
Dimas yang masih terbaring tidak sadarkan diri membuat raya merasa sangat khawatir, walau raya mengetahui apa yang akan terjadi saat dimas tersadar raya tetap menanti dimas terlepas dari masa kritisnya.
Satu bulan telah berlalu, perusahaan dimas mengalami kebangkrutan semua karyawan telah berhenti bahkan alex asisten pribadi sekaligus sahabat dimas menghilang tanpa ada kabar.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...
Arrrrrrrrrkkkkkkhhhhh...
Suara teriakan terdengar dari kamar dimas, raya yang terkejut bergegas masuk memastikan apa yang terjadi.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...
Arrrrrrrrrrkkkkkhhhhhhh....
Raya yang masuk ke dalam kamar dimas langsung menggelengkan kepalanya, raya tidak menyangka dimas sudah terbangun dan terus berteriak.
__ADS_1
" Dimas tenanglah " ucap raya yang duduk di samping dimas sambil mengelus tangannya.
Dimas menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke raya sedikitpun, raya yang melihat dimas benar-benar mengalami gangguan kejiwaan seperti yang di katakan dokter sebelumnya langsung berlari ke ruang dokter.
" Dokter suamiku tersadar dia terus berteriak " ucap raya yang langsung masuk ke ruangan dokter.
" Mau bagaimana lagi sebelumnya aku telah memberitahukanmu, karena dia sudah tersadar jalan satu-satunya hanya membawanya ke rumah sakit jiwa " sahut sang dokter dengan santai.
" Suamiku tidak gila untuk apa di masukkan ke rumah sakit jiwa " teriak raya.
" Kalau begitu silahkan anda bawa pulang, disini bukan rumah sakit tempat merawat orang gangguan jiwa " ucap sang dokter yang langsung meninggalkan raya.
Di saat dimas tertidur raya membawa dimas pulang, sepanjang perjalanan orang yang melihat dimas duduk di kursi roda menggelengkan kepala, mereka masih tidak percaya bos besar seperti dimas harus mengalami semua musibah dalam bersamaan.
Raya yang melihat banyaknya orang terus menatapnya dan dimas terpaksa semakin mempercepat langkah kakinya, raya yang sampai di parkiran langsung membantu dimas masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama raya akhirnya sampai di depan rumahnya, putrinya dan kedua orang tuanya berdiri di depan pintu menatapnya.
" Raya kenapa kamu tidak mendengarkan perkataan dokter saja, kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit jiwa " ucap mama raya.
" Ma, dia suamiku bagaimanapun kondisinya aku yang akan merawatnya " sahut raya yang langsung masuk ke dalam rumah dan membaringkan dimas di kasur kamarnya.
Raya yang melihat dimas masih tertidur perlahan menutup pintu kamarnya, raya yang merasa lelah langsung menyandarkan badanya di sofa ruang tamunya.
" Nak, apa tidak sebaiknya kamu memikirkannya lagi dimas tidak hanya mengalami gangguan jiwa dia juga telah kehilangan segalanya. Apa kamu benar-benar yakin ingin merawatnya sendiri " ucap papa raya yang langsung duduk di samping raya.
" Pa aku sudah bilang dimas suamiku, walaupun orang berpikir dia sudah gila dan kehilangan segalanya tapi bagiku dia masih dimas suamiku, suamiku yang paling sempurna di mataku " sahut raya yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Sudahlah tidak ada gunanya berbicara padanya, raya merasa dirinya mampu menghadapi semua sendiri kita tidak di butuhkan di sini " ucap mama raya yang terlihat sangat kesal.
" Kalau begitu kami pamit dulu jika ada apa-apa segera hubungi kami, walau kamu tidak mendengarkan perkataan orang tuamu ini bagaimanapun juga kamu adalah anak kami dan dira cucu kesayangan kami " sahut papa raya yang langsung mengikuti mama raya berjalan keluar.
__ADS_1
Dira yang mendengar perdebatan antara mama kakek dan neneknya hanya bisa menutup mulutnya sambil terus menangis.
Huuu, kenapa keluargaku harus menjadi seperti ini. Aku baru saja merasakan kebahagiaan kenapa semua kembali menghilang, apa salahku" dalam hati dira sambil terus menangis.