Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
30. Perayaan Kelulusan


__ADS_3

Naufal mengangkat wajah Raisa menghadap padanya, kemudian mencium bibir istrinya dengan penuh cinta.


.


.


.


"Beb, kamu libur kerja kan hari ini?" tanya Raisa.


"Iya. Kenapa memangnya?".


"Papa sama mama suruh kita ke rumah nanti sore".


"Oh ya?".


"Iya beb. Papa Tio dan Mama Siva juga katanya diundang".


"Mau buat acara kelulusan kamu?" tanya Naufal.


"Iya katanya sih gitu" jawab Raisa.


"Baiklah. Kamu siap-siap aja duluan beb, ini juga udah mau sore" ucap Naufal.


"Kok aku duluan?".


"Kan kamu dandannya lama. Aku mah cepat".


"Oh iya hehe. Aku mandi dulu ya, terus mau siap-siap".


Raisa bangkit dari kasur dan segera menuju ke kamar mandi. Sedangkan Naufal yang baru saja pulang dari sekolah, menyandarkan dirinya di sofa untuk beristirahat sebentar.


"Beb tolong ambilin handuk dong" teriak Raisa dari dalam kamar mandi.


"Kamu lupa lagi?".


"Iya beb, cepetan dingin ini".


"Iya ini lagi diambilin" ucap Naufal.


Naufal buru-buru mengambil handuk dan membawakannya kepada Raisa.


Raisa membuka pintu kamar mandi dengan sedikit celah agar bisa mengambil handuknya. Namun, saat akan mengambilnya, handuknya terjatuh ke lantai membuat Naufal spontan saja menunduk untuk mengambilkannya.


Saat kepalanya mengadah ke atas untuk memberikan handuk yang jatuh, ia tidak sengaja melihat gunung milik Raisa yang mengintip dari balik pintu, membuat Naufal melotot sempurna.


"Beb, kamu kenapa? Sini handuknya" kata Raisa.


"Hah? Eh iya, ini handuknya".


Setelah memberikan handuk kepada Raisa, Naufal segera berjalan keluar. Ia tidak ingin berlama-lama didekat Raisa dan membuatnya kehilangan akal.


"Kenapa nih mata cepat banget liatin yang gituan. Untung aja Raisa nggak tahu, kalau aku bilang bisa-bisa dia udah godain aku tadi" ujar Naufal, berbicara sendiri.


"Hilanglah wahai pikiran kotor. Plis tunggu setahun lagi. Tahan Naufal, pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya.


"Bisa apa beb?" tanya Raisa yang baru saja keluar dari kamar mandi, setelah berganti pakaian.

__ADS_1


"Eh? Nggak kok. Kamu udah mandi? Aku mandi dulu ya".


Naufal langsung masuk ke kamar mandi, agar bisa menghindari pertanyaan Raisa.


.


.


.


Naufal dan Raisa sedang diperjalanan menuju ke rumah Papa Adit dan Mama Nia. Mereka memutuskan untuk naik taksi online, karena jaraknya yang lumayan jauh.


Sesampainya disana, Naufal dan Raisa langsung disambut oleh orang tua mereka.


"Kalian udah datang ternyata. Ayo masuk" ajak Mama Nia.


"Mama ini acara kelulusan atau acara pernikahan? Kenapa makanannya banyak banget?" tanya Raisa melongo melihat makanan prasmanan.


"Acara kelulusan dong. Ini mah nggak terlalu banyak, lebay deh kamu".


"Tapi ini buang-buang duit, Ma".


"Wah, tumben banget anak Papa ngomong kayak gini. Pasti Naufal udah ajarin kamu untuk hemat ya? sahut papa Adit.


"Iya dong, Pa. Kita kan udah berumah tangga, jadi harus belajar hemat" ucap Raisa.


"Bagus itu. Makasih ya Naufal, kamu udah ajarin anak manja ini untuk belajar hemat. Papa bangga sama kamu" kata Papa Adit sambil menepuk pundak Naufal.


"Sama-sama, Pa. Naufal dan Raisa masih sama-sama belajar untuk hidup hemat".


"Papa percaya kamu suami yang cocok untuk Raisa" ucap Papa Adit lagi.


"Raisa nggak kuliah tahun ini, Pa. Raisa rencananya mau kerja dulu di kantornya Papa Tio, biar bisa barengan sama Naufal. Papa Tio masih nerima pegawai magang kan?".


"Tentu saja, apalagi pegawainya menantu Papa sendiri, sudah pasti Papa akan terima" ucap Papa Tio.


"Kenapa kamu mau kerja Raisa? Kalian nggak punya uang untuk biaya kuliah? Nanti Mama dan Papa yang biayain aja" kata Mama Nia.


"Naufal punya uang untuk Raisa kuliah, tapi Raisa aja yang memang belum mau. Raisa pengen kerja sama-sama dengan Naufal, hitung-hitung untuk nambah biaya hidup kita berdua. Raisa juga mau mandiri dan nggak mau bergantung sama Mama dan Papa lagi" ujar Raisa.


"Ya Allah nak, akhirnya kamu mandiri juga. Mama senang dengarnya. Mama dan Papa akan mengikuti keputusan kamu. Iya kan Pa?" tanya Mama Nia.


"Iya benar" jawab Papa Adit.


"Anak Mama memang luar biasa. Bisa belajar mandiri bersama istrinya. Kalau perlu apa-apa jangan sungkan ya sayang" ucap Mama Siva.


"Iya Ma" kata Naufal.


Raisa sedang duduk di taman belakang rumahnya, ia rindu tempat itu. Tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya untuk berceloteh sendiri, menghilangkan stres, ataupun hanya sekedar menghirup udara segar.


Saat ia sedang menutup mata, tiba-tiba Mama Nia muncul dan duduk disampingnya.


"Rindu tempat ini ya?".


Raisa segera membuka matanya dan melihat kesamping ternyata sudah ada mamanya.


"Eh Mama. Kapan muncul?".

__ADS_1


"Barusan kok".


"Ohh gitu. Iya aku rindu Ma, makanya aku duduk sebentar disini".


"Kamu gimana hubungannya dengan Naufal? Senang?".


"Banget Mama. Aku bahagia banget bisa nikah sama Naufal. Dia udah ngajarin banyak hal untuk Raisa, dia juga nggak pernah marah loh. Bahkan selama ini dia yang selalu masakin Raisa. Raisa jadi nggak enak karena itu Ma".


"Mama senang dengarnya. Jadi kamu harus nurut perintah suami kamu, jangan ngelawan. Soal masak, mending kamu ikut kursus di rumah sini aja, nanti Mama ajarin deh".


"Beneran Ma? Aku bisa kesini tiap hari Minggu untuk belajar masak kan?".


"Bisa dong, masa nggak bisa sih".


"Terus, kalian belum mau punya anak?" lanjut Mama Nia.


"Aku mau sih, Ma. Tapi Naufalnya belum mau".


"Karena dia masih sekolah?".


"Iya dan juga dia takut belum bisa biayain anak kita dengan ekonomi yang masih pas-pasan kayak sekarang".


"Mama ngerti sih kalau itu. Mama serahin aja semuanya ke kalian. Mama yakin, Naufal punya tujuan baik untuk itu".


"Iya Ma, aku juga percaya itu".


"Tapi kalian sudah berhubungan suami istri kan?" tanya Mama Nia.


"Belum" jawab Raisa.


"Ya Ampun kenapa bisa? Dia nggak suka sentuh kamu?".


"Bukan gitu, Ma. Naufal bilang, dia udah janji ke dirinya sendiri untuk nggak ngelakuin itu sampai dia lulus sekolah".


"Nggak bisa gitu dong. Kalau nunda anak masih bisa dimaklumi, tapi kalau nunda gituan nggak masuk akal dia bisa tahan. Memangnya dulu lingerie yang Mama kasih kamu nggak pakai?".


"Pakai kok, tapi dianya aja yang tahan nafsu".


"Nggak bisa dibiarin ini. Kamu coba aja pakai obat perangsang" saran Mama Nia.


"Nggak mau ih. Itu artinya Naufal tidurin aku karena terpaksa".


"Masa kamu mau perawan terus sih? Udah mau setahun loh kamu nikah Raisa".


"Ya tunggu aja bentar lagi. Siapa tahu nanti Naufal nggak tahan, Ma".


"Ihh kamu mah. Enak tahu rasanya".


"Beneran?".


"Iya. Makanya cepetan lakuin".


"Aku akan rayu terus Naufal. Mama tenang saja"


"Pakai baju seksi tiap malam, tapi pura-pura nggak sadar aja. Nanti mama kasih deh baju seksinya yang banyak".


"Ide bagus tuh, Ma. Siap, anakmu ini akan coba" ucap Raisa tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Di dalam rumah, Naufal merasa telinganya bergerak-gerak.


Siapa yang ceritain aku nih. Kok telinga gerak dari tadi ya. Batinnya.


__ADS_2