
Hamdan menarik Ayenir masuk kedalam kamar. Cukup. Hamdan tidak ingin salah paham lagi untuk kedua kalinya. Dan akan melukai orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Ayenir yang di tarik Hamdan kedalam kamar gugup. Takut-takut Hamdan akan menyakitinya.
Handan menutup pintu kamar dan mendudukkan Ayenir di bibir ranjang. Handan melihat istrinya yang tampak ketakutan, padahal ia tak melakukan apapun.
"Bisa kamu jelaskan kejadian sebenarnya?" tanya Hamdan pada Ayenir. Sayang belum sempat Ayenir menjawab. Gedoran pintu dari Rubiah membuat wanita itu kembali menutup bibirnya rapat.
Hamdan melirik daun pintu dan menarik napas dalam. Dengan perilaku ibunya yang seperti itu membuat Hamdan semakin yakin bahwa sebenarnya Ibunya yang salah.
*****
Joya tak percaya ketika ada yang memencet bel rumahnya di jam yang hampir tengah malam.
Joya yang terbangun dari tidur, gegas mengintip siapa orang yang menganggu istirahat malamnya. Mata Joya menyipit saat mengetahui tamunya tak lain adalah Rian.
Joya sedikit bingung, ada apa pria yang pernah berjasa menjadi pengacara untuk nya itu tengah malam datang kerumahnya?
Joya membuka pintu. Wanita itu sedikit merapikan penampilannya sebentar.
Joya tidak tau apa yang terjadi, tapi yang Joya lihat Rian tampak kacau.
"Assalamualaikum" Sapa lelaki itu, dengan sopan seperti biasanya. Namun, kendati demikian wajah cemasnya sangat kentara.
Joya hanya berupaya membantu, saat pria itu mengucapkan keperluannya datang mengganggunya di waktu yang kurang tepat.
Kaki Joya ikut memasuki mobilnya, bersama Rian dan Joya yang mengemudi.
Waktu seperti berjalan begitu saja saat kini Joya sudah berada di rumah sakit menemani Rian.
Tadi begitu membuka pintu, Joya langsung dihadapkan wajah cemas Rian. Ternyata kedatangan Rian kerumahnya untuk meminjam mobil. Rian tidak punya pilihan lain, saat pintu garasi adiknya di kunci sedangkan sang adik sudah tidak sadarkan diri. Tidak ada yang bisa di tanyai dimana pintu garasi berada.
Sementara kanan kiri unit perumahan milik sang adik belum berpenghuni, karena merupakan bangunan baru.
Joya meminjamkan mobilnya dengan suka rela, tetapi karena melihat Rian yang kalut, Joya tidak tega membiarkan pria itu menyetir sendiri, pada akhirnya entah karena kasian ataupun kemanusiaan, akhirnya Joya menemani hingga saat ini.
__ADS_1
Joya menerima uluran air mineral yang di angsurkan Rian. Pria itu juga terus mengucapkan terima kasih karena Joya yang masih setia menemaninya.
Setelah keadaan adik Rian stabil, barulah wajah Rian tampak lega. Dan kini mereka sedang menunggu Rion untuk di pindahkan ke kamar perawatan.
"Joya, terimakasih" ucap Rian sedikit sungkan.
"Sama-sama, Abang. Jangan sungkan!" lirih Joya menyahuti.
Rian terseyum tipis. Detik berikutnya mereka berdua mengikuti langkah-langkah perawat yang mendorong brankar yang membawa Rion ke kamar rawat. Hampir empat jam lamanya pria itu terbaring tak sadarkan diri.
Ternyata pria yang pernah membantu Joya di kedai minuman itu memiliki penyakit yang serius, Pria itu menderita gagal ginjal kronis, hingga menyebabkan kekurangan sel darah merah, menumpuknya cairan di rongga tubuh dan di paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, hingga Rion jatuh tak sadarkan diri.
"Ini belum pernah terjadi sebelumnya, Joy" Rian terlihat sangat sedih mendengar kondisi saudaranya. Bagaimanapun, saat ini dia satu-satunya yang menjaga sang adik. Sementara kedua orangtuanya sudah kembali ke negara tetangga. "Ku pikir, penyakit adik ku tak separah ini" Rian tampak menunduk sendu.
Untuk pertama kalinya Joya melihat sisi lain pria di sampingnya, Rian yang biasanya tampak ceria dan bersahaja kini tampak sendu.
Joya baru tahu jika kakak beradik ini hanya terpaut usia 4 tahun, mereka tampak sepantaran. Tubuh Rion jiga lebih jangkung dari sang Kaka, tidak mengira jika saudara Rian ternyata sedang sakit parah.
"Ayo, ku antar kamu pulang. Sekali lagi aku minta maaf sudah membuatmu ikut repot!"
Rian mengantar Joya ke rumah. Sementara Rian masih meminjam mobil Joya, dan Joya tentu saja tidak keberatan.
Setelah beristirahat sekitar 5 jam, akhirnya Joya bangun dan ingin mengisi perutnya, saat memasuki dapur, tiba-tiba Joya mengingat Rian yang berada di rumah sakit. Tiba-tiba terbesit keinginan untuk membawakan pria itu makanan. Namun apakah tidak berlebihan?
Meskipun sedikit ragu, Joya tetap memasak menu yang cukup banyak. Kebetulan dua hari yang lalu dia baru belanja bulanan. Stok bahan makanan masih lengkap.
Bukan Joya namanya jika tak cekatan. Tidak sampai 1 jam, tiga menu beserta nasi merah sudah siap di santap.
Setelah makan. Joya benar-benar memindahkan beberapa bagian makanan itu pada kotak Tupperware.
Joya mengetik pesan pada Rian. Meminta izin pada pria itu untuk datang kembali.
Setibanya di rumah sakit, Joya segera menuju ruangan dimana adik Rian dirawat.
Di dalam lift menuju lantai tiga Joya gamang. Memeriksa ponselnya yang tak mendapati balasan pesan dari Rian. Bahkan pesanannya belum terbaca masih centang dua abu-abu. Tiba-tiba hatinya ragu. Apa ini tidak terlalu lancang? Joya takut menyinggung perasaan Rian.
__ADS_1
'Ting'
Pintu lift berbunyi. Dia sudah sampai di lantai tiga. Pintu baja di hadapannya pun membelah dan bergerak kedua arah yang berlawanan. Joya sedikit ragu begitu keluar dari lift dan berjalan keluar menuju unit kamar tempat Rion dirawat.
Kini Joya sudah berada di depan pintu kamar rawat Rion. Joya bingung ingin masuk atau tidak. Sebelum mengetuk pintu Joya mengintip dari kaca berbentuk persegi di depan pintu.
Rian. Laki-laki itu ada di sana, duduk di samping adiknya, dan pria itu tertidur. Pantas saja pesannya belum di baca. Sementara sang adik terlihat membuka tutup bibirnya. Apakah pria itu baru tersadar?
Joya akhirnya memutuskan masuk. Sebelum itu dua mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat masuk matanya saling bertemu dengan mata Rion yang seolah mengunci pandangan mereka.
"Maaf mengganggu" Joya memecah kecanggungan.
Rian menggeliat, mendapat tepukan dari saudaranya.
"Ya, I o?" Pria itu menegakkan tubuhnya.
Pemuda yang dipanggil i o itu menunjuk Joya dengan dagu. Seketika Rian terkejut melihat kehadiran Joya.
Joya terseyum tak enak, merasa kehadirannya menganggu tidur Rian, tetapi Rian justru menyambutnya dengan senang.
"Loh, Joya? Kamu disini?" Rian juga segera menyambut kedatangan Joya dengan baik.
"Abang, maaf jika lancang, siapa tau Abang belum makan, aku ada buat makanan untuk makan siang"
Binar haru terpancar di wajah Rian. Pria itu tersenyum dan tertawa kecil.
"Waahhh, kebetulan aku belum sempat keluar, ah, aku berterimakasih sekali padamu, Joy. Kamu baik sekali?"
Rian menerima dengan senang hati kotak yang Joya ulurkan. Sementara Joya mendekat ke arah Rion.
Joya terseyum lembut, menyapa Rion. Dan adik Rian itu juga tak segan membalas senyumannya. Ah, ternyata dia bukan pria dingin!
#####
Hayoooo....
__ADS_1
Kira-kira apakah Joya akan cepat mendapatkan pengganti Hamdan?