Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
50. Detektif Dadakan


__ADS_3

Raisa dan Naufal hanya tertawa canggung karena merasa malu.


.


.


.


Raisa senantiasa menjaga dan merawat Naufal yang masih dalam pemulihan pasca operasi. Mereka berdua meminta izin kepada Papa Tio, agar memberikan mereka tambahan liburan di Suarabaya, dengan alasan ingin tambah romantis dan lengket. Mereka memang tidak memberitahu siapapun tentang kecelakaan yang terjadi kepada Naufal.


"Beb, kamu yakin nggak mau cari tahu siapa orang yang celakaian kamu? Aku sih yakin, orang itu sengaja nabrak kamu" ujar Raisa.


"Nggak usah. Gimana juga caranya nyari? Kan waktu itu kejadiannya cepat banget. Mungkin orang itu memang baru belajar bawa mobil kali"


"Kok kamu santai banget? Ini masalah nyawa kamu loh, beb"


"Kan sekarang udah sembuh. Udah nggak usah dipikirin lagi. Kamu mending pikirkan bayi kita. Nanti kalau kita sudah kembali ke Jakarta, kita cek kondisi bayinya. Siapa tahu jenis kelaminnya juga bisa dilihat kan bagus" ucap Naufal.


"Oke, beb" kata Raisa.


Maaf beb, tapi aku harus cari tahu siapa orang yang sudah mencelakai kamu. Aku nggak akan maafin siapapun orang itu. Batin Raisa.


Saat Naufal tengah tertidur akibat efek obat yang membuatnya mengantuk, Raisa segera mengumumkan di media sosialnya, jika ada yang tahu kecelakaan yang terjadi tempo hari. Siapa tahu dengan hal ini, ia bisa mengetahui siapa pelaku tabrak lari itu.


Beberapa saat kemudian, muncul pesan dari orang-orang yang memberikan informasi terkait kecelakaan itu. Mulai dari ciri-ciri pelaku serta mobil yang digunakan. Saat ini, Raisa sudah sangat persis seperti seorang detektif yang ingin memecahkan sebuah kasus.


Dengan bukti-bukti serta pernyataan para saksi di tempat kejadian, Raisa memutuskan untuk mencari tahu sendiri pelakunya tanpa memberitahukannya kepada Naufal.


Raisa mencoba menjalan aksinya keesokan harinya. Ia sudah tampak siap. Tinggal satu hal yang harus dilakukannya saat ini, yaitu bagaimana caranya untuk mencari alasan kepada Naufal, agar ia bisa pergi dari rumah sakit itu.


"Beb, aku pergi ke hotel dulu ya. Bawain baju kotor kamu dan ngambilin yang baru" kata Raisa.


"Nggak usah beb. Kan masih ada beberapa baju yang belum dipakai" tolak Naufal.

__ADS_1


Duh gimana nih. Susah banget nyari alasan lagi.


"Ehmmm.. Aku lagi ngidam makan jengkol nih, beb. Aku pergi beli dulu ya"


"Kan bisa pesan online. Nggak usah kemana-mana disini aja. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa aku nggak bisa jagain loh" ujar Naufal.


"Tapi aku maunya beli ditempatnya langsung. Aku nggak suka beli online, beb"


"Nanti kita beli kalau aku udah keluar dari rumah sakit ya"


"Nggak mau. Dede bayinya maunya sekarang. Bebeb mau lihat dia lahir nanti jadi ileran? Aku sih nggak mau ya" kesal Raisa.


"Ya sudah kamu boleh pergi beli. Tapi hati-hati ya. Selesai beli langsung pulang, jangan kemana-mana lagi" kata Naufal, memberi izin.


"Siap, ayang bebeb. Aku pergi dulu daah" ucap Raisa, sambil melambaikan tangan.


Naufal juga melambaikan tangan sambil tersenyum, menatap kepergian Raisa.


Kini Raisa mulai menulusuri tempat kerja si pelaku. Dari hasil analisisnya, pelaku bekerja disebuah kedai ayam karena ia melihat foto yang dikirimkan orang-orang di media sosial, terdapat stiker ayam tertempel di mobil itu. Dengan gambar itu, ia menyimpulkan pelakunya bekerja di kedai tersebut.


"Ibu, udah berapa lama kedai ayamnya buka? Aku baru pertama kali kesini loh setelah dapat rekomendasi dari teman aku. Aku jauh-jauh dari Jakarta kesini, cuma untuk rasain ayam yang enak ini" puji Raisa.


"Wah Mbak bisa aja. Iya saya kebetulan sudah buka lama dan ada beberapa cabang tapi baru sekitaran kota ini sih" kata Ibu pemilik kedai.


"Ohh gitu. Nanti coba buka di Jakarta ya Bu, nanti saya promosiin deh ke teman-teman saya yang lain"


"Wah ide bagus tuh, siap Mbak. Nanti saya akan buka disana"


"Oh iya Bu, disini pengantarannya bisa online juga ya?"


"Bisa. Kita pakai aplikasi untuk pemesanan online"


"Nggak ada pengantar khusus dari restorannya sendiri ya, Bu?"

__ADS_1


"Nggak ada. Sekarang mah sudah pakai aplikasi. Kalau pakai pengantar khusus mah, keluar biaya lagi untuk bayar gajinya"


"Oh gitu"


Raisa kembali berpikir, tenyata perkiraannya meleset. Pelakunya bukanlah orang yang bekerja di kedai ayam ini. Lalu siapa pelaku sebenarnya?


Ia mulai memakan ayamnya dengan terus berpikir segala kemungkinan.


Wah enak juga ternyata ayamnya pantesan rame. Apa ya kira-kira bumbu rahasianya?


Ternyata yang Raisa pikirkan bukanlah pelakunya, melainkan rasa ayamnya.


Selesai makan, Raisa langsung membayar ke kasir. Tetapi, saat ia hendak pergi, Ibu pemilik kedai itu menghentikannya.


"Ini Mbak, ada stiker khusus untuk Mbak. Sebenarnya ini cuma untuk pelanggan yang sering kesini, tapi karena Mbak bilang nanti mau promosiin kedai saya. Jadinya saya kasih. Diterima ya Mbak" kata si Ibu Kedai.


Raisa terkejut karena melihat stiker yang diberikan kepadanya itu merupakan stiker yang sama persis dengan milik punyanya pelaku.


"Maaf Bu mau tanya, disini siapa aja ya yang jadi pelanggan setia? Aku pengen tahu dong" kata Raisa


Ibu pemilik kedai langsung menyebutkan orang-orangnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Saat dia menyebutkan curhatan dari salah satu pria yang menjadi pelanggan setianya. Raisa yang mendengar hal itu, merasa tidak asing.


"Laki-laki umur 17 tahun, Bu? Dia pindahan dari Jakarta dan dia bilang dia dikeluarin dari sekolah karena menyebar video mesum temannya?" tanya Raisa.


"Iya, Mbak. Kasihan ya dia, padahal dia berbuat hal baik loh karena memberitahukan yang salah, tapi malah dia yang dikeluarin"


Mendadak Raisa mengingat Dani, orang yang iri kepada Naufal dan membuat jebakan kepada dirinya dan Naufal, dengan memberikan obat perangsang pada Naufal agar bisa berbuat mesum di sekolah dan juga dialah yang telah menyebarkan video waktu itu.


Jangan-jangan itu Dani? Jadi Dani tinggal disini setelah dikeluarin dari sekolah? Apa dia masih dendam sama Naufal, jadi dia menabraknya?


Saat Raisa sedang mengingat-ingat kembali, tiba-tiba saja Ibu pemilik kedai itu berbicara.


"Eh itu laki-laki langganan disini, akhirnya dia datang juga. Nak Dani ayo kesini"

__ADS_1


Ternyata dugaan Raisa benar, itu adalah Dani, teman SMA Naufal. Dengan langkah cepat, Raisa berlari melewati pintu belakang agar tidak berpapasan dengan Dani.


Gawat itu beneran dia. Aku harus kasih tahu Naufal tentang hal ini. Gumam Raisa.


__ADS_2