Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Selalu terbayang


__ADS_3

Mendadak, tubuh pria itu tegang ketika merasakan pelukan erat dari belakang di sertai kecupan ringan di pipinya. Rion syok.


Suara sesuatu terjatuh membuat pria itu menoleh. Berusaha menutupi ekspresi terkejut karena perlakuan Joya, melihat pria yang dia tau sebagai mantan suami Joya terkulai lemas duduk di lantai kantin rumah sakit.


Rion melepas kancing kemejanya sambil melirik Joya yang masih memeluk lengannya.


Rion menyingsingkan lengan kemeja dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi meneguk minuman di tangannya dengan sedikit rakus.


Rion yang sempat blank baru akan membantu Hamdan. Akan tetapi petugas medis lebih dulu membantu mantan suami Joya berdiri.


Hamdan sempat menatap Rion penuh permusuhan yang kental. Yang di tatap hanya diam sambil memperhatikan para tim medis membawa Hamdan kembali ke kamarnya.


Rion melihat Ayenir berpaling menatapnya, namun tidak lama karena setelahnya wanita itu buru-buru menyusul Hamdan.


****


Joya memicingkan mata kala hangatnya mentari menerpa wajahnya lewat celah tirai yang sedikit terbuka, dia membuka matanya dan melihat jam dinding di tembok kamarnya.


"Sudah bangun?"


Joya terperanjat mendengar suara laki-laki di dalam kamarnya. Rian tersenyum simpul dan mendekati Joya. Pria itu sudah rapi dan harum, sementara Joya baru saja bangun.


Joya langsung menaikkan selimutnya menutupi dada sambil bertanya pada Rian. "Abang ngapain di kamar ku?"


"Aku tadi mengantar Ayah dan Bunda, lalu mampir sekalian melihat keadaan mu"


Joya mengangkat wajahnya, menatap Rian yang tersenyum kearahnya. Pria itu tampan, kaya raya dan sangat perhatian, tetapi Joya ikut merasa kecewa dengan Rian yang bersikap pecundang.


Pintu kamar Joya dibuka dari luar. Siufaslin muncul di balik pintu bersama Panji dan kedua orang tua Rian.


Loh, kok semua ada di kamarnya?

__ADS_1


"Masak harus di bangunkan calon suami dulu baru mau bangun?" Siufaslin terseyum bahagia mencubit pipi putrinya sementara Joya terlihat bingung mendengar penuturan Bundanya.


Siapa yang dimaksud bundanya calon suami? Rian kah?


"Jangan digodain, nanti calon menantuku malu" Rindi mendekat dan ikut naik ke ranjang Joya untuk memeluk Joya dari samping yang semakin membuat Joya bingung.


"Ayah nggak nyangka mendengar kabar bahagia secepat ini" Panji menepuk pundak Rian ringan." Tolong jaga putri Ayah dengan baik, jangan pernah kamu sia-siakan dia, jika kamu sudah tidak mampu memenuhi tanggung jawab itu, kembalikan dia dengan cara baik-baik"


Tunggu-tunggu!! Apa ini?


Joya sontak bangun dan menyingkap selimutnya, menatap satu persatu wajah-wajah bahagia di sana.


Buru-buru Joya menjelaskan jika antara dia dan Rian belum resmi menjalin hubungan, Joya terus terang mengatakan bahwa dia belum menerima lamaran Rian.


Penjelasan Joya tentu saja mengejutkan dua belah pihak keluarga, Dermawan dan Panji saling pandang, hal yang sama juga terjadi pada Rindi dan Siufaslin, kemudian mata mereka beralih ke satu arah, yaitu Rian.


Joya dapat melihat perubahan wajah Rian saat semua mata melihatnya untuk memberikan penjelasan. Barang kali Rian tidak menyangka jika Joya akan menjelaskan penolakannya secara rinci seperti ini.


Tadi malam Joya pulang diantarkan oleh Rion, Joya tidak lagi bertemu dengan Rian, hal ini tentu saja di luar pikirannya. Lagian setelah kejadian semalam Joya mulai ragu dengan ketulusan hati Rian.


Joya berkedip dan meraih kesadarannya. Mengapa tiba-tiba dia membanding-bandingkan dua saudara itu?


Rian yang ditatap semua orang menarik kedua sudut bibirnya. Pria itu rupanya juga memiliki ketenangan yang bagus, meski hatinya kecewa dengan ucapan Joya yang membeberkan penolakannya secara blak-blakan, tetapi Rian bisa menguasai diri dengan cepat.


"Yang dikatakan oleh Joya benar. Aku nggak ada obrolin ini dulu sama Joya, mungkin Joya hanya kaget" tuturnya menatap kedua orang tuanya dan orang tua Joya. Kini Rian mengalihkan pandangan, menatap Joya lembut.


"Joy, aku datang kesini berniat melamar mu, mengatakan tujuanku kepada kedua orang tua mu, maaf jika aku terlalu tergesa-gesa"


Joya tidak menanggapi, matanya melihat kearah orang tuanya yang jauh-jauh datang dari Malaysia, kenapa Rian berani bertindak se nekad ini?


*****

__ADS_1


Tepat jam tujuh malam, meja makan dirumah Joya, sudah penuh dengan makanan hasil masakan Joya.


Setelah kejadian tadi, kedua orang tua Rian termasuk Rian berpamitan pergi, dan mereka kembali datang sekitar jam empat sore.


Dan disinilah mereka semua. Menatap terkagum-kagum hasil masakan tangan Joya sendiri.


"Wah ... ini semua hasil masakan kamu?" Tanya Rindi.


Joya mengangguk sambil berdiri masih memastikan kelengkapan meja makan. "Tante cobain!"


"Kamu nggak ikut makan?" Tanya Siufaslin yang melihat putrinya masih berdiri.


"Badanku masih bau asap. Kalian duluan saja"


Joya heran, mengapa mereka semua masih harus kembali kerumahnya? Bukankah seharusnya mereka menemani Rion menjaga Jio?


Joya ingin sekali kerumah sakit. Tetapi tidak mungkin dia meninggalkan orang tuanya yang baru saja datang dari luar negeri.


Masuk kedalam kamarnya. Joya menarik napasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba Joya merasa sebal pada Rion. Padahal pria itu tak melakukan apa-apa, tetapi secara perlahan menarik hatinya dan membuatnya kesulitan untuk membuang bayangannya. Akhir-akhir ini Joya juga sering tiba-tiba mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Rion. Pria yang pernah merangkulnya, pria yang membayarkan minumannya. Ah, Joya jadi kesel sendiri pada dirinya. Kenapa Rian yang ada justru Rion yang selalu dalam pikirannya?


Suara ketukan pintu membuat Joya kembali tersadar.


"Joy, maaf jika kehadiran kami membuatmu kurang nyaman. Tante Siu yang memintaku menyusul mu" ucap Rian saat Joya baru saja membuka pintu kamarnya.


"Bang, jangan menarik ku melakukan hal yang lebih dari hubungan yang telah kita sepakati sebelumnya, bukankah Abang memberiku waktu untuk berpikir? Lalu kenapa tiba-tiba membawa kabar ini sampai ke orang tua kita?"


Joya tidak ingin masuk ke dalam kehidupan Rian lebih dalam lagi. Hatinya tidak merespon segala perhatian yang pria itu berikan. Joya tidak ingin menipu hatinya dan berpura-pura memiliki perasaan yang sama dengan pria itu.


Karena setelah kejadian dia mencium pipi Rion hati Joya semakin terikat dengan bayang wajah pria itu. Sosok pria yang begitu kuat dimatanya. Sosok pria yang juga bisa membuat hati Joya kembali menemukan getarannya.


Tidak banyak yang dia lewati bersama Rion. Tetapi semua meninggalkan kesan mendalam bagi Joya.

__ADS_1


Kata-kata yang di ucapkan Rion juga begitu membuat Joya terkagum-kagum. Ketegaran pria itu dalam membangun hubungan baik dengan keluarganya selama ini juga menjadi poin plus tersendiri untuk Joya. Berawal dari kekaguman dimatanya, kini seolah rasa itu berubah menjadi getaran cinta.


Ada yang setuju Rion bersama Joya?


__ADS_2