Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Penyesalan Ayenir.


__ADS_3

Author POV


"Mba, Joya!" Melihat Joya. Ayenir tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara pada mantan suaminya.


"Ya" Joya memang masih tidak terima kehadiran Ayenir untuk merebut Hamdan darinya. Tapi, menyadari kini antara dia dan Hamdan bukan siapa-siapa, Joya tidak bisa egois dan tetap mempertahankan rasa tak sukanya.


Joya menerbitkan senyum se manis mungkin. Meskipun sebenarnya hatinya masih tak tulus.


Joya POV


"Mba Joya!" Aku terkejut melihat Ayenir berlari menghampiri ku. Dia meraih tangan ku. Aku terenyuh melihat air matanya yang berjatuhan.


"Mba joya, maafkan aku." Suaranya tersendat serak dan bahunya gemetar. Dilihat dia seperti kurang sehat. Oh, aku lupa. Jelas saja dia tidak sehat baru beberapa Minggu yang lalu wanita ini keguguran.


Wajahnya sendu. Tak tampak seperti pertama kalinya kita bertemu. Tak ada lagi wajah berseri yang kadang membuatku cemburu karena kemudaan dan di terimanya dia sebagai menantu oleh Ibu. Bunga ini sekarang telah layu.


"Aku sudah memaafkan mu" Jawabku tak ingin kami jadi pusat perhatian.


Aku menariknya kembali duduk. Terpaksa aku dan Bang Rian duduk di meja yang sama dengan mereka.


Ayenir tetap menggenggam jemari tangan ku, entah ada apa dengan wanita ini?


Bukannya aku tidak tau jika mas Hamdan selalu curi pandang kearah ku, tapi aku mencoba tidak perduli. Mataku masih melihat ke arah Ayenir yang tampak menyedihkan. Oh, mengapa aku justru iba melihatnya?


"Mba Joya, aku minta maaf sudah merusak kebahagiaan kalian. Selama ini aku sudah termakan oleh omongan Ibu, Ibu berbohong jika pernikahan mas Hamdan dan mba Joya tidak bahagia."


Kata-katanya sungguh polos. Kasihan sekali, dia harusnya bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, seandainya tidak bertemu Ibu mertua ku.


"Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali!" Ku coba mengingatkan.


"Tapi, apa yang dulu di alami mba, kini juga tengah ku alami. Ibu selalu menekan ku mba!"


Aku terkejut bukan kepalang. Ku tatap wajahnya yang sendu. Pantas saja dia tampak lelah. Tapi bukankah dia menantu pilihan Ibu?

__ADS_1


Kini aku membuang pandangan ke arah mas Hamdan. Pria itu hanya menunduk, tidak membela ibunya seperti yang sudah-sudah. Apa itu berarti benar?


Perasaan apa ini? Mengapa aku iba pada Ayenir? Padahal harusnya aku membencinya.


"Kalau begitu, pikirkan langkah apa yang akan kau ambil. Ingat, wanita harus punya harga diri, bicarakan ini pada suamimu, jika kau merasa sudah berbuat salah dimasa lalu, usahakan kau tak mengulanginya di masa depan"


Aku berhenti bicara setelah pesanan soto sudah terhidang di atas meja.


Kali ini aku diam. Dan hanya fokus dengan makanan ku. Biarlah tiga pasang mata itu terus mencuri pandang kepadaku, aku tak ingin perduli. Dan soal Rumah tangga mas Hamdan dan Ayenir. Biarlah, Apapun yang terjadi, itu bukan urusan ku.


Ayenir POV


Aku menatap wajah mba Joya yang tampak tenang menikmati semangkuk soto, dengan rasa bersalah. Dulu perceraian mereka membuatku sedikit bahagia. Karena aku bisa tetap bersama mas Hamdan, Ayah bayiku. Tapi setelah perpisahan itu nyata. Aku menyesal. Di mataku, mba Joya adalah malaikat . Semua kata-kata yang keluar dari bibirnya menyentuhku hingga ke dasar hatiku.


Wanita itu bahkan tidak pernah mengamuk, bisa menjaga harga dirinya dan juga menahan amarah yang mungkin begitu banyak. Hatinya pasti sakit luar biasa ketika Mas Hamdan harus menikahi ku.


Tapi Mba Joya bisa menahannya. Perpisahan dengan mas Hamdan juga tak serta merta membuatnya mengabaikan kami. Membuat ku semakin terkagum-kagum pada sosoknya.


Aku tak punya apa-apa. Selain penyesalan.


Mengapa Mba Joya kini menguasai hatiku?


Dulu meskipun matanya basah karena kehadiran ku dia tetap bertutur santun.


Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Walaupun perasaan nya sangat terluka karena kehadiran wanita lain dalam hidup Suaminya. Mereka sudah bersama dalam waktu dua tahun. Meskipun belum mendapatkan keturunan, aku bisa melihat mereka tak mempermasalahkannya. Salahku karena dibutakan cinta. Salahku karena terlalu percaya sama Budhe Rubiah. Andai masih bisa di perbaiki, aku rela mundur dan mengembalikan mas Hamdan pada mba Joya. Meski aku tak tau masih maukah mba Joya menerima mas Hamdan kembali.


"Rasanya lumayan!" lamunan ku patah mendengar suara lelaki yang datang bersama Mba Joya. Lelaki itu terlihat rupawan, tampilannya juga mencereng, terlihat bukan pria biasa. Ah, mungkin kah mba Joya sudah menemukan pengganti mas Hamdan? hatiku sedih. Berarti aku terlambat jika ingin mengalah.


Sepanjang makan. Mas Hamdan tak pernah membuka suara, meski aku sempat memergokinya menatap mba Joya beberapa kali. Tatapan penuh kerinduan. Sementara tatapan Mba Joya pada mas Hamdan tak mampu ku baca.


Aku memohon kepada Mba Joya, untuk mengizinkan aku memeluknya. Wanita itu baik, dia setuju dan membuka kedua tangannya.


"Maaf, Mba, Maaf, masih bisakah aku menyatukan kalian?" bisik ku lirih. Mba Joya terseyum tipis saat merenggangkan pelukan kami.

__ADS_1


"Ayenir, seandainya saja kamu tidak salah jalan. Aku yakin kamu wanita yang baik"


Aku terkejut mendengar kata-katanya bagaimana dia bisa berkata begitu pada wanita yang telah merebut Suaminya.


"Sudah dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi, kami sedang buru-buru"


Padahal masih banyak yang ingin ku bicarakan dengan mba Joya. Tapi ternyata dia pergi lebih dulu.


Sepeninggalan Mba Joya suasana menjadi hening. Mas Hamdan juga langsung membayar soto pesanan kami. Tapi ternyata mba Joya sudah membayarnya. Ya Allah, sebaik itu wanita yang telah ku sakiti.


"Ayo pulang."


Author POV


Hamdan mengendarai motornya, membelah jalanan yang tampak ramai. Rindunya pada Joya terobati dengan perjumpaan mereka.


Hamdan cemburu melihat ada laki-laki lain yang menggeser posisinya. Posisi untuk menemani waktu wanita itu.


Hamdan pikir, Joya akan langsung pergi ke negeri Jiran, ternyata Joya masih hidup di sekitarnya. Hamdan bersyukur karena itu. Karena masih bisa menatap wajah yang di rindu nya meski dari jarak jauh.


Hamdan dan Ayenir masuk kedalam rumah, rumah tampak sepi, entah kemana Rubiah. Hamdan dan Ayenir masuk ke dapur untuk meletakkan belanjaan mereka. Tapi betapa terkejutnya mereka menemukan Rubiah sudah terkapar di lantai dengan nadi yang terpotong.


"Ibu....


Seperti di tikam pisau tepat di jantungnya. Hamdan mendapati Ibunya sekarat. Tak memikirkan apapun lagi, Hamdan langsung meminta tolong pada tetangganya.


***


Hamdan terduduk lemas di Puskesmas tempat dia melarikan ibunya. Rubiah sudah di tangani, tapi masih tertidur karena obat bius.


"Ibu pasti baik-baik saja, Mas " Hibur Ayenir.


"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Ibu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!" lirih Hamdan.

__ADS_1


Hamdan merasa lalai, harusnya meskipun marah dia tak mengabaikan ibunya. Rubiah hanya memilikinya, diabaikan pasti wanita itu putus asa.


Berbeda dengan Hamdan. Ayenir justru merasa khawatir. Ayenir merasa kejadian ini adalah drama yang dibuat Rubiah untuk membuat Hamdan merasa bersalah. Apakah pemikiran nya benar???


__ADS_2