
Joya mengerjapkan mata perlahan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia ingin bangun tetapi ada sesuatu yang terasa menimpa pinggangnya.
Joya melirik kearah jendela yang memang masih tampak sepi dan gelap. Menandakan hari masih terlalu pagi untuk bangun, Joya mengarahkan pandangannya ke pinggangnya, menghela napas saat melihat ada lengan kokoh yang melingkar disana.
Joya gugup, ini baru pertama kali dia bangun di pagi hari dan menemukan bahwa Rion ikut tidur disampingnya, bedanya Joya tidur di brangkar bersama dengan Jio sementara Rion duduk di sampingnya dan memeluknya seperti ini.
Tiba-tiba rasa hangat melingkupi hati Joya, ternyata Rion tak seperti yang dia pikirkan, ternyata Rion tak mengabaikannya begitu saja.
Bahagia dengan awal paginya, Joya memilih kembali memejamkan matanya. Saat tiba waktu subuh Joya kembali terjaga, dan kali ini Joya sudah tak mendapati lengan Rion yang melingkar di pinggangnya, pria itu tampak terlelap di sofa seperti hari-hari biasanya.
Membuat hati Joya berpikir keras, mungkinkah yang sempat dia lihat tadi sering terjadi? Atau baru pertama kali suaminya mau memeluknya?
Joya membangunkan diri, seperti biasanya dia akan membangunkan Jio dan Rion.
Mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah seperti biasa, sebelum Rion keluar mencari sarapan dan mulai bersiap berangkat kerja.
Selama menikah, Joya belum pernah sama sekali memasakkan suaminya dan Jio, Joya selalu berdoa semoga Jio segera pulih dan mereka bisa tinggal di rumah dengan normal, menjalani kehidupan berkeluarga sesungguhnya.
Usai sarapan, Rion dipanggil Dokter. Lima belas menit kemudian Rion masuk membawa beberapa lembar kertas.
"Ada apa, Mas.?" tanya Joya saat Rion menyerahkan lembaran kertas itu.
"Jio bisa rawat jalan mulai besok, ini surat kontrol dan juga tanda bukti transaksi." Rion menjelaskan pada Joya, dan berita itu di sambut suka cita oleh Joya sendiri.
Rion mendadak menarik tangan Joya, yang membuat Joya ikut melihat kearahnya.
"Bisa kita bicara?" tanya Rion yang di jawab anggukan kepala oleh Joya.
Rion menuntun Joya duduk di luar ruangan, pria itu tampak beberapa kali membasahi bibirnya, sebelum menoleh kesamping dan melihat pada Joya.
"Mas mau ngomong apa?" pada akhirnya Joya yang mengalah dan bertanya terlebih dahulu, bukankah dia jauh lebih berpengalaman soal seperti ini.
"Soal tempat tinggal," Rion men-jeda ucapannya, menyisir rambutnya dengan jari tangannya kebelakang. "Aku tidak ingin kembali ke perumahan, terlalu jauh dari rumah sakit, aku ingin membeli rumah yang berada tak jauh dari sini" Lanjut Rion yang bisa Joya pahami arah pembicaraan suaminya itu.
__ADS_1
"Apa kamu keberatan jika kita ..."
"Aku tidak keberatan. Aku akan ikut kamu dan Jio tinggal, Mas." Joya memotong ucapan Rion, membuat Rion menatap kaget kearahnya.
Joya meringis. "Bukankah mas ingin menanyakan perihal aku keberatan atau tidak jika kita pindah?" Joya langsung membenahi ucapannya, merasa tidak enak sudah menyela perkataan Rion.
"Ya," jawab Rion sambil mengulas senyum tipis yang dapat di tangkap oleh mata Joya.
Mungkin Rion geli melihat istrinya yang terlalu spontan, tetapi Joya juga tidak ingin menyulitkan Rion, Joya tidak mau Rion terbebani karena merasa tidak enak dengan adanya dia sekarang.
Sinar matahari sudah digantikan oleh sinar rembulan. Waktu sudah menunjukkan pukul 21:00 akan tetapi Rion belum juga kembali ke rumah sakit, ada rasa khawatir di hati Joya, karena tidak biasanya Rion datang terlambat.
Jio sudah kembali terlelap, setelah meminum obat, biasanya Rion sudah berada di sofa kamar rawat Jio dengan laptop di pangkuannya. Tapi sampai pukul 22:30 pria itu tak kunjung muncul batang hidungnya.
Kekhawatiran Joya berubah menjadi rasa cemas, belum lagi saat ini hujan turun dengan derasnya. Tak hentinya Joya meremas tangannya sendiri, berdiri dan terus mondar-mandir tak tenang.
Di lain tempat, Hamdan sedang duduk di teras . Melihat air yang mengalir dari genteng rumah. Tidak perduli hawa dingin yang mulai merasuk dalam pori-pori kulitnya, Hamdan tetap memandang air hujan di sana tanpa rasa bosan. Sudah lewat dari sepekan, Joya menikah dengan pria lain. Akan tetapi hingga detik ini, hati Hamdan masih terpaut dengan wanita itu. Bagaimana dengan Ayenir?
Wanita itu juga masih bertahan disisi Hamdan. Masih menemani pria yang tidak pernah menganggap kehadirannya.
Entah sampai kapan dia sanggup bertahan. Perlahan air matanya turun menangisi nasibnya, selama ini dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, tetapi melihat Hamdan yang tetap seperti itu tentu saja hatinya kembali diserang kebimbangan. Sudahkah saat nya dia pergi?
****
"Kau ingin membunuh ku, Bang?" Rion di ikat di kursi kayu yang berada di sebuah gudang yang tak diketahui dengan pasti di daerah mana.
Rian menatap dingin kearah Rion berada.
Sedangkan Dermawan menatap khawatir kedua putranya, dia takut tidak memiliki ahli waris untuk hartanya yang melimpah yang dia kumpulkan dari titik nol, sungguh rasanya sia-sia saja ia bekerja jika dua putranya tidak bersedia mengurus perusahaan miliknya.
"Ayah, Mungkin aku tidak pernah membuat Ayah bangga dengan prestasi ku. Tetapi pernahkah aku selama ini membantah jika Ayah memberiku perintah?"
"Ayah harap kamu bisa mengerti posisi Ayah, Rion. Kamu juga anak Ayah, selamanya akan tetap seperti itu, tidak pernah Ayah ingin membandingkan kalian dengan sengaja"
__ADS_1
"Aku belum pernah merasakan kehangatan keluarga. Bahkan tidak pernah merasakan pelukan hangat dari sosok yang katanya perduli padaku" Rion tersenyum miris, matanya menatap lantai yang tampak lembab dan berlumut.
Benarkah mereka satu keluarga? Nyatanya Rion diperlakukan seperti seorang tawanan.
"Kamu saja yang membatasi dirimu dengan kami, dengan Ayah, Bunda, terlebih diriku!" Rian mengangkat kepala Rion dengan paksa. Membuat Dermawan tersentak.
"Bang!!!"
Rion sama sekali tidak perduli dengan perdebatan antara Ayahnya dan Rian, pikiran Rion justru melalang buana, memikirkan anak dan istrinya yang pasti khawatir karena dia yang tak kunjung datang.
"Joya maaf membuatmu khawatir" Sayang kalimat itu hanya mampu Rion ucapkan dalam hati.
"Berjanjilah akan memberi kami akses penuh untuk mengunjungi Jio, kami akan melepaskan mu!" Rian duduk di hadapan Rion, yang hanya memejamkan matanya.
"Akses untuk apa?" Rion membuka matanya, dan membalas menatap Rian. "Jio akan segera mati jangan terlalu berlebihan untuk sok khawatir"
"Kau ..."
"Bang!!"
Rion tergelak melihat dua pria yang sedarah dengannya itu saling debat kembali. Sangat lucu menurutnya.
"Rion! Biar bagaimanapun Jio cucu Ayah, Bunda. Kami khawatir dengan keadaannya, Nak!"
Alis Rion terangkat satu.
"Maaf Ayah. Tapi Jio bukan putra kandung ku, tidak ada hubungan darah dengan kalian, kecuali Jio anak Bang Rian." Rion melirik Rian yang mengepalkan tangannya.
"Tapi kami sudah terbiasa menganggapnya cucu" Dermawan bersikeras.
"Akan terbiasa juga nanti tanpa Jio Ayah, Jio juga akan segera pergi!"
BUGH!!!!!
__ADS_1
Darah segar mengucur dari hidung Rion, begitu Rian mendaratkan kepalan tangannya dengan sangat kuat.
"BERHENTI!!!!"