Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Kilasan masa lalu


__ADS_3

Tak menunggu lama, Rian langsung menarik Rion menjauh dari Joya, dan setelah itu mata tajamnya menyorot tepat di mata Rion.


"Apa-apaan kamu itu I'o???" ucap Rian sambil menuding Rian.


"Abang nggak capek pake topeng terus?" tanya Rion tak merasa terintimidasi dengan tatapan Abang nya.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya Rian


"Aku yang harusnya nanya, Abang itu kenapa?" bukannya menjawab, Rion bertanya balik


"Untuk apa kamu kasih CV kamu sama Joya? Maksudnya apa?" geram Rian.


Rion memutar bola matanya malas, nggak mungkinkan Rian SE bodoh itu sampai nggak tau maksud dan tujuannya.


"Jawab, I'o!!!" Rion sama sekali tak perduli dengan Rian, pria itu tak juga membuka suaranya.


"Bajingan!!" ujar Rian sambil menyambar kaos Rion di bagian lehernya.


Senyum sinis Rion tersungging. "Akhirnya Abang melepas topeng juga!"


Rian menyentak cengkraman tangannya. mencoba mengatur napas, Rian kembali menatap adiknya yang menatapnya dengan senyum kecut.


Sejak dulu Rion selalu berprasangka bahwa Rian tak menyukainya, entahlah, padahal selama ini Rian begitu menyayangi adiknya.


Menekan emosi, Rian menepuk pelan pundak adiknya.


"Harusnya kamu tau kalau Abang ada perasaan sama Joya." ucap Rian mengatur napasnya, meredam luapan amarah.


"Untuk itu aku bergerak cepat, aku tidak ingin kamu mendapatkannya"


"ION!!!!" Bentak Rian tersulut emosi.


Rion menyeringai. "Tak cukupkah Abang membunuh satu wanita? Mengapa masih ambisius mencari korban lagi?"

__ADS_1


Tangan Rian terkepal kuat. Andai saja Rion dalam keadaan sehat, tidak habis operasi sudah pasti tangannya akan melayang tanpa perhitungan.


"Itu kecelakaan, ION!! aku tidak pernah membunuh siapapun!" Rian menekan perkataan nya, ia kian frustasi jika Rion sudah membahas tentang masa lalu mereka, "Kenapa kamu masih menyalahkan ku, itu sudah takdir. Riri meninggal bukan karena kesalahanku!" Napas Rian naik turun.


"Riri tidak akan meninggal jika Abang melarikan kerumah sakit dengan cepat, tapi Abang lebih memilih diam saja!" Mata Rion memerah menatap saudaranya.


"Itu karena aku panik, aku syok, sampai kapan aku harus mengatakannya"


Tangan Rion terangkat, melambai ke arah Rian tanda dia sudah muak bicara dengan Abangnya.


Tanpa memperdulikan Rian lagi Rion mendekati Joya yang masih mengendong Jio, tanpa ba-bi-bu Rion mengambil alih putranya, Joya melihat sekilas amarah di bawah Rion sedikit bingung. Tapi lebih bingung lagi saat Rion pergi begitu saja membawa Jio, bahkan tak mengatakan sepatah katapun.


Apa-apaan?? Setelah membuat nya hampir terkena serangan jantung, kini pria itu meninggalkannya begitu saja. Dasar aneh.


Setelah kepergian Rion membawa Jio, Rian mendekati Joya.


"Maaf ya, Rion memang seperti itu" Rian merasa tidak enak hati dengan Joya.


"Sebenarnya....


Ujian masuk universitas yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan secara serentak di seluruh Nusantara sudah berakhir. Pemuda berusia delapan belas tahun itu akhirnya bisa bernapas lega. Satu bulan lamanya dia belajar untuk mempersiapkan diri. Walau kadang pemuda itu rajin membantu Ayahnya belajar di perusahaan, dia puas karena bisa menghadapi ujian dengan maksimal.


Setelah ujian, dia tidak memiliki kegiatan.


Hidup ditengah kota tentu membawa pengaruh hebat dalam pergaulan, itu juga yang sedang di lakukan oleh seorang pemuda yang sedang mengikuti hari graduation.


Rion Oktadio. Setelah berpesta di sebuah club' malam bersama dengan teman-teman sebayanya. Pemuda itu terbangun di kamar hotel.


Pemuda delapan belas tahun itu, terbangun dalam keadaan sakit kepala, seluruh tubuhnya sakit, di tambah rasa mual yang tak tertahankan.


Selain dia, ada empat teman lainnya yang tertidur dalam satu kamar.


Mencoba mengingat siapa yang membawanya masuk ke kamar hotel, Rion sama sekali tak mendapatkan ingatan nya, dia hanya ingat minum wine yang di tawarkan temannya untuk mencicipi, setelah itu dia mabuk dan ... terbangun di pagi hari dalam keadaan sakit kepala.

__ADS_1


Waktu berjalan dengan cepat. Rion sudah siap menjadi seorang calon mahasiswa, tetapi bersamaan dengan itu kabar mengejutkan datang dari gadis muda seusianya yang mengaku mengandung anak dari nya.


Kaget, syok, bingung, marah dan kalut jadi satu, bagaimana bisa dia dikatakan sebagai calon Ayah dari janin yang dikandung wanita itu sementara Rion sendiri tidak mengenal siapa gadis yang mengaku hamil anak nya.


Kehebohan terjadi di tengah keluarga Oktadio. Rion benar-benar di sidang oleh keluarga besarnya. Tapi karena benar-benar tidak merasa telah melakukan dosa besar itu, tentu saja Rion mengelak.


Hingga akhirnya di saat usia kandungan wanita itu sudah bisa dilakukan tes DNA, dari sana Rion dan keluarganya mengetahui kebenaran, bahwa janin yang dikandung wanita bernama Riri adalah darah daging Rion.


Diusia yang belum genap sembilan belas tahun Rion sudah menjadi calon Ayah, bukan hal mudah untuk nya, pemuda itu kerap emosional karena meskipun hasil tes itu membuktikan 99% hasil akurat, namun sekuat apapun Rion mengingat tragedi itu, dia tetap tidak mengingat apa-apa.


Sampai pada akhirnya, dari dua belah pihak keluarga sepakat untuk menikahkan mereka ketika anak itu lahir. Sebelum itu Riri akan dirawat di rumah keluarga Oktadio, sementara Rion pindah ke apartemen.


Tragedi itu terjadi saat kedua orang tua Rion kembali ke KL, hanya ada tiga asisten rumah tangga dan juga Rian di rumah.


Di usia kandungan Riri, calon istri Rion menginjak usia delapan bulan, wanita itu mengalami kecelakaan, yang sampai saat ini tidak diketahui kejadian sebenarnya.


Hanya menurut saksi mata yang tak lain dua pekerja asisten rumah tangga keluarga Oktadio, Riri tergelincir dari tangga, mengakibatkan wanita itu terguling jatuh dari undakan tangga paling atas hingga dasar.


Rian yang berada di ruang kerjanya terkejut mendengar teriakan kedua asisten rumah tangganya, dengan cepat Rian mendekat, dan melihat Riri yang sudah terkulai dengan darah yang mengalir dari sela pahanya.


Tetapi karena terlalu syok, kaget dan ketakutan. Rian bukannya langsung melarikan Riri ke rumah sakit, pria itu malah mematung bermenit-menit lamanya.


Sampai pada saat asistennya terus menyadarkan Rian dari keterpakuannya yang tak berkesudahan.


Rian pada akhirnya membawa Riri ke rumah sakit terdekat, sayang wanita itu sudah kehabisan banyak darah, anaknya juga terpaksa dilahirkan secara prematur, karena sang Ibu yang sudah tidak tertolong.


Saat berita itu sampai di telinga Rion, pria itu sedang berada di luar apartemen, tiga jam lamanya Rion baru bisa sampai ke rumah sakit.


Dan dari sanalah awal mula kebencian Rion terbentuk.


Apakah Rion mencintai Riri? Jawabannya Rion tidak tau, mereka jarang bertemu, hanya sesekali jika Rion sedang mengabulkan keinginan Ibu dari anaknya, belum tentu satu Minggu sekali mereka bertemu.


Mereka sudah tiga kali memeriksakan kandungan bersama, meskipun rasa pada Ibu sang janin masih terasa abu-abu, tetapi Rion sudah jatuh hati pada janin yang di kandung wanita itu, pada saat pertama kali dia mendengar suara detak jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2