
Joya masih sangat mencintai mas Hamdan. Tentu saja dan Joya pun mengakui itu pada kedua orang tuanya.
Kenyataan yang menyakitkan adalah Joya masih sangat mencintai Hamdan.
Mereka menikah karena dasar cinta, dan selama dua tahun berumahtangga mereka saling mencintai.
Kejadian ini seperti mimpi bagi Joya. Mimpi buruk yang melanda bahtera cinta nya.
Panji hanya mampu mengurut keningnya, soal perasaan bukan kuasanya, Siufaslin mengelus punggung suaminya untuk terus menyalurkan ketenangan.
Mereka tentu ingin yang terbaik untuk Joya, dan mungkin memberi waktu pada sang putri memang keputusan yang tepat.
Panji mencium puncak kepala putrinya.
Siufaslin hanya terus menerus mengelus punggung suaminya.
Pada akhirnya Panji memberi ruang pada putrinya untuk menenangkan diri, dan mengatakan pada Joya bahwa dia tidak sendirian.
Setelah memberi semangat sang putri, malam itu juga mereka terbang ke Kuala lumpur.
***
Hampir jam 11 malam Hamdan baru masuk kedalam rumah.
Lagi-lagi hanya ada kesunyian, lampu sudah dimatikan oleh Joya, meredam rasa nyeri di kepalanya Hamdan berjalan ke arah kamar mereka.
Hamdan capek lahir batin, sikap ibunya membuat Hamdan terus kepikiran, kini tambah lagi rengekan istri mudanya yang mengeluh tidak bisa tidur tanpa ia temani dan harus menemani sampai Ayenir tidur baru Hamdan kembali pulang.
Menatap punggung Joya, rasa bersalah kembali menelusup di hati Hamdan.
Ternyata semua berawal dari dirinya yang tidak bisa bersikap tegas, lihatlah, bahkan hanya sekedar menguatkan tekad untuk segera pulang kerumah mereka saja Hamdan tidak mampu dan malah meladeni rengekan istri mudanya.
Mengusap wajahnya kasar, Handan merebahkan tubuhnya di samping Joya.
Malam itu tubuh Hamdan menggigil, badannya demam, tidak hentinya Hamdan mengigau.
Joya yang merasa mendengar suara Hamdan terbangun.
Memastikan keadaan suaminya, yang ternyata sedang demam.
Dengan terpaksa Joya membangunkan Hamdan.
" Mas, minum obat dulu"
Hamdan yang melihat Joya dihadapannya terseyum bahagia.
Pria itu menerima obat yang Joya berikan dengan semangat.
Pagi harinya.
Keadaan Hamdan masih belum membaik, Hamdan menatap Joya yang sudah terlihat siap untuk berpergian.
" Mas tidak perlu ke Dokter, Dek." ucap Hamdan melihat sang istri yang tengah duduk di meja rias. Handan pikir Joya akan memaksanya ke rumah sakit seperti biasanya kala ia sedang sakit.
__ADS_1
" Iya, ngak pa-pa" jawab Joya yang membuat Hamdan heran.
Setelah selesai berias diri, Joya memakai parfum andalannya, kemudian kembali menghadap cermin untuk memastikan penampilannya.
" Mau kemana?" tanya Hamdan saat merasa Joya tidak berniat mengatakan sesuatu.
" KL" Jawab Joya santai.
" A-apa? " tanya Hamdan seolah tidak percaya.
" Ayah dan Bunda sudah kembali semalam, aku mau mengunjungi mereka." Joya memasukkan paspor miliknya.
" Mas sedang sakit Joy, bagaimana mungkin kamu akan pergi?" tutur Hamdan dengan tatapan tak percaya.
" Istri mas bukan cuma aku." ujar Joya" lagian kamu bisa hubungi Ibu untuk kembali ke rumah ini, aku tidak masalah selama tidak ada aku disini kamu bisa membawa siapapun masuk ke rumah ini" Meski yang sebenarnya Joya tidak rela rumahnya di tempati oleh Ibu dan istri barunya Hamdan.
" Dek, mas membutuhkan mu" iba Hamdan.
" Aku juga butuh waktu untuk menerima semua ini" pangkas Joya.
" Tapi saat ini mas sedang sakit, mas membutuhkan kamu disisi mas" suara Hamdan sudah bergetar.
" Aku juga sakit mas, aku bahkan sedang sekarat saat ini" Joya menatap suaminya dengan pandangan nanar.
Hamdan tidak mampu menahan air matanya, Ia pikir setelah membawa keluar Ibu dan istri mudanya, Joya akan kembali seperti semula, ternyata tidak seindah yang ia bayangkan.
" Joy, mas janji akan berubah" wajah Hamdan memelas. Hilang semua raut tegas yang biasa mendominasi " Tolong maafkan sikapku selama ini yang terkesan tidak tegas, jangan pergi Joy, Mas membutuhkanmu"
Sekejap Joya memejam, ia tidak tega meninggalkan Hamdan dalam keadaan sakit, tapi dirinya juga butuh menenangkan diri, sebelum mengambil keputusan besar.
Tulang di tubuh Hamdan terasa dilolosi, untuk pertama kalinya istrinya tidak mementingkan dirinya, bahkan Joya tidak sama sekali mendekat sekedar meminta izin seperti dulu-dulu.
Entah kemana Joya yang suka merengek manja, wanita di hadapannya ini terlalu mandiri dan dingin.
" Apa kamu benar-benar tega meninggalkan mas yang sedang sakit begini?" bibir yang beberapa Minggu ini terus menerus menyalahkan Joya hanya bisa berujar lirih.
Tatapan Joya mengunci pergerakan Hamdan. Pria yang tampak pucat itu menunggu jawaban dari istrinya dengan pil kekecewaan yang telah meracuni sepotong hati miliknya.
" Aku sudah tidak menemukan rasa nyaman ketika disini dan bersamamu"
" Kamu," salah, Hamdan pasti salah dengar. Tidak mungkin Joya tidak nyaman dengan nya, bahkan dua tahun ini mereka saling mencintai, bagaimana mungkin hanya karena kehadiran ibunya semua sirna begitu saja.
Tetapi apa mau Hamdan kata, ketika kemudian Joya benar-benar meninggalkan rumah mereka.
Hamdan yang merasa lemas dan tak mampu mengejar hanya mampu menatap punggung kecil Joya dengan rasa kecewa.
Pada akhirnya yang Hamdan lakukan adalah menghubungi ibunya, Hamdan sakit dan butuh perhatian, namun Joya justru memilih pergi.
" Ibu bilang juga apa. Joya itu istri nggak bener" begitu Rubiah datang, Hamdan langsung di sembur oleh perkataan kasarnya.
Hamdan yang sakit tambah pusing dengan segala cecaran ibunya. Sungguh, jika tau membawa ibunya akan menimbulkan masalah sebesar ini Hamdan rasanya ingin kembali memutar waktu dan memilih mengunjungi Ibunya saja dan tidak membawa ibunya tinggal.
***
__ADS_1
Lain Hamdan, lain Joya.
Joya saat ini tengah berpikir bagaimana cara mengajukan permohonan cerai untuk Hamdan.
Alasannya belum cukup kuat untuk nya bisa membuat surat gugatan cerai.
Secara hukum Hamdan sama sekali tidak melakukan pelanggaran.
Hamdan tidak berselingkuh, Hamdan tidak melakukan pelanggaran apapun kecuali pernah menamparnya itupun pria itu datang dan meminta Maaf.
Secara hukum Joya tidak memiliki alasan kuat untuk menggugat cerai suaminya. Mengingat cerai perlu menyertakan alasan yang kuat.
Joya menenggelamkan wajahnya di atas lutut, sudah dua jam yang lalu ia sampai di kediaman megah orang tuanya dan sudah selama itu pula Joya masih enggan keluar kamar.
Ayah dan Bundanya masih di kantor.
" Aku harus bagaimana ya Allah, ini sangat berat untuk ku"
Joya membuka pesan yang di kirimkan Hamdan.
[" Sayang, maaf atas segala ke khilafan mas, Joy boleh menenangkan diri, tetapi ingat pulang sayang, mas menunggu mu "]
[" Mas sakit, Mas butuh Joy di sisi mas, demi Allah mas minta maaf"]
Joya hanya membaca pesan dari suaminya, sama sekali tidak berniat membalas.
Flashback On
" Mau tidur dimana?" tanya Hamdan pada Joya yang sedang ngambek. Tubuhnya menghalangi pintu agar istrinya tak keluar.
" Di sofa mas," Jawab Joya mendekati pintu yang artinya mendekati Hamdan juga.
" Terus mas mu yang tampan rupawan ini bakalan di anggurin?" tanya Hamdan mengoda Joya yang cemberut.
" Apaan sih mas," kesal Joya yang mau melewati suaminya, namun dengan cekatan Hamdan mencegahnya, tidak hanya mencegah bahkan istrinya sudah berada dalam dekapannya, Hamdan memang sosok yang jangkung sangat mudah hanya untuk memutar tubuh kecil Joya di udara.
" Mas turunkan, Joy takut" rengek Joya yang sudah diputar tubuhnya oleh Hamdan.
" Janji tidak anggurin suamimu ini"
" Tidak mau" tolak Joya keras kepala.
" Kalau begitu mas juga tidak mau turunkan" ancam Hamdan yang kini sudah menciumi wajah istrinya.
" Mas!" pekik Joya yang tidak dihiraukan oleh Hamdan.
Keduanya saling tertawa, Hamdan selalu membuat Joya kwalahan dengan sikapnya yang selalu mau di turuti.
Dua tahun menikah belum pernah sekalipun Joya dikasari oleh Hamdan, Hamdan melimpahi Joya dengan sejuta kasih dan sayang.
Flashback off
Air mata Joya mengalir tanpa di komando . Perasaan Joya yang remuk redam, bagai di tetesi air jeruk nipis. Perih tak terkira. Mengapa harus ada ujian seperti ini? kini meskipun Joya mempertahankan pernikahannya, keadaannya sudah berbeda, ada wanita lain yang menjadi istri Suaminya.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, Joya akan membicarakan hal ini pada Hamdan, lebih baik meminta Hamdan melepaskannya dengan cara baik-baik agar nantinya Joya bisa menjalani hidupnya dengan tenang.