Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Berdamai


__ADS_3

Sudah dua bulan sejak dirinya masuk jeruji besi, tidak seorang pun sanak keluarganya yang datang untuk menjenguk atau sekedar menyapanya. Rasanya sudah sangat lama dia tidak bertemu Hamdan, tidak melihat anak yang dia besarkan dengan rasa kebencian. Yang bisa Rubiah lakukan hanya tersenyum, menahan kerinduan lalu sesekali menyeka air mata. Dia sangat kusut, dengan kulit yang mulai keriput. Sudah tua, tetapi hanya akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara.


Ini adalah timbal balik, hukum dunia sedang menghakiminya. Dosa yang dia ciptakan sendiri hingga harus menanggung akibatnya.


Hampir semua orang mengetahui apa yang telah terjadi pada Rubiah. Setiap penghuni lapas pun tau, bahwa tidak ada seorang pun sanak keluarga yang datang dan menjenguk Rubiah, Rubiah hidup kesepian di akhir sisa hidupnya karena kesalahannya sendiri.


Rubiah sedang duduk bersandar di dinding tempatnya selama ini menyandarkan tubuh renta nya saat seorang petugas lapas tiba-tiba mengatakan ada seseorang yang membesuknya.


Mata tua itu berbinar, seolah ada harapan untuknya bangkit dari kelamnya kesepian. Rubiah menarik tubuhnya untuk tidak lagi bersandar pada dinding dan mulai menatap baik wajah yang baru saja memberikan kabar itu.


"Benarkah?" tanya Rubiah dengan suara yang parau, sangat bersemangat. Dua garis di sudut matanya kian memperjelas renta nya usia. Kelopak mata yang tampak menghitam menambah kesan bahwa wanita itu benar-benar menderita batin, tengelam dalam yang namanya kesedihan.


****


"Ada apa, Mas?" Joya ikut mengenggam tangan Rion yang menyentuh pundaknya, begitu sisir itu diletakkan di atas meja rias setelah Rion selai menyisir rambut Joya.


Rasanya Joya ingin memeluk tubuh pria itu, tetapi tidak berani. Rion memejamkan matanya sambil menengadah, sesaat Joya bisa melihat kilat mata yang tampak menahan tangis.


"Mas," Akhirnya Joya berdiri dan memberanikan diri menangkup kedua pipi Rion.


"Bunda ..." Rion men-jeda ucapannya, sepertinya begitu berat mengungkapkan kebenaran yang terjadi.


Joya masih menunggu, tidak berniat menekan suaminya untuk bercerita. Joya ingin Rion terbuka dengan kemauannya sendiri, dan Joya rela menunggu hari itu, hari dimana Rion merasa nyaman berbagi dengannya. Tangan Joya bergerak lembut membelai pipi sang suami, seolah mengatakan bahwa Rion tak sendiri.


"Bunda saat ini berada di rumah sakit" penjelasan Rion membuat Joya terkesiap, bahkan tangannya yang mengelus lembut pipi Rion berhenti. "Bunda pingsan, tekanan darahnya naik, bahkan tadi kedua tangannya sempat kaku."


****


Joya merasakan sesak di dadanya, saat melihat pemandangan yang begitu menyedihkan. Orang yang beberapa jam lalu masih terlihat baik-baik saja, kini berbaring dengan bibirnya yang miring kesamping. Dokter mengatakan Bunda Rindi terkena stroke.


Joya melihat Rian yang berdiri dari kursi nya, seolah memberi ruang untuk dia dan Rion duduk.

__ADS_1


"Jio sama siapa?" tanya Rian lembut.


"Di rumah Bang, sama susternya" Jawab Rion, yang kali ini terasa berbeda interaksi antara dua saudara itu.


Tidak lama setelah percakapan basa-basi itu, Rian benar-benar keluar dari ruang rawat. Tidak lama pria itu kembali dengan empat botol teh kemasan kotak, meminta pada Rion dan Joya untuk minum.


"Bang, terimakasih" Rion mendekati Rian yang akan kembali keluar.


Tubuh Rian membatu sesaat sebelum lelaki itu membalikkan badan. Air mata Rian jatuh, seperti tidak percaya melihat adiknya berdiri di hadapannya dengan senyum tulus. Selama ini Rion tidak pernah bicara selembut itu, apalagi mau mengucapkan terima kasih, meskipun selama ini Rian selalu mencoba untuk membangun percakapan diantara mereka.


"Aku salah membenci Abang, meskipun aku menyesalinya kini, itu sudah tidak bisa mengembalikan lima tahun yang kita lalui dengan rasa saling membenci. Bang, tetapi menikahi Joya bukanlah upayaku merebut kebahagiaan Abang, aku memang tertarik padanya sejak awal, terlebih Jio membutuhkan sosok Ibu." Rion mulai bicara panjang, ini tidak pernah dilakukan pada Rian sebelumnya.


"I,on, Abang ..."


"Kita baru saja berdamai, jangan katakan apapun soal perasaan Abang pada istri ku, Abang tentu tak mau kita kembali duel di sini" ucap Rion sambil tersenyum tipis.


"Jaga dia untukku." ucap Rian setelah diam sejenak.


"Aku akan menjaganya untuk diriku sendiri dan Jio, tidak ada hubungannya dengan mu." tegas dan sangat blak-blakan.


"Aku terlalu pengecut untuk melawan Ayah" Rian menatap adiknya dengan tatapan mata yang redup.


"Apa menurutmu, Ayah bisa dilawan?" Rion dengan cepat menanyakan hal demikian.


Rian segera menatap mata Rion, hanya sepersekian detik, karena tidak lama setelah itu tanpa pikir panjang lagi Rian langsung menarik pundak Rion untuk memeluk tubuh adiknya. Mereka saling berpelukan dan saling menepuk punggung satu sama lain.


Joya menatap haru dua pria dewasa yang sedang saling menguatkan. Musibah yang datang membawa sedikit kebaikan. Mungkin ini jalan Tuhan menyatukan dua saudara yang telah lama dipisahkan oleh prasangka.


Tes!


Tes!

__ADS_1


Rian sendiri tidak mampu menahan air matanya. Ini sudah hampir lima tahun sejak adik nya berubah dingin padanya, tatapan Rion selalu menusuk, bahkan tidak pernah hal yang dia lakukan benar dimata Rion. Adiknya yang ramah berubah ketus dan tak bisa digapai. Sekali pun, selama berada di bawah satu atap yang sama, tidak pernah bicara sesantai ini. Rion lebih banyak diam dan membuang muka jika merasa tak suka dengan kehadiran Rian.


"Apa ini tidak terlalu norak untuk di lihat oleh istri ku?" Rion yang sadar dengan tingkah mereka yang agak berlebihan bicara di samping telinga Rian.


Ehem!


Keduanya melepas pelukannya, saling menghapus air mata yang sempat jatuh di pipi masing-masing, mereka kembali memasang tampang keren, lalu keduanya terkekeh geli saat sadar dengan tingkah mereka yang seperti anak kecil.


"Pulanglah, kita bicarakan ini nanti setelah keadaan Bunda membaik, Abang akan jaga Bunda" Rian dan Rion sudah membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan pada Ayahnya, tetapi untuk saat ini mereka sepakat untuk pura-pura tidak tahu apa-apa.


Bunda mereka sudah terlanjur tau, sudah terlanjur sakit dan kecewa, sebagai seorang anak jelas mereka tidak akan tinggal diam, Dermawan akan mendapatkan hal yang setimpal.


****


Joya sebenarnya lelah sekali, sama halnya yang dirasakan oleh Rion. Tetapi mencoba tetap terjaga agar Rion tidak seperti seorang sopir pribadi.


Jalan kembali kerumah mereka ramai lancar, ini memang sudah larut, tetapi suasana kota tetap padat oleh aktivitas pengendara.


"Kalau mau tidur, jangan di tahan" Suara Rion membuat Joya menolehkan wajahnya.


"Tak lama kita sampai, nanti saja di rumah."


Tiba di rumah, waktu sudah lewat tengah malam. Joya dan Rion sama-sama melihat Jio yang tidur di kamar bersama perawat.


Rion mandi, sementara Joya hanya gosok gigi dan cuci muka. Anehnya rasa kantuk tadi tiba-tiba hilang.


Rion keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara dari pinggang keatas dibiarkan terbuka, tetesan air yang jatuh dari rambut tebal Rion mencuri perhatian Joya.


Joya seperti terhipnotis oleh keindahan yang di suguhkan oleh lelaki yang sebenarnya sudah halal itu. Joya meremas seprai mengalirkan ketegangan yang tiba-tiba tercipta.


Pernah merasakan kehangatan dari lawan jenis tentu membuat gemuruh dadanya membuncah, Joya seperti wanita yang tiba-tiba merindukan belaian. Tetapi meskipun itu benar harusnya tidak salah kan?

__ADS_1


Rion menghampiri Joya karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.


"Joy,"


__ADS_2