
Karena sakit hati, Ibu Hamdan mulai menyebarkan fitnah, Ibu dari Hamdan itu menyebar berita bohong tentang Joya yang tidak becus menjadi seorang istri dan menantu, mencari kebenaran untuk putranya sampai bisa menikah lagi. Bisik-bisik tetangga mulai di dengar oleh Joya, membuat Joya kian sakit hati pada Ibu pria yang masih di cintainya itu.
Joya memang masih tinggal di kota yang sama bahkan satu kecamatan dengan Hamdan. Membuat apapun yang terjadi pada keluarga itu Joya masih bisa mendengarnya.
Akan tetapi Joya tidak pernah menyangka jika ternyata Ibu mertuanya begitu pintar bersilat lidah. Bukan hanya pandai berpura-pura, akan tetapi wanita itu juga lihai dalam hal memfitnah.
Beruntungnya Joya tidak terlalu mengenal orang-orang sekitar rumahnya. Meskipun pernikahannya bersama Hamdan sudah dua tahunan.
Bukan tidak pandai bergaul. Hanya saja Joya memang tipe orang yang tidak suka berbaur. Cukup sesekali tegur sapa sama tetangga, karena Joya belum memiliki anak, menghindari pertanyaan yang bisa membuatnya jadi kepikiran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayenir meringis ketika tiba-tiba perutnya terasa kram, wanita dua puluh tahunan itu kelelahan. Sepanjang hari ia bekerja untuk menyenangkan hati Ibu Hamdan. Tidak sempat memikirkan dirinya sendiri.
Seperti biasa, stelah puas bergosip, Ibu Hamdan pulang dengan wajah kemenangan, akan tetapi itu hanya sebentar, senyuman di wajahnya hilang seketika, saat matanya melihat Ayenir terkapar di atas lantai, tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.
Berkali-kali Rubiah menghubungi Hamdan, akan tetapi tidak bisa. Wajah Ayenir sudah seperti mayat sangking pucat nya.
Dengan rasa khawatir dan bingung wanita paruh baya itu meminta tolong pada para tetangga untuk membawa Ayenir ke rumah sakit.
Tiada hentinya Rubiah berdoa supaya anak yang di kandung Ayenir tidak kenapa-kenapa.
"Bu, kami pulang dulu" orang-orang yang membantu Ayenir satu persatu berpamitan pulang.
Rubiah hanya bisa mengizinkan pasrah. Kini hanya tinggal dirinya yang menunggu Ayenir.
Sementara itu. Hamdan secara khusus di datangi oleh Ayah mertuanya, pria itu rela terbang ke Indonesia seorang diri hanya untuk berbicara berdua dengan Hamdan.
Jadilah. Saat jam istirahat Hamdan makan siang dengan obrolan serius bersama pria yang tak lain adalah Ayah dari istri tercinta nya.
"Tapi, Saya sangat mencintai Joya, Ayah."
"Cinta saja tidak cukup, Kalian tidak kenyang hanya karena cinta! Apa kamu pikir Ayah tidak tau jika kamu tidak bisa memberikan nafkah pada Joya karena terlalu takut dengan ancaman Ibu mu? Ayah tau, untuk itu Ayah meminta kamu agar rela melepaskan putri Ayah dengan lapang dada!" tutur Ayah Joya pada Hamdan.
Hamdan mengeleng dengan lambat. Mengapa hanya sebuah kata-kata tapi akibatnya mampu menimbulkan rasa sakit yang tak terkira. Hamdan menyadari perbuatannya bukanlah hal yang mudah untuk diberikan pengampunan.
"Ayah, saya janji akan memberikan yang terbaik seperti janji saya dulu! Mohon beri saya satu kali kesempatan untuk kembali." Iba Hamdan.
"Apa kau sanggup meminta ibumu untuk tinggal seorang diri, dan menceraikan istri muda mu itu demi Joya?"
__ADS_1
Hamdan menjawab via anggukan sebagai jawaban.
"Meskipun istri muda mu itu tengah hamil, kau tidak boleh menemuinya. Kau tau Hamdan apapun pilihan yang kau pilih, salah satunya pasti terluka. Dan ini resiko yang akan kau tanggung jika memilih Joya, persyaratan mutlak dari ku!" Tegas Ayah Joya. "Kau yakin Mampu?"
Hamdan membisu, beberapa detik. Lalu ketika dia ingin menyahut. Ayah mertuanya menyela lebih dulu.
"Kau tak akan pernah mampu melakukan pengorbanan seperti itu. Aku jamin itu." Pria paruh baya itu menghela napasnya. " Maka jangan mengajukan permohonan padaku. Aku tak mau! Biarkan semua dari pihak kami yang mengurus, dan berjanjilah satu hal. Jangan pernah kamu ganggu Joya lagi!"
Mendadak dada Hamdan terasa sesak dan sangat menyakitkan. Dia seolah berada di persimpangan jalan, ke kanan ataupun kekiri sama-sama sulit untuk di lalui. Antara Ibu, Istri muda serta calon anaknya atau wanita yang sangat dia cintai.
Tapi Hamdan tidak bisa menyalahkan Ayah mertuanya soal syarat yang di ajukan. Biar bagaimanapun Ayah tetaplah Ayah meski tak selamanya bisa mendampingi putrinya, tetap saja tidak bisa menghilangkan naluri melindungi dari seluruh predator yang ada di muka bumi.
****
"Jadi semua sudah di pikiran baik-baik?" Rian menerima lembaran dari Joya.
Joya mengangguk .
"Ayah Anda sedang mengusahakan dan memberi pilihan pada suami Anda!" Rian terlihat mendalami perannya.
"Bagaimanapun perasaan ku padanya, dan apapun keputusan yang dia ambil, aku tetap nggak mau kembali"
Joya lebih baik menikam hatinya sendiri dari pada menyakiti hati wanita lain yang tengah mengandung benih suaminya.
Mendengar jawaban itu, Rian mengangguk mengerti. Pengacara tampan rupawan itu akan menyiapkan segalanya, dan akan kembali bertemu dengan Joya di persidangan.
Jika memaksakan bersama akan ada yang terluka, mungkin dengan berpisah dia bisa sedikit lega dari rasa bersalah. Joya bukan wanita jahat. Membuat seorang anak melupakan baktinya jelas ia tidak mau, terlebih Hamdan akan menjadi calon Ayah dari anak yang di kandung istri mudanya, memaksakan bersama adalah ide buruk.
"Kalau begitu sampai bertemu di pengadilan!" Seusai jabat tangan Rian memberikan senyuman hangat pada Joya.
"Kenapa?" tanya Rian tiba-tiba.
"Apanya?" Joya menjawab dengan pertanyaan juga.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Joya hanya tersenyum simpul, tak menanggapi pertanyaan Rian langsung.
"Pak Rian apa tidak bisa bicara sesantai ini saat jam kerja?"
__ADS_1
"Tidak, itu sudah menjadi kepribadian. Dan Joya panggil aku dengan sebutan nama atau Abang aja kalau tidak sedang jam kerja"
"Berapa usia mu sekarang?"
"27tahun"
"Waaahhh, benarkah?" Joya tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Apa aku terlihat sangat tua?"
"Bukan, justru anda terlihat sangat muda, aku pikir kita seumuran, makanya kemarin-kemarin aku panggil dengan nama saja!"
"Benarkah? Terimakasih, tapi aku tidak keberatan hanya kamu panggil nama saja"
"Saya akan panggil Abang saja, terdengar sopan!" ujar Joya.
"Up to you!" Rian terseyum.
"Langsung pulang?" Tanya Joya.
"Aku akan di jemput adik ku!" jawab Rian.
"Anda tidak bawa mobil?"
"Lagi masuk bengkel, tadi buru-buru takut telat bertemu dengan Klien!"
"Oh, apa sebelumnya anda menemui seseorang?" tanya Joya.
"Tidak, hari ini kamu klien pertamaku!"
"Kenapa harus buru-buru, saya tidak masalah menunggu sebentar"
"Itu tidak profesional, Joy. Beda lagi kalau kita ketemuannya bukan masalah pekerjaan!"
Jawaban Rian benar-benar mencerminkan seseorang yang profesional dan bertanggung jawab.
"Aku harus pergi, adikku sudah menunggu, sampai bertemu Joy!"
Joya melepas kepergian Rian dengan senyum tipis.
__ADS_1