
"Joy, makasih ya kamu udah mau menjadi pendengar untuk ku!" Tutur Rian sambil melangkah di ikuti oleh Joya disampingnya.
Joya mengangguk sambil tersenyum. Rian melirik tangan Joya yang berjalan di sebelahnya. Merapatkan tubuhnya lebih dekat dengan wanita itu dan menyentuh jemari tangannya perlahan.
Joya sedikit kaget saat jemari tangan Rian mengenggam jemari tangannya. Joya berkedip menatap wajah Rian. Aroma pria itu benar-benar memenuhi Indra penciumannya.
"Kamu sudah move on?" tanya Rian tiba-tiba. Membuat Joya sempat menghentikan langkahnya untuk mengantarkan Rian ke halaman rumah.
Joya menggigit bibir bawahnya sambil berpikir.
"Meratapi apa yang sudah berlalu, tidak ada gunanya. Hanya akan membuat kita kesulitan untuk menghadapi masa depan." Nasehat Rian yang terdengar bijak.
Rian akui jika semakin hari ia semakin nyaman berada di sisi Joya.
Joya hanya tersenyum simpul, tidak ingin menanggapi pria disampingnya.
Di sudut yang tak terlihat, sepasang mata Rion terus mengawasi Rian dan Joya.
Rion menarik napas dalam-dalam sembari menahan perih di matanya. Ia telah kehilangan banyak hal untuk bisa memenuhi keinginan Kaka kandungnya. Nyatanya ia tetap tidak bisa mendapatkan kepercayaan dari siapapun.
Bahkan harapannya untuk mencarikan Jio sosok Ibu, kembali di patahkan oleh Rian.
Rion bukan pria yang romantis, dia tidak pandai menyusun kalimat, jika harus bersaing dengan Rian, Rion kalah telak.
Rian pandai bicara, sangat sesuai dengan profesinya, Rian yang di banggakan keluarganya, karena pencapaian-pencapaian nya yang begitu banyak. Pekerjaannya jelas, Rian juga mudah berbaur dengan siapa saja. Sedang Rion?
Rion meninggalkan tempat persembunyiannya dan melangkah pergi.
Rion sejak dulu memang bukanlah anak cerdas, tidak pernah juara, nilainya standar, yang penting naik kelas. Tidak pernah mendapatkan piagam apapun, berbeda dengan Rian yang sejak kelas satu sekolah dasar sudah menduduki peringkat pertama hingga ke jenjang perguruan tinggi Rian terus menerus mendapatkan beasiswa siswa berprestasi.
Tidak heran jika, Ayah dan Bundanya terus memuji-muji Rian. Terlebih Rian anak pertama, Rion yang hadir setelahnya hanya di anggap sebatas pelengkap.
Bahkan, untuk Rian kedua orang tuanya membebaskan pria itu memilih jalan hidupnya sendiri. Sementara Rion, dia sudah diwanti-wanti kedua orang tuanya untuk menjadikan dia seorang pebisnis, karena kelak, ialah yang akan Menggantikan posisi Ayahnya.
Dan lucunya, Rian lah pewaris saham terbesar dari kedua orang tuanya, jadi apa peran Rion disini? Pekerja?
Bahkan hingga usianya dua puluh tiga tahun Rion tak mengerti itu.
Rion kembali kedalam rumah. Dia malas pulang kerumah orang tuanya, Rion juga baru tau jika selama ini ada wanita cantik yang tinggal satu kompleks perumahan dengan nya. Pasalnya memang Rion jarang melihat sekitar.
Ponselnya beberapa kali menyala, pesan masuk dari sang Bunda menanyakan dimana dia dan Jio sekarang.
Pandangan Rion menyorot sendu pesan itu.
Apakah jika seandainya jika dia tidak sakit, Bundanya akan seperhatian ini?
Malas memikirkan hal-hal yang semakin membuatnya sakit hati, Rion memutuskan untuk tidur memeluk buah hatinya. Ah... bahkan pria kecil tak berdosa ini benar-benar menjadi penguat untuk nya. Meskipun hadirnya yang mengejutkan pernah membuat Rion hampir gila.
****
Joya menutup pintu gerbangnya saat Rian sudah berpamitan pulang.
Saat akan mengunci pintu, tatapan Joya tertuju pada rumah di sebrang sana. Entahlah, mengapa tiba-tiba Joya ingin menatap rumah yang kini diketahui kediaman Rion.
__ADS_1
Joya mengelengkan kepalanya mengingat perilaku Rion yang tak dimengerti.
Setelah mengunci pintu Joya berniat ingin segera mandi, tetapi saat melewati meja tamu, mata Joya menemukan buku berwarna biru yang diberikan oleh Rion.
Tiba-tiba hatinya menjadi penasaran dengan isi buku tersebut, tanpa bisa di cegah, kakinya sudah melangkah mengikuti perasaannya.
Mendudukkan diri, Joya mulai membuka buku bersampul biru tersebut.
Nama lengkap ku: Rion Oktadio
Kelahiran tahun : 1999
Hobi: keluyuran
Pekerjaan: Tawuran
Aku ya aku, bukan orang lain.
Aku memiliki harta yang tak ternilai bernamakan Jio Pratama.
Harta ku, adalah putra ku.
Jio anak yang baik, dengan menerimaku duniamu akan ramai karena kehadiran Jio.
Jio anak yang pintar, kamu tidak akan kesulitan mengasuhnya, dia juga tidak pemilih makanan.
Jio akan menemanimu ketika dirumah, Jio akan membuatmu tersenyum dengan tingkah lugunya.
Jio juga mudah diatur, dia pandai memanfaatkan waktu.
Demikian Data diriku, jika ada yang ingin di tanyakan kamu bisa menghubungi nomor di bawah.
Dariku:
Ayah JiO.
Joya menatap tulisan tangan itu tak percaya.
Inikah yang dinamakan bio data? Sementara di dalam tulisan itu tidak ada informasi lebih tentang si pelamar, yang ada hanyalah Rion yang justru membanggakan putranya, ini yang melamarnya Jio atau Rion.
Karena merasa lucu, Joya tidak bisa menahan senyumnya. Satu yang dapat Joya pahami dari pria tersebut. Rion tipikal Ayah yang penyayang.
...****************...
Tiga bulan setelah perceraiannya dengan Hamdan, Joya sudah bisa menjalani hidupnya dengan normal.
Sesekali Joya mendengar kabar tentang Hamdan yang katanya sedang merintis usaha jual baju PL impor. Dan tentang istri muda pria itu Joya sudah tidak pernah mendengarnya lagi.
Semakin hari hubungan Joya dan Rian semakin dekat. Pria itu kerap mengunjungi Joya di kedai maupun rumahnya.
Joya sebulan yang lalu membangun sebuah kedai santai yang diberi nama kedai Joy ceria, menjual berbagai macam jenis kue dan minuman.
Kedai Joy ceria sudah langsung dibanjiri oleh para remaja sejak pertama kali buka. Suasana yang bersih dan enak untuk nongkrong membuat kedai Joy ceria menarik banyak peminat para remaja yang ingin nongbar.
__ADS_1
Aneka kue dan minuman dengan harga yang terjangkau menjadi salah satu daya tarik tersendiri.
Terlebih tempatnya yang strategis di pinggir keramaian tentu menjadi data tarik selanjutnya.
Tapi satu yang menjadi pertanyaan di benak Joya. Sejak hari dimana Rion memberi nya buku bersampul biru, sejak saat itu si pria tak terlihat.
Bahkan setelah hari itu, Joya sering mengamati rumah Rion, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan di unit rumah milik Rion, lampu menyala di sepanjang hari.
Kemanakah gerangan pria itu? Sedangkan Joya merasa tidak enak untuk tanya kepada Rian.
Setelah dari kedai, Joya bergegas membersihkan diri, kedai miliknya memang hanya buka sampai jam delapan malam. Joya tidak ingin kedai miliknya menjadi ajang nongkrong anak remaja sampai lupa waktu, untuk itu setiap jam delapan malam kedai miliknya akan tutup.
Setelah usai membersihkan diri Joya mengisyaratkan badannya di atas kasur.
Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu sedang menikmati kesunyian malam.
Membangunkan diri, Joya menyingkap korden jendela kamarnya. Matanya melihat kearah rumah di sebrang sana, sekitar lima menitan berdiri, kakinya melangkah menuju lemari pakaian, Joya mengambil buku bersampul biru yang pernah Rion berikan.
Mengikuti keinginan hatinya, Joya menyalin nomor yang diberikan pria itu kedalam ponselnya.
[Hai]
Joya baru akan menghapus pesannya, tetapi ternyata tidak sampai dua detik pesanannya sudah centang biru, pertanda pesannya telah terbaca.
Melihat nomor di sebrang sana mengetik, hati Joya tak karuan.
Aduuuhh Joya jadi menyesal sudah berani mengirim pesan kepada nomor tersebut.
Ayah JiO
[Kenapa belum tidur?]
Joya membaca pesan tersebut dengan bingung. Dari banyaknya pertanyaan, kenapa pertanyaan Rion hanya seperti itu? Kenapa pria itu tidak menanyakan siapa si pengirim pesan. Atau jangan-jangan.
Ah, bodoh nya Joya.. Ia meruntuki diri, bukankah Rian pernah bercerita jika Rion meminta nomor ponselnya, pastilah Rion tau jika dirinyalah yang mengirim pesan.
Joya mengigit bibirnya gelisah.
Ingin membalas pesan tersebut tapi ragu.
Setelah beberapa saat, Joya memantapkan hati untuk membalas pesan Rion. Biar bagaimanapun ia yang memulai mengirim pesan.
[Ya, baru pulang dari kedai]
tak sampai dua detik sudah centang biru, sepertinya Rion menunggu balasan dari Joya.
Ayah JiO
[Oh, ya udah met istirahat.]
Joya menatap balasan pesan dari Rion tak percaya. Apakah hanya seperti itu balasannya.
Joya membaca berulangkali pesan tersebut, tetapi benar-benar tidak ada pesan berikutnya. Padahal pria itu masih on line.
__ADS_1
Joya jadi berpikir, benarkah Rian dan Rion itu saudara? Mengapa sikap dan sifat mereka begitu jauh berbeda. Jika saja Rian yang ia kirimi pesan' pria itu akan terus membalas pesan dengan pancingan obrolan berlanjut, sementara Rion.
Joya meletakkan ponselnya lesu. Entahlah dia tiba-tiba jadi tak bersemangat.