Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Kembali ke tanah air


__ADS_3

Sekali lagi apa yang akan mereka tuntaskan terganggu oleh dering telepon.


Rion menutupi sebagian tubuh Joya dengan selimut, sebelum dirinya sendiri memakai celananya kembali dengan tergesa, meski mata itu menggambarkan gairah yang membara nyatanya bibir itu bisa muncul senyum menenangkan.


Nama Rian tertera di layar ponselnya, tau jika sang Kaka menghubunginya pasti perihal keadaan Bundanya.


Joya hanya bisa diam begitu sang suami mengajaknya buru-buru ke bandara, janda kembang yang sudah kembali menyandang status istri itu hanya mampu pasrah dan berserah kemanapun sang suami akan membawanya.


Rion juga sepanjang jalan hanya terus menelpon, suami Joya tampak sibuk dan khawatir dalam waktu bersamaan.


****


Di pagi buta dan masih sangat gelap, Rian Oktadio dengan tekad yang besar, melangkahkan kakinya kesebuah hotel mewah yang tak jauh dari pusat kota. Disana, ia akan menemui seseorang yang nyatanya masih memiliki darah yang sama dengan nya.


Rian mengeraskan kepalan tangannya, bersama gemuruh dadanya yang dipenuhi amarah yang siap meledak sewaktu waktu. Keputusan besar kali ini akan benar-benar dia ambil, dengan langkah tegas Rian di ikuti dengan gerombolan polisi itu mulai menuju dimana kamar tujuannya berada.


Setiap langkah yang semakin mendekat kesadaran mulai menghampiri, tubuhnya mulai bergetar. Sekuat apapun tindakannya ini dilakukan dengan berat hati tentunya. Dia memencet bel setelah cukup lama berperang dengan kebimbangan. Air matanya satu persatu jatuh, bersama dengan rasa sesak yang menghimpit. Rian tak segan-segan memukul dadanya dengan kuat. Semua orang yang ikut bersamanya, berusaha keras memalingkan muka. Ada yang sengaja mendongak, ada juga yang bahkan memutar tubuhnya untuk memunggungi agar tak melihat peperangan batin seorang anak.


Rasanya begitu sangat menyakitkan, juga sangat menyedihkan. Benar-benar takdir yang malang.


Tepar saat seseorang membuka pintu, Rian langsung mendekat pada sosok yang berdiri di depan pintu, sedang menatapnya pilu tanpa suara.


Mereka berdua saling beradu tatap, cukup lama, sebelum pada akhirnya sebuah kepalan tinju mendarat ke pipi pria paruh baya yang terlihat kacau balau.


"Aku sudah tidak bisa lagi membiarkan Ayah semakin masuk dalam kubangan dosa, akhiri semuanya dan aku akan berusaha melupakan segala kejahatan Ayah padaku, Pukulan yang tadi kuberikan bukan semata dari ku, tapi itu balasan atas rasa sakit Bunda." Rian tertawa, air matanya juga kembali mengalir. " Jika boleh aku ingin sekali mencabut nyawa Ayah dan menukarnya dengan kesembuhan Bunda" sinis Rian berdiri di hadapan Dermawan.


Dermawan terhenyak di atas lantai, mengabaikan bibirnya yang terkoyak karena perbuatan Rian, dia jauh lebih terkejut mendengar penuturan Rian


"Apa yang terjadi dengan Bunda mu??" tanyanya sembari mencoba berdiri.


"Apa itu penting?" sarkas Rian, saat matanya melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari arah kamar mandi.


"Rian, itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" Kepanikan Dermawan diabaikan oleh Rian. Pengacara muda itu memberi isyarat pada pihak kepolisian untuk mengambil tugas mereka.

__ADS_1


"Rian, apa yang kamu lakukan pada Ayah mu ini?" teriak dermawan yang tak di hiraukan oleh Rian.


****


Rion datang. Akan tetapi semua sudah terlambat, iring-iringan mobil polisi sudah keluar dari pekarangan hotel.


Rion menghampiri Rian yang berdiri di luar gedung dengan jejak air mata yang tak bisa di sembunyikan.


Sementara Joya wanita itu justru bertemu dengan masalalunya ketika ingin menyusul suaminya.


Langkahnya terhenti saat Hamdan menyerukan namanya. Joya ingin tetap menghargai mantan suaminya. Bukan apa, dia hanya tidak ingin menaruh dendam dalam hatinya. Wanita cantik itu sudah cukup bersyukur jika sekarang Hamdan sudah menyadari seluruh kesalahannya.Ternyata waktu bisa menjawab segalanya, Joya juga sudah menerima segala takdir dengan lapang dada.


Bukankah dulu berulang kali Joya sudah memberi kesempatan pada Hamdan? Jadi sekarang semua sudah tidak perlu di ungkit.


"Apa mungkin aku bisa menemukan wanita sebaik dan setulus kamu lagi, Joy?" tanya Hamdan lemah.


"Ya, mas hanya perlu yakin. Setidaknya beri Ayenir kesempatan, jangan lagi mas mengulang kesalahan yang pernah ada." tegas Joya.


"Aku sudah menikah, mas." Joya menekan kalimatnya.


"Aku tidak yakin bisa mencintai Ayenir dan bisa melupakan mu" kali ini Hamdan akan meraih tangan Joya tetapi dengan cepat Joya menghindar.


"Yakinlah, dan harus bisa. Lupakan aku, kisah kita , bahkan namaku tolong hapus dalam hati Mas Hamdan, jika masih ada. Buka lembaran baru, Mas. Kini sudah ada Ayenir, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian." Seulas senyum penuh ketulusan terukir indah di bibir Joya.


"Apa kamu mencintai Suami baru mu?" tanya Hamdan tiba-tiba. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya.


"Iya, aku mencintai suamiku, sebagaimana aku pernah mencintaimu dulu, Mas" jawab Joya tegas.


"Jadi aku kalah?" Gunam Hamdan. Dia kemudian menutup wajah dengan telapak tangan.


"Maaf, aku tidak bisa menolak perasaan yang telah Tuhan titipkan, dan sudah memang seharusnya aku mencintai laki-laki yang menjadi suami ku." tandas Joya menjadi akhir percakapan. Karena kini Rion dan Rian sudah bergabung bersama mereka.


Joya yang melihat mata Rian dan Rion sembab hanya bisa menduga bahwa kejadian besar pasti telah terjadi.

__ADS_1


"Aku menitipkan berlian ini padamu, Bung." Hamdan menatap lekat pada Rion yang meraih tangan Joya.


"Ya, Anda tidak perlu khawatir." Meski mungkin perasaannya sedang tak karuan Rion tetap mampu bersikap ramah pada Hamdan yang semakin membuat Joya kagum dengan kepribadian suaminya.


"Bawa Joya pulang, kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang. Maaf sudah membuatmu panik" Rian menepuk pundak adiknya, yang di jawab gelengan kepala oleh Rion.


"Kami pergi dulu." Rion dan Joya masuk kedalam mobil yang membawa mereka kesini.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di perumahan Joya. Ya, pada akhirnya mereka sepakat untuk pulang kerumah Joya, sampai pada akhirnya nanti mereka menemukan rumah baru. Nyatanya takdir tetap ingin mereka menetap di tanah air.


Joya membuatkan minuman untuk Rion yang terlihat sibuk membuka penutup sofa yang Joya sengaja pasang sebelum meninggalkan rumah.


Setelah meletakkan minuman di atas meja mereka justru di hadapkan pada situasi tak terduga. Mata jernih Joya bertemu dengan mata teduh milik Rion. Jarak yang sangat dekat, deru napas tertahan cukup mampu bertahan sekian detik pandangan. Tidak ada lagi kini yang berbicara. Mereka seakan menyerahkan seluruh kata pada rasa yang tak mampu lagi di terjemahkan artinya.


Sorot mata yang tak dapat dijelaskan artinya mengunakan kata-kata. Lelaki tampan itu tak melepaskan pandangannya pada Joya, tatapan teduh dan menenangkan , seakan ada banyak rasa yang ingin dia ungkapkan, meskipun hanya sekedar lewat pandangan.


Mengulang kembali kejadian yang terus terulang dan belum pernah di sempurnakan, tentu keduanya sedang ingin diberikan waktu oleh takdir untuk sekedar saling memiliki seutuhnya, jika bukan kemarin setidaknya hari ini.


Tengkuk Joya ditarik tiba-tiba oleh suaminya, ciuman lembut yang semakin dalam tak bisa lagi di hindarkan, keduanya hanyut oleh rasa yang sudah bertumpuk-tumpuk. Rion juga tak memperpanjang durasi keraguannya. Semalam mereka hampir melakukannya, tentu Joya tidak akan keberatan jika kini dia memenuhi hak nya.


Rion menutup matanya, ketika sesuatu pada dirinya berhasil menembus hangat dibawah sana. Wanita yang berada di bawahnya melenguh lembut begitu cantik karena rona merah yang sedang menjalar di pipinya.


Genggaman tangan Joya pada rambut Rion semakin menguat manakala Rion mulai mengerakkan tubuhnya.


Rintihan Joya semakin menyulut gelombang yang ada pada diri lelaki yang sedang mengagahinya. Lelaki yang jauh lebih muda dan perkasa di banding mantannya terdahulu.


Rion tidak menyangka jika ada hal seperti ini, rasa istimewa yang membuatnya terasa seperti terbang ke langit ke tujuh. Gulungan nikmat terus kejar-kejaran seperti bola api yang semakin memanas karena mendekat.


Rion sudah tidak bisa menahan lebih lama, ******* panjang keduanya menjadi saksi bisu jika perjalanan cinta mereka baru saja di mulai. Rion ambruk di sisi istrinya yang tersenyum kearahnya, kesedihan, ketegangan, keresahan lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu melebur tergantikan oleh rasa tentram yang menjalar hingga jiwa.


'Cup'


"Terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2