
Serly dan Sevia tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemberut Raisa, karena kejutannya yang gagal.
"Maaf beb. Tadi aku lagi perbaiki kaus kaki aku jadinya Papa yang duluan masuk. Kamu sih nggak bilang-bilang dulu kalau mau kasih kejutan"
"Namanya juga kejutan ngapain dikasih tau dulu" kesal Raisa.
"Maaf istriku. Jangan marah-marah dong. Makasih ya sudah mau siapin semua kejutan ini. Aku bahagia kok. Makasih juga untuk Serly dan Sevia atas bantuannya" ucap Naufal.
"Sama-sama Naufal. Kita pamit dulu ya, mau ada kuliah siang ini" kata Sevia.
"Semangat kuliahnya nanti Naufal. Kami pergi dulu ya Raisa, Tante, Om" sambung Serly.
"Iya makasih ya sudah bantuin aku, dadah guys" ucap Raisa.
"Karena kejutan aku gagal, jadi kamu yang harus bersihin semua kertas yang berceceran di lantai beb" bisik Raisa, di telinga Naufal.
"Kok gitu?"
"Karena nggak seru kamunya nggak masuk duluan tadi"
Kok malah jadi aku yang salah ya. Nasib banget deh. Batin Naufal.
.
.
.
Masa orientasi mahasiswa baru pun dimulai. Semua mahasiswa baru diwajibkan untuk menggunduli rambut mereka hingga tersisa 1 cm dan memakai pakaian hitam putih selama masa orientasi. Sama dengan waktu SMA dulu, bedanya sekarang sudah jauh lebih tegas dan mau tidak mau mereka harus berada di kampus hingga tengah malam, selama masa orientasi berlangsung. Itulah yang dialami Naufal saat ini.
Ia harus bisa membagi waktu antara kuliah, kerja, dan juga keluarga kecilnya.
"Beb, kayaknya hari ini aku bakalan pulang tengah malam lagi deh" kata Naufal.
"Loh kok gitu? Kan kemarin udah pulang tengah malam. Memangnya masih ada musyawarah lagi di kampus?" tanya Raisa, yang sedang membuatkan susu formula untuk baby El.
"Iya. Katanya mahasiswa baru semuanya wajib hadir. Aku juga nggak suka kayak gini karena menguras tenaga dan waktu, tapi mau bagaimana lagi beb" jawab Naufal.
"Berarti aku dan El sendirian lagi dong?" Raisa menundukkan wajahnya.
Ya, sudah sejak kemarin dirinya hanya berdua saja dengan El di dalam rumah. Tentu saja Raisa sangat takut kalau tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjadi dan tidak ada Naufal di rumah.
"Atau kamu mau ke rumah Mama Nia dan Papa Adit aja? Nanti kalau aku pulang, aku langsung jemput kamu"
__ADS_1
"Nggak usah beb. Nanti malah kamu tambah capek lagi. Nggak apa-apa aku sama El di sini aja. Kamu hati-hati ya, jangan sampai kamu sakit gara-gara ini" ujar Raisa.
"Iya beb. Makasih ya udah ngerti. Aku ke kampus dulu"
"Iya hati-hati ya. Jangan lupa makan"
Raisa mengantar Naufal sampai ke teras rumah. Ia melambaikan tangannya kepada Naufal yang sudah bersiap pergi dengan menaiki mobil.
Susah juga ya jadi Naufal. Harus kerja banting tulang sambil kuliah itu pasti nggak mudah. Semoga dia akan selalu baik-baik saja. Gumam Raisa.
Naufal saat ini sudah berada di kampusnya. Dirinya memulai perkuliahan dengan lancar. Ia juga bertemu dengan teman-teman baru yang sangat baik. Tidak ada masalah sama sekali di hari itu.
Ia yang dikenal sangat pintar, mudah bergaul, dan juga tampan tentunya, membuat banyak senior dan juga teman seangkatannya yang menyatakan menjadi fansnya mulai detik itu juga.
Apalagi saat ia menyanggah setiap perkataan senior dan mencoba menjawab dengan sangat lantang dan berani, membuat para wanita terkagum-kagum kepadanya.
Sudah beberapa hari ini, dirinya selalu dikirimkan cokelat, permen, kue, surat atau apapun itu dari para fansnya. Naufal menerima semua itu, karena menghargai mereka sekaligus tidak ingin mencari masalah karena masih merupakan mahasiswa baru yang sedang di ospek.
Tentu saja ia tidak memberitahukan hal itu kepada Raisa. Jika saja istrinya itu tahu, mungkin ia akan disuruh berhenti kuliah saat itu juga.
"Hai Naufal, aku suka dengerin sanggahan kamu di forum diskusi kemarin. Kelihatan banget kamu sangat menguasai. Aku jadi kagum loh" ucap Laras, senior di kampus itu.
"Terima kasih Kak. Saya pamit ke kelas dulu ya" kata Naufal, bersikap ramah.
Selesai perkuliahan, Laras sudah menunggu di depan kelas.
"Hai Naufal. Sudah selesai kuliahnya?" tanya Laras.
"Iya Kak" jawab Naufal.
"Mau kemana sekarang?"
"Mau kerja Kak"
"Kamu kuliah sambil kerja? Hebat banget sih. Salut deh. Pasti sudah punya pacar ya?"
"Alhamdulillah sudah punya istri Kak"
"Apa?" kaget Laras.
"Saya permisi ya Kak" pamit Naufal, sambil tersenyum.
"Potek hati Kakak" ucap Laras dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Naufal memang memilih untuk jujur. Menurutnya percuma saja jika harus berbohong, ujung-ujungnya pasti akan ketahuan dan bisa saja menyebabkan masalah yang jauh lebih besar lagi.
Di sisi lain, Raisa sedang mengawasi baby El yang sudah mulai bisa tengkurap.
"Pintarnya anak Mama sudah mulai tengkurap. Ayo gerak kesini sayang ada mainan loh"
Raisa mencoba memancing baby El dengan mainan, agar anaknya itu mau bergerak mengambil mainan yang dipegangnya.
"Sini sayang uhh pintar banget anak Mama"
Baby El bisa meraih mainan yang dipegang Raisa dengan mudahnya.
.
.
.
Hingga tengah malam, Raisa hanya berdua dengan baby El. Naufal belum juga pulang sampai saat ini, membuatnya sangat cemas. Apalagi saat ini hujan sangat lebat ditambah hanya Raisa yang masih terjaga karena baby El sudah lebih dulu tidur satu jam yang lalu.
"Naufal dimana sih, mana hujan lebat lagi kan kalau mati listrik seram banget ini"
Baru saja diucapkan, benar saja listrik padam saat itu juga. Hujan lebat disertai angin kencang, memabah kehororan yang terjadi di rumah itu.
"Duh nih mulut kenapa suka ceplas ceplos banget sih jadinya kan mati listriknya" kata Raisa merutuki dirinya sendiri.
Baby El mulai menggeliat kepanasan karena listrik padam. Raisa segera menggendong baby El dan naik kembali ke atas kasur karena sangat ketakutan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dengan keadaan gelap gulita seperti ini tentu saja Raisa tidak berani membukakan pintu. Ia takut jika itu adalah seseorang yang berniat jahat yang ingin masuk, seperti di film-film yang ditontonnya.
Ketukan itu tidak berhenti terdengar membuat Raisa sampai gemetaran memeluk baby El. Tetapi saat mendengar suara Naufal yang memanggil, perasaannya menjadi lega.
Ia mencoba berjalan dengan sangat pelan menuju ke arah pintu depan. Tangan kanannya menggendong baby El, sedangkan tangan kirinya dipakai untuk memegang hp yang sudah dinyalakan senternya sebagai penerangannya saat berjalan.
Saat sudah berdiri di depan pintu, tidak ada lagi suara ketukan pintu, membuat Raisa mulai ketakutan lagi. Ia mengintip di celah jendela, ada pria yang memakai hodie hitam sedang berdiri di depan pintu sambil menunduk.
Raisa terdiam beberapa saat dan belum juga membukakan pintu. Ia takut itu bukanlah Naufal. Akhirnya ia memutuskan untuk menaruh baby El ke dalam stroler lebih dulu, kemudian satu tangannya masih memegang senter hp dan satu tangannya lgi sudah memegang sapu.
Dengan menghitung sampai ketiga, ia membuka pintu dan dengan cepat sapu hampir melayang ke kepala pria berjaket hodie yang ternyata adalah Naufal.
"Ya ampun beb. Kamu mau pukul aku?" kaget Naufal.
"Ihh kirain orang jahat mau masuk. Kamu sih kenapa pakai nunduk segala, aku kan nggak bisa lihat wajah kamu tadi, beb"
__ADS_1
"Hehe maafin aku ya" kata Naufal, sambil cengengesan.