ia berusaha untuk tidak terpancing emosi. Berbeda halnya dengan Raisa, yang sudah sangat emosi karena mereka berdua diremehkan.
"Memangnya kalau kita masih muda, kenapa Pak? Ada yang salah ya? Bapak aja yang udah tua masih jadi manager doang. Kasihan banget sih. Jangan remehin orang dong" sungut Raisa.
Naufal tahu, pasti ini yang akan terjadi. Ia berusaha untuk menenangkan Raisa. Namun, Pak manager membalas perkataan Raisa, yang membuat Raisa semakin teepancing emosi.
"Kalian itu kurang ajar ternyata ya. Inilah kenapa saya tidak suka anak muda labil seperti kalian yang meninjau toko. Kerjanya pasti amburadul dan tidak tahu tata krama. Sebaiknya kalian pergi, saya tidak menerima kalian" usir Pak manager.
"Heh Bapak kepala botak. Bapak pasti banyak masalah ya, sampai tuh rambut nggak mau numbuh. Makanya itu hidup jangan cari masalah mulu kerjaannya. Disini kita datang secara baik-baik tapi kalian semua malah menganggap remeh kami. Asal kalian semua tahu, Naufal ini adalah anak...."
"Maaf ya, Pak. Sekali lagi kami minta maaf sudah mengacau. Kami akan kembali sore nanti, saya harap kalian bisa menerima kami dengan baik. Maafkan dia ya Pak, memang dia begitu orangnya" potong Naufal, mencoba berdamai.
__ADS_1
"Cih, dasar anak muda. Kalau memang tidak becus kerja mendingan jangan. Kalian pasti cuma anak magang kan. Ya sudah, sana pergi" usir Pak manager, untuk yang kedua kalinya.
"Gila ya nih Pak Botak. Heh Pak Botak, kenapa kamu bisa jadi manager sih? Harusnya kamu itu dipecat. Nggak tahu menghargai orang! Awas saja kamu, saya pastikan kamu dipecat jadi manager. Dasar Pak Botak Tua!" teriak Raisa.
"Diam Raisa!" kini giliran Naufal yang membentak Raisa.
"Wah, aku nggak habis pikir kamu belain Pak Botak ini. Udah, berteman aja kalian berdua sama-sama ngeselin".
Raisa keluar dari toko itu, dan langsung memesan taksi, pergi entah kemana.
Naufal ingin mencegatnya, tapi Raisa sudah keburu naik taksi. Terpaksa, Naufal kembali masuk kedalam toko. Ia berpikir mungkin saja Raisa pulang ke hotel untuk meredam emosinya.
Setelah cukup lama berbincang dengan Pak manager, akhirnya permasalahn diantara mereka pun telah selesai.
Naufal segera memesan taksi untuk kembali pulang ke hotel. Sesampainya di kamar hotel, Naufal tidak menemukan Raisa dimana pun. Ia mulai khawatir dan mencoba menghubungi nomor Raisa. Namun ternyata, nomor Raisa tidak aktif.
Ia semakin cemas memikirkan keberadaan Raisa, apalagi saat ini Raisa sedang hamil muda. Dicarinya Raisa di sepanjang jalan dekat hotel, namun hasilnya nihil.
"Raisa, kamu dimana beb? Aku khawatir. Kenapa harus ditinggalin sendiri sih tadi. Harusnya aku kejar dia" ucap Naufal, merutuki dirinya sendiri.
Naufal terlihat sangat cemas dan kebingungan harus mencari kemana keberadaan istrinya itu.
Di tempat lain, Raisa sedang menangis tersedu-sedu di sebuah pantai yang masih kosong, belum ada pengunjung yang datang ke tempat itu karena bukanlah hari libur.
Ia terus menangis karena Naufal membentaknya di depan orang banyak. Padahal niatnya untuk membela mereka berdua. Raisa tidak suka jika ada yang meremehkan mereka, hanya karena masih muda. Tetapi karena Naufal tidak membelanya, membuat hati Raisa terasa sakit.
"Kenapa aku nangis sih, padahal biasanya aku nggak pernah nangis kalau cuma masalah kayak gini. Apa karena bawaan hamil ya, jadi melow gini? Huaaa... Mana hp aku lobet lagi. Kalau Naufal nyariin gimana. Bodoh banget sih, kenapa harus pergi kayak tadi. Kan aku nggak tahu alamat hotelnya dimana" rengek Raisa.
Perasaannya sedang campur aduk saat ini. Disatu sisi ia kecewa karena Naufal membentaknya, tapi disatu sisi juga, ia membutuhkan Naufal saat ini karena tidak tahu jalan untuk pulang ke hotel.
Hari sudah mulai gelap, Raisa masih berada di pantai itu. Ia berharap ada keajaiban Naufal dapat menemukannya. Ia takut untuk pergi kemana-mana, karena nanti akan lebih tersesat lagi. Jadi, Raisa lebih memilih untuk menunggu Naufal.
__ADS_1
"Kalau bebeb nggak datang terus aku gimana ini? Udah mulai gelap lagi langitnya. Kok jadi menakutkan gini sih. Bodoh banget deh aku, kok pakai acara sok lari segala kayak di ftv sih" gerutunya.
Raisa meringkuk karena sudah merasa dingin. Ia membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya dan terus merutuki dirinya sendiri. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hangat seperti sedang memeluknya dari belakang. Spontan saja Raisa berteriak dan berdiri dari duduknya.
"Ahhhhh setaaannn" teriaknya.
"Awwww" pekik Naufal.
Ternyata orang yang memeluknya dari belakang adalah Naufal.
"Huaaaaa beb, kenapa lama banget nemuinnya? Aku takut banget tahu. Apalagi aku udah kelaparan dari tadi" rengek Raisa.
"Kamu yang kenapa pakai hilang segala. Bukannya balik ke hotel, malah pergi ke pantai yang jarang di datangi orang kayak gini" ujar Naufal.
"Mana aku tahu alamat hotelnya. Kamu sih, pakai acara bentak-bentak aku segala. Aku kan nggak suka beb. Padahal tadi niatnya untuk belain kita berdua. Malah aku yang kena semprot" kesal Raisa.
"Maaf beb. Aku memang salah udah bentak kamu tadi. Tapi aku nggak mau kita punya lebih banyak masalah. Jadi aku harap, kamu bisa kontrol emosi ya. Maafin aku ya beb".
Naufal langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan begitu hangat. Raisa pun membalas pelukan Naufal. Tiba-tiba terdengar bunyi perut Raisa yang sedari tadi belum makan.
"Ya ampun beb, kamu belum makan kan? Ayo cepat kita beli makan. Kamu harus makan banyak, nanti kasihan dede bayinya" ucap Naufal.
"Maafin Papa ya, dede bayi. Soalnya Mama kamu pakai acara menghilang tadi" lanjut Naufal, sambil menguasap perut Raisa.
"Papanya jahat sama Mama, jadi harus dikasih pelajaran" balas Raisa.
"Iya deh iya, maafin aku beb. Ayo kita pergi dari sini. Kita naik mobil".
"Wah beb, semenjak aku hilang tadi, kamu jadi maling ya beb?" kaget Raisa.
"Gila apa, ya nggak lah. Mobil sewaan itu".
__ADS_1
"Ohh kirain nyuri hehe".
Keduanya pun pergi dari pantai itu dan memilih untuk membeli banyak makanan, sebelum akhirnya pulang ke hotel.