
Dira yang melihat mamanya hanya menatap makanan di depannya merasa tidak tega, dira berpikir mamanya masih terpikirkan papanya yang pergi tanpa berpamitan.
" Mama kenapa?" tanya dira sambil menyuap makanannya ke mulut.
" Mama masih mikirin papa ya " sambung dira.
" Tidak kok sayang, mama tahu papa pergi demi kita mama bisa mengerti itu " sahut raya.
" Terus kenapa mama tidak makan?" tanya dira.
" Mama tiba-tiba kepikiran nenek dira, mama khawatir terjadi sesuatu pada nenek " sahut raya.
" Ya sudah, besok kita pergi saja ke rumah nenek tapi sekarang mama harus makan dira tidak mau mama sakit " ucap dira.
" Dira benar lebih baik besok kita datang ke tempat nenek, sekarang mama bisa makan dengan tenang " sahut raya sambil menyuap makanan ke mulutnya.
Walau sudah memutuskan besok dirinya akan pergi ke tempat orang tuanya raya tiba-tiba merasa sedikit ragu, bagaimanapun juga sebelumnya dirinya tidak mematuhi permintaan orang tuanya bagaimana dia akan menjelaskan semuanya di sana.
" Mama tenang saja dira yakin tidak terjadi apa-apa " ucap dira yang langsung menggenggam tangan mamanya.
Setelah selesai makan raya yang berbaring di kamarnya terus berpikir bagaimana menjelaskan ke orang tuanya, raya merasa bersalah waktu itu tidak menuruti permintaan mamanya tapi usaha yang di lakukannya membuahkan hasil seharusnya orang tuannya tidak menyalahkannya.
Tok, tok, tok...
Suara pintu kamar di ketuk membangunkan raya yang tidak tahu tertidur sejak kapan, raya yang tahu itu pasti putrinya yang mengetuk bergegas membuka pintu kamarnya.
" Mama, bukannya hari ini kita mau pergi ke rumah nenek " ucap dira yang berdiri di depan pintu.
" Emmm, iya mama hampir saja lupa " sahut raya.
" Dira tunggu sebentar ya mama mau mandi dulu " sambung raya.
" Emmmmm " sahut dira sambil menganggukkan kepalanya.
Raya yang berjalan ke kamar mandi terus meyakinkan dirinya sendiri, semua keputusannya tidaklah salah dirinya tidak perlu takut jika memang orang tuanya memarahinya nanti.
Raya yang selesai mandi bersiap memakai baju, raya menatap cermin di lemarinya sambil menghela nafas panjang.
Percayalah semua akan baik-baik saja, aku tidak perlu khawatir " dalam hati raya meyakinkan dirinya sendiri.
Raya yang keluar langsung di sambut putrinya, dira menggengam tangan mamanya seakan mengerti apa yang sedang di rasakan mamanya.
Raya menatap putrinya sambil berjalan ke arah mobil, raya merasa bersyukur putrinya membantunya merasa jauh lebih tenang daru sebelumnya.
__ADS_1
" Dira kenapa melihat mama seperti itu " ucap raya sambil mengendarai mobilnya.
" Dira merasa mama selalu memikirkan sesuatu, Dira takut kalau mama terlalu banyak berpikir akan menjadi sakit " sahut dira.
" Mama tidak apa-apa dira tenang saja ya, oh ya dira kangen tidak sama kakek nenek " ucap raya mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Dira sangat kangen ma, dira dari tadi berdoa semoga kalau kita sampai di sana nenek tidak marah-marah lagi seperti dulu " sahut dira.
" Tapi nenek kan tidak pernah memarahi dira, kenapa dira takut "ucap raya.
" Walau nenek tidak pernah memarahi dira tapi nenek selalu memarahi mama dira tidak tega melihatnya " sahut dira.
" Nenek memarahi mama karena mama yang salah, kalau mama tidak ada salah nenek tidak mungkin marah. Kita sudah sampai ayo turun " ucap raya sambil memarkirkan mobilnya.
Raya yang menggandeng tangan dira mengehentikan langkahnya di depan pintu, dengan tangan yang gemetar raya menekan bel rumah orang tuanya beberapa kali.
Suara pintu terbuka membuat raya merasa terkejut, raya yang melihat kakaknya berdiri di depannya hanya diam sambil terus menatapnya.
" Masuklah, kamu rumah sendiri saja sudah seperti orang luar. Kenapa tidak langsung masuk saja " ucap yogi sambil menatap raya.
" Om yogi " panggil dira.
" Eh ponakan om ada di sini, ayo masuk " sahut yogi sambil menggendong dira masuk ke dalam rumah.
" Mama di kamar kamu langsung ke sana saja mama sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu " sahut yogi yang langsung membawa dira bermain.
" Haaaaah" raya menghela nafas sambil berjalan ke kamar orang tuanya.
Raya yang berdiri tepat di depan pintu kamar perlahan membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar mamanya.
" Ma bagaimana keadaan mama?" tanya raya sambil berjalan mendekati mamanya yang terbaring.
" Ku kira kamu tidak akan datang " sahut mama raya.
" Ma jangan bilang begitu bagaimanapun juga aku anakmu aku mengkhawatirkanmu " ucap raya.
" Ada anak yang tidak menuruti perkataan orang tuannya bahkan pergi tanpa memberitahu keluarganya " sahut mama raya.
" Aku pergi karena tidak ingin membuatmu tertekan, Maafkan aku " ucap raya.
" Sudahlah kamu yang sekarang lagi sakit karena kangen anakmu kenapa tidak memeluknya malah terus memarahinya " sahut papa raya yang baru masuk ke kamar.
" Papa " ucap raya.
__ADS_1
" Sudah tidak ada apa-apa, kami tahu niat baikmu kami juga merasa bersyukur karena kerja kerasmu semua membuahkan hasil " sahut papa raya sambil mengelus kepala raya .
" Bagaimana dimas bisa sembuh?" tanya mama raya.
" Hanya perlu merawatnya dengan sabar, kesembuhannya tuhan yang membantu " sahut raya.
" Sekarang ke mana dia, kenapa tidak masuk ke dalam ?" tanya mama raya.
" Dimas sudah pergi masih banyak yang harus di selesaikan katanya " sahut raya.
" Baguslah jika dia masih memiliki tanggung jawab, di mana cucuku kenapa tidak ada di sini " ucap mama raya sambil berusaha duduk.
" Nenek " panggil dira sambil berlari dari luar kamar.
" Cucu nenek akhirnya datang, nenek kangen sama dira " sahut mama raya yang langsung mengelus kepala dira.
" Nenek jangan marahin mama lagi ya, nanti dira sedih " ucap dira sambil menatap neneknya.
" Nenek tidak marahin mama kok dira tenang saja " sahut raya sambil tersenyum.
" Raya sini dulu ada yang ingin ku tanyakan padamu " ucap yogi yang berdiri di depan pintu.
" Apa kak?" tanya raya sambil berjalan menghampiri yogi.
" Ayo keluar biar mama sama dira di sini " sahut yogi sambil berjalan meninggalkan raya.
Raya yang melihat kakaknya berjalan menjauh bergegas mengikutinya dari belakang, yogi yang berhenti dan duduk di ruang tamu membuat raya langsung duduk di depannya.
" Bagaimana semua bisa terjadi, apa hubungan kehancuran perusahan dengan kecelakaan suamimu?" tanya yogi.
" Semua berawal dari dimas yang membatalkan tanda tangan kontrak, mantan kleinnya yang tidak terima langsung mencari cara menghancurkan perusahaan dimas " sahut raya.
" Lalu bagaimana dengan kecelakaan?" tanya yogi lagi.
" Mungkin mantan klien dimas tahu kalau dimas memiliki cara untuk bangkit lagi, satu-satunya cara agar dimas tidak bisa bangkit lagi hanya dengan kematian dimas " sahut raya.
" Lali sekarang bagaimana?" tanya yogi lagi.
" Aku percaya pada dimas dia pasti tahu apa yang terbaik untuknya " sahut raya.
" Semoga saja begitu, aku dengar semenjak kejadian itu semua menjauhimu "ucap yogi.
" Biasa, di saat kita susah semua pasti menjauh aku sudah terbiasa " sahut raya.
__ADS_1