Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Terpojok


__ADS_3

Hamdan POV


Mengenal Joya adalah hal terindah di dalam hidup ku, bisa menikah dengannya seperti sebuah keajaiban.


Joya wanita yang sangat luar biasa, perkenalan singkat di pagi hari, kala anak itu magang di tempat kerja membuat dadaku bergemuruh hebat, Joya seolah memiliki magnet untuk terus menarik ku yang layaknya sebuah besi.


Tawanya, keramahannya, keceriaannya, bahkan cara wanita itu cemberut seolah menjadi poros hidup untuk ku di kala itu.


Aku memberanikan diri melamarnya di perkenalkan yang cukup singkat, tidak sampai 6 bulan kami akhirnya menikah.


Pernikahan impian yang kami jalani selama dua tahun ini, Joya istri yang patuh, lembut dan manja di saat yang tepat.


Apapun untuk nya aku berikan. Bagiku Joya adalah separuh jiwaku, senyumnya kebahagiaan tersendiri untuk ku.


Namun, itu dulu.


Joya kini berubah, wanitaku menjadi sosok yang berbeda.


Dia jadi diam dan dingin.


Salahkah jika aku ingin membawa Ibu tinggal bersama kami?


Ibu ku tidak memiliki siapapun selain diriku.


Tetapi setelah semua yang terjadi, aku tersadar, kesadaran yang ku rasa datang sedikit terlambat.


Ibu sudah menghadirkan wanita lain dan yang sialnya sudah ku nikahi karena dasar kepatuhan ku pada Ibu.


Rumah tangga yang selama ini terjalin hangat mulai dingin. Aku kehilangan roh rumah ini, aku kehilangan separuh diri ini.


Joya tak sudi merawat ku, kini hanya Ayenir yang merawat saat aku tak berdaya. Apa aku bahagia?


Tentu tidak.


Hanya Joya yang kucintai, aku tau aku salah, aku tau aku lemah, tapi aku sangat mencintai Joya. Namun, aku tidak bisa memilih antara Ibu dan Joya, dua-duanya berharga.


Apa aku bodoh? Ku rasa iya.

__ADS_1


Ibuku menjanda di usia yang baru 20 tahun, membesarkan aku seorang diri demi memastikan aku bahagia dan tumbuh dengan kasih sayang, Ibu tidak mau menghadirkan Ayah untuk ku karena takut membagi kasih sayangnya untuk orang selain aku, jadi ku rasa saat kini beliau tua sudah sewajarnya aku memberi hal terbaik untuk beliau. Namun, ternyata keputusan yang ku ambil tanpa diskusi dengan istri, salah.


Ternyata Ibu tak menyukai istri ku, dan itu baru ku tahu setelah beliau menghadirkan Ayenir untuk di dalam rumah tangga ku.


Sikap Ibu mulai transparan, mengolok dan menghina Joya dengan terus terang, ternyata selama ini Ibu membenci istri ku, mungkinkah selama ini apa yang di adukannya padaku adalah sandiwara?.


Ya Tuhan...


Author POV


Keputusan Joya jelas membuat orang tuanya terkejut.


Namun alasan Joya masuk akal, dengan berpisah baik-baik mungkin akan lebih saling berdamai, kecuali kalau nanti Hamdan menolak, mungkin mereka bisa turut membantu.


Termenung memandangi foto pernikahannya dengan Joya yang terpajang pada dinding kamarnya, begitulah Hamdan menghabiskan waktunya seharian. Ia sudah izin tidak masuk karena sakit semenjak tiga hari lalu. Perasaannya saat ini tidak bisa dijabarkan. Sesal yang tak berujung namun dibayangi dengan kata percuma, menusuknya tanpa ampun. Matanya kini memandangi foto lain yang juga ada di kamarnya bersama Joya.


Waktu terasa begitu cepat dan tanpa sadar menggerus perasaannya. Ia tak mengerti apa yang ia inginkan. Cintanya masih utuh untuk Joya, Namun, ibunya juga segalanya dan kini ada Ayenir diantara mereka. Buntu, itu yang kini membuatnya ketakutan.


" Maafkan aku Joy" ternyata Hamdan menangis.


Sakitnya juga karena terlalu lelah, Hamdan benar-benar lelah. Hamdan rindu Joya yang lembut dan manja, Hamdan kesepian tanpa tawa itu.


****


Joya masih berbaring menyamping di atas sajadahnya seusai menjalankan shalat subuh. Masih dengan mukena yang melekat, sebab Joya terlalu lelah untuk membukanya, masih banyak doa yang jumlahnya tak hitungan lagi untuk dipanjatkan.


Memanjatkan doa, sembari memikirkan doa yang terus Joya peruntukan untuk rumah tangganya dan juga Hamdan.


Joya sadar, tak seharusnya ia menghindar seperti ini, tak seharusnya ia diamankan Hamdan, memanfaatkan waktu yang seharusnya ia pergunakan untuk saling bicara, Joya tau Hamdan orang yang baik pada dasarnya dan Hamdan juga memiliki cinta yang sama dengan kadar cintanya, Joya yakin Hamdan pasti mengerti akan keputusan terakhirnya.


Dengan mantap, akhirnya Joya memilih pulang.


Hamdan membawa Joya kedalam pelukannya, akhirnya, Indra penciumannya menemukan wangi tubuh yang selama ini di cari. Tubuh dan perasaannya tak lagi menampik, bahwasanya kerinduan, kesedihan, dan perasaan cintanya, turut dalam rengkuhannya.


" Mas merindukan mu, dek." bisik Hamdan parau.


Joya memang membiarkan Hamdan memeluknya, namun Joya tak membalas secara langsung, kenyataannya ada wangi wanita lain di tubuh Hamdan. Namun jelas Joya tidak bisa marah karena itu.

__ADS_1


Tiga hari Hamdan baru bisa merasakan hatinya lega, setelah Joya pulang.


" Bunda dan Ayah?" tanya Hamdan ragu.


" Sehat, dan juga membiarkan Joya memilih jalan Joya sendiri"


" Dek" Hamdan menatap sendu istrinya.


" Sudahlah mas, aku...ada yang ingin aku bicarakan dengan mas Hamdan!" ucap Joya sedikit ragu, ada rasa tak tega sebenarnya, namun lagi-lagi Joya menguatkan tekatnya.


" Kita belanja dulu ya, mas rindu masakan istri mas ini" Hamdan menoel dagu Joya.


" Aku tidak punya uang untuk belanja bahan makanan, tadi tidak sempat mampir ke ATM" ucap Joya jujur.


" Tapi bukankah kamu sudah ketemu Ibu?" tanya Hamdan.


" Ya" jawab Joya. Begitu melihat kedatangan Joya, Ibu mertuanya langsung mengangkat dagunya angkuh, bahkan kata-kata makian wanita itu layangkan pada Joya, sambutan yang begitu menusuk telinga Joya. Setelah memaki-maki dirinya wanita yang melahirkan Hamdan itu pergi begitu saja.


" Aku sudah memberikan gaji ku pada Ibu, Ibu akan memberikannya untuk mu" Hamdan mencoba berdiri dari duduknya. " Harusnya Ibu sudah memberikannya untuk mu, dek!"


Tidaklah heran bagi Joya, sejak awal Ibu mertuanya memang tidak ingin jika gaji Hamdan ia yang pegang.


" Tunggu, biar aku bicara sama Ibu"


Hamdan keluar dari kamar, dan Joya tak berhasrat untuk mengikutinya, biarlah. Joya tidak mau semakin sakit hati mendengar ucapan kasar Ibu Hamdan.


Baru beberapa menit Hamdan keluar, kini malah Rubiah masuk begitu saja kekamarnya.


" Jadi kamu mau kebagian uang belanja?" tanyanya nyolot pada Joya.


" Maksudnya apa Bu?" Joya jelas mau kebagian, biar bagaimanapun itu nafkah yang wajib Hamdan penuhi sebagai seorang suami.


" Kamu memang ngak tau diri ya? Kamu sadar, tidak hanya kamu istri Hamdan, uang itu saya berikan kepada Ayenir, karena dia jauh lebih berhak. Tiga hari Hamdan sakit Ayenir yang merawat, kemana aja kamu? baru setelah mendengar Hamdan gajian kamu buru-buru pulang, cuih" wanita itu meludah di lantai kamar Joya.


Relung hati Joya seperti di remat dengan kejam mendengar cecaran dari wanita yang melahirkan suaminya itu.


Masih kurang-kah kebaikan nya? Bahkan setelah semua yang terjadi wanita itu tetap menyalahkannya, dan kemana Hamdan sekarang?

__ADS_1


" Bu, " ternyata pria itu datang juga!


__ADS_2