
Joya tergerak hatinya, ingin sekali mengenggam tangan pria yang tengah dilanda kekecewaan itu. Akan tetapi Jio juga membutuhkan dirinya, bahkan anak kecil itu mendekapnya begitu erat.
Siapapun tau kondisi Jio sedang tidak baik-baik saja. Mengapa tega Rian memukuli Rion di depan bocah itu?
Bibir Jio terus mengeluarkan Isak tangis yang membuat Joya semakin hanyut dan masuk kedalam kesedihan yang Jio ciptakan. Hati Joya ikut berdenyut nyeri, dan semakin tersayat ketika melihat Rian yang justru melenggang santai duduk menyilang kan kakinya. Seolah sedang mengaktifkan hukum kekuasaan. Sikapnya begitu berbeda dari sebelumnya, kini Rian terlihat angkuh. Atau begitu sebenarnya sifat aslinya?
"Sudah selesai dengan keluh kesahnya?" suara menjengkelkan itu terdengar. Rian seperti manusia laknat.
Semua orang menatap dimana Rian berada. Tak terkecuali dengan Joya yang tidak percaya dengan tingkah laku Rian.
"Apa itu membuatmu terusik?" Suara berat Rion terdengar jelas di telinga Rian.
Rian terlihat menghela napasnya, baru kemudian menatap semua orang.
"Sampai detik ini pun, Abang tidak tau alasan mengapa kamu membenci Abang, I'on" keluh Rian terlihat tulus. Pria itu begitu cepat mengubah ekspresi wajahnya, Joya bisa melihat itu.
"Aku tidak pernah membenci Abang, aku hanya membenci seorang pengecut."
Kali ini Rion benar-benar menoleh menatap wajah Rian yang terlihat muram.
"Untuk segala prasangka itu aku memang tidak ingin membahasnya, karena kebenarannya aku tidak bersalah." Rian menggertakan giginya saat tidak mendapatkan balasan apapun setelah nya dari Rion yang menyimpan ledakan kemarahan itu lewat tangannya yang terkepal.
Ehem!
Suara deheman Dermawan membuat kedua putranya itu menoleh kearahnya.
"Maaf, Jio butuh istirahat. Tidakkah kalian melihat itu?"
Meskipun diucapkan dengan senyum tetapi semua tahu jika kalimat itu, mengandung arti pengusiran secara halus.
Tidak harus ada ikatan darah demi sebuah kata keluarga, karena bagi Rion, Jio adalah bagian dari dirinya.
Saat Rion melangkah mendekati Jio dan Joya, semua yang berada disana memberi jalan. Bahkan, Panji ikut mundur agar tidak menghalangi langkah Jio.
Begitu Rion mendekat, Jio beralih memeluk Rion dengan tangis yang sama. Tangan kecilnya merangkum kedua sisi wajah Rion yang tampak memar dan membiru.
Joya ikut menahan napas melihat dua pria beda usia itu saling berpelukan, hatinya ikut merasakan keresahan keduanya. Bahkan tanpa disadarinya air matanya ikut tumpah.
__ADS_1
Dermawan yang melihat anak bungsunya seperti mengabaikan keberadaannya merasa sedih, terlebih Rion menatapnya penuh kekecewaan.
Panji mengandeng tangan Siufaslin untuk memberi waktu pada Jio, Rion dan Joya, mereka kembali menutup pintu ruangan. Tak lama berselang, ketiga orang lainnya pun menyusul. Kesempatan itu di manfaatkan oleh Panji untuk membahas rencana putrinya.
Pernyataan Panji disambut dengan kebahagiaan oleh Dermawan dan Rindy. Namun, tidak dengan Rian. Lelaki itu tampak begitu kesal dengan kabar yang di dengarnya.
Sementara di dalam ruangan, Rion dan Joya sedang sama-sama menghibur Jio, keduanya tampak kompak menenangkan Jio sampai anak itu bisa kembali tenang dan mau berbaring nyaman.
Bermenit-menit Joya dan Rion menemani Jio. Hingga akhirnya anak itu tertidur pulas.
"Apa kamu percaya dengan takdir? Tanya Rion, dan Joya mendongak untuk menatapnya. "Sepertinya Tuhan sengaja menghadirkan mu di saat aku di uji dengan segala kekacauan ini!" Rion tak menatap Joya, melainkan menatap Jio yang terlelap dengan tangan mengenggam jari tengah Joya.
*****
Ternyata Dermawan mengundang keluarga Panji untuk makan malam dirumah mereka. Dan kali ini Rion ikut datang, begitupun dengan Jio yang sengaja di bawa pulang dengan segala peralatan yang terlepas dari tubuhnya.
Anak itu sendiri yang merengek ingin pulang. Rion tak kuasa menolak permintaannya.
Saat Jio terlelap di pangkuan Joya, seorang perawat yang sengaja di sewa Rion untuk memantau kondisi Jio menghampiri, segera mengangkat Jio dan memindahkan ke tempat tidur agar Jio bisa beristirahat dengan nyaman.
Saat Joya hendak mengikuti langkah sang suster. tangannya lebih dulu di tarik seseorang.
"Selamat atas rencana pernikahan kalian" kata Rian dengan wajah sendu.
"Terimakasih" ucap Joya tulus.
"Harusnya kamu tidak boleh menikah dengan adikku jika hanya karena ingin membuat Jio bahagia, Joy! Itu sebuah pengorbanan namanya" tutur Rian yang masih tetap menggenggam tangan Joya.
Joya tersenyum, kemudian melepas tangannya dari genggaman Rian. "Aku percaya. Tidak semua hal yang dipaksakan itu berakibat buruk."
Rian membalas dengan senyuman tipis.
"Aku hanya ingin menanyakan perihal apa yang membuatmu menolak lamaran ku, dan justru menerima lamaran Rion?"
Joya mengangguk, kemudian menatap wajah Rian dengan tenang. "Apa Abang lupa? sebelum Abang melamar ku, Rion lebih dulu menawarkan pernikahan terlebih dahulu"
Pernyataan Joya mampu membuat Rian bungkam. Pria itu menelan pil kekecewaan itu diam-diam. Ingin marah pun, ucapan Joya benar.
__ADS_1
Saat Joya akan melewatinya, sekali lagi Rian mencekal pergelangan tangannya, kali ini sedikit lebih kuat, sehingga Joya terhuyung condong kearahnya.
"Jangan lakukan hal yang semakin membuat aku membencimu, Bang!" tekan Joya pada kalimatnya. Perlakuan kurang ajar Rian kemarin dulu masih terekam jelas di benaknya.
"Bencilah aku seluas samudera, karena itu tak akan mengubah perasaan kecewa ku, terhadap pilihanmu!"
Bibir Rian hampir menempel di wajah Joya, sebelum sebuah kepalan tinju mendarat di pipinya yang membuat kepalanya menoleh berlawanan arah.
Bugggh!
Rian tersulut emosi, namun saat melihat siapa yang berani memukulnya, Rian urung membalas.
Panji menatapnya dengan tatapan bringas. Tangan kanannya yang di gunakan meninju Rian, masih terkepal kuat.
"Jadilah lelaki sejati, berusaha boleh, tetapi jangan sampai memaksa!"
"Om,"
"Kamu sendiri yang membantu Joya lepas dari laki-laki brengsek, yang pernah menjadi suaminya, lantas apa kau ingin mengikuti jejak Hamdan, menjadi pria brengsek yang suka memaksakan kehendak?" Panji berteriak lantang.
Siufaslin menarik Joya kebelakang. Sementara Dermawan sudah berdiri di sisi Panji, mengelus bahu sahabatnya, bukan marah karena Panji sudah memukul putranya, Dermawan justru khawatir dengan kesehatan Panji.
"Maaf, Om!" Rian memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri.
****
Seorang pelayan menemani Joya untuk menunggu Rion yang masih bicara dengan keluarganya. Pelayan itu mengajak Joya keruangan yang lebih santai dan nyaman. Mereka duduk di ruangan luas dengan kisi-kisi balkon yang dibiarkan terbuka. Dari lantai dua tersebut, Joya bisa melihat ke halaman yang cukup luas dengan kolam renang serta taman.
"Mba Joya tidak akan pernah menyesal jika menikah dengan Mas Rion. Meskipun agak pemalu mas Rion itu orangnya baik, serta sangat menghormati wanita" Wanita paruh baya itu sengaja mengatakannya agar Joya bisa mengantisipasi bakal seperti apa situasi mereka ketika menikah nanti.
"Ya, rencana pernikahan kami memang mendadak, pasti kami harus saling menyesuaikan diri dulu" jawab Joya dengan senyum tipis.
"Mas Rion orang yang tidak rewel, dari dulu nggak pernah manja, enak jadi istrinya, tidak perlu repot menyiapkan banyak hal" Joya ikut tersenyum menanggapi candaan wanita paruh baya di sampingnya, Joya juga bisa merasakan ketulusan wanita itu mencemaskannya.
"Maaf agak lama!" Seketika tatapan Joya bertemu dengan mata jernih Rion yang muncul dari arah tangga. Joya tersenyum, sepertinya Joya tidak bisa mencegah perasaannya, tidak bisa menolak untuk menyukai lelaki itu. Walaupun mereka belum lama kenal tapi rasanya seperti dua orang yang sudah sangat lama saling kenal dan dekat.
####
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia menunggu, author minta maaf sekali kalau updatenya nggak teratur...