
Rubiah menatap penuh kebencian terhadap Ayenir yang memasuki rumahnya. Buru-buru wanita paruh baya itu menghampiri Hamdan yang baru masuk kedalam rumah. Tentu saja tujuannya untuk menanyakan mengapa Ayenir bisa pulang bersama putranya.
Kata-kata ketidak sukaannya kembali Rubiah ucapkan agar Hamdan tidak lagi mengizinkan Ayenir tinggal, tetapi kali ini tak sepatah katapun Hamdan menanggapi ucapan ibunya, bahkan terlihat tak mendengarkan keluhan Rubiah.
Melihat segala protes nya tak di dengar, Rubiah mengunakan jurus andalan nya, wanita akhir lima puluh tahun itu langsung menaikkan kedua tangannya ke pinggang, dengan mata yang melihat tajam ke arah Hamdan.
"Kamu sudah tidak sayang pada Ibu Hamdan? Selama ini Ibu rela menyendiri supaya kamu tidak kekurangan kasih sayang, bahkan Ibu rela tidak menikah semenjak Bapakmu meninggal karena Ibu terlalu takut salah memilih suami sehingga nantinya kamu tak terurus, Ibu bertaruh nyawa melahirkan dan mengurus mu hingga sampai seperti ini, tapi kamu malah tega cuekin Ibu?" Seperti biasa air mata Rubiah beranak sungai, wanita itu menangis sesenggukan mengungkapkan kekecewaannya.
Biasanya Hamdan langsung memeluknya dan memohon maaf, tapi kali ini...
Rubiah menatap bingung pada Hamdan yang bahkan tak bergeming, pria itu tetap membelakanginya tanpa menoleh sedikitpun.
Perlahan Rubiah menyentuh lengan putranya, tetapi tangannya langsung di tepis oleh Hamdan.
"Pilih masuk penjara atau pergi dari rumah ini sekarang juga!"
Tangan Rubiah melemah mendengar ucapan Hamdan. Bibirnya tersungging, kini matanya melirik sinis pada Ayenir yang masih di ambang pintu.
"Kamu tidak mendengar ucapan Hamdan?" tanyanya mengejek pada wanita yang pernah dipilihnya.
Kini tangannya bersilang di depan dada, hatinya membuncah, senjata andalannya selalu mengikat Hamdan seumur hidup.
"Saya bicara dengan Anda Ibu Rubiah, bukan pada istri saya!"
Seketika rahang Rubiah jatuh. Apa????
"Benarkah Anda adalah orang yang melahirkan saya? Bawa buku nikah anda kehadapan saya, di rumah sakit mana anda melahirkan saya, mana foto bayi saya sebelum berusia tiga bulan??" Tantang Hamdan menunduk menatap wajah wanita yang hampir seumur hidupnya dia hormati.
Wajah Rubiah pucat pasi. Matanya yang menyorot tajam perlahan layu, pandangannya tak tentu arah layaknya orang yang tengah kebingungan.
Melihat ibunya membisu, tangan Hamdan terkepal kuat. Hatinya sungguh sakit, wanita yang di hormati nya ternyata orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, orang yang memisahkan dia dari wanita yang sangat dicintainya.
Dada Hamdan bergemuruh. Ingatan kebersamaan dan perpisahannya dengan Joya kembali memenuhi kepalanya sehingga membuat Hamdan Ambruk.
Ayenir buru-buru mendekatinya, membantu Hamdan berdiri, sementara Rubiah tidak bisa berkutik karena tiba-tiba gerombolan polisi menyerbu rumah mereka.
****
Rian meletakkan kotak beludru berwarna merah di atas meja, pria itu mendudukkan dirinya di atas sofa dengan helaan napas berat.
Tidak terlalu lama, ada seseorang yang ikut duduk di sebelahnya. Dermawan, Ayah Rian duduk di samping putranya di susul oleh Rindi sang Bunda.
"Ada apa Bang, kenapa tak semangat?" tegur Dermawan ikut menatap putra sulungnya.
__ADS_1
"Masalah hati, Ayah" Rian memejamkan matanya, menikmati tepukan ringan di pundaknya.
"Bang, Ayah ingin membahas masalah adik mu, sudah saatnya kita membicarakan ini bukan? Ayah merasa sangat bersalah pada kalian jika kita tidak segera meluruskan kesalahpahaman ini"
"Abang belum siap Ayah" Rian mengangkat wajahnya guna menatap wajah Dermawan yang juga sedang menatapnya.
"Sudah terlalu lama nak, sudah saatnya semua di luruskan" Rindi ikut membuka suara.
"Tapi Abang benar-benar belum siap, Yah, Bun"
Setelah mengatakan itu Rian meninggalkan kedua orang tuanya, dan memilih pergi masuk kedalam kamar. Melihat kelakuan anak pertamanya Dermawan dan Rindi merasa sedih.
Dermawan mengusap wajahnya dengan kedua tangan, sebagai seorang Ayah dermawan merasa gagal mendidik kedua putranya secara adil.
Rindi menepuk punggung suaminya guna memberi keterangan, Rindi juga merasakan hal yang sama, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sudah lima tahun Bun, sampai kapan kita mencurangi putra kita sendiri, Ayah takut Rion semakin jauh" lirih Dermawan yang membuat air mata Rindi ikut mengalir.
Sementara Rian terduduk menekuk lututnya di balik pintu kamar, perkataan Dermawan masih bisa di dengarnya. Membuat hatinya kembali di hantui rasa bersalah.
***
Joya sedang memandangi ponselnya.
Lama mengotak-atik ponselnya, Joya kaget melihat panggilan masuk dari Rion, lelaki yang sejak tadi mengusik hatinya tiba-tiba menghubunginya.
Tidak menunggu waktu, Joya langsung mengangkat panggilan dari ponselnya, tak seberapa lama wanita itu berlari keluar kamar dan buru-buru membuka pintu.
Joya menatap tidak percaya lelaki yang berdiri di depan gerbangnya. Memutuskan sambungan, Joya menghampiri Rion.
"Hai" sapa Joya canggung.
"Kamu dirumah sendiri?" Tanya Rion yang di angguki oleh Joya.
"Masuk yuk!" Ajak Joya.
"Tidak, kamu sendiri, saya juga sendiri. Nggak ada baiknya lawan jenis berdua-duaan"
"Tapi masak kita ngobrol di sini?"
"Tidak masalah, aku hanya sebentar"
"Kemana Jio?"
__ADS_1
"Di rumah sakit"
"Jio sakit?" Tanya Joya sedikit keras.
"Ya"
"Boleh aku melihatnya?"
Joya merasa sesak melihat anak seusia Jio sedang terbaring tak berdaya di brangkar rumah sakit.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Joya, selain tatapan matanya yang prihatin, melihat berapa banyak alat yang menempel di tubuh kecil itu.
Alasan Rion menemui Joya juga bisa dikatakan tidak jelas, hanya mengikuti suara hatinya, pria itu tidak secara langsung ingin mencari Joya dan membawanya ke rumah sakit, Rion hanya berserah pada takdir. Tetapi ternyata takdir sedang memihaknya dan memberinya sedikit kebahagiaan.
Alasan bahagianya juga tak tau, tapi Rion bisa merasa sedikit lega, ada seseorang yang bisa menemaninya di sunyi nya malam.
Joya jadi tau alasan Rion begitu menyayangi Jio, karena anak itu istimewa, ada penyakit bawaan yang Jio bawa sejak lahir.
Joya sendiri tidak mengerti mengapa hanya Jio dan dua asisten rumah tangganya yang di sini kemana kedua orang tuanya bahkan Rian.
"Kamu sendirian, hanya sama mereka?" Tanya Joya mendudukkan diri di samping Rion.
"Hanya mereka yang ku punya" jawab Rion ambigu yang membuat Joya bingung.
Seolah mengerti kebingungan Joya, Rion kembali menjelaskan.
"Kedua orang tuaku dan Bang Rian tidak tau jika Jio dirawat, yang mereka tau aku sedang berada di luar negeri untuk bisnis"
"Mengapa?" Rasanya Joya ingin bertanya demikian, tetapi tidak berani takut di pikir terlalu ikut campur.
Joya terhenyak saat suster memberi tahu Rion jika Jio menggigil, Rion buru-buru masuk kedalam ruangan tanpa menunggu lagi, Joya yang mematung diberikan baju khusus untuk masuk kedalam.
"Silahkan Bu, Putranya butuh kehadiran Ibunya juga, tidak cuma Ayahnya." ucap suster sembari menyerahkan baju berwarna hijau gelap tersebut.
Joya mematung beberapa langkah di belakang punggung Rion, pria itu memeluk putranya dengan sayang, bibirnya tak berhenti berkomat-kamit di atas telinga Jio yang masih gemetaran.
Saat kakinya hendak melangkah ucapan Rion membuat Joya kembali mematung.
"Andai aku Ayah kandung mu, dengan senang hati aku memberikan apa yang ada pada diriku, tapi aku tidak bisa, kamu bukan putraku, Aku dan kamu tidak memiliki kecocokan, tetapi bagaimana tes DNA waktu itu membuktikan bahwa kamu putraku? Salahkah Ayah membenci mereka yang mempermainkan hidup kita Ji??, Ayah lelah" Suara Rion terdengar seperti putus asa.
Kaki Joya tidak jadi bergerak maju, melainkan wanita itu melangkah mundur.
Hatinya sedang kocar-kacir ikut merasakan kekalutan pria yang sedang bersedih di sana.
__ADS_1
Joya memilih pergi, tak sanggup melihat lagi derita orang. Ternyata ujian hidupnya tak ada apa-apanya dibandingkan ujian pria itu.