Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Bertengkar.


__ADS_3

Kedua orang tua Joya begitu mendengar kabar rencana dari Joya langsung terbang ke tanah air. Joya tidak hanya mengatakan tentang niatnya yang ingin menjadi Ibu pengganti untuk Jio, akan tetapi juga menceritakan segala yang dia ketahui tentang siapa Jio dan Rion sebenarnya.


Tentu saja mendengar cerita dari Joya, kedua orang tuanya sedikit kaget. Tidak menyangka jika keluarga sahabatnya memiliki kisah yang begitu menyakitkan. Bagaimana bisa orang yang terlihat begitu menyayangi keluarga berani mengambil keputusan besar yang menyakiti dan memanipulasi perbuatan putranya sendiri.


Ini bukan masalah kecil. Jikalau benar Rion dijadikan kambing hitam atas perbuatan Rian itu sudah termasuk kebohongan dan fitnah yang luar biasa, bahkan mereka bisa di jebloskan ke dalam penjara jika Rion keberatan.


Di mata Panji dan Siufaslin, Rion adalah pemuda ramah dan sopan. Setelah kasus besar itupun, dia tetaplah seorang pemuda yang ramah. Hanya saja, ramah nya, berbeda. Rion yang dulu gemar bergurau, ceria dan suka bercerita. Setelah kejadian yang menimpanya keramahannya sedikit berbeda. Rion juga kerap memilih pergi ketika sedang banyak orang, meski keramahan selalu terpatri di wajah tampannya, hatinya tidak ada yang tahu. Rion hanya kerap kali menyapa mereka saat bertemu dengan tersenyum kecil dan menunjukkan lesung pipinya yang indah.


Sedih Panji mendengar penuturan putrinya. Biar bagaimanapun dia merasa sangat kasihan dengan nasib Jio. Pria paruh baya itu menepuk pundak putrinya, dan mengizinkan Joya memilih jalan hidupnya. Harapannya semoga Joya menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, meskipun Joya mengatakan jika Rion terus terang belum mencintainya, entah mengapa mengetahui sekelumit kehidupan pria itu membuat Panji yakin, Rion adalah pria yang baik, bertanggung jawab dan pasti bisa membahagiakan Joya dengan caranya. Bukankah cinta bisa menyusul? Mereka hanya butuh lebih banyak berkomunikasi.


*****


Di tempat lain, Hamdan terlihat sedang berbincang serius dengan Ayenir untuk membahas rencana mereka kedepan.


Berkali-kali Ayenir mencuri pandang ke arah Hamdan. Tetapi Hamdan terlihat tidak terlalu menghiraukan.


Sudah dua hari Hamdan di izinkan pulang dari rumah sakit. Akan tetapi dia masih memilih tinggal di kontrakan dari pada menempati rumah yang sudah diberikan oleh orang yang membongkar siapa jati dirinya. Ayenir selalu ada untuk Hamdan.


Meskipun mereka tidur terpisah tapi Hamdan tidak menolak segala perhatian Ayenir. Tidak menolak makanan yang dimasak wanita itu, pakaian yang disiapkan, bahkan perhatian lainnya selayaknya pasangan suami istri.


Saat Ayenir meraih jemari tangannya untuk di genggam pun, Hamdan tidak menolak.


"Mas, hari ini waktunya kita cek-up ke rumah sakit" beritahu Ayenir. Hati wanita itu senang saat Hamdan tidak menolak genggaman tangannya.


"Iya," jawab Hamdan singkat, dan masih menikmati sarapannya dengan tangan kanannya sendiri, sementara tangan kirinya sedang di genggam oleh Ayenir.


Sesaat keheningan kembali menyelimuti mereka. Hamdan dan Ayenir tengelam dalam pikiran masing-masing.


Hamdan langsung melepas genggaman tangan Ayenir begitu ia mengingat nama Joya. Merasa nyaman berada di dekat wanita itu membuatnya merasa bersalah. Harusnya, ia tetap setia mencintai Joya meski ia bersama wanita lain. Hamdan merasa perceraiannya dengan Joya semata hanya sebuah kesalahan.

__ADS_1


Ayenir mengulas senyum tipis, senyum yang mengandung keputusasaan. Seberapa besar upayanya untuk masuk kehati suaminya, tapi kenyataannya sulit, bahkan terasa mustahil, karena sang tuan rumah memang telah mengunci rapat hatinya untuk wanita lain.


Ingin berhenti mencintai Hamdan, rasanya sudah sangat terlambat baginya.


Selama ini Ayenir selalu berharap jika hati Hamdan akan sedikit melunak untuk menerima cintainya kerap kali ia menatap binar mata Hamdan yang tersemat bayangan dirinya. Membuatnya menginginkan potret dirinya tersemat abadi di mata lelaki itu.


"Maaf," ucap Hamdan saat melihat Ayenir memilih berjalan pergi meninggalkannya sendiri di meja makan.


Kalimatnya tak mendapat jawaban, karena Hamdan mengatakannya tepat saat punggung Ayenir hilang dibalik pintu kamar.


*****


Darah segar mengalir di sudut bibir Rion. Pria itu tersungkur di lantai ruang rawat Jio. Sementara tepat di samping kepalanya Rian berdiri menjulang dengan kepalan tangan yang masih terdapat bercak darah.


Diantara mereka ada anak kecil yang berusia kurang dari enam tahun sedang mengangkat wajahnya yang tampak ketakutan. Anak kecil yang tengah berjuang untuk kesembuhan itu tampak berlinang air mata. Tatapan bingung, serta getaran kecil di bahunya menandakan seberapa rapuh jiwanya.


"Ayah!!!" tampaknya Jio begitu khawatir dengan keadaan Rion, anak itu melongok kebawah seolah ingin melihat keadaan Ayahnya. Ketika mata sayu nya melihat darah di wajah sang Ayah, anak kecil itu sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi.


"Kenapa Om datang jika hanya untuk menyakiti Ayah?" Isak nya semakin terdengar menyayat hati.


" Om jahat?" Kata demi kata, kalimat demi kalimat seperti membuat anak kecil itu kehilangan napas. Tangan kecilnya yang terdapat jarum infus ingin melepaskan alat bantu di bagian tubuhnya, napasnya terengah-engah, siapapun yang melihatnya tau seberapa sulit bagi Jio untuk menjalani hidup.


Ruangan itu diselimuti keheningan. Sampai pada saat, terdengar suara langkah kaki yang teratur. Jio menjerit begitu melihat kedatangan Joya. Joya yang baru masuk kedalam kamar rawat Jio pun syok dan tidak bisa berkata-kata.


Sementara kedua orangtuanya dan kedua orang tua Rian langsung berlari kearah Rion dan Rian yang terlihat saling menghujam tatapan permusuhan.


Wajah Rian juga tak kalah bonyoknya dari wajah Rion. Akan tetapi Rian tidak sampai berdarah-darah seperti wajah Rion.


"Astaga .... Kalian ini apa-apaan?" Jerit Rindy tak mampu menahan kekesalannya pada kedua putranya.

__ADS_1


Rindy langsung membantu Rion berdiri, begitupun dengan Siufaslin. Sementara Panji dan Dermawan menarik tubuh Rion menjauh.


Joya memeluk tubuh Jio yang ketakutan. Anak itu langsung menangis di dalam pelukannya. Setiap orang yang mendengar tangisannya menjadi sedih dan ingin meneteskan air mata.


Rion melepaskan pelan tangan Bundanya dan juga tangan bunda Joya yang membantunya, dia berjalan mendekati Ayahnya dan Rian berada. Rion berjam selangkah demi selangkah, sambil mengangkat kepalanya, dia menatap tiga pria dan memusatkan pandangannya pada pria yang pernah dianggap hebat di dalam hatinya. Pria yang pernah menjanjikan rasa aman dan hidup berkecukupan, tapi kenapa dia juga harus menjadi algojo dalam kehidupannya?


"Se buas- buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri, tetapi kenapa kalian tega menumbalkan aku?"


Suara Rion tiba-tiba membuat suasana menjadi hening.


"Apa ini yang kalian inginkan dari hidupku? apa karena aku yang tak berprestasi lantas kalian bisa menukar kebebasanku dengan rasa bersalah sepanjang hidupku?" Mata Rion nanar menatap kedua orang tuanya bergantian.


Rion tertawa sumbang, sebelum menghapus cepat air matanya yang terjatuh.


"Pezina. Pendosa. Anak urakan. Anak tak tahu diri. Berandalan. Apa gelar itu begitu pantas untuk aku yang bodoh ini Ayah ...? Apa tidak ada niat baik kalian untuk mengatakan yang sebenarnya ...? Apa memang kalian akan menyembunyikan semuanya hingga akhir?" Rion meraup wajahnya dan menatap Jio yang memeluk perut Joya.


"Bahkan di penghujung usia Jio pun, kalian tidak ada keinginan untuk memberitahu siapa Ayah kandungnya! Apa sepengecut itu anak yang kalian banggakan ...?" tanya Rion yang melirik ke arah Rian yang terlihat membuang pandangannya.


Rion terkekeh kecil.


"Kalian adalah keluarga ter kejam yang pernah ku kenal, dan aku merasa prihatin dengan diriku sendiri, harus menjadi bagian dari kalian!"


######


Sebelumnya author mohon maaf jika updatenya lama. Author sedang ada kesibukan yang musti di kerjakan.


Terimakasih yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Joya.


Semoga senantiasa pembaca di berikan Tuhan kesehatan dan murah rejeki.

__ADS_1


happy reading....


love you reader....


__ADS_2