
Hamdan hanya mampu tersenyum kecut begitu pintu kamar kembali tertutup. Kali ini mungkin Joya benar-benar kecewa padanya.
***
Paginya, kediaman Joya tampak ricuh, bagaimana tidak! Joya begitu bersemangat mendengar orang tuanya akan datang dari Kuala lumpur.
Sementara Hamdan?
Pria itu tengah kalang kabut karena bingung apa yang harus di perbuat.
Sekejap Handan memejamkan matanya, mengumpulkan seluruh keberanian ke ujung lidahnya, keputusan sudah diambil, ibunya harus mengetahuinya.
" Katakan saja!" ucap Joya, tanpa basa-basi. Sudah tidak ada rasa hormat sama sekali, ketus tanpa rasa apapun.
Gemuruh di dada sudah semakin membara. Namun, Joya bersikap tenang seperti air dalam cawan, gemuruh rasa kecewa dan amarah ia sembunyikan dalam hati. Bahkan rasa yang dulu manis kini terasa hambar, senyuman Hamdan tak berarti apa-apa untuk nya.
Rasa yang kini mencekik Hamdan tanpa ampun. Membuat dadanya terasa sakit ketika bernapas.
Wanita yang tengah mengusir Ibu nya adalah wanita yang beberapa Minggu lalu begitu antusias untuk menyambut kedatangan sang Ibu, masih melekat dalam ingatan Hamdan, manakala sang istri sibuk lembur membuat kue untuk menjamu Ibunya, masih tercetak jelas di ingatannya kala Joya bersemangat mengisi persediaan makanan di kulkas kecil mereka, Joya bahkan terus mengelap barang-barang agar terhindar dari debu meskipun barang itu baru di bersihkan oleh nya beberapa jam yang lalu, namun kini tidak ada lagi semangat itu dari diri Joya, wajah ayu itu hanya menggambarkan raut kecewa, kesal, dan amarah. Apakah sudah tidak ada lagi rasa empati Joya untuk nya?
" Aku minta maaf" kata Hamdan seusai membuang napas panjang beserta ego yang menguasai jiwanya. " Aku sadar aku salah... sikapku selama ini, aku akui terlalu buruk, aku terlalu pengecut, aku membuatmu sakit, membuatmu sedih. Aku janji akan berubah, aku akan lebih mengutamakan kamu" Diselami nya kedua bola mata sang istri yang indah tapi menghanyutkan.
Setia dengan kediamannya, Joya juga membeku mana kala Hamdan mencium keningnya lama. Lembut dan penuh kasih sayang, tapi kenapa perasaannya biasa saja? Mana debaran yang biasanya ada? Mana desir halus yang biasanya menyentuh kalbu saat sang suami memanjakannya seperti ini?
Mati rasa kah hatinya?
" Sombong sekali kamu, Joya. Kamu benar-benar wanita tidak punya sopan santun!"
Seketika Hamdan mengurai pelukannya, melepas ciumannya dari kening Joya.
Joya tidak perduli dengan ucapan kasar Rubiah. Kini matanya melirik pada Hamdan yang terlihat salah tingkah.
" Bu,"
Joya terseyum begitu Hamdan mulai membuka suaranya, jelas sekali Pria itu tengah mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan sang Ibu.
__ADS_1
" Opo to Dan?" saut Rubiah tak sabaran.
" Anu, Bu. Orang tua Joya, eh, maksudnya, Mertua Hamdan mau datang, Hamdan tidak bisa membiarkan Ibu dan Ayenir tetap tinggal di rumah ini, karena,"
" Apa?" Rubiah memekik begitu saja mendengar putranya seolah tidak mau dia tinggal dirumahnya.
" Bu, dengarkan Hamdan dulu, rumah ini milik Joya, milik kedua orang tuanya, bukan punya Hamdan, juga mobil yang Hamdan pake juga milik mereka" ucap Hamdan berterus terang.
Wajah angkuh Rubiah berubah datar, mungkin ketenangannya terusik karena kabar itu, ya, atau mungkin ia malu karena sudah menyakiti tuan rumah yang sebenarnya.
" Ja, jadi" tanyanya terlihat kesal.
" Hamdan akan bawa Ibu dan Ayenir ke penginapan sementara waktu" tutur Hamdan.
" Tapi sementara kan, Dan?" tanyanya masih tidak rela jika harus pergi dari rumah Joya.
Hamdan mengangguk ragu, melirik pada sang istri yang tidak bergeming sama sekali.
" Mas, jangan bawa selimut aku dong, itu Bunda yang beli" Joya menegur Hamdan ketika melihat Ayenir akan memasukan selimut tidur dari kamar yang di tempati Rubiah.
" Itu memang milik Joya Bu, dia kesini bawa diri saja, keluar ya ngak boleh dong curi barang orang, tidak puas sudah ambil suamiku?" tak ada lagi nada lembut, Joya seperti orang lain saat ini Dimata Hamdan.
Gadis bernama Ayenir itu mengeluarkan kembali selimut yang hendak ia masukkan.
" Maaf mba" cicitnya.
" Kamu benar-benar ngak punya hati" hardik Rubiah menunjuk Joya.
" Apa mulut mu itu sudah tidak berguna Handan? bahkan untuk bicara saja tidak bisa?"
" Dek," Hamdan benar-benar tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari wanita yang dulu sangat menghormatinya.
Hamdan menarik Joya masuk kedalam kamar dan mendudukkan istrinya dengan paksa.
" Ada apa denganmu dek, mengapa tidak sedari awal kamu jujur jika keberatan dengan Ibu yang tinggal bersama kita?"
__ADS_1
" Apa kamu bilang? tidak sedari awal? Mas, kamu sadar ngak ngomong begitu? Ibu tinggal disini itu tak pernah kamu rundingkan dengan ku, kamu mengambil keputusan sendiri, dan apa sekarang? kamu bilang kenapa tidak sejak awal? apa kamu pernah mau mendengarkan ketika aku ingin bicara? Apa pernah kamu perduli ketika aku memohon agar kamu tidak menikah lagi? "
Joya menatap Hamdan tepat di kedua bola matanya "Sekarang giliran aku yang bertanya, kenapa baru sekarang kamu mau membawaku untuk bicara empat mata mas, KENAPA?"
" Joya, bukan begitu," Hamdan meraup wajahnya kasar. Saat ini Hamdan teramat pusing dengan pikirannya.
" Dek, "
" Pergi mas, Ayah dan Bunda akan segera datang. Jika kamu tidak takut menghadapi Ayah terserah, aku juga tidak perduli" Joya berlalu setelah mengatakan itu.
Rasa cintanya masih utuh untuk Hamdan, namun kini sudah terbalut kekecewaan, hatinya yang biasanya lembut berubah keras, bahkan sama sekali tidak perduli jika Hamdan harus memboyong Ibu dan istri barunya tanpa tujuan.
" Mas bawa mobil ya?" lirih Hamdan.
Joya hanya bergumam.
Sementara Rubiah mencak-mencak, sumpah serapah ia tujukan pada Joya, apa Joya perduli? Tidak.
Joya pandangi punggung mereka, matanya menjelajahi setiap sudut rumah yang menjadi saksi derita seorang wanita dalam mempertahankan kedudukannya sebagai seorang istri, namun tetap akan mengakhiri karena untuk bertahan tidak akan sanggup, biarlah takdirnya membawanya pada kisah lain.
***
Hamdan membawa Rubiah dan Ayenir ke penginapan, setelah membayar Hamdan mengantarkan keduanya masuk kedalam rumah sederhana minimalis itu.
" CK' Ibu ngak suka Dan" Decak Rubiah.
" Sementara ya Bu, Hamdan belum bisa jujur sama Ayah Joya, terus terang Hamdan takut beliau mengambil apa yang sudah beliau titipkan pada Hamdan"
" Kenapa kamu tidak bilang sejak awal kalau rumah dan mobil itu milik Joya sih, Dan?"
" Kan, niatnya Hamdan ingin membuat Ibu bangga dengan Hamdan, ngak taunya malah jadi begini"
" Begini bagaimana? Kamu nyalahin Ibu? Mau jadi anak durhaka?" ancam Rubiah.
" Bukan begitu Bu."
__ADS_1
Hamdan mencoba sekuat mungkin agar intonasi suaranya tetap tenang di depan sang Ibu, meskipun sebenarnya Hamdan teramat kesal dengan Rubiah yang terus menerus menyalahkannya.