
"Kita pindah aja di depan TV yuk" ajak Naufal.
Raisa menyetujui ide Naufal dan mereka melanjutkannya di ruang TV.
.
.
.
Di Kantor
Dari pagi hingga siang hari tiba, tidak ada keributan yang ditimbulkan oleh Kevin. Jika biasanya ia akan mulai memarahi pegawainya tanpa kejelasan yang pasti ataupun membuat Raisa emosi setiap harinya, tetapi hari ini berbeda. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya dan tidak menatap sedikitpun ke arah Raisa maupun ke arah Naufal.
"Beb, kamu nggak ngerasa aneh ya? Si Kevin udah nggak bertingkah lagi sekarang" ucap Raisa.
"Baguslah. Mungkin dia udah sadar".
"Tapi kok aku curiga sama Papa Tio ya. Kemarin kan Papa Tio nyuruh Kevin ke ruangannya. Jangan-jangan Papa Tio kasih tahu yang sebenarnya" duga Raisa.
"Nggak mungkin sih. Aku udah bilang ke Papa jangan ngomong ke siapa-siapa kok. Pasti Papa punya alasan lain yang agak absurd".
"Alasan lain yang agak absurd? Gimana tuh maksudnya?" tanya Raisa, bingung.
"Udah nggak usah dipikirin. Intinya keadaan sekarang sudah damai dan tenteram. Jangan dipikirin lagi ya" ucap Naufal.
"Oke kalau gitu".
Raisa dan Naufal kembali bekerja setelah mengobrol sebentar. Mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang mengintip dari balik tirai, menatap mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Kevin orangnya.
"Sial. Gara-gara Pak Tio, aku nggak bisa membalaskan dendam aku ke Naufal. Mana mereka pakai acara ngobrol bareng lagi. Nggak ada takut-takutnya nyebelin banget sih" kesal Kevin.
Flashback on
Kevin mengikuti Papa Tio dari belakang. Ia dipanggil ke ruangan Bosnya itu, tanpa tahu kesalahannya apa.
Sesampainya di ruangan, Papa Tio duduk di sofa panjang kemudian menyuruh Kevin untuk duduk juga.
"Mohon maaf, Pak. Tapi kenapa saya dipanggil kesini ya?".
"Kamu tuh keterlaluan. Kenapa kamu nembak pacarnya Naufal?".
"Saya nggak tahu kalau Raisa adalah pacarnya Naufal kok, serius Pak. Tapi mohon maaf sebelumnya, kenapa Bapak sangat marah seperti ini ya? tanya Kevin.
"Gimana nggak mau marah?" bentak Papa Tio sambil memukul meja.
Kevin terperanjat kaget karena bentakan Papa Tio.
"Asal kamu tahu ya, Naufal itu...ehhmm..Naufal itu anak dari keponakannya sepupu teman rekan bisnis saya".
"Hah? Maaf Pak, saya agak bingung silsilah keluarganya".
"Alah sudahlah kamu nggak usah cari tahu, intinya seperti itu. Jadi kamu jangan cari gara-gara sama dia lagi, atau tidak kamu saya pindahkan ke perusahaan lain dan bukan menjadi manager lagi. Mau kamu? ancam Papa Tio.
"Ehh..Jangan dong, Pak. Iya saya tidak akan mengganggu dan berbuat seperti tadi lagi".
__ADS_1
"Oke, saya pegang janji kamu. Awas kalau kamu melanggar, saya tidak akan segan-segan memindahkan bahkan bisa memecat kamu. Sudah sana kamu keluar".
"Baik Pak. Saya permisi".
Kevin keluar dari ruangan dengan sangat kesal. Meskipun ia bingung dengan silsilah keluarga yang dimaksud Papa Tio, namun ia yakin, Naufal memiliki pengaruh terhadap bisnis perusahan itu.
Flashback off
Jam pulang kerja pun tiba. Kantor yang tenteram tanpa keributan, membuat semua pegawai bernapas lega. Baru kali ini, mereka semua bisa pulang dengan wajah tersenyum.
Di atas motor, Raisa menghirup udara malam yang sangat segar sambil memeluk Naufal dari belakang. Tiba-tiba Raisa menyuruh Naufal untuk menghentikan motornya, karena ia sedang melihat sesuatu.
"Ada apa beb? Kok nyuruh berhenti?" tanya Naufal.
"Itu, aku pengen itu" tunjuk Raisa ke arah permen kapas dipinggir jalan.
"Permen kapas? Ya ampun beb, kamu kayak anak kecil aja".
"Pokoknya aku mau itu beb. Beliin dong" mohon Raisa dengan wajah memelas.
"Ya sudah. Tunggu disini ya, aku beliin".
"2 ya beb".
"1 aja, aku nggak makan kok".
"Nggak, bukan untuk kamu. Dua-duanya untuk aku".
"Apa? Nanti kamu sakit gigi. Udah 1 aja".
"2 beb, plis".
"Yeaaaay" teriak Raisa kegirangan saat melihat Naufal membelikannya 2 permen kapas.
Naufal hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, melihat kelakuan istrinya.
Sesampainya di rumah, tanpa menunggu lama lagi, Raisa segera melahap habis kedua permen kapasnya.
"Udah habis beb? Cepat banget. Aku kira kamu nggak terlalu suka makan permen".
"Iya sih beb. Tapi nggak tahu kenapa aku tiba-tiba kepengen itu".
"Ohh gitu. Ya sudah, kamu mandi duluan aja. Aku mau nyiapin makanan dulu" ucap Naufal.
"Nggak mau. Aku mau mandi sama-sama".
"Jangan beb, nanti bakalan lama di kamar mandi. Udah, aku siapin makanan dulu terus kita makan, kamu mandi gih".
"Iya deh" kata Raisa dengan ekspresi cemberut.
"Jangan cemberut dong, nanti manisnya berkurang".
"Biarin" teriak Raisa.
Saat sedang menata piring dan menyajikan makan malam untuk mereka berdua, tiba-tiba Naufal terkejut mendengar suara seperti orang yang sedang muntah di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Dengan sigap, ia segera berlari ke arah kamar mandi. Benar saja, ia melihat Raisa yang sedang muntah setelah sehabis mandi.
"Kamu kenapa beb? Kamu sakit? Kita ke dokter ya".
"Nggak usah beb. Mungkin aku kecapean. Tadi tiba-tiba aku rasa mual dan pusing".
"Nggak mungkin kamu tiba-tiba bisa kayak gini. Perasaan tadi kamu baik-baik aja kok. Kita ke klinik terdekat aja ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa".
"Nggak usah beb, aku udah agak baikan kok".
Raisa berusaha keluar dari kamar mandi dengan memegang ke sisi dinding, namun karena kepala yang pusing, ia hampir saja terjatuh. Untung saja ada Naufal yang sigap menangkapnya.
"Kita harus ke klinik sekarang. Kamu beneran sakit. Jangan membantah lagi. Aku pesan taksi online ya, nanti kamu pingsan lagi kalau naik motor".
Naufal langsung memesan taksi online dan mereka berdua pun pergi ke klinik terdekat.
Setelah sampai di klinik, Raisa langsung diperiksa oleh dokter. Namun, sang Dokter terlihat mengernyitkan dahi.
"Ada apa, Dok? Dia baik-baik saja kan?".
"Kalian masih muda ya. Saya tidak tahu apa kalian siap atau tidak" ucap Dokter.
"Maksudnya apa, Dok?" tanya Raisa.
"Kapan Nona Raisa terakhir menstruasi?".
"Kayaknya seminggu yang lalu, Dok".
"Saya tahu ini sulit untuk kalian berdua, apalagi di usia kalian yang masih terbilang muda. Tapi sebagai Dokter, saya harap kalian tidak berniat untuk menggugurkannya".
Raisa dan Naufal saling menatap, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud Dokter.
"Maaf, Dok. Kami tidak paham" kata Naufal.
"Pacar anda hamil".
"Apa? Hamil?" Naufal terkejut.
"Iya benar" kata Dokter.
"Beb, aku hamil. Kita akan punya anak beb" teriak Raisa kegirangan.
"Alhamdulillah Ya Allah. Terima Kasih sudah menitipkan seorang anak pada kami" ucap Naufal.
Keduanya saling berpelukan karena bahagia. Dokter yang melihat keduanya, terlihat takjub.
Baru kali ini saya lihat anak muda senang pas tahu kabar kehamilan. Biasanya mereka malah stres dan malah mau menggugurkan. Gumam sang Dokter.
...****************...
Hayo siapa yang udah nggak sabar mau ngeliat calon orang tua muda ngerawat anaknya? 😍
Pasti nanti anaknya gemesin ya 😊
Makanya klik tombol favorit, biar kalian tahu kalau author up cerita selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa juga vote, like, rate & komen biar author tambah semangat menulis ya.
Terima Kasih 💕