Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Keputusan final


__ADS_3

Dengan dukungan kedua orang tuanya Joya akhirnya menggugat cerai Hamdan. Wanita itu membulatkan tekad, tidak bisa terus bertahan dengan Hamdan yang lemah dan terlalu patuh pada ibunya. Handan bukan lagi lelakinya yang mengutamakan nya seperti dulu, Hamdan bukan lagi sosok yang selalu memanjakannya, pria itu jadi lemah dan mengutamakan ibunya di atas segalanya membuat Joya muak, terlebih kini Hamdan bukan hanya miliknya seorang, membuat Joya semakin yakin untuk pergi dari hidup Hamdan.


"Jadi, sudah yakin?"Joya menatap pria dihadapannya dengan serius. Dan, memberikan anggukan kepala mantap.


"Kalau begitu tolong siapkan persyaratan yang tertulis di sini" Pria itu menyodorkan selembar kertas."Dan gugatan harta gono-gini, jika ada" tambah pria berkacamata itu, yang di tunjuk Ayah Joya sebagai pengacara untuk Joya.


Joya menerima dan membacanya sekilas sebelum mengangguk.


Hanya seperti itu, setelahnya Joya bergegas pergi untuk menenangkan hatinya.


Tidak mudah merelakan Hamdan untuk orang lain.Tapi Joya bisa apa? Hamdan terlalu lemah, sosok yang tidak bisa lagi di andalkan seperti dulu.


Jauh di lubuk hati Joya masih sangat mencintai Hamdan. Pria yang dulu di puja nya, sampai Joya rela melepaskan segalanya, dan mengabdi menjadi seorang istri rumahan.


Duduk di pinggiran taman kota Joya menikmati Bayu yang ikut mengerakkan rambut sebahunya. Sapuan lembut yang ikut menyapa wajahnya yang mendongak.


Membiarkan hawa panas ikut merasuk ke pori-pori kulitnya yang berwarna kuning langsat. Air mata kembali menetes dari kedua mata ketika ia menunduk.


Menatap nanar lembaran kertas yang akan menjadi pelantara dia dan Hamdan berpisah.


"Menangis adalah satu dari banyaknya cara untuk menyalurkan sebuah perasaan. Kata orang itu akan membuat kita sedikit lega" Joya menatap seseorang yang duduk di sampingnya.


Tidak asing. Karena lelaki itu adalah pria yang tadi di temui nya di sebuah gedung. Dia adalah Rian Oktadio. Seseorang yang tak lain akan mendampingi Joya selama menggugat cerai Hamdan.


"Pak Rian!"buru-buru Joya menghapus air matanya.


"Jika diluar bisa panggil nama saja, Joy" tegurnya seraya menampilkan senyum ramah. Sangat berbeda dengan sosok yang tadi Joya temui.


"Ah, ya, Ri-rian" Joya membenahi panggilannya dengan kikuk.


Rian terseyum dan mengulurkan sebuah tisu Sachet. " Maaf ya, aku kurang suka membawa sapu tangan"


"Joya menerima dengan anggukan kecil. Baru kali ini ada seseorang yang memberinya tisu sachet seperti ini. Meskipun itu tidak aneh.


"Terimakasih" Joya hendak mengembalikan tisu milik pria itu. Akan tetapi Rian lebih dulu melarangnya.


"Simpan saja, ku pikir kamu jauh lebih membutuhkannya"


Joya sekali lagi mengucapkan terimakasih.


"Jangan khawatir, sebelum berkas masuk ke pengadilan, kamu masih bisa memikirkannya lebih matang" tutur Rian pelan.

__ADS_1


Joya mengeleng.


"Keputusan ku sudah bulat" jelasnya. "Aku hanya tak mengira akan di posisi seperti ini!" tambah Joya lagi.


"Itu umum terjadi. Ya sudah, jangan terlalu larut dengan masalah, kamu bisa menjernihkan pikiran mu dulu, supaya lebih tenang memutuskan sesuatu."


"Tidak ada yang perlu ku pikirkan, berpisah adalah cara terbaik."


"Aku disini tidak ingin membahas masalah itu, bukankah tadi kita sudah membicarakannya? Aku hanya ingin kamu melupakan sejenak masalahmu Joy"


Rian berdiri dan menoleh pada Joya "Follow me!" ucapnya pelan seraya berjalan lebih dulu.


"Ingin membeli apa?" tanya Joya saat Rian memarkirkan mobilnya di depan minimarket.


"Mau ikut?" tanya Rian menoleh pada Joya. Dan, langsung mendapat gelengan kepala dari wanita itu.


Rian turun, tidak sampai 15 menit, pria jangkung itu kembali memasuki mobil.


Joya mengerutkan keningnya, ketika sebuah kantong putih berukuran sedang itu di sodorkan ke arahnya.


"Untuk mengembalikan mood baik!" tutur Rian, saat melihat keheranan di wajah Joya.


"Kamu mau kembali ke taman? tanya Rian, saat sudah kembali menjalankan mobilnya.


"Tidak, aku mau pulang aja"


"Biar ku antar sekalian"


"Tapi...


"Tidak apa-apa, aku masih ada waktu dua jam sebelum kembali untuk menemui klien"


Pada akhirnya, Joya benar-benar di antar pulang oleh Rian. Rasanya agak aneh karena selama ini dia tidak pernah keluar bersama seorang laki-laki asing.


"Joy..


Joya terkejut saat sebuah lengan melingkar di pinggang nya. Beruntungnya mobil Rian sudah tak terlihat lagi.


Joya mendapati Hamdan yang menatapnya sayu.


"Mas Hamdan?" tanya Joya tak menyangka Hamdan bisa menemukannya di rumah orang tuanya yang masih satu kota dengan Hamdan. Yang dulu sengaja dibeli kedua orang tuanya untuk mengawasi Hamdan saat masih berpacaran dengan Joya.

__ADS_1


Hamdan langsung memeluk tubuh Joya dengan penuh kerinduan.


"Mas rindu, Joy." Suara Hamdan bergetar.


"Mas, jangan begini." Joya mencoba melepaskan pelukan Hamdan.


Dan, disinilah mereka.


Hamdan duduk di hadapan Joya dengan tangan yang tak melepaskan genggamannya pada tangan Joya.


"Kenapa mas kesini?" tanya Joya. Perihal gugatan cerainya sengaja tak di utarakan pada Hamdan. Biarkan nanti setelah resmi terdaftar, Hamdan tau dari surat yang mengundangnya ke pengadilan.


"Jemput kamu" Hamdan tak sekalipun mengalihkan pandangannya.


"Mas, apa mas tidak kasihan kepada ku?" lirih Joya "Aku lelah, aku capek"


"Maaf, tapi mas tidak bisa menahan rindu lebih lama, kita baikan ya sayang? Kita mulai semua dari awal. Ini-ini mas bawa gaji mas sebagian untuk kamu" Hamdan buru-buru mengeluarkan uang yang ada di dalam jaketnya.


Di berikan uang itu kepada Joya dengan tatapan lembut.


Joya tidak menerima, hanya menatap sekilas, sebelum mengelengkan kepalanya.


"Sudah terlambat mas, aku sudah tidak menginginkannya"


"Joy, beri mas kesempatan" iba Hamdan.


"Aku minta waktu sendiri karena aku memang sudah tidak sanggup, Mas." Joya terisak pedih. menatap nanar uang di atas meja. Sampai sebegitu nya Hamdan menyimpannya, apa mungkin suaminya masih begitu takut pada Ibu mertuanya?


Dan Joya tau pasti jawabannya 'Iya.


...****************...


Joya membiarkan Hamdan membersihkan diri di kamarnya, sementara dia mencarikan handuk bersih.


"Handuknya aku gantung di pintu" belum sempat Joya berbalik, ternyata Hamdan membuka pintu, seketika Joya kaget.


"Mas Hamdan..Arrrgggg..." Kalimat yang akan Joya ucapkan terganti dengan pekikan tertahan. Ia gegas menutup kedua matanya dengan tangan, lalu berbalik badan. Langkah setengah berlari ia ambil kemudian, menjauhi sang suami yang berdiri dengan pintu kamar mandi terbuka lebar.


Hamdan yang melihat tingkah lucu istrinya, menarik kedua sudut bibirnya membentuk bulan sabit. Ia hanya terlalu kaget saat tadi mendengar suara itu lagi dan mendapatkan perhatian kecil itu lagi, membuat Hamdan refleks membuka pintu untuk memastikan apakah Joya beneran menyiapkan handuk untuk nya.


Hamdan seperti mimpi, bisa melihat lagi semburat merah muda di wajah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2