Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
44. Bulan Madu


__ADS_3

Raisa mengangguk mengerti. Kini ia sadar, apa yang dikatakan Naufal ada benarnya. Harusnya ia bisa berpikir seperti yang dipikirkan Naufal. Ia bahagia melihat suaminya yang sangat dewasa melebihi dirinya. Memang, umur tidak bisa menjadi patokan untuk seseorang bisa menjadi dewasa.


.


.


.


Tiba saatnya, keberangkatan Raisa dan Naufal untuk pergi ke Surabaya. Raisa merasa amat senang, karena ini pertama kalinya ia akhirnya bisa jalan-jalan keluar kota bersama sang suami.


"Beb, aku senang banget. Akhirnya kita bisa liburan juga".


"Sambil kerja, beb" ucap Naufal.


"Iya itu juga sih. Tapi tetap aku senang, karena perginya bareng kamu. Bayangkan kalau aku perginya bareng Lia atau Kevin, bisa gila aku beb" ujar Raisa.


"Aku juga nggak bakal kasih sih kamu pergi kalau bareng mereka".


"Ihhh so sweet deh".


"Ayo kita check in sekarang" ajak Naufal.


Raisa mengangguk kemudian menggenggam tangan Naufal, sambil berjalan ke arah tempat check in.


Selesai melakukan check in, Naufal dan Raisa pun menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Sesampainya di ruang tunggu, mereka berdua memilih untuk mengobrol sambil menunggu dipersilahkan masuk kedalam pesawat.


Saat sedang mengobrol, tiba-tiba mata Raisa tertuju kepada dua orang cowok dan cewek yang saling merangkul, sambil sesekali cowoknya mencium puncak kepala si cewek. Terlihat romantis, menurut Raisa.


Naufal yang sadar, mata istrinya sedang tertuju ke tempat lain. Ia pun mengikuti arah mata Raisa, untuk melihat apa yang sedang dilihat istrinya.


"Beb, kamu lagi liatin cowok dan cewek itu?" tanya Naufal.


"Iya beb" jawab Raisa, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jangan bilang kamu ngerasa kalau mereka itu romantis" duga Naufal, seperti seorang peramal.


"Iya memang benar. Kok bebeb tahu?".


"Ya ampun beb. Alay gitu dibilang romantis? Mereka pasti masih pacaran itu, kalau udah nikah juga pasti nggak bakalan kayak gitu" ucap Naufal.


"Oh jadi kita nggak mungkin kayak gitu karena sudah nikah?" tanya Raisa, memicingkan matanya.


"Eh bukan gitu maksudnya. Jangan marah dong beb. Aku cuma bercanda tadi" kata Naufal, mulai gelagapan.


Raisa merasa kesal dan tidak ingin menatap wajah suaminya itu.


"Jangan marah dong beb, nanti dede bayinya sedih loh".


Naufal mulai membujuk Raisa agar istrinya itu tidak marah kepadanya. Tiba-tiba ada seseorang memanggil nama Naufal, membuat Naufal menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Kak Kintan" kaget Naufal, melihat orang yang memanggilnya.


Duh siapa lagi perempuan ini. Masa iya aku harus bertengkar di bandara sebesar ini. Batin Raisa.


"Kak Kintan sendirian aja berangkatnya?"..


"Iya nih, maklum lah orang jomblo" kata Kintan sambil tertawa bersama Naufal.


Sedangkan Raisa, terlihat kesal melihat ucapan Kintan.


Jomblo aja bangga. Gumam Raisa, yang masih bisa didengar oleh Naufal dan Kintan.


"Siapa dia Naufal? Kayak nggak suka banget sama aku" kata Kintan.


"Oh ini istri aku, Kak. Raisa ayo sini" panggil Naufal.


Dengan malas Raisa berdiri dan menatap malas ke arah Kintan.


"Jadi ini istri kamu? Kelihatan berani dan jutek banget ya. Beda banget sama kamu, Fal" ucap Kintan.


"Oh iya dong. Siapa pun yang berani gangguin suami aku, harus berhadapan dengan aku. Terlebih lagi, aku sedang mengandung anaknya" kata Raisa penuh penekanan.


Naufal mulai merasa hawa tidak enak terhadap keduanya. Ia cepat-cepat melerai dan menjelaskan, sebelum terjadi kesalahpahaman.


"Raisa, ini kak Kintan, Kakak Sepupu aku".


"Hah? Kakak Sepupu kamu? Kenapa nggak bilang dari tadi?" kesal Raisa.


"Pantesan aja. Soalnya wajah kamu tadi kayak mau ngajak berantem" ucap Kintan, sambil tertawa.


"Nggak mungkin dong, Kak" kata Raisa, cengengesan.


"Kamu kenapa nggak bilang dari tadi sih beb? Aku kan malu" bisik Raisa.


"Kamu sih nggak nanya-nanya dulu. Langsung main jutek aja" balas Naufal.


"Wah aku dikacangin nih. Ya sudah, aku pergi dulu ya. Udah mau berangkat juga nih. Nanti kita ketemu lagi ya, Naufal, Raisa" ucap Kintan.


"Eh iya, Kak. Maafin aku ya, Kak. Pertemuan pertama, udah jadi kayak gini" kata Raisa, merasa bersalah.


"Santai aja. Bagus kok kamu kayak gitu. Biar si Naufal nggak ada yang rebut, iya kan?".


"Iya Kak".


"Ya sudah. Aku pamit ya" kata Kintan.


"Hati-hati, Kak" ucap Naufal.


"Iya sampai jumpa, Kak. Hati-hati" tambah Raisa.

__ADS_1


Setelah kepergian Kintan, Raisa menatap tajam ke arah Naufal.


"Pasti mau marah kan? Nggak boleh, beb. Nanti anak kita jadi tukang marah" goda Naufal.


Raisa memukul pelan lengan Naufal, karena merasa kesal. Tetapi, Naufal mencoba berakting kesakitan saat dipukul Raisa.


"Awww beb sakit. Kamu kok jahat banget sih".


"Beneran sakit, beb? Perasaan aku mukulnya nggak kencang loh".


"Aduh beneran sakit, beb" kata Naufal, masih berakting.


Tetapi, Raisa tidak percaya begitu saja. Ia mencoba memencet lengan Naufal yang tadi dipukulnya. Namun, Naufal tidak mengerang kesakitan saat dipencet, membuat kecurigaan Raisa bertambah besar.


"Beneran sakit ya beb? Perasaan aku mukulnya pelan loh. Kalau kayak gini baru sakit".


Raisa langsung memukul lengan Naufal dengan sekuat tenaga, membuat Naufal terperanjat dan berteriak sangat keras, membuat seluruh penumpang pesawat yang berada di ruang tunggu menatap ke arah mereka berdua.


"Maaf semuanya. Dia memang gini orangnya, agak lebay sedikit" kata Raisa, memohon maaf kepada para penumpang.


"Beb, kamu udah gila? Sakit tahu".


"Kalau tahu istri kamu gila, jangan dibohongin dong. Kan gilanya jadi kambuh" kata Raisa, dengan santainya.


"Ampun beb. Nggak lagi aku bohongin kamu kayak tadi" ucap Naufal, merasa kapok.


Tidak lama kemudian, para penumpang pesawat menuju ke Surabaya telah dipersilahkan masuk kedalam pesawat.


Raisa dan Naufal segera masuk kedalam pesawat dan duduk di kursi yang telah ditentukan. Pada saat itu, posisi duduk mereka adalah Raisa berada dipojok dekat jendela, sedangkan Naufal duduk disampingnya dan kursi disamping Naufal yang masih kosong.


Tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian super ketat dengan belahan dada sedikit rendah, duduk tepat disamping Naufal. Bagaimana pun Naufal adalah seorang laki-laki, apalagi saat melihat pemandangan yang cukup menarik perhatian.


Ia seperti tercengang menatap perempuan yang duduk disampingnya. Namun, cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya karena teringat Raisa yang duduk disebelahnya.


Saat ia menatap ke arah Raisa, terlihat wajah istrinya itu sudah seperti macan yang ingin menerkam.


"Pindah".


Satu kata dari Raisa, sudah membuat Naufal tidak dapat berkutik. Alhasil, Raisa duduk disamping perempuan itu dan Naufal duduk di dekat jendela.


"Tutup mata kamu beb".


"Apa?" kaget Naufal.


Saat Naufal mau melihat ke arah Raisa, dengan cepat Raisa menutup mata Naufal dan menyuruhnya untuk melihat kedepan sambil tetap menyuruhnya memejamkan mata.


"Untuk saat ini, aku izinin kamu jangan ngeliatin aku sampai kita mendarat beb. Kamu cuma boleh ngeliat ke arah jendela, kalau mau ngeliat kedepan harus tutup mata, jangan sampai kamu nanti ngelirik-lirik ke kanan lagi beb. Berani kamu ngeliat ke arah sini atau ngelirik sedikit aja, nggak akan aku maafin" ancam Raisa.


"Iya beb".

__ADS_1


Alhasil, selama penerbangan, Naufal tidak pernah menatap ke arah Raisa. Membuat lehernya sakit karena hanya bisa menatap ke arah kiri dan depan saja, itu pun harus memejamkan mata saat melihat kedepan.


Naufal lebih memilih mengikuti kemauan Raisa, daripada harus melawannya. Ia takut, Raisa marah-marah diatas pesawat. Tidak lucu, kalau Raisa melemparkan wanita itu keluar dari pesawat yang sedang terbang.


__ADS_2