
"Pokoknya aku mau pergi!"
Seorang wanita mengemasi pakaiannya kedalam tas jinjing. Seluruh barang-barang nya di jejalkan kedalam tas besar yang sudah berisi beberapa pakaiannya.
"Beri mas waktu, dek. Hasil panen anjlok!" iba laki-laki menahan lengan istrinya.Wajah lelaki itu tampak lelah, sibuk mondar-mandir mengikuti pergerakan istrinya.
"Dari dulu kamu cuma janji-janji tapi mana buktinya?! kita tetap saja tinggal di kontrakan bobrok seperti ini."
"Kan, kamu tau sendiri dek, hasil panen kita tidak sesuai. Tolong mengertilah! Aku akan cari pekerjaan tambahan agar kita bisa pindah, tapi, beri mas waktu!"
"Omong kosong! Dari dulu gitu terus." Wanita itu menghardik tepat di wajah suaminya.
"Biah ...."
"Apa, mas? Aku capek, lebih baik aku pergi! Aku udah muak!"
"Lalu mas harus bagaimana? Agar kamu tetap tinggal?" tanya pria itu frustasi.
"Jual rumah orang tuamu, uangnya buat kita bangun rumah sendiri, sementara kamu bisa kontrakan orang tuamu rumah untuk sementara!"
"BIAH!!!"
"Kenapa? Nggak setuju?" Rubiah langsung tertawa sumbang. Bibirnya menukik sinis. "CK ck ck dasar perhitungan kamu itu. Bisa-bisanya aku nikah sama laki-laki mental kere kayak kamu. Kamu harusnya ngaca, kalau kere nggak usah kepedean ngelamar anak orang."
Tujuh tahun berlalu sejak perpisahan sepihak. Rubiah kembali di pertemukan dengan Hilman. Mantan suaminya. Pertemuan yang membuat Rubiah merasakan getaran di dada.
__ADS_1
Rubiah sudah menikah setelah meninggalkan suaminya. Lelaki yang dinikahinya tak jauh berbeda dengan Hilman. Seorang petani cabai. Yang penghasilannya pun tidak menentu. Namun, pernikahan keduanya pun kandas karena ego nya.
Bertambahnya usia bisa mempengaruhi kedewasaan. Kriteria yang disematkan pada seorang lelaki idaman pun tidak akan sama dengan masa belia. Sekarang Rubiah menginginkan lelaki yang dewasa. Berpikiran lurus dan bisa membimbingnya untuk menjadi lebih baik. Dan apalah daya jika semua itu ada di dalam diri mantan suaminya.
Bukan Rubiah jika tidak keras kepala. Tak perduli meskipun suaminya sudah memiliki keluarga baru, ia tetap memaksakan kehendaknya. Hingga dengan tak berperasaan dia merencanakan sebuah kecelakaan untuk keluarga suaminya. Naas, malam itu kejadiannya tak sesuai kehendaknya. Setelah melaksanakan akad nikah karena dia menjebak mantan suaminya dan di gerebek warga desa.
Malam itu niatnya dia akan memonopoli waktu Hilman. Namun, karena kelelahan dia tertidur. Bertepatan dengan itu Hilman lah yang mengantarkan istri dan anaknya yang baru berumur tiga bulan itu kembali ke kampung sebrang.
Dan, rencana Rubiah ingin melenyapkan madunya, justru juga menambah satu nyawa lagi yang melayang yang tak lain adalah suaminya sendiri. Hilman dan istrinya yang bernama Sarah meninggal di tempat. Menyisakan bayi laki-laki yang baru berumur tiga bulan, yang menangis di dekapan Ibunya yang tak bernyawa.
Bayi itu adalah Hamdan. Seorang anak laki-laki yang dibesarkan dengan rasa keterpaksaan. Dan kebencian bahkan dendam. Alasan Rubiah tidak menikah bukan karena mencintai putranya, tetapi trauma.
...****************...
Bayangan masa lalu membuat Rubiah menerbitkan senyum lebar.
Kemiskinan adalah hal yang paling di benci oleh Rubiah. Namun dia hanyalah gadis desa yang tak memiliki kecantikan mempuni untuk menjerat pria kaya impiannya. Jodohnya tak lebih juga sederajat dengan kondisinya. Sederhana dan hanya pria se desa.
Hamdan tampan rupawan, Karena memiliki Ibu yang juga cantik. Pria yang bernama Hilman juga cukup gagah meski hanya orang desa, perawakannya sedang, berkulit sawo matang khas seorang petani.
...****************...
Hamdan menemani Ayenir berbelanja. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Hamdan masih belum bertegur sapa dengan ibunya.
Rengekan Rubiah juga tak di hiraukan nya. Hamdan sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi di pernikahannya. Meski waktu terus berjalan, cinta nya masih utuh untuk Joya, seakan nama wanita itu sudah di tatto di hati dan jantungnya.
__ADS_1
Ayenir senang, karena Hamdan mau mengajaknya keluar rumah. Selama menikah dengan Hamdan, ini adalah kali pertama suaminya membawanya keluar rumah atas kehendak nya sendiri.
"Mas, terimakasih" Ucap Ayenir tulus.
Hamdan hanya menanggapinya dengan senyum kecil. Mereka sedang makan di pinggir jalan, menikmati semangkuk soto Lamongan di pedagang kaki lima sekitar pasar.
Ayenir memang wanita yang sederhana, tidak tinggi, tidak juga kecil, wajahnya khas orang Jawa, manis dan bersahaja. Kulitnya tidak putih tapi tidak menutupi pesonanya.
Harusnya Hamdan mudah menyukai Ayenir. Tapi kenyataannya tidak. Nama Joya masih bertahta di posisi pertama. Wajah wanita itu, senyumnya, segalanya tentang Joya masih merajai jiwa Hamdan. Tidak menceraikan Ayenir karena wujud tanggung jawab. Entah sampai kapan dia bisa terus menipu hatinya.
"Mas Hamdan!" Suara seseorang yang menyapa membuat Hamdan segera berpaling.
Joya bersama dengan seorang pria yang Hamdan ketahui sebagai pengacara berdiri di samping gerobak soto seperti akan memesan.
Tidak heran kenapa Joya bisa berada di sini, karena warung tenda ini adalah tempat favorit mereka dulu, tempat menghabiskan waktu ketika habis gajian. Tempat mengisi perut setelah lelah berbelanja bahan bulanan seperti yang saat ini Hamdan lakukan dengan Ayenir.
Hamdan POV
"Mas Hamdan!" Aku kenal betul suara siapa itu. Dengan cepat aku menoleh, dan benar menemukan dia disana berdiri dengan seorang pria yang ku ketahui sebagai pengacaranya kapan lalu.
Joya Jasmine, wanita yang masih ku cintai hingga kini. Aku tak bisa merelakannya pergi dari hidupku. Tapi aku bisa apa? Setelah segala kejahatan yang pernah kulakukan. Apa yang bisa kulakukan selain merelakan.
Ingin aku merengkuhnya. Seperti keinginan ku beberapa hari yang lalu di persidangan. Tetapi aku sadar diri, itu tak akan pernah terjadi.
Aku melihatnya berbicara dengan mas-mas penjual soto, tampak pemuda penjual soto itu melihatku sejenak dan menatap Joya setelahnya. Tak heran. Karena dulu kami selalu datang bersama, hampir setiap bulan makan soto disini. Dan kini tiba-tiba kami datang sendiri-sendiri dan membawa pasangan masing-masing.
__ADS_1
Mungkin pemuda itu bingung. Sama bingungnya dengan ku. Rasanya aku ingin menyalahkan takdir. Kenapa begitu kejam memisahkan aku dan dia. Dia yang dulu memberikan senyum indah hanya padaku. Dia yang dulu menghormati ku, dia yang dulu selalu ingin memeluk ku dan dia yang selama ini menjadi alasan terbesar ku untuk berjuang menjadi pria yang sempurna.
Tuhaaannn!!!!! Aku sekarat tanpanya.