
Joya patut bersyukur, kala di tengah kecanggungan hatinya, Rian datang dengan Jio di gendongannya.
"Sudah?" Tanya lelaki itu membuat Joya buru-buru mengangguk.
Hamdan merasa hatinya terusik melihat ada pria lain yang Menggantikan posisinya menemani Joya berbelanja.
Yang lebih membuat Hamdan lebih geram. Laki-laki itu adalah pengacara sialan yang bernama Rian.
Mengapa laki-laki itu sering bersama Joya. Mungkinkah mereka kini menjalin hubungan? Memikirkan itu tangan Hamdan terkepal kuat. Saat Joya tersenyum hangat pada Rian amarah Hamdan memuncak.
Di kuasai emosi, Hamdan melepaskannya pegangannya pada sang Ibu, dan dengan kalap mendaratkan pukulan dua kali di wajah Rian yang sedang mengendong Jio.
Tentu saja karena tidak siap Rian tersungkur. Hamdan begitu kuat memukul rahangnya. Jio sampai ikut terjatuh bersama tubuh sang Paman. Hingga membuat anak lima tahun itu menangis.
Joya syok melihat kemarahan Hamdan.
"Mas ..."
"Apa-apaan kamu, Mas?"
Ayenir dan Joya berseru bersamaan. Joya buru-buru meraih Jio dari atas tubuh Rian yang tersungkur. Menenangkan anak itu yang menangis. Mungkin Jio kaget, atau juga sakit karena ikut jatuh. Mata Joya menajam.
Benar-benar muak. Melihat Hamdan yang emosional.
Memangnya siapa dia? Sampai tiba-tiba menghajar Rian tanpa alasan yang jelas.
"Kamu ..."
Joya mendorong tubuh Hamdan yang lancang memeluknya. Emosinya kian memuncak mendapatkan perlakuan kurang ajar dari Hamdan.
Tidak perduli di depan umum, kini Joya mendaratkan kelima jemarinya di pipi laki-laki yang pernah bertahta di hatinya.
'Plak'
"Bajingan!!!" Desis Joya dengan tatapan tajam.
Alih-alih membela Hamdan. Ayenir malah menatap bangga pada Joya yang memberi pelajaran terhadap suaminya.
Tentu saja. Perlakuan Hamdan tidaklah benar. Joya bukan lagi istrinya, tentu saja tindakannya terlampau lancang.
Seolah tuli, Hamdan tidak perduli dengan makian maupun amarah Joya. Pria itu tak mengendurkan tatapan tajamnya pada Rian.
__ADS_1
Dua sekuriti menghentikan mereka. Tangan Hamdan di cekal agar tak semakin mengamuk, sementara Rian hanya di bantu untuk berdiri.
"Saya bisa menuntut Anda ke kantor polisi, Pak Hamdan!" Ancam Rian.
"Aku tidak perduli!" Bentak Hamdan dengan mata berkilat. Hamdan sakit hati melihat Joya yang dekat dengan laki-laki ini. Hamdan masih mengharapkan agar rujuk dengan Joya. Tidak ingin ada laki-laki lain yang Menggantikan posisinya. Egois? Ya. Tapi Hamdan sama sekali tidak perduli.
Melihat kelakuan Hamdan. Rasa iba pada lelaki itu tiba-tiba menguap begitu saja. Entah mengapa dahulu Joya bisa se bucin itu terhadap pria egois seperti Hamdan. Rasa-rasanya kini Joya bahkan menyesal pernah menggilai lelaki tempramental tapi tidak berani sama Ibunya itu.
Melihat kearah Ayenir. Joya terseyum miris. Sungguh kini Joya merasa iba pada wanita itu.
Ayenir memang milik Hamdan, karena wanita itu adalah istrinya. Tetapi Hamdan hanya milik ibunya. Miris.
...----------------...
"Abang yakin akan tetap pergi dalam keadaaan seperti ini?" Entah sudah ke berapa kali Joya bertanya seperti itu pada Rian saat mereka dalam perjalanan menuju Bandara.
Hari ini Rian memang akan menyusul keluarganya, niatnya mereka mampir ke mall adalah membelikan beberapa mainan baru untuk Jio yang untuk dua hari kedepan tinggal bersama Joya. Tetapi siapa sangka. Rian justru mendapatkan serangan tiba-tiba dari mantan suami Joya yang terbakar api cemburu tak masuk akal.
Sudut bibir Rian terkoyak, hidungnya juga sempat mimisan karena terlampau kuat Hamdan memukulnya.
Andai Rian tidak sedang di kejar waktu, sudah pasti Rian akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib. Tetapi jam keberangkatannya sudah sangat mepet, maka untuk kali ini Rian membebaskannya. Tetapi tidak untuk lain kali jika Hamdan berani mengangkat tangan kurang ajarnya lagi.
"Jangan khawatir. Aku ini laki-laki, luka seperti ini tidak akan membuatku kehilangan nyawa" Balas Rian terlampau santai membuat Joya mencabik kecil.
Wajah pria kecil itu tampak damai di pangkuan Joya, membuat Joya bisa sedikit bernapas lega, setidaknya Jio tidak terlalu canggung dengan nya dua hari kedepan. Meskipun itu tidak menjamin.
****
"Mari bercerai"
"Ayenir. Tolonglah, jangan kayak gini! Aku lelah harus menikah lagi dan menyesuaikan diri lagi. Kasian Ibu. Ibu membutuhkan kamu untuk menjaganya."
Hamdan berdiri, ia menarik paksa lengan Ayenir agar duduk. Namun, Ayenir justru memalingkan wajah.
"Lihat, aku." Hamdan mengarahkan wajah Ayenir agar menatapnya. Dia tersentak melihat air mata istrinya.
"Kamu menangis?"
"Kenapa. Kaget? Aku selalu menangis setiap hari selama jadi istri kamu, Mas."
Hati Hamdan mencelos. Bukankah selama ini Ayenir terlihat baik-baik saja? Bahkan wanita itu begitu di sayangi ibunya. Lantas apa yang membuat Ayenir menangis, dirinya kah?
__ADS_1
Tetapi sejak awal Hamdan sudah mengatakan dirinya tidak bisa mencintainya, hatinya sudah dimiliki Joya sepenuhnya. Apa sekarang wanita ini sudah menyerah. Tapi siapa yang akan menikahinya nanti jika mereka benar-benar bercerai?
"Aku tidak bisa menceraikan mu, karena alasan yang masih sama."
Air mata Ayenir menetes kembali. Sesak di dada yang tak tertahankan membuatnya tak mampu lagi menahan air mata. Harus bagaimana Ayenir bersikap, jika Hamdan tak pernah mau melihatnya. Melihat kilatan cemburu di mata Hamdan tadi ketika melihat mantan istrinya jalan bersama pria lain menyadarkan Ayenir bahwa cinta Hamdan memang tidak akan bisa ia raih. Sementara cinta Hamdan yang tak dapat di gapai, lelah fisik juga Ayenir rasakan. Perlakuan Rubiah terhadapnya sudah seperti perlakuan seorang majikan terhadap budaknya.
Jika dia cacat. Apa itu kemauannya? Tentu saja tidak.
Apa yang bisa Ayenir perjuangkan? Tidak ada.
Kejadian tadi siang benar-benar mampu membuka matanya.
Jika cinta Hamdan begitu besar pada Joya saja tak mampu mengurangi baktinya pada sang Ibu, apa kabar dirinya yang bahkan tak pria itu cintai.
"Jangan merasa bersalah, Dokter hanya mengatakan aku akan sulit memiliki keturunan, bukan berarti tidak bisa!" Ayenir melepaskan cekalan tangan Hamdan.
"Jangan egois!" Tekan Hamdan.
" Yang egois itu kamu!"Sentak Ayenir.
"Omong kosong!" kesal Hamdan" Bicara apa kamu?"
"Bicara soal Suami yang otaknya di cuci oleh Ibunya!"
"AYENIR!!!!"
'Plak'
"Tutup mulutmu." Bukan hanya tamparan, Hamdan bahkan menjekik leher Ayenir.
Di balik daun pintu Rubiah sedang tersenyum penuh kemenangan.
Selangkah lagi, hanya butuh satu langkah lagi untuk menghancurkan keluarga Hamdan sekali lagi. Tugasnya tinggal mencari pengganti Ayenir secepatnya.
****
"Bunda"
'Uhuk'
Di tempat yang berbeda, Joya yang sedang makan bersama Jio tersendak akibat panggilan pria kecil itu untuk nya.
__ADS_1
Seperti salah lihat bahkan tangan Jio kecil ikut menepuk punggungnya pelan saat Joya terbatuk-batuk.
Jio terlihat begitu khawatir. Apa Joya tidak salah lihat?