Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Permohonan.


__ADS_3

Karena tak kunjung bisa tidur, akhirnya Joya kembali bangun.


Kembali Joya buka aplikasi WA dan langsung mengirimi pesan lagi pada Rion.


[Kamu dan Jio sekarang tinggal di mana?] ketik Joya.


Hampir lima menit tapi pesan itu tak kunjung di baca oleh si penerima. Joya mulai lesu hampir di letakkan kembali ponselnya di atas bantal, namun ternyata sebuah balasan dari Rion masuk.


Ayah JiO


[Masih di depan unit kamu]


Refleks Joya melihat dinding kamarnya.


Di lihatnya jam yang masih di angka sembilan malam, Joya buru-buru turun, belum terlalu larut untuk bertamu.


Pikirnya.


Joya kembali mengirimkan pesan bahwa dia ingin ke rumah.


[Aku ke rumah kamu sebentar]


Pesannya hanya dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan, Joya tak ambil pusing, barangkali begitulah Rion. Buru-buru Joya mengambil beberapa kue yang tadi sempat dibawanya dari kedai.


Sudah sejak membuka kedai, Joya kerap membawa kue-kue manis dan lucu, berharap bisa melihat Jio di halaman rumah, dan Joya ingin sekali memberi Jio kue, tetapi sudah tiga bulan rumah berpagar hitam di sebrang sana tak pernah ada tanda-tanda kehidupan.


Tapi ternyata Rion ada. Sungguh Joya nggak habis pikir dengan si penghuni rumah, masak iya lampu dibiarkan siang, malam menyala seperti layaknya rumah kosong.


Setelah mengemas kue dengan baik, Joya mengambil motor metik nya, segera dia stater dan di jalankan menuju unit sebrang.


Di tengah perjalanannya Joya berpikir keras bahwa apa yang dilakukannya itu pantas atau tidak?


Tetapi demi menghentikan kegelisahannya Joya berpikir tindakannya itu benar.


Saat Joya menghentikan motornya di depan gerbang, pagar besi itu di buka dari dalam. Joya melihat Rion yang mendorongnya ke samping.


Pria itu terlihat terseyum, tampilannya sederhana dengan kaos oblong polos di padukan dengan celana pendek di bawah lutut.


Dengan kikuk Joya menjalankan motor nya masuk ke dalam gerbang, sama seperti unitnya, rumah Rion juga memiliki garasi di samping rumah yang tepat berhadapan dengan gerbang.


Setelah memarkirkan motornya, Joya mengambil kue yang dia tempatkan di gantungan depan.


Rion menerimanya dengan senyum, tak ada ucapan apa-apa, pria itu hanya mengajaknya masuk lewat gesture tubuhnya.


Saat Joya akan duduk di kursi teras, barulah Rion berbicara.

__ADS_1


"Masuk aja, Jio ada didalam"


"Eh," kaget Joya.


"Ada Embak juga didalam" tambah Rion yang membuat Joya setuju ikut masuk.


Masuk kedalam rumah, Joya bisa melihat bentuk bangunan milik Rion sama persis dengan miliknya, bedanya peralatan rumah Rion lebih lengkap. Mungkin karena Rion sudah memiliki anak, jadi ya keperluannya lebih banyak.


Saat melihat di ruang tengah, Joya melihat dua orang wanita sedang bermain dengan Jio, yang satu memakai baju khas baby sitter, yang satu baju biasa.


"Ji, ada Tante Joya" terang Rion yang membuat bocah Lima tahun itu langsung menoleh.


Mata pria kecil itu tampak terkejut, sebelum tubuhnya berlari menghambur ke pelukan Joya.


"Akhirnya Bunda datang juga" lirih Jio yang membuat Joya terkesiap.


"Ajak tantenya duduk dulu" Tegur Rion yang membuat Jio melepas pelukannya.


Tangan kecil Jio menuntun Joya duduk, di tempatnya yang tadi, sebelum Joya datang.


"Bibi, tolong buatin Bunda Jio minuman ya!" Pinta Jio pada wanita paruh baya di sampingnya dengan sopan.


Joya tidak bisa menahan rasa harunya, di usianya yang baru 5 tahun Jio sudah tau cara menghormati orang yang lebih tua. Sangat sopan, terlihat jika Rion dapat mendidik putranya dengan baik.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk menyapa Joya, setelahnya berlalu ke dapur. Sementara wanita yang memakai baju baby sitter mengumpulkan mainan yang sedikit berserakan.


Apa pria itu sedang bekerja?


Joya tak bisa percaya jika ada seseorang yang memiliki ruang kerja terbuka seperti ini. Tetapi nyatanya ada, Ruang kerja Rion ini contohnya.


Wah, wah, pria ini sungguh unik.


Joya sedikit berat saat tangan nya di tarik Jio ke ruang tamu, padahal hatinya ingin tetap berada di sana.


Tiba di ruang tamu ternyata Ibu yang tadi dimintai tolong Jio membuat minuman sudah berada di sana, membawa minuman dan cemilan di atas meja.


Sambil bermain dengan Jio Joya sedikit mengorek informasi tentang Rion.


Hati Joya tersentuh mendengar bagaimana pria itu sangat menomor satukan kepentingan Jio, ternyata Rion sengaja memindahkan ruang kerjanya di samping ruang keluarga agar dia tetap bisa mengawasi putranya meski sedang bekerja.


Jio menarik jemari Joya seraya menciumnya dengan pelan. Hati Joya bergetar karenanya. Saat pria kecil itu mendongak dan terseyum Joya sedikit kaget melihat senyum dan tatapan Jio.


Tatapan dan senyum itu begitu familiar, Bukan, bukan Joya membandingkan, tetapi dari pada mirip Rion Ayahnya, Jio lebih mirip dengan Rian Pamannya. Ya, Joya menyadari itu.


"Maaf ya, aku baru temuin kamu" Suara Rion membuat Joya mengalihkan perhatiannya dari wajah Jio.

__ADS_1


Rion terseyum, pria itu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Joya. Jio berdiri dan kini ikut Rion, Jio bermanja-manja pada Ayahnya.


Saat kedua pria itu tertawa, Joya benar-benar menyadari antara mereka bukan seperti Ayah dan anak, melainkan Om dan keponakan.


Bukan soal kedekatan, tetapi lebih ke wajah dari keduanya. Senyum Jio, bentuk wajah Jio, bahkan rambut Jio terlalu mirip dengan Rian, apakah ini hanya sebuah kebetulan?


****


Hampir jam sebelas malam Joya baru pulang kerumahnya sendiri.


Saat mau masuk kedalam rumah, seseorang tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.


"Joy,"


Mata Joya terbelalak, menyadari siapa yang menarik tangannya.


"Kamu dari mana?" Pria itu melihat sekeliling yang sudah sepi karena hari yang sudah larut malam.


"Mas Hamdan, ngapain?" Tanya Joya sedikit khawatir karena dia sedang sendirian.


"Aku ingin bicara sama kamu" iba Hamdan.


"Mas ini sudah malam, lebih baik mas pulang dulu"


"Aku sudah menunggumu dari tadi"


"Kita bisa bicara besok mas aku mau istirahat" tolak Joya terus terang.


"Aku butuh kamu Joy, aku butuh seseorang yang bisa membuatku merasa tenang, aku, aku butuh teman untuk berbagi kekecewaan hatiku"


"Mas Hamdan, tolong mengerti, tidak baik bertamu malam-malam begini, aku tinggal sendiri disini, apa kata orang nanti" Joya tetap pada pendiriannya, membuat mata Hamdan berkaca-kaca. Pria itu tampak begitu kacau, keadaannya memang terlihat memprihatinkan, tetapi Joya tidak mau terikat dengan pria masalalunya ini.


Mengapa Hamdan harus mencarinya, untuk apa lagi, semua sudah selesai, jikapun butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, Hamdan tidak harus menemuinya, siapa Joya, mereka sudah bukan siapa-siapa.


Joya yang akan masuk kembali di tarik Hamdan. Tetapi tidak lama tangan itu di sentak oleh seseorang.


"Wanita butuh dimengerti bung! Jika dia bilang tidak mau jangan dipaksa"


Joya dan Hamdan sama-sama menatap seseorang yang berbicara. Mata Joya melebar melihat Rion lah yang melepaskan cekalan tangan Hamdan, pria itu mengenakan Hoodie hitam yang menutupi kepalanya, membuat Joya hampir tak mengenalinya.


###


Butuh semangat, agar rajin update.


Tinggalkan jejak ya reader, like, komen dan vote kalian begitu berarti bagi author

__ADS_1


Happy reading....


__ADS_2