
Tidak berhentinya Hamdan membujuk Joya agar mau kembali bersamanya, pria itu bahkan rela bersimpuh di kaki Joya. Namun Joya tidak mau lagi bersama Hamdan, terlebih ketika dia mendengar madunya telah mengandung benih suaminya.
"Mas janji akan menceraikan Ayenir setelah dia melahirkan, Joy!" Iba Hamdan masih berlutut di hadapan Joya.
Joya terseyum miris. Bagaimana ada pria seperti Hamdan yang seolah ketularan sang Ibu yang tidak mempunyai hati.
Kurang-kah rasa sakit yang dihadirkan untuknya? menahan sakit ketika tanpa izinnya suaminya menikah lagi? tanpa izinnya suaminya mengajak tinggal seseorang di dalam rumah mereka? Tidak taukah Hamdan rasa sakit itu seperti sebuah gelati yang menyayat jantungnya hingga hancur.
Cintanya perlahan terkikis karena rasa sakit dan melihat sikap Hamdan yang lemah. Joya tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya. Keputusannya sudah final untuk berpisah dengan Hamdan.
"Adakah yang bisa mas lakukan agar kita tetap bersama, sayang?" suara Hamdan terdengar seperti putus asa.
"Mas, selama ini kau tau aku marah, aku terluka, aku sakit hati! Namun, kamu seolah menutup mata akan apa yang kurasa, kau butakan mata, kau tulikan telinga, hanya untuk mendengar keluhan ku. Sudah berbulan-bulan kau nikahi wanita yang ibumu hadirkan. Tapi luka dan sakit ku tak sedikitpun berkurang, malah bertambah di setiap harinya. Aku ingin pergi menghindari sakit hati yang kurasa secepatnya akan merenggut nyawaku ini, apa kau tega padaku?" Joya menghapus air matanya dengan kasar.
Sedangkan Hamdan sama sekali tak memiliki jawaban atas pertanyaan Joya.
"Tau, apa yang membuatku semakin terhinakan? Rasa sakit tak tergambarkan lagi. Ketika dari mulutmu mengakui wanita itu sudah hamil, anak mu hadir secepat itu di rahim wanita lain. Dan dengan tak tau perasaan kau memintaku bertahan, dengan alasan akan menceraikan wanita itu. Sejujurnya kau pertahanan aku untuk apa? Apakah untuk menjadi baby sitter anak kalian?"
"Tidak demikian, sayang!" Hamdan langsung menyangkal pernyataan Joya. "Tidak begitu!" Hamdan mendekati Joya hendak memeluk. Namun, kali ini Joya menghindar.
"Maafkan aku, Joy! Ini salahku... salah ku, dan kau berhak marah. Tapi tolong maafkan aku" Hamdan ikut meneteskan air matanya. "Sayang, aku nggak mau kita berpisah, aku bersalah, aku akui itu!!Tapi tak akan pernah ada perceraian Joy! Jangan katakan itu!"
Meski sudah menghindar terus pada akhirnya Hamdan berhasil memeluk Joya.
"Maafkan aku, maafkan aku!" Hamdan masih memeluk tubuh Joya erat, sesekali tangannya mengusap punggung istrinya dengan lembut dan mengecup puncak kepala Joya.
Joya masih terisak, hangat. Pelukan Hamdan masih sana hangatnya, namun tak bisa lagi menggetarkan hatinya seperti dulu.
Joya tak bergeming. Hatinya sudah terlanjur sakit. Ia bahkan tidak yakin masih adakah rasa sakit yang bisa menghujam hatinya melebihi ini?
__ADS_1
Hamdan menatap Joya yang terlihat begitu rapuh. Ia kenal Joya yang tegar. Dan melihat Joya yang seperti ini membuat dirinya merasa menjadi bajingan terlaknat di dunia, semua yang terjadi bukan kemauannya, Hamdan tak akan menduakan Joya jika tak karena terpaksa. Cintanya sangat besar terhadap wanita bernama lengkap Joya Jasmine' itu.
"Sudahlah. Tak perlu menjadi seseorang yang paling menyedihkan! Jelas-jelas kalian yang buat aku sengsara" Joya sudah benar-benar jengah. Entahlah hati Joya terasa mati dan sulit di gapai dan tersentuh lagi.
Hamdan menggeleng.
"Aku akan memperbaiki semua Joy, kita akan bahagia, aku berjanji."
******
"Kenapa nggak dari pertama mertua mu datang aja kanu usir Joy, jadi ya nggak merusak kebahagiaan kalian kayak gini!"
Joya hanya diam sambil menyeruput teh nya.
"Joy-Joy kau juga terlalu naif! Malah terima aja si Hamdan menikah lagi.. uhg!! gemes aku sama suamimu dan perempuan tak tau diri itu!" Ucap Lucita kesal.
Sahabatnya itu, sangat tak terima dengan kelemahan Hamdan. Hamdan begitu bodoh menurut Lucita karena terlalu berbakti kepada Ibunya yang justru merusak rumah tangganya.
Lucita lantas mengusap bahu Joya pelan, seolah berkata dia tak sendirian. Masih ada dirinya yang siap menjadi tempat membagi luka.
Joya pergi dengan luka menganga yang tak mudah tertutup. Kehidupan, segala hal yang ia gantungkan kepada Hamdan. Telah pria itu hancurkan.
*****
Joya tengah berdiri di depan jendela. Bersama pekatnya malam. Joya terseyum dengan menerawang kenangan kebersamaannya bersama Hamdan yang mereka lalui dengan penuh kebahagiaan dua tahun lalu. Namun, sebuah senyum getir terbit begitu saja setelah menyadari semua tak lagi sama.
Ada, namun di anggap tak ada. Itu yang tengah Hamdan rasakan. Terlalu banyak yang hilang dari Joya, kelembutannya, keceriaannya, keperdulian wanita itu padanya. Bahkan, mungkin cintanya. Hamdan menyadari hal itu, tetapi tetap keras kepala Ingin mempertahankan rumah tangganya.
Ayenir POV
__ADS_1
Aku menatap sebuah foto pernikahan yang berada di laci kamar yang ku tempati bersama mas Hamdan.
Dalam potret itu, hanya aku yang tersenyum sementara mas Hamdan tidak.
Aku sadari aku menjadi wanita paling jahat saat ini. Mencintai pria yang sudah memiliki istri.
Tetapi aku tak pernah menyangka bahwa orang yang membawaku pada posisi ini adalah seorang Ibu yang jahat. Rela melakukan apa saja demi perhatian anaknya.
Wanita itu selalu mengatakan jika aku beruntung menjadi menantunya. Tetapi aku tak pernah merasa bahagia.
Ku lihat perutku sendiri, tempat bersemayam benih laki-laki yang kucintai, akan tetapi cinta pria itu milik orang lain.
Kadang, aku ingin mas Hamdan menatapku, seperti sebagaimana dia menatap Mba Joya yang penuh cinta dan kasih, bukan tatapan kasihan yang diberikan padaku saat dia menatapku.
Aku yang merebut saja sangat sakit ketika tidak diberikan hak ku oleh wanita itu, apalagi Mba Joya?
Maaf mba Joya, aku juga terjebak dalam situasi ini!
Ingin sekali aku bisa bicara empat mata sama istri pertama mas Hamdan. Tetapi sungguh aku tak memiliki keberanian. Takut jika mba Joya akan menyakitiku, wanita yang sudah merusak kebahagiaannya.
Beruntung selama ini mba Joya tidak pernah bertindak kasar padaku, wanita itu terlalu baik dan lembut. Menyesal aku telah termakan omongan budhe Rubiah. Wanita yang kini jadi Ibu mertuaku.
Menyesal pun, sudah tak berguna. yang bisa kulakukan adalah menurut pada wanita itu agar dia tidak nekat membunuh anak yang ada di dalam kandunganku.
Aku lelah, aku letih. Di usia kehamilan ku yang masih sangat muda, Ibu tak membiarkan ku istirahat. Segala pekerjaan rumah, urusan cucian bahkan perihal dapur aku semua yang mengerjakannya sendiri.
Selalu kata-kata pamungkasnya yang keluar jika aku berani membantah.
"Kau harusnya bersyukur bisa menikah dengan Hamdan. Jika bukan karena aku, mana mungkin ada laki-laki yang menikahi gadis desa miskin seperti mu" Hinaan itu terus beliau sebutkan ketika aku membantah.
__ADS_1