Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Hamdan


__ADS_3

Mas Hamdan masuk dengan wajah panik.


" Bu, Hamdan yang tanya sama Ibu! Mengapa harus menemui Joya?" tanya mas Hamdan pada ibunya yang terlihat begitu marah padaku.


" Karena pasti dia ngomong kalau Ibu belum kasih uang belanja sama kamu Hamdan." suara itu seperti geledek. Teramat nyaring. Bahkan mungkin tetangga bisa mendengarnya.


Mas Hamdan tampak menghela napas. Sebelum berjalan kearah ku.


" Hamdan yang tadi tanya sama Joya, Bu." ujar nya sambil memeluk bahuku.


" Bulan ini uang gaji mu Ibu kasih Ayenir, dan untuk kebutuhan Ibu" tukas Ibu menatap tajam aku yang hanya diam tak bersuara.


Kini mas Hamdan berpaling untuk menatapku, pandangan yang tersirat rasa bersalah.


Aku hanya mengeluh dalam hati. Mengapa mas Hamdan begitu takut pada ibunya? bukankah dosanya sama jika dia juga menelantarkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami? .


Melihat aku dan mas Hamdan diam, Ibu mertua ku langsung keluar dari kamar dan membanting pintunya dengan keras.


Aku sampai berjingkat, begitupun mas Hamdan.


Kini aku menatapnya " Jadi, aku tidak mas kasih nafkah?" tanyaku saat sedang duduk berdua dengan dia yang selama ini menemani setiap hari ku.


Lelaki yang ada di hadapanku hanya terdiam sambil menunduk. Sudahlah, aku bisa membayangkan apa yang akan dia ucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang baru ku tanyakan. Sesak, rasanya aku ingin menangis. Nyatanya baru seperti ini saja dia tak mampu adil. Terlalu takut pada ibunya dan mengorbankan diriku.


Jika saja aku tidak memiliki sepeser uang, apa dia akan benar-benar tidak mengusahakan sesuatu untuk ku? Apa dia tega membiarkanku tanpa memiliki pegangan sepeser pun?


Tangan mas Hamdan terulur dengan sangat perlahan hingga mengenggam tanganku dengan begitu erat. Dengan berat aku menarik napas dalam dan berusaha agar debar jantung ini mereda. Bukan hanya detak jantung yang perlu aku turunkan debarannya, tetapi kecewa yang sudah menyelimuti seluruh jiwa.


" Maaf," katanya sambil menarik tanganku dan kemudian mengecupnya dengan begitu lembut. " Aku sangat mencintaimu, kamu hidup dan mati ku" katanya lagi sambil memelukku dengan erat.


Apa suamiku berpikir dengan kata maaf dan pelukan erat bisa menghilangkan lapar dan dahaga? Kebutuhan kami banyak, harusnya dia bisa memahami keadaan genting ini. Aku yakin mas Hamdan juga tidak memiliki tabungan selain sejumlah uang yang ku sisihkan setiap bulannya.


Uang lebihan belanja yang ku kelola untuk tabungan masa depan. Dan itupun kemarin sempat dia gunakan untuk menyewakan penginapan untuk Ibu dan madunya.


Uangku memang ada, tapi itu milikku. Harta yang ku miliki sebelum menikah dengan mas Hamdan. Rasanya tidak pantas aku mengunakan uangku jika bukan karena kebutuhan mendesak. Karena sebelum menikah mas Hamdan memang pernah bersumpah tidak akan membiarkan aku mengunakan uang pribadi ku sendiri untuk keperluan rumah tangga kita. Tapi kini?.

__ADS_1


Ucapan cintanya juga terasa tidak berarti, meski aku mencoba untuk memahaminya.


" Aku janji akan bekerja lembur agar bulan depan bisa membagi uang untuk kalian dengan adil" lirihnya penuh penyesalan.


Bulan depan? mungkin suamiku lupa bahkan untuk esok hari sepeserpun uang aku tak punya.


Aku mundur dua langkah dan menatap lelaki yang ada di hadapanku lekat. " Bahkan untuk besok saja aku tidak memiliki uang!" ucapku terus terang. Jika tidak ada yang perduli padaku, untuk apa aku perduli dengan orang lain, termasuk dirinya.


" Jangan menangis, aku tidak bisa melihat air matamu!"


Aku memejamkan mata sejenak merasakan nyeri di dada yang semakin menjadi.


" Mas, aku akan memberimu kesempatan untuk tetap memberiku nafkah, dan untuk bulan depan, aku minta mas memberiku uang separuh gaji mu"


Mas Hamdan terdiam mendengar kata-kata ku.


" Tapi, Dek?" tanyanya sambil memangkas jarak di hadapan kami.


" Aku... Tolong pahami keadaan mas Joy!" terlihat ada kilat emosi di matanya.


" Aku kurang memahami mu apalagi? tiba-tiba kau bawa Ibu tinggal di rumah ini? Kau menikahi lagi? Kamu sendiri tolong mengerti aku sekejap saja!" tak kalah kerasnya aku menyahut. " Kamu pernah gak mencoba berpikir jika kamu ada di dalam posisiku bagaimana?" tekan ku lagi.


Author POV.


Mendapat tekanan begitu berat dari keluarganya membuat pekerjaan Hamdan kacau balau.


Kesalahan berulang-ulang karena tidak fokus membuatnya hampir kehilangan pekerjaan. Beruntung selama ini dia karyawan teladan membuatnya mendapatkan toleransi.


Hamdan duduk termenung di mejanya dengan pandangan kosong.


" Kenapa bro?" tanya teman Hamdan satu timnya.


" Pusing aku Ren! di coret Mulu laporan ku, malahan Pak Dadang marah banget samaku?" keluh Hamdan sama temannya.


" Masalah keluarga, jangan kebawa ke pekerjaan dong bro" nasehat Reno.

__ADS_1


" Mau nya sih gitu, tapi nggak bisa. Kepikiran terus!" keluh Hamdan mengacak rambutnya yang sudah kusut.


" Nggak biasanya kamu begini? Bertengkar sama Joya?"


" Ya, Joya dan aku sedang tidak baik-baik saja!" sendu Hamdan.


" Biasalah, pertengkaran kan bumbu rumah tangga bro!"


" Ini karena aku tidak bisa menolak permintaan ibuku" adu Hamdan tampak sendu.


" Oh, kenapa dengan ibumu?" tanya Reno.


" Ibu tinggal samaku" ucap Hamdan menghela napas berat.


" Jadi sekarang ibumu tinggal bersama kalian? Dan itu sebabnya Joya sama kamu bertengkar?" berondong Reno.


" Bukan, Joya marah karena Ibu tidak memberikan uang belanja" jujur Hamdan. Dia butuh pencerahan saat ini, memilih berkesah agar perasaannya sedikit lega.


" Maksudnya bagaimana?"


Akhirnya Hamdan jujur pada Reno sebab Joya marah, dan terlihat sekali sang teman ikut terkejut.


" Gila, kamu Hamdan!" seru Reno setelah Hamdan selesai berkisah.


Pria satu direksi dengan Handan itu tampak benar-benar tidak percaya pada kebodohan temannya.


" Berbakti boleh, tolol, jangan!" serunya. Reno mengeluarkan sesuatu dari lacinya dan membuka amplop coklat mengeluarkan sebagian isinya untuk di letakkan di telapak tangan Hamdan.


" Berikan ini pada Joya! tetap nafkahi dia, jangan sampai kau mengharap pintu surga, justru membuka pintu neraka yang lain." nasehat Reno. Reno tidak habis pikir dengan temannya ini, bagaimana mungkin Handan jadi laki-laki brengsek seperti ini.


" Dan lagi! lebih baik kamu bawa ibumu keluar dari rumah kalian!" tambah Reno.


" Dan jika kamu memang mencintai Joya, lebih baik kamu tinggalkan istri muda mu itu."


Setelah mendapatkan nasehat dari Reno, Hamdan termenung. Ya, Hamdan memang menceritakan jika dirinya terpaksa menikah lagi atas kemauan sang Ibu, akan tetapi Hamdan tidak mengatakan pada Reno jika dirinya dan istri keduanya sudah melakukan hubungan suami-istri. Hamdan terlalu malu mengakui jika dia memang terlihat seperti pria brengsek dan tak berdaya.

__ADS_1


Namun, setelah kejadian ini apakah dia tetap mempertahankan kedua istrinya? Sedangkan semakin hari Hamdan tak memungkiri jika ia begitu takut kehilangan Joya. Namun, kabar yang diberikan sang Ibu juga tidak pelak membuatnya semakin dilanda ketakutan. Pasalnya, semalam ketika dirinya mencoba membujuk sang Ibu untuk tetap memberikan hak Joya. Rubiah mengatakan sengaja memberikan jatah Joya untuk Ayenir, karena saat ini Ayenir tengah mengandung darah dagingnya.


Bahkan Rubiah mengancamnya akan membawa Ayenir dan anak yang dikandungnya pergi menghilang jika Hamdan tetap memaksa memberi Joya uang belanja.


__ADS_2