
"Bang, sudah saatnya adek mu tau?" Joya dan Rion dapat melihat Dermawan menahan bahu Rian untuk tetap dalam posisi yang sama."Tidakkah kamu merasa bersalah? Sudah saatnya segalanya diluruskan, Bang!"
Sejenak Joya berpaling menatap laki-laki di sampingnya yang wajahnya terlihat pias. Rona wajah Rion memudar, pandangannya nanar kearah tiga orang di sana.
"Abang belum siap, Yah"
"Sampai kapan? Menunggu Jio tiada? Tidakkah kamu sadar, Bang. Inilah alasan Rion menjauh dari kita, itu kare ...,
"Rion, hanya ingin mandiri, tidak ada hubungannya dengan Jio, Abang nggak siap semakin dibenci Rion." Rian memotong begitu saja ucapan Ayahnya, karena dirinya berpikir Rion membencinya tanpa sebab selama ini.
Dermawan terlihat sangat kesal, duduk tergesa dengan pandangan liar, seperti sedang bingung.
Sementara Rion mendengar seperti itu saja sudah tau, ada hal besar yang benar-benar di sembunyikan keluarganya. Harusnya. Keluarga menjadi tempat kembali yang paling dirindukan oleh seseorang. Keluarga menjadi pelipur lara dan obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa lelah dan mengembalikan suasana hati.
Namun, tidak setiap orang bisa merasakan keharmonisan dari sebuah keluarga. Bahkan, muncul rasa kecewa dari seseorang terhadap keluarganya. Seperti yang tengah dialami oleh Rion. Pengkhianatan dari keluarga itu adalah luka yang paling dalam.
Rion sudah tidak ingin lagi bersembunyi, biarlah keluarganya tau bahwa saat ini hatinya tengah berdarah-darah. Orang-orang yang sangat di cintainya begitu tega.
Saat akan kembali memberi pengertian kepada Rian terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat, sesaat Dermawan dan Rian reflek menoleh, dan melihat seseorang yang datang, seketika tubuh keduanya sama-sama bergetar.
Itu Rion.
Raut wajah Dermawan dan Rian berubah pucat dalam waktu singkat. Begitupun kakinya yang tiba-tiba lunglai bak kehabisan daya baterai. Apa ini?
Apakah barusan Rion mendengar apa yang mereka bicarakan? Rian secepat mungkin mencoba menguasai diri, dengan berdehem sejenak Rian langsung menepuk punggung adiknya.
"Baru datang?" tanyanya tenang seperti biasa.
Rion terseyum tersungging, dia harus menunjukkan bahwa dia dan Rian berbeda bukan?
"Tidak juga, udah cukup lama, sejak kalian keluar dari ruangan" Balas Rion tenang, sangat tenang terlihat tak ada sedikitpun emosi disana.
Tidak ada yang perlu Rion hormati disini, semua orang yang selama ini dia banggakan, tak lebih dari orang-orang penghianat. Rion sudah memikirkannya, sudah cukup mereka menyembunyikan siapa pecundang sebenarnya. Cepat atau lambat dia harus tetap mengetahui Ayah kandung Jio bukan? Setidaknya mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk jika malaikat kecilnya harus berpulang. Setidaknya di batu nisan itu tertulis nama Ayah kandung Jio yang sebenarnya.
Mendengar perkataan Rion barusan, tak pelak ibarat sebuah tamparan keras di pipi Dermawan dan Rian. Kedua tangan Rian yang berada di saku celana terkepal kuat.
"Kamu Bercanda, kami baru saja sampai" Rian belum puas.
__ADS_1
Salah satu alis Rion naik, senyum miringnya pun terbit. Dia tau Rian memancingnya. "Sayangnya aku mendengar semuanya, bahkan tidak perlu kalian menjelaskan, aku sudah tau segalanya." Rion menatap satu persatu wajah-wajah keluarganya.
Bundanya yang menatapnya lembut, Ayahnya yang tampak syok, dan Rian yang terlihat kaget.
"Apa sebenarnya kaulah pendosa itu, Bang?"
Buk!!!!
"Tutup mulutmu!"
"Abang!!" Joya yang tadi berdiam diri di persembunyiannya pada akhirnya menunjukkan diri dan berlari menolong Rion yang tersungkur.
Tubuh Rian ditahan oleh kedua orang tuanya, semua terlihat kaget melihat sikap Rian yang anarkis. Mereka sedang berada di rumah sakit, dan ini di depan ruang ICU bagaimana Rian tak tau tata krama seperti ini.
Rion terseyum saat satpam mendatangi mereka, dia mengangkat kedua tangannya tanda tidak perlu khawatir.
Rion dibantu Joya berdiri, sementara Rindi sudah menangis melerai kedua putranya.
"Tolong, ini rumah sakit, sangat tidak pantas ada hal seperti ini" Seru orang-orang yang melihat kegaduhan.
Dengan sopan Rion memohon maaf, pria itu mengakui jika dia salah, tidak sama sekali menarik simpati orang.
Rion tidak menahan Ayahnya, dia sudah tidak perduli, dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu tersenyum miring.
Rion melirik Bundanya yang menatapnya penuh rasa bersalah, Rion tidak mengatakan apapun, dia memilih pergi menarik tangan Joya.
"Beberapa orang yang susah dijauhi adalah anggota keluarga. Tapi seringkali justru mereka yang paling ingin kita jauhi." Rion tersenyum pedih menatap botol air minum yang ada di genggamannya. "Aku tau ada kalanya kita harus siap dan menerima apa yang akan terjadi, bukan menyerah hanya berhenti memaksakan, daripada akhirnya hanya akan menjadikan kita semakin sakit dan kecewa. Tuhan tau kita telah berusaha semampu kita. Selebihnya biar menjadi urusan-Nya. Tapi tetap mengetahui orang yang paling dekat dengan kita justru yang menancapkan luka, hati ini sakit." Rion menekan dadanya dengan jari telunjuknya, Air mata memang tak nampak di mata pria dihadapan Joya itu, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah di iringi air mata bercucuran yang hanya mampu pria itu tangisan dalam hati.
"Aku capek, Joy"
Dan. Air mata luruh setelahnya dengan wujut sesungguhnya.
Rasanya Joya ingin sekali mengelus punggung Rion, sekedar menenangkan, tapi .... Joya tidak berani melakukannya, pria di hadapannya ini sangat berbeda dengan pria yang pernah menawarkan sebuah kebersamaan, Kebersamaan yang berarti menemani pria itu selama mungkin, dengan status Ibu pengganti. Tetapi apakah sebenarnya hanya itu niat Rion menjadikan Joya istrinya? Untuk menjaga Jio?
Lamunan Joya memudar saat seseorang memanggil namanya.
"Ya Allah ... Ini beneran kamu?" Belum sempat melihat dengan benar, tiba-tiba seseorang sudah menarik dia kedalam pelukannya.
__ADS_1
Aroma yang sangat Joya kenali, terlebih saat kepalanya di tekan pria itu sehingga bersandar di dada kirinya, di balik punggung itu Joya bisa melihat wanita yang tadi sempat membantunya.
Joya buru-buru mendorong tubuh Hamdan untuk melepaskan diri, Joya dapat melihat kekhawatiran Ayenir, Joya menatap Hamdan kesal.
"Mas, apa-apaan kamu ini"
"Aku merindukanmu Dek, ada banyak hal yang ingin ku katakan padamu"
"Bisa katakan baik-baik, jangan asal peluk, aku dan kamu sudah bukan siapa-siapa lagi!"
"Aku masih mencintaimu"
"Tapi, aku tidak, Mas."
"Kamu bohong!!"
"Untuk apa?"
"Dek, sayang, dengarkan mas, mas sangat membutuhkan mu, Dek" Hamdan mencoba meraih tangan Joya dengan tangannya yang masih di pasang selang infus, Joya tidak menepisnya, tetapi menghindar.
"Mas, tolong, hargailah perasaan istri mu" Joya melihat Ayenir yang berdiri seperti menjaga Suaminya.
"Ayenir tau perasaan ku padamu Dek! Aku masih sangat mencintaimu dek, ayo kita rujuk"
"Aku tidak mau mas, kita sudah selesai, jodoh kita sudah berakhir" tolak Joya kekeuh.
"Kita mulai semuanya dari awal lagi dek, hanya kita"
"Tidak ada kata kita mas, kamu memiliki Ayenir, dan aku juga memiliki pria yang akan menjadi suamiku!"
"BOHONG!!!!"
Joya terperanjat mendengar teriakan Hamdan.
Reflek Joya mengeleng. Dengan cepat Joya merangkul pundak Rion yang duduk menjadi penonton seperti yang dilakukan Ayenir.
"Dia ..... Calon suamiku!"
__ADS_1
'Cup'
Entah keberanian dari mana Joya membungkuk dan memberi kecupan di pipi Rion yang membuat lelaki itu mematung.