
Kekecewaan tak bisa dihindari dalam menjalani kehidupan. Terkadang situasi seperti ini bisa muncul secara tiba-tiba. Meski begitu, tentu bukan tanpa sebab. Rasa kecewa dan sedih kerap lahir karena sebuah alasan.
Kekecewaan akan hasil atau kenyataan bisa jadi buah dari harapan yang tak tersampaikan. Mimpi yang sudah terbangun muncul tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Ini yang tengah dirasa oleh wanita yang bernama Ayenir. Kecewa akan sikap suaminya yang memprioritaskan ibunya tak berkesudahan membuatnya jengah. Awalnya Ayenir mengira ini hanya wujud rasa bersalah. Sayangnya, hal ini terjadi secara terus menerus yang membuat Ayenir ingin untuk berhenti berharap.
Hati nya tidak nyaman. Ia seolah merasa kapok atau trauma untuk berharap Hamdan akan berubah. Dampaknya ia lelah dan hilang kepercayaan pada suaminya.
Ayenir sudah lelah untuk berharap, ia ingin beristirahat untuk rehat dan kembali jernihkan pikiran.
"Ini juga karena salah kita, sampai Ibu nekat ingin mengakhiri hidupnya." Hamdan membujuk Ayenir agar tak pergi dari rumah.
Ayenir tidak menanggapi. Sudah dikatakan, jika wanita itu lelah. Berhari-hari Hamdan menginap di rumah sakit menemani ibunya. Wanita itu bahkan sudah jauh lebih baik, tapi masih betah disana. Entah apa yang membuat Rubiah tak ingin pulang. Ayenir hanya merasa Rubiah memanfaatkan keadaan agar Handan jauh darinya.
Ayenir menyeka air mata yang membasahi pipinya. Mungkin ini juga yang dulu di rasakan Joya ketika menghadapi ke egoisan Rubiah. Begini saja rasanya sudah berat, apalagi di tambah beban pikiran akibat suami menikah lagi. Oh sungguh, Ayenir jadi merasa kerdil jika dibandingkan dengan Joya.
"Kamu benar-benar tidak ingin bersabar sedikit lagi?" Suara Hamdan mulai naik dua oktaf karena melihat Ayenir yang tetap mengemasi pakaiannya.
"Sampai kapan, Mas?" Sahut Ayenir yang perlahan memutar badan menghadap Hamdan.
"Sampai Ibu sembuh."
"Ibu sudah sembuh, Mas."Potong Ayenir cepat. Ya Tuhan, mengapa Hamdan tak bisa membedakan orang yang benar-benar sakit atau hanya pura-pura.
Rubiah sudah pulih. Wanita itu bahkan begitu gemar meneror Hamdan dengan segala keinginannya. Mana ada orang sakit segala makanan di inginkan? Bahkan wanita itu makan begitu lahapnya setiap apa yang di pesannya datang.
"Kalau Ibu sembuh, pasti sekarang sudah boleh pulang. Nyatanya Ibu masih di rawat di rumah sakit, Ayenir." Ngotot Hamdan, kurang suka dengan sikap keras kepala Ayenir.
Ayenir memejamkan matanya rapat. Susah menghadapi orang yang terlalu memuja orang yang dihormatinya. Satu-satunya cara adalah pergi. Karena tidak ada gunanya mendebat Hamdan.
****
__ADS_1
Joya menatap kedua orang-orang yang berada di hadapannya.
Saat ini kedua orang tuanya sedang berada di rumah sakit dimana Rion di rawat. Siapa sangka Ayahnya dan keluarga besar Oktadio adalah kawan akrab. Bahkan mereka sama-sama memiliki perusahaan di negeri Jiran.
Meskipun saat ini pertemuan mereka bukan karena sebuah acara melainkan karena membesuk Rion, setidaknya, rasa saling menghormati itu tampak nyata.
Wanita yang tak lain adalah Ibu Rian dan Rion juga begitu hangat dengan Joya. Bahkan tak segan-segan memeluknya seperti saudara dekat.
Rindiany. Nama wanita yang tak kalah cantik dengan Ibu nya. Wanita yang memiliki dua putra gagah yang salah satunya sedang di uji dengan penyakit ginjal.
Rencananya, Rion akan dibawa ke Singapura oleh kedua orang tuanya, karena penyakit pemuda itu tidak main-main.
"Bunda senang kamu bisa dekat dengan keluarga Tante Rindi, Joy!" Joya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Siufaslin ibunya.
Pria yang menjabat sebagai Ayah Dua R juga sangat bersahabat. Sikapnya hangat dan juga murah senyum.
"Siapa tau kita bisa jadi keluarga sesungguhnya, Nji." Pak Dermawan menatap Panji Ayah Joya dengan tatapan berharap.
Berbeda dengan Joya yang langsung menegang. Apa maksudnya menjadi keluarga sesungguhnya?
Saat ini memang tidak ada Rian. Lelaki itu sedang menangani sebuah kasus yang cukup kelit. Meskipun sang Ayah sudah meneleponnya, tapi sepertinya Rian benar-benar tidak bisa menyusul ke hotel sebelum urusannya beres.
Selama mengenal Rian, Joya memang merasa bahwasanya Rian pria yang sangat disiplin, pembawaan nya tidak kaku tidak juga terlalu ramah. Tidak dingin tapi juga tak terlalu mengumbar senyum. Sikapnya sedang-sedang saja. Bisa menyesuaikan dengan kondisi. Bisa ramah, bisa pendiam, bisa juga tegas sesuai profesinya.
Mungkin karena dirinya sudah terbiasa berbaur dengan banyak orang, untuk itu lelaki itu bisa membawa diri dari segala karakter.
"Sepertinya Joya cocok buat Rion yang pendiam Mas" Suara Ibu Rindi membuat Joya berpaling.
"Kalau menurut Ayah, Joya lebih cocok dengan Rian. Kasian jika dengan Rion, Joya tidak hanya harus sabar menghadapi sikap nya yang kekanakan. Tapi juga harus ambil hati Jio dulu Ma!"
"Apa ini? Kenapa jadi membahas aku?" Batin Joya.
__ADS_1
"Dan siapa Jio?" Tambah Joya membatin.
"Oh, Iya. Gimana kabar cucuku?" Suara Panji semakin membuat Joya tak mengerti.
"Jio sehat. Dari kemarin merengek mau ikut lihat Papanya. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan Rion tak memungkinkan!" Jawab Ibu Rindi menahan sesak.
"Sebenarnya karena alasan Jio- lah aku sering memaksakan Rion untuk menikah lagi! Biar bagaimanapun Jio butuh sosok wanita yang bisa menjadi Ibu untuknya"
"Sabar Rin, menikah bukan hal yang mudah. Mencari orang yang bisa menjadi Ibu pengganti tidak bisa sembarangan. Jika salah, yang ada justru berakhir perceraian" Siufaslin menggenggam tangan Rindiany. Mereka seperti saling menguatkan.
Pada akhirnya, Joya hanya menjadi pendengar. Bahkan hingga lewat jam makan malam mereka masih berada di hotel dekat rumah sakit.
Besok rencananya Rion akan dibawa ke Singapura. Meskipun begitu ternyata Rian tidak bisa menemani kepergian sang adik.
Tadi begitu habis shalat Maghrib berjamaah lelaki itu baru datang. Wajahnya tampak lelah meskipun pria itu berusaha menyembunyikannya dengan senyum lebar.
Tentu saja menjadi seorang pengacara juga bukanlah pekerjaan yang mudah.
Joya sendiri tak pernah berpikir akan ada hari seperti ini. Bagaimana bisa sekarang dia seperti tengah hidup di keluarga baru. Padahal sebelumnya mereka hanyalah orang asing.
Melihat kedekatan kedua orang tuanya dan kedua orang tua dua R membuat Joya teringat dengan Hamdan.
Wajah pria itu singgah kembali, membuat luka yang sudah hampir sembuh tergores lagi.
Nyatanya melupakan cinta pertama memang tak mudah bagi Joya. Meskipun di penghujung perkawinannya dengan Hamdan terus diwarnai pertengkaran, tapi sebelumnya hubungan mereka pernah romantis.
Kini mereka hanya dua orang asing, namun sebelumnya mereka pernah dekat bahkan tanpa sekat.
Joya hanya bisa mendoakan Hamdan agar selalu bahagia, dan juga berdoa untuk dirinya sendiri agar bisa cepat melupakan Hamdan.
####
__ADS_1
Ada yang setuju Joya rujuk????