Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Berbeda keadaan


__ADS_3

Ayenir terbatuk-batuk karena Hamdan yang mencekik lehernya.


Melihat air mata Ayenir dan wajah wanita itu yang memerah karena hampir kehabisan napas. Hamdan tersadar, segera Hamdan mundur beberapa langkah dan menatap istrinya dengan rasa bersalah.


Ayenir meluruh di atas lantai dengan napas tersengal-sengal. Tidak hanya luka batin yang didapatnya, tetapi kini Hamdan juga sudah bermain fisik.


"Nye" Hamdan buru-buru ingin membantu Ayenir berdiri, tetapi tangannya langsung di tepis oleh istrinya.


Hamdan gelap mata sampai hampir membuat istrinya pingsan. Pikiran Hamdan sedang ruet karena pertemuannya dengan Joya dan Rian, ditambah lagi Ayenir yang meminta cerai, sebagai laki-laki Hamdan merasa harga dirinya di hempas mendengar dengan telinganya sendiri Ayenir meminta cerai darinya, tak sadar diri kah wanita itu jika karena kehadirannya lah Joya memilih pergi.


Brengsek!!! Handan mengumpat dalam hati, emosinya yang sudah mereda kembali muncul melihat tingkah Ayenir yang keras kepala.


"Jaga ucapan mu, Ayenir! Jangan sembarangan nuduh Ibu, karena aku tidak suka ada yang berani melawan ibuku!!!"


"Aku nggak nuduh Mas, aku berkaca dari sikap kamu selama ini, ini bukan pertama kalinya kamu marah karena aku menyinggung tentang sikap Ibu, jika kenyataannya seperti itu masak aku harus berbohong? Kamu selalu menjadi suami yang tidak memprioritaskan istri. Kamu entah menyadari atau tidak, jika selama ini Mba Joya pun memilih pergi karena muak dengan sikap mu yang selalu mengabaikan istri dan memprioritaskan Ibu mu!!"


"Jangan bawa-bawa Joya dalam urusan kita. Joya adalah wanita kuat"


"Kamu benar Mas, tapi orang yang kamu pikir kuat itu pada akhirnya juga menyerah kan? Mba Joya hanya berusaha kuat mencoba menerima takdir dengan lapang dada, aku ingin mencontoh mba Joya, paling tidak ketegaran hatinya, tetapi aku tidak sanggup mas!" air mata Ayenir kembali tumpah.


"Ibu adalah orang yang melahirkan ku, sudah sewajarnya aku berbakti, Ayenir!!" Hamdan menekan hatinya agar tak kembali tersulut emosi.


"Sampai saat kamu menyadari kekeliruan mu itu, aku jamin seratus kali pun kamu menikah, istri-istrimu itu pasti akan memilih pisah dari lelaki yang tak peka seperti mu, Mas."


Ayenir menghapus air matanya, perlahan dia berdiri dan meninggalkan Hamdan yang hanya terdiam melihatnya pergi begitu saja.


Hamdan menjambak rambutnya sendiri, rasanya kepalanya mau pecah saja. Mengapa tak seorang pun mengerti keadaannya? Jika Hamdan di haruskan terus mengerti, terus siapa yang akan memahaminya dan mau mengerti dirinya?


***

__ADS_1


Mata Rion akhirnya terbuka setelah dua puluh enam jam tertutup rapat. Operasi nya berjalan dengan lancar. Respon tubuhnya juga cukup baik menerima Anggota organ baru.


Rion menatap sekeliling orang-orang yang menemaninya. Ada Ayah, Ibu, dan juga Kakanya.


Rian menghampiri adiknya, wajah Rion tak se pucat kemarin-kemarin, rona itu mulai muncul bersamaan dengan kulit tubuhnya yang tak lagi membiru.


"Butuh sesuatu?" Rian membenarkan selimut yang sedikit ter turun. Rion masih kesulitan bicara tetapi Rian tau siapa yang di cari adiknya.


Mata Rion melotot mendengar penjelasan Kakanya. Rion menoleh kepada kedua orang tuanya dan mereka juga membenarkan.


Setelah merasa lebih baik, Rion sudah di perbolehkan makan yang lunak-lunak. Rion rasanya ingin segera kembali ke Indonesia, melepas rindu dengan penyemangat nya.


Rion benar-benar tidak percaya bagaimana bisa keluarganya mempercayakan Jio pada orang asing, meskipun mereka beralasan mengenalnya, itu sangat tidak etis. Jio bukan barang yang bisa dititipkan pada siapa saja. Rion merasa keluarganya agak ceroboh saat ini.


"Aku ingin segera pulang" Setelah bisa berbicara Rion langsung mengutarakan keinginannya.


Tentu saja Rian dan kedua orang tuanya tidak menuruti keinginan sang adik. Rian memilih mengabaikan keinginan adiknya dan menghubungi Joya melalui panggilan video.


Tanpa membuka matanya Joya menggeser layarnya keatas dan menempelkan ponselnya begitu saja di telinga.


Joya baru selesai bermain dengan Jio. Pria kecil yang semalam sudah mau perhatian dengan nya itu tengah terlelap di sampingnya. Dan saat ini Joya seperti sedang memeluknya, karena tadi sempat meraih ponselnya di nakas yang berada di dekat Jio.


"Halo, Assalamualaikum "


Mata Joya yang tertutup akhirnya terbuka karena bukannya mendapat jawaban atas salamnya, seseorang di sebrang sana malah terdengar tertawa.


Joya mengalihkan ponselnya kehadapan nya, dan berapa terkejutnya Joya melihat wajahnya sendiri di layar ponsel, di tambah seseorang yang menatapnya dengan pandangan entahlah.


Oh astaga... Joya terlihat sangat menggelikan, rambut acak-acakan, muka bantal dan... Joya mengusap wajahnya beberapa kali, takut ada liur yang masih menempel di pipinya, takut ada sesuatu dimatanya yang membuatnya semakin terlihat buruk.

__ADS_1


["Maaf mengganggu tidur mu Joy, ini nih, Rion ingin melihat Jio"] Joya terseyum canggung melihat wajah Rian yang terlihat di layar. Sementara orang yang tadi melihatnya dalam keadaan muka bantal tak terlihat lagi.


Buru-buru Joya mengarahkan kameranya menyorot Jio yang sedang terlelap. Mulut pria kecil itu sedikit terbuka dengan dengkuran samar.


Usai teleponan. Kantuk Joya langsung lenyap. Bagaimana tidak, tadi saat melihat wajah Rion membuat Joya seperti merasakan hal yang familiar. Entahlah.


Padahal Ayah dari Jio itu bahkan tidak berbicara apapun. Hanya menatapnya dalam diam. Namun...


Buru-buru Joya mengelengkan kepalanya. Apakah efek perceraian membuat pikiranya oleng??


Sepertinya Joya harus segera mencari pekerjaan, agar harinya lebih hidup.


Dua hari berlalu dengan cepat. Joya menyambut kedatangan Kedua orang tua Rian, beserta Rian.


Mereka juga memberikan Joya berbagai macam buah tangan, padahal mereka ke Singapura untuk berobat bukannya traveling.


"Apa Rion menghubungi mu?" Rian yang sudah berada di ambang pintu untuk pulang berbalik dan menanyakan hal itu.


Joya mengeleng.


"Kirain, dia meminta kontak mu ingin menelpon mu, menanyakan tentang Jio!" Jelas Rian yang juga merasa bingung dengan sikap Rion.


Tadinya begitu mendengar Jio di titipkan pada Joya, adiknya itu marah-marah dan memaksa ingin cepat pulang. Tapi begitu Jio melihat sosok wanita yang menjaga Jio sementara, tiba-tiba pria itu tertidur dengan lelap tidak membahas tentang Jio lagi.


Keesokan harinya Rion minta kontak wanita yang menjaga Jio, Rian pikir Rion ingin menanyakan sesuatu atau sekedar ingin tahu perkembangan Jio. Tapi ternyata Rion tak menghubungi Joya.


"Abang pulang, Terimakasih banyak ya Joy, kamu sudah membantu kami"


"Sama-sama Bang," Joya melihat Jio yang berada di gendongan Rian. Ingin sekali Joya mencium pipi Jio tetapi Joya tidak berani. Wajah Joi tampak menggemaskan dengan adanya sapuan bedak yang ketebalannya tak merata.

__ADS_1


"Hati-hati tampan, tan-tante pasti akan merindukanmu!" Joya berkata dengan ragu-ragu menyebut dirinya Tante.


Tetapi Joya dibuat melongo saat bocah kecil itu tiba-tiba mencium pipinya. Bahkan Jio terseyum menatap wajahnya. membuat Joya speechless.


__ADS_2