
" Sayang, kamu bicara apa?" Hamdan menjatuhkan lututnya di lantai.
Joya ikut berjongkok di hadapan suaminya dan kembali membawa Hamdan kedalam pelukannya.
Tubuh dan perasaan mereka tak lagi dapat menampik bahwa kerinduan, kesedihan, kemalangan dan perasaan masih saling mencintai turut dalam rengkuhan ini. Joya tak lupa ingatan, segala sakit dan kecewa juga tetap dirasakannya. Namun, Joya memilih mengajukan pisah tanpa tambahan benci.
Cintanya masih membuatnya waras dan tak hilang arah. Ia hanya sedang meresapi cinta suaminya yang dulu pernah ia gilai. Ia sudah cukup menyalurkan perasaan kecewa. Perempuan itu memilih meninggalkan tepukan ringan pada punggung laki-laki yang kini menangis di pelukannya.
Yakin Tuhan tidak akan pernah memberi ujian diluar kemampuan hambanya. Maka Joya memilih berdamai dengan ini semua. Mencoba bersahabat dengan rasa sakit dan kecewa. Joya percaya ada tempat dimana tercipta lembah penerimaan tempatnya bermuara.
Sementara itu Hamdan hanya mampu meneteskan air matanya. Ia rasanya di te lanjanggi dan di per olok habis-habisan. Penggalan kisah kebahagiaan bersama Joya justru memenuhi setiap celah dalam pikirannya. Ia merasa terluka sekaligus putus asa. Masih berharap bahwa ini hanyalah mimpi belaka. Kepedihan yang selama ini tak pernah ia lihat dari diri Joya, kini justru tergambar dengan sangat jelas bahkan di setiap deru napas perempuan yang tengah memeluknya. yang justru membuatnya tertampar ialah, ketidak berdayaan nya lah yang menjadi alasan utama Joya mengalami kepedihan seperti ini.
" Jangan pisah ya, Joy?" bodohnya, justru perkataan seperti itu yang justru keluar dari bibirnya, yang semakin menyakiti hatinya sendiri.
Joya melepaskan pelukannya, dan berdiri di hadapan Hamdan.
Seluruh tubuh Hamdan terasa kaku, ingin rasanya ia rengkuh kembali sang cinta pertama dalam pelukannya. Namun setelah lumuran dosa yang dijabarkan Joya untuk nya tadi, apa masih pantas ia mengharapkan Joya kembali seperti dulu?
Air mata kembali menguar. Melambangkan kepedihan perasaan Joya.
" Dari awal pernikahan kita, aku sudah bilang ke kamu jika suatu hari nanti, kamu sudah nggak cinta, sudah muak sama aku, itu bilang, aku selama ini berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, tapi jujur aku tidak mau dimadu. Dan itu sudah kamu lakukan!" Joya merasakan sesak berbalut amarah dalam relung hatinya. Rasanya ia di hancurkan dan di hempaskan oleh orang yang paling berarti selama ini di kehidupannya. Joya hanya mampu menangis. Namun, kali ini ia memilih menyuarakan segala isi hatinya.
"Kamu mau kemana?" Setelah berdiam cukup lama akhirnya Hamdan bersuara ketika melihat Joya yang hendak menekan handel pintu.
"Aku ingin sendiri" hanya itu jawaban Joya yang membuat tubuh Hamdan melotot.
...----------------...
Setelah pertengkaran mereka. Malam ini Joya tidak pulang. Perempuan itu hanya mengirimkan sebuah pesan bahwa dia sedang berada di tempat sahabatnya. Hamdan yang tidak mau memperkeruh keadaan hanya mampu mengizinkan tanpa berani bertanya lebih lanjut.
__ADS_1
Dulu Hamdan berangkat dengan outfit yang pantas, dengan perut yang sudah terisi dengan makanan sehat. Dulu pintu depan selalu dibukakan untuknya ketika mau pergi, dengan kecupan-kecupan manis dan serentetan pesan dari Joya.
Joya dulu selalu memujanya, dan ia terbuai dengan segala pemujaan Joya. Dengan jumawa ia yakin jika Joya akan bertahan di sisinya. Tapi Hamdan lupa Joya juga manusia biasa yang kesabarannya juga ada batasnya.
Kini semua begitu hampa.
Hamdan melangkah ke pintu dengan lesu, dasinya sungguh mengganggu, berkali-kali ia berusaha merapikan, tapi tetap tidak nyaman, dengan frustasi akhirnya ia menarik lepas dasi itu dan membuangnya begitu saja.
Meskipun ada Ibunya dan Ayenir, mereka juga tidak tau cara merapikan dasi untuk nya.
" Kapan kamu gajian Hamdan? Semua kebutuhan pokok sudah pada habis?" Tidak mengerti kesedihan putranya, Rubiah justru menambah beban pikiran Hamdan.
"Masih dua hari lagi Bu, tapi nanti, separuh gaji Hamdan untuk Joya" ucap Hamdan yang akan meninggalkan rumah dan berangkat bekerja, memilih tidak sarapan karena malas mendengar Ibunya yang pasti akan mengomel.
Hamdan juga bosan dengan makanan yang di siapkan Ibunya, setiap hari hanya itu dan itu saja, tidak ada sayuran dan menu menggugah selera seperti masakan Joya.
" Jika itu terjadi, kamu siap-siap kehilangan Ibu, Ayenir dan calon anakmu Hamdan!" Ancam Rubiah yang membuat telinga Hamdan berdengung.
" Maksud Ibu apa ha..?" untuk pertama kalinya Hamdan menaikkan intonasi suaranya pada wanita yang sudah melahirkannya itu. Bahkan tubuh nya berbalik dengan sangat cepat.
Rubiah sampai berjingkat mendengar suaranya.
"Hamdan, berani kamu membentak Ibu? Mau jadi anak durhaka kamu? Sejak kamu nikah dengan Joya kamu memang menjadi anak yang tidak benar!"
Hamdan terkesiap.
"Maaf Bu, tetapi Hamdan mohon, jangan terus mengaitkan Joya jika Hamdan yang bersalah, Joya tidak tau apa-apa Bu"
"Terus saja bela istri nggak berbakti mu itu Hamdan, tapi ingat! Jika kamu berani memberi separuh gaji mu untuk nya, maka kamu siap-siap kehilangan Ibu, Ayenir dan calon anakmu" ancam Rubiah lagi.
__ADS_1
"Terserah, Ibu." Kata Hamdan pasrah.
Rubiah terperangah mendengar kepasrahan Putranya.
"Apa kamu bilang Hamdan?" Tanyanya emosi.
"Terserah Ibu, jika Ibu mau membawa Ayenir, Hamdan tidak akan mencegah, cukup sudah Hamdan menyakiti hati istri Hamdan, Hamdan sangat mencintai Joya" ungkap Hamdan dengan mata memerah.
"Ayenir sedang mengandung anak mu, Hamdan."
"Aku tau, tapi aku tidak bisa kehilangan Joya, Bu" tangis Hamdan pecah.
Sedangkan Ayenir yang melihat pertengkaran antara suaminya dan Ibu mertuanya merasa sedih.
Ayenir adalah gadis yang tinggal satu kampung dengan Rubiah yang sering di tolong oleh wanita itu. Kedatangannya ke kota ini juga atas permintaan Rubiah.
Wanita paruh baya itu bercerita tentang Putranya yang sukses di kota dan ingin dijodohkan dengannya.
Rubiah mengirimkan foto Hamdan yang membuat gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama, mendengar dia akan dijadikan menantu oleh Rubiah dari putra yang begitu tampan, Ayenir dengan kepolosannya menerima tawaran Rubiah dengan senang hati.
Ayenir tiba di kota dimana Rubiah tinggal bersama putranya. Ayenir kaget saat tahu ternyata Hamdan sudah memiliki istri. Akan tetapi kata Rubiah istri pertama Hamdan sangatlah boros. Tidak bisa mengurus Hamdan, dia juga hanya wanita mandul yang ingin menguasai harta Hamdan.
Rubiah mengatakan dengan air mata yang mengalir deras. Tanpa Ayenir sadari sebenarnya itu hanya kebohongan Rubiah. Ayenir baru sadar kalau Rubiah bohong setelah dirinya mengetahui kehamilannya. Ingin mundur, tetapi ia memikirkan kehidupan anaknya.
Sebenarnya, beberapa bulan pernikahannya dengan Hamdan, Ayenir tidak pernah benar-benar bahagia.
Uang yang dikatakan untuk nya itu hanya kebohongan Rubiah, selama ini dirinya diperlakukan bak seorang pembantu oleh Ibu mertuanya. Namun, itu tidak masalah, asalkan Ayenir bisa tetap bersama Ayah dari anak yang dikandungnya.
Meskipun Hamdan tidak mencintainya, tetapi Hamdan tidak pernah menyakitinya, Hamdan juga tidak pernah berkata kasar padanya. Meskipun selama ini Ayenir tau Hamdan membencinya karena dia adalah wanita yang merusak kebahagiaan rumah tangganya.
__ADS_1