
Joya dan Rion sepakat menikah dengan acara sederhana dan singkat, mengingat kondisi Jio yang tidak memungkinkan. Untuk Joya sendiri tidak keberatan meskipun acaranya hanya digelar sederhana hanya dari dua belah pihak keluarga saja yang tau. Joya sudah pernah menjadi ratu sehari di kala pernikahan pertamanya, baginya untuk pernikahan keduanya ini tidak harus meriah, yang penting berkah.
Mendengar kabar jika Joya akan menikah. Dua hari sebelum hari H Hamdan datang bersama dengan Ayenir. Kali ini pria itu terlihat cukup baik dari keadaan sebelumnya. Hamdan meminta waktu untuk bicara empat mata dengan Joya, akan tetapi Joya memilih menolak. Ya, Joya tidak memberi kesempatan kepada Hamdan untuk mengungkit apapun tentang masalalu mereka, yang sudah berlalu biarlah menjadi kenangan, Joya sudah berdamai dengan keadaan.
Hamdan sempat mendatangi mantan mertuanya, berlutut dihadapan Panji dan Siufaslin, akan tetapi seperti Joya, kedua orang tersebut tidak bisa kembali menerima Hamdan sebagai menantunya lagi, meski kata maaf sudah mereka berikan.
Joya sudah di jemput oleh Rindi, acara ijab Kabul akan segera dimulai, diantara mereka semua Jio lah yang paling antusias menunggu Joya dan Rion benar-benar menjadi orang tua lengkap untuknya. Sejak semalam Jio sudah kembali memakai alat bantu napas, infus juga terpasang di punggung tangan kecilnya, bengkak di telapak kakinya juga tampak membiru.
Joya tidak mengenakan aksesoris mahal di tubuhnya tetapi mampu menunjukkan citra cantik yang sebenarnya.
Langkah Joya dan Rindi semakin dekat ke arah Rion dan yang lainnya berada, membuat tatapan sepasang calon pengantin itu terkunci. Keresahan kembali menyelimuti benak Joya saat melihat netra teduh itu menatapnya dengan lembut, seolah tersihir dengan pesona yang terpancar di wajah tampan Rion.
Saat Joya diminta duduk di samping Rion yang statusnya akan menjadi suaminya, Joya gugup. Penghulu juga sudah bertanya perihal persiapan Rion, dan pria itu berkata tegas bahwa sudah siap.
Saat kata bismillah terucap dari bibir pak penghulu, tiba-tiba suara Panji terdengar begitu nyaring.
"Pulanglah. Selesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah."
"Ayah, saya mohon!"
Joya memejamkan matanya rapat mendengar suara familiar itu. Suara yang taklain milik mantan Suaminya. Mengapa Hamdan datang? Joya tidak mau Hamdan merusak acaranya. Beruntunglah Panji begitu tegas dan meminta pihak pengamanan untuk membawa Hamdan dan Ayenir pergi, mungkinkah tadi ada pertengkaran diantara mereka sampai Ayahnya harus mengusir keduanya?
"Tidak heran, sopan santun anak muda zaman sekarang sudah jarang ditemui. Lihat saja! Bahkan yang tengah matang usianya pun tak memiliki rasa malu untuk bertengkar masalah rumah tangga mereka didepan umum." Ujar pendamping pak penghulu.
Sebenarnya Joya sendiri sudah gugup, merasa bersalah dengan pria di sampingnya. Dia ingin masuk kedalam hidup pria itu mungkin terlalu mendadak, Joya tidak tahan dengan semua orang-orang yang menjabat sebagai kerabat Rion namun tampak acuh dengan keberadaan Jio. Lebih-lebih Rian, ia jelas merentangkan bendera permusuhan karena penolakan Joya.
"Ayo kita lanjutkan" ucap pak penghulu menyadarkan Joya. Joya membuang pandangannya kearah Rion, dan tanpa di duga bibirnya menanyakan sesuatu.
"Mas, siap?" Joya menoleh. Pipi putih bersih di ujung netranya mengoda seperti minta di usap. Meski pangilan baru itu sendiri mengusik ketenangan hatinya, alih-alih manggil Rion Abang seperti Panggilan nya pada Rian, Joya memilih memanggil Rion dengan sebutan Mas.
__ADS_1
Joya melihat pria disampingnya menampakkan senyum, kemudian dengan cepat menjawab pertanyaan Joya. "InsyaAllah siap." Duhai lembut sekali senyumannya dari samping! keluh Joya dalam hati.
Pak penghulu meminta Panji menjabat tangan Rion. Disaat itu Joya mulai menahan napas saat lantunan iklar pernikahan itu terucap dari bibir Ayahnya dan juga dari bibir Rion, Joya juga sempat terkejut mendengar mas kawin yang Rion berikan untuknya, padahal saat Rion bertanya berihal mas kawin. Joya hanya meminta seperangkat alat sholat saja, tetapi ternyata Rion menambahkan dengan tiga ratus lima puluh juta uang tunai.
"Bagaimana para saksi. SAH?"
"SAH!!!"
Tepukan ringan di pundaknya membuat Joya menoleh.
Senyum dan lelehan air mata dari Siufaslin menandakan bahwa kini status Joya sudah berubah, Joya kembali menjadi seorang istri dari seorang pria.
Siufaslin memberikan cincin pada Rion untuk di sematkan di jari manis Joya. Setelah Rion berhasil memasang cincin di jari manis Joya, Joya segera meraih tangan lelaki itu untuk diciumnya takzim, tindakan itu membuat jantung Joya berdebar kencang. Sayang tidak seperti yang dibayangkan. Rion tidak mau mencium keningnya, pria itu hanya mengelus lembut puncak kepalanya. Meskipun gemuruh dari mereka menyemangati agar Rion mencium kening Joya, Rion tetap tidak melakukannya.
Sempat terjadi kecanggungan. Beruntungnya, Jio memanggil Joya, anak itu ingin di peluk oleh Bunda barunya. Joya terharu ketika Jio tiba-tiba meminta dibawa kerumah sakit untuk kembali berobat supaya sembuh, Jio bilang ingin sembuh agar bisa hidup lebih lama lagi karena ingin selalu menemani Bunda barunya.
Hari itu juga Rion dan Joya membawa Jio kerumah sakit. Tidak ada hal yang lebih melegakan keduanya selain melihat Jio yang kembali bersemangat untuk sembuh.
Malam pengantin yang seharusnya penuh keromantisan tidak terjadi, antara Joya dan Rion malah aktif dengan kesibukan masing-masing.
Rion yang kembali masuk keruangan Jio meletakkan kantong plastik di tangannya. Matanya menatap pada sosok wanita yang tidur memeluk Jio, segaris senyum muncul di bibirnya, hatinya menghangat melihat itu, meski belum ada cinta untuk Joya, tetapi Rion akan berusaha membahagiakan wanita itu.
Malam itu akhirnya Rion tidur di sofa, hingga subuh tiba Rion baru membuka matanya kembali.
"Aku baru saja ingin membangunkan Mas" Rion memutar kepalanya, menatap Joya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Bangunkan Jio," ucapnya setelah mendudukkan diri.
Joya mengerutkan keningnya. Melihat itu Rion kembali bersuara.
__ADS_1
"Jio terbiasa mengerjakan shalat lima waktu bagaimana pun keadaannya, dia anak yang Soleh" tutur Rion memberi tahu Joya soal kebiasaan Jio.
Rasa sejuk merasuk hingga kalbu, Joya tidak menyangka jika Rion begitu memperhatikan pendidikan agama tentang hak dan kewajiban pada Jio yang masih begitu belia, sungguh sosok teladan yang sebenarnya.
Dan yang diucapkan oleh Rion benar adanya. Saat Joya mengelus pipi tirus Jio, anak itu beberapa saat sudah membuka matanya, senyum manis yang begitu mirip dengan Rian itu muncul dari bibir kecilnya.
"Sudah waktunya subuh ya, Nda?"
Pangilan baru itu membuat Joya tersenyum, hatinya juga sedang di penuhi rasa syukur bisa masuk kedalam hidup kedua pria yang tampak istimewa itu.
****
Hari berjalan begitu cepat, tidak terasa Joya sudah menjadi istri Rion selama satu minggu, kesehatan Jio beberapa hari ini semakin membaik, pria kecil itu juga sudah bisa duduk meskipun harus di topang.
Hal yang disukai Joya dari Rion. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya. Selalu mampu menekan perasaannya demi membuat Joya nyaman. Ada waktu ketika Joya sedih dan mengunci rapat bibirnya. Pria itu tak akan bertanya. Ia justru memberi waktu dan ruang pada Joya untuk menumpahkan tangis. Seperti tiga hari yang lalu saat Jio kembali drop dan kejang-kejang, Joya panik dan justru tidak sengaja menumpahkan amarahnya pada Rion yang datang sedikit terlambat. Rion yang sudah tampak lelah di tambah khawatir tidak membela diri atau membalas ucapan Joya, pria itu justru duduk diam membiarkan Joya menumpahkan kekesalannya. Setelah beberapa saat barulah Joya menyesal. Rion hanya mendekati Joya untuk memberikan makanan untuk makan malam dan sebotol air mineral. Dan Rion tidak membahas hal itu lagi sampai sekarang.
Saat Joya mengatakan jika dia beruntung memiliki Rion dalam hidupnya. Itu adalah perkataan sungguh-sungguh dari hatinya, Joya bisa melihat seberapa besar usaha Rion untuk memuliakan dirinya, meski Joya tau cinta belum hadir di hati Rion untuk nya.
Bagaimana dengan malam pertama? Hari kedua setelah mereka menikah, Rion sudah aktif bekerja, membuat keduanya hanya bertemu di sore hingga pagi hari. Bagaimana dengan keluarga yang lain?
Rion menutup akses untuk keluarganya, tetapi tidak untuk keluarga Joya. Hanya saja Panji dan Siufaslin sudah kembali ke KL dua hari yang lalu.
Tidak ada kemesraan diantara mereka. Bahkan sekedar mencium kening Joya saja belum Rion lakukan.
#####
Mohon tinggalkan jejak cintainya untuk author yaaa..
Love you reader ...
__ADS_1