
Joya hanya mau melihat Hamdan dari balik pintu saat dia di tarik paksa oleh Ayenir, Joya tidak menyangka bisa bertemu dengan istri Hamdan di rumah sakit, dan berakhir dengan wanita itu yang berhasil membawanya untuk berada di depan kamar rawat mantan suaminya.
Berkali-kali Joya menolak untuk menjenguk mantan suaminya, tetapi Ayenir memaksa dengan derai tangis, Ayenir menceritakan semua penyebab Hamdan jatuh sakit.
Meskipun awalnya Joya kaget, tetapi kebenaran yang terungkap, tentang masalalu Hamdan. Tidak bisa membuat hati Joya kembali menginginkan Hamdan.
Joya sudah mengikhlaskan Hamdan, Joya menyadari bahwa mungkin jodoh mereka memang sudah habis. Semua atas kehendak Allah, termasuk perceraian mereka, Joya tidak mau kembali bersama Hamdan meskipun Ayenir memohon kepadanya.
Bagi Joya perceraian mereka terjadi karena Hamdan nya yang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik, jika Hamdan tegas kemungkinan besar mereka masih bersama hingga kini. Ini memang sudah jalannya.
Joya tidak membenci Hamdan, tetapi untuk kembali bersama Joya tidak mau.
"Mas Hamdan selalu memanggil nama Mba Joya"
"Kamu istrinya, nasehati dia dengan sabar, aku bukan lagi menjadi bagian dari dirinya" Tutur Joya menasehati Ayenir, yang terus memaksa nya untuk masuk kedalam kamar rawat Hamdan.
Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Tidak bisakah kalian rujuk Mba?" tanya Ayenir dengan air mata yang mengalir, Joya sedikit tersentak dengan ucapan Ayenir, bagaimana istri Hamdan bisa meminta hal seperti itu?
Joya terseyum kecil, tangannya menepuk pundak wanita muda dihadapannya.
"Jika kamu jadi aku, apa kamu mau kembali dengan Hamdan?" Joya membalikan pertanyaan Ayenir. Wanita itu hanya menunduk tidak berani menjawab pertanyaan Joya.
"Aku tidak bisa menemui mas Hamdan," Joya menarik napasnya dalam, "bukannya aku tega, tetapi sudah saatnya mas Hamdan melepaskan ku, kami sudah tidak ada hubungan apa-apa" tutur Joya sambil menatap wajah Ayenir sebentar, sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa menuruti keinginan Ayenir untuk masuk kedalam kamar rawat mantan suaminya.
Bukankah mantan adalah orang lain?
Setelah putusan sidang. Cinta Joya terhadap Hamdan yang dulunya menggebu perlahan memudar, status, barangkali yang membuatnya bertekad untuk menghapus segala hal yang berkaitan dengan mantan suaminya, termasuk cintanya yang dulu begitu besar.
__ADS_1
Joya tidak kembali ke ICU, wanita itu memutuskan pulang, tetapi belum berapa lama berdiri di depan rumah sakit untuk menunggu taksi yang sudah dia pesan. Sosok pria yang dikenalnya muncul, tidak hanya sendiri melainkan dengan kedua orang tuanya.
Mata mereka bertemu, Joya berhasil meraih kesadaran dan memberi senyum simpul pada mereka.
Lagi-lagi niatnya untuk pulang urung, kini Joya terpaksa berhadapan dengan Rian yang menatapnya penuh selidik. Awalnya Joya cemas jika Rian tau kalau-kalau dia kerumah sakit karena tau jika Jio dirawat, tetapi tidak lama kemudian Joya mendapatkan alasan akurat lainnya.
"Apa kamu tau jika ...?" Seolah Rian sengaja menggantung pertanyaan yang di tujukan pada Joya. Joya mengatur mimik wajahnya agar tidak terlalu gugup, Joya tidak mau disangka Rian ikut menyembunyikan Jio, Joya hendak mengatakan alasannya berada dirumah sakit, tapi lebih dulu Ayenir memanggilnya sambil ngos-ngosan.
"Mbak, mas Hamdan minta mba kembali, jangan pulang dulu mba, tolong" Tangan Ayenir memegang lengan Joya, menggoyangkan seperti sedang memohon dengan sangat.
Wajah serius Rian memudar digantikan dengan raut tenang, meski tak melihat secara langsung, Joya bisa melihat kelegaan disana.
"Abang, aku harus pergi sebentar, nanti kita bicara lagi, mas Hamdan sakit dan Ayenir memintaku datang" Joya mengatakan hal itu sebelum berlalu dari hadapan Rian, terpaksa mengikuti langkah Ayenir yang menarik tangannya.
Saat tiba di depan ruangan Hamdan Joya terkejut mendapati Rion yang duduk di kursi yang berada di depan ruang rawat Hamdan.
Apakah pria ini yang meminta Ayenir menyelamatkannya dari cecaran pertanyaan Rian? Oh, Joya yakin memang benar Rion lah pelakunya. Karena pria itu memberinya senyum kecil khas Rion.
"Maaf membuatmu ikut repot" Tutur Rion tulus, tubuh jangkungnya masih duduk di kursi.
"Ka-Kamu tinggalkan Jio?" tanya Joya yang akhirnya ingat jika Jio sedang kritis.
Raut wajah Rion langsung berubah. Menunduk sekilas kemudian Rion memandang Joya lekat-lekat.
"Ingin melihat drama?" Tanya Rion serius pada Joya, yang di tanggapi Joya dengan kernyitan dahi, Rion terkekeh, pria itu berdehem sejenak kemudian menghela napasnya" Setelah ini kebenaran siapa Ayah Jio akan terungkap, kamu tertarik untuk mengetahuinya?"
Joya malah mengangguk semangat, sebelum akhirnya tersadar dan meringis kecil
"Apa boleh?" tawarnya lirih.
__ADS_1
"Kamu sudah menerima pinangan Abang ku?" pertanyaan yang di jawab pertanyaan membuat Joya terkesiap. Rion tau kalau Rian melamarnya?
"Tidak perlu dijawab, aku hanya sedang menggoda mu" jawab Rion yang entah mengapa membuat Joya kecewa.
****
Joya mengikuti langkah Rion yang berjalan mengendap-endap melewati ruang ICU dimana Jio berada, terlihat' sekilas bahwa Rian dan kedua orang tuanya sudah di dalam sana.
Entah bagaimana mereka bisa masuk secara bersamaan, tetapi ketiganya benar-benar berada di dalam satu ruangan.
Rion mengajak Joya bersandar di dinding pembatas lorong yang memisahkan ruang ICU dan ruang operasi, tetapi jika ada orang yang keluar dari ICU dari tempat mereka sekarang dapat terlihat.
Sekitar sepuluh menitan akhirnya dari ruang ICU keluar Dermawan, Rindi dan Rian. Tampak mata Dermawan memerah, sedang mata Rindi sudah sembab dengan sisa air mata menandakan wanita itu tengah bersedih. Sementara Rian pria itu tampak gelisah, beberapa kali mengacak rambutnya yang hitam tebal dan membuang napas kasar khas orang bingung.
"Kenapa Rion justru meninggalkan Jio keluar negeri dan membiarkan Jio hanya dijaga pengasuhnya? Anak itu benar-benar" Suara Rian terdengar serak, entah karena sedih atau karena emosi.
"Karena kemungkinan besar Rion tau jika Jio bukan darah dagingnya" timpal Dermawan tampak lesu.
"Itu tidak mungkin!"sanggah Rian cepat, menyangkal dugaan sang Ayah.
Dermawan menatap anak pertamanya . Bukankah Rian juga mendengar tadi saat Dokter mengungkapkan jika Jio menjadi pasien aktif di rumah sakit ini sejak tiga tahun yang terakhir, berarti segalanya sudah Rion ketahui sejak awal, tapi putra bungsunya itu berlagak tak tau apa-apa.
Tuhaaannn!!!!!!
Tubuh Dermawan terasa lemah, kakinya seperti jeli yang tak mampu menopang berat tubuhnya.
Inikah alasan Rion memutuskan tinggal di perumahan, dengan alasan ingin mandiri? Rion bahkan masih bersikap biasa saja. Meski kemungkinan besar dirinya tau didalam keluarganya ada penjahat.
Rasa bersalah tiba-tiba menghantam relung hati Dermawan. Kemanakah gerangan Rion selama ini menenangkan hatinya supaya bisa terlihat baik-baik saja? Adakah Rion memiliki tempat berkeluh kesah? Baik-baik sajakah perasaan Rion saat mengetahui kebenaran yang sudah mengikatnya dengan rasa bersalah?
__ADS_1
Sementara tangan Rion terkepal kuat melihat gesture tubuh Ayahnya yang tampak menyesal. Mungkinkah dugaannya benar???
Jika iya, Rion harus apa??