Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Bukti


__ADS_3

Satu Minggu setelah kejadian Hamdan menemui Joya, pria itu tak lagi datang. Entah apa yang Rion ucapkan pada pria itu sehingga Hamdan bisa pergi tanpa harus dipaksa.


Sejak malam itu juga, Rion berpamitan akan cek-up ke Singapura, paginya saat Rian datang menjemput Joya, Joya menceritakan tentang semalam ia datang ketempat Rion untuk melihat keadaan Jio.


Herannya, Rian malah terkaget, pria itu sampai menginjak rem mobil mendadak karena penurunan Joya.


Joya sendiri dibikin bingung dengan ucapan Rian yang mengatakan Rion sedang mengurus bisnis di Luar negeri. Tetapi dia yakin semua yang terjadi bukan lah mimpi.


Joya kembali mengingat ucapan Rian tentang Rion, pria itu menjadi seorang Ayah di usia yang baru sembilan belas tahun. Tetapi melihat keperdulian dan peran Rion yang luar biasa pada Jio seperti menjadi daya tarik tersendiri bagi Joya.


Pria irit bicara itu seolah memiliki daya magnet untuk membuat Joya terus memikirkannya. Mereka sepantaran, tetapi Rion terlihat jauh lebih dewasa darinya.


Joya membaca pesan dari kedua orang tuanya yang memintanya datang ke KL, Joya sudah berjanji akan datang Minggu ini, tetapi sudah akhir pekan Joya masih belum menyiapkan apapun.


Ingatan Joya terperangkap pada kata-kata Rian saat mendengar ceritanya tentang kunjungan di rumah Rion. Rian mengeram kesal dengan ucapan yang membuat Joya merasa sedikit aneh.


Flashback On


"Tadi malam aku kerumah adik Abang, lagi ada kue untuk Jio"


"Rion belum datang, jadi pasti kalian tidak bertemu"


"Kami bertemu, bahkan Rion bantuin aku lepas dari gangguan mantan suamiku Bang"


Seketika tubuh Joya terayun kedepan karena Rian yang menginjak rem dadakan.


"Ka-Kamu beneran ketemu mereka? Jio dan Rion?" Tanya Rian menggebu.


Joya mengangguk, dia terlalu kaget dengan respon Rian.


"Apa dia menipu kami semua? Apa dia pikir Jio benar-benar miliknya? Sial" Rian memang hanya berujar lirih, tetapi telinga Joya cukup jelas mendengar ucapannya.


Flashback end


Dan sampai saat ini Joya masih terus memikirkan ucapan Rian yang menurutnya ganjil.


Hari ini Rian berjanji akan menjemputnya, dan benar saja baru beberapa saat Joya memikirkan pria itu, orangnya sudah datang dan terlihat di depan mata. Senyum manis tersungging di bibir si pria, kakinya melangkah mendekati dimana Joya berada.


Mereka menghabiskan waktu bersama, Joya menikmati kebersamaan mereka dan senang bisa memiliki teman seperti Rian. Sampai pada saat Rian mengatakan sesuatu yang membuat Joya terkesiap. Rian menyodorkan sebuah cincin bermatakan berlian. Pria itu meraih tangan Joya, menciumnya beberapa saat sebelum mengutarakan perasaannya.

__ADS_1


Kejadian tak terduga itu membuat Joya terkesiap, Joya memang dekat dengan Rian, tetapi perasaannya pada Rian sendiri masih abu-abu.


Beruntungnya Rian adalah pria pengertian, melihat Joya yang terlihat bingung, Rian memaklumi dan mau memberi waktu pada Joya untuk memikirkan lamarannya.


Setelah diantar Rian kembali ke unitnya, Joya langsung masuk dan membersihkan diri. Usai mandi Joya duduk di depan meja rias.


Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu menatap bayangannya sendiri di cermin, melihat dirinya dengan sejuta tanya.


Siapkah dia kembali berumahtangga?


...****************...


Hamdan yang sibuk mengepak barang orderan orang, mendongak guna menatap wajah wanita yang sudah dua Minggu lamanya pergi dari rumah.


Ayenir datang bersama suami istri paruh baya, yang tidak di kenal oleh Hamdan.


Ayenir memberi tahu Hamdan, jika kedua orang tersebut ingin bertemu dengan Hamdan. Karenanya Hamdan akhirnya persilahkan mereka untuk masuk ke dalam kios kecil yang ia sewa.


Setelah berbasa-basi, Pria yang bernama pak Mahmud menyodorkan sebuah foto pada Hamdan.


Hamdan menerimanya dan melihat potret di dalamnya. Di foto tersebut ada seorang pria yang Hamdan ketahui sebagai mendiang Bapaknya, tetapi wanita di sampingnya bukanlah Ibunya, di gendongan sang wanita ada seorang bayi mungil.


"Memangnya apa hubungannya saya dan anak dalam foto ini, Pak?" Tanya Hamdan bingung.


"Kamu anak sepasang suami istri itu nak, kami berhutang banyak pada keluarga besar Ibu mu, karena keredaan nenekmu memberikan kornea mata Ibu mu, istri saya bisa melihat hingga sekarang" ujar si Bapak dengan tangis haru.


Hamdan tidak bereaksi apapun, Hamdan pikir mereka salah orang, karena jelas-jelas Ibu nya masih hidup.


"Sebelum meninggal, nenekmu berpesan kepada kami untuk mencari cucunya yang di bawa kabur oleh istri muda Bapakmu, Rubiah tidak hanya membawa lari cucu mereka, tetapi wanita yang menjadi istri kedua Bapakmu itu ternyata dalang dari kematian kedua orang tuamu"


DEG'


Jantung Hamdan seolah di hantam berton-ton batu batu yang membara.


Apa dia tidak salah dengar?


Rubiah


Rubiah

__ADS_1


Rubiah


Bukankah nama itu yang sepanjang doa ia pinta akan keselamatan, kesehatan, umur panjang, di setiap sujudnya. Bahkan dianggap surganya.


Allah apa ini?????


Tidak, Ini pasti salah.


Wajah Hamdan menggertat. buku-buku jarinya memutih. Dengan gerakan tegas Hamdan berdiri, pria itu menunjuk pintu dengan tatapan bringas.


"Jika Anda datang hanya untuk membual, maka saya mohon agar kalian segera tinggalkan tempat ini"


Kedua orang itu terkejut melihat respon Hamdan.


Ayenir buru-buru menenangkan Hamdan yang tiba-tiba emosi. Ayenir sudah memprediksikan hal ini. Karena bagi Hamdan Ibunya adalah separuh nyawa, jadi mendengar hal seperti ini jelas membuat Hamdan emosi.


"Kami membawa semua buktinya." Ujar pria paruh baya itu menatap Hamdan.


"Ini ..." Sebuah tas kuno berwarna hitam pria itu letakkan di hadapan Hamdan. "Kamu bisa melihat seberapa mirip kamu dengan wanita yang melahirkan mu, sabar dulu nak, bahkan didalam sini ada bukti persalinan seorang wanita yang tak lain adalah ibumu, pernikahan mereka, Bahkan foto saat kalian akan menghadiri pernikahan ayahmu untuk kedua kalinya. Lihatlah"


Wajah kaku Hamdan melunak, matanya yang memerah berubah nanar, pandangannya sendu menatap pada tas yang di sodorkan si Pria.


Hatinya belum sanggup seandainya perkataan pria itu benar. Terlalu banyak yang ia korbankan demi wanita yang dianggap surganya.


Dengan tangan gemetaran Hamdan menarik tas tersebut. Di bukanya perlahan dengan hati gamang.


Yang pertama kali di keluarkan adalah sepasang buku nikah. Hamdan membukanya dan melihat tahun yang tercantum disana.


Dengan hati bergemuruh, Hamdan kembali memasukkan tangannya mengeluarkan benda-benda didalam sana.


Saat sebuah foto ia keluarkan, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.


Di potret hitam putih yang masih bersampul itu, terdapat foto seorang gadis berseragam sekolah. Fokus Hamdan pada senyum sang wanita, bibir itu, susunan gigi bahkan pose wanita itu begitu menyerupai dirinya.


Bahkan bisa dikatakan, wanita itu dirinya versi wanita.


Di lembaran berikutnya, Hamdan melihat wajah yang familiar yaitu wajah yang menghiasi beberapa dinding rumah masa kecilnya bersama Rubiah, potret seseorang yang di katakan Rubiah sebagai sosok Bapaknya.


Tuhaaannn .....

__ADS_1


__ADS_2