Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Buku biru.


__ADS_3

Joya sibuk menata kembali tanaman hiasnya di teras rumah. Sejak dulu Joya memang sangat menyukai tanaman. Entah itu bunga ataupun jenis tanaman hias lainnya.


Joya merasa dengan adanya' tanaman hias di sekitar rumah, membuat lingkungan rumahnya terasa lebih hidup, dan lagi cantik di pandang.


Satu pot berukuran cukup besar ingin ia pindahkan ke atas undakan tangga teras, namun itu cukup berat sampai Joya sedikit kwalahan. Tetapi tidak lama, karena tiba-tiba ada tangan lain yang membantunya mengangkat beban tersebut.


Joya ikut menatap si pemilik tangan. Dan disana Joya melihat sosok wanita yang pernah menghancurkan keluarganya.


Ayenir tersenyum sendu, dengan pandangan yang gelisah membalas tatapan Joya.


Pot itu sudah di letakkan ke tempat yang di inginkan Joya, baru setelah itu Joya memusatkan perhatiannya pada Ayenir.


Bagaimana bisa perempuan itu datang kerumahnya?


"Mau minum apa? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan ku, sampai kamu harus menemui ku seperti ini?"


Mendengar pertanyaan lembut Joya, Ayenir segera memeluk Joya.


Joya yang tiba-tiba di peluk tentu saja terkejut. Ditambah lagi Ayenir langsung menumpahkan air matanya dengan Isak tangis yang cukup keras.


Kenapa Ayenir justru datang kerumah Joya?


"Aku nggak kuat, Mba.."


Joya merenggangkan pelukan mereka. Melihat mata wanita di hadapannya yang tampak sembab dan bahkan masih mengalirkan air mata. Membuat Joya tak tega.


"Soal Mas Hamdan?" Tanya Joya yang di angguki oleh Ayenir.


Tentu saja Joya enggan berkomentar soal rumah tangga Hamdan, baginya mereka hanya masa lalu, termasuk Ayenir. Antara dia dan ia sudah bukan lagi siapa-siapa.


Ayenir sadar tak seharusnya dia datang pada Joya. Tetapi dia benar-benar tidak tau lagi pada siapa bisa bercerita.


"Aku butuh teman!" aku Ayenir dengan air mata yang tumpah ruah, lagi-lagi Joya tidak tega. Akhirnya Joya mengangguk membiarkan wanita itu berbicara.


"Aku mencintai mas Hamdan, Mba. Tapi sayangnya Mas Hamdan tak pernah menganggap ku, dia sibuk membangun dunianya bersama wanita lain. Wanita yang melahirkannya.


Bibir Ayenir bergetar.

__ADS_1


"Aku masih berusaha bertahan sampai detik ini. Tolong jangan bilang aku bodoh Mba, aku juga mulai berusaha menata hati, dan menyusun rencana untuk pergi darinya, hati Mas Hamdan terlalu sulit untuk ku gapai Mba, jadi tidak ada gunanya aku terus menguatkan hati."


Joya mendekati Ayenir dan memberikan tisu.


"Maaf, Mba, aku benar-benar butuh teman curhat."


"Nggak pa-pa." Joya memahami perasaan Ayenir, karena sebelumnya Joya juga mengalaminya, tentu rasanya masih membekas dan akan sangat sulit di lupakan.


Joya tau Ayenir sangat mencintai Hamdan, Joya bisa merasakannya, dari cara Ayenir bicara, saat wanita itu menyebut nama Hamdan, mata Ayenir berbinar dan wajah wanita itu berseri-seri seolah dia sedang menatap dunianya.


Tapi sayang, Hamdan tidak bisa melihat itu dari Ayenir. Bahkan dari dirinya juga. Hamdan tidak bisa dimiliki siapapun, selain Rubiah.


Ayenir baru ingin melanjutkan ceritanya, tetapi teriakan bocah membuat perhatian keduanya sama-sama teralihkan.


"Bundaaaaa!!!"


Joya kaget melihat Jio yang berlari kearahnya dengan sebuah tas karton yang lumayan besar di tangannya yang membuat lari bocah itu sedikit kepayahan.


Refleks Joya langsung berdiri dari duduknya dan berjongkok menyambut kedatangan Jio. Entahlah, ada yang lain di hati Joya jika dekat dengan Jio, meskipun Joya sendiri tidak tahu rasa apa yang sedang dirasakannya, nyaman kah? Atau justru bahagia karena tiba-tiba dia bisa dekat dengan anak-anak.


"Jangan lari Jio, nanti kamu jatuh!" Seru Joya seraya menangkap bocah laki-laki itu dalam pelukannya. Joya sudah seperti seorang Ibu yang sedang memeluk buah hatinya. Jio juga terlihat nyaman menghambur kedalam pelukan Joya.


Sementara Rion hanya melempar senyum pada perempuan yang tengah di peluk putranya.


"Ini Rion, Joy. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menjaga Jio kemarin"


Joya mengalihkan perhatiannya pada Rion. Laki-laki ini sangat tampan, wajahnya sedikit mirip dengan Rian, hanya saja alis Rion lebih tebal, dan rahangnya tegas membuatnya terlihat galak, tetapi secara keseluruhan mereka sama-sama mempesona.


Rian dan Rion menatap kearah Ayenir, yang membuat wanita itu merasa gugup. Ayenir tidak mengenal siapa mereka, tetapi mendengar panggilan anak kecil itu pada Joya, Ayenir menyimpulkan mereka sepertinya keluarga dekat, mungkin mereka sepupu Joya. Melihat penampilan mereka yang tidak biasa jelas Ayenir tau mantan Madunya juga bukan orang miskin seperti dirinya. Bahkan Ayenir sadar setelah dia menikah dengan Hamdan, rumah beserta kendaraan itu ternyata milik Joya. Kini mata Ayenir terbuka lebar.


Jika Joya yang lebih dari segalanya saja memilih pergi, siapakah dirinya yang harus bertahan?


Ayenir membeku di tengah kekosongan. Terdiam menikmati rasa sakit di sudut dada. Pergi dari Hamdan adalah jalan terbaik, meski bukan seperti itu yang dia pinta di ujung doa.


"Mba, aku lebih baik pulang dulu" Ayenir memeluk Joya dari samping, karena Joya masih memeluk Jio.


"Eh," Joya meraih Jio dalam gendongannya dan menatap Ayenir yang sudah terlihat lebih baik. Setelah berdiam sejenak, akhirnya Joya mengangguk, mengizinkan Ayenir pergi.

__ADS_1


Sementara dua pria itu tidak mengatakan apapun, selain menatap kepergian Ayenir.


Perhatian Joya teralihkan oleh sentuhan Jio di pipinya, membuat Joya terseyum.


Jio menatap Joya dengan pandangan sendu. Membuat Joya menatap lembut.


"Ini untuk Bunda" Bocah Lima tahun itu menyerahkan tas kertas yang dibawanya.


"Oh," Joya merasa bersalah karena lupa mengambil alih bawaan Jio, ah pasti bocah itu kesusahan, "Apa ini?"


"Ini bantal dan guling kecil" ucap Jio begitu semangat.


"Bantal dan guling kecil?" beo Joya.


Mendengar suara Joya, Jio malah mengangguk.


Untuk apa?? pikir Joya.


"Ini untuk Jio jika tidur di tempat Bunda" Seolah bisa membaca pikiran Joya, Jio menerangkan tanpa diminta.


Tentu saja perkataan Jio membuat Joya bingung. Mengalihkan pandangannya pada Rian, pria itu juga hanya menggaruk kepalanya seolah tak mengerti.


Melihat kearah Rion, Joya hanya melihat senyum manis tersungging di bibir pria itu.


Beberapa detik Joya seolah terperangkap dalam pesona yang pria itu suguhkan. Sampai pada saat bisikan Jio kembali menarik Joya ke alam kesadaran.


"Kata, Eyang Kong dan Eyang Uti, Bunda adalah calon istri Ayah, berarti Bunda adalah Bunda beneran nya Jio"


Gleg'


Joya kesulitan menelan Saliva nya sendiri. Bahkan rasanya hati Joya di selimuti sesuatu tak kasat mata. Bukan menyakitkan, tetapi justru sebaliknya. Joya merasa nyaman mendengar kata Bundanya Jio.


"Jangan diambil hati, Joy. Jio hanya terlalu Baper waktu Ayah dan Bunda bicara soal rencara para orang tua" Rian mendekati Jio dan Joya, bermaksud menenangkan Joya.


"Pikirkan dengan baik, jika kamu memang bersedia untuk menjadi Bunda Jio, kamu bisa hubungi saya. Ini.." Rion meletakkan sebuah buku bersampul biru di atas meja, sebelum menatap tepat di dalam bola mata Joya, "Segala sesuatu tentang ku ada di dalam buku itu, kamu bisa mengenalku lewat sana!"


Rian terngaga mendengar ucapan Rion. Apa-apaan adiknya itu???

__ADS_1


Sedangkan Joya. Wanita itu hampir pingsan karena sangking kagetnya.


__ADS_2