Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Menawarkan pernikahan.


__ADS_3

Rion sedang bicara dengan dua orang yang sepertinya seorang Dokter. Pria itu terlihat mendengarkan begitu tekun penjelasan Dokter, mereka masih bicara di depan pintu saat Joya memelankan langkahnya.


Selagi memiliki kesempatan untuk memerhatikan nya Joya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pria itu tidak sama sekali seperti tampang-tampang bos dalam drama, dia sangat manusiawi, kelihatan ramah namun juga tampak tegas penuh wibawa meski masih sangat muda.


"Mba, Joya!" seru seseorang menyapa Joya dengan suara ceria.


Joya langsung berpaling dan ternyata itu Ayenir, mantan Madunya.


Joya yang baru mengerjap langsung di tarik Ayenir keruang rawat Hamdan, tetapi segera Joya menepis tangan Ayenir.


"Bukankah mba kerumah sakit karena ingin melihat kondisi mas Hamdan, tadinya aku senang banget berpikir mba berubah pikiran" Sendu Ayenir begitu mendengar penjelasan Joya tujuannya ke rumah sakit.


"Sudah ya, aku sudah mengatakan padamu, aku disini karena calon anak ku sakit. Kamu jaga mas Hamdan, Nye. Kini mas Hamdan menjadi tugasmu, bukan hak ku untuk membahagiakannya."


Ayenir sempat berpikir bahwa kehadiran Joya kembali akan membuatnya tega meninggalkan Hamdan, tetapi melihat mantan istri Hamdan yang sudah memiliki kehidupan sendiri, Ayenir jadi tak bisa meninggalkan Hamdan.


Tetapi mampukah dia bertahan dengan Hamdan, jika cinta Suaminya masih mutlak milik Joya?


****


Joya segera meninggalkan Ayenir, dan melangkah menuju ruang rawat Jio, saat kakinya sudah hampir sampai, suara Rion menghentikan ayunan kakinya.


"Jio sedang tidur, bisakah kita makan siang di kantin?"


Joya duduk berhadapan dengan Rion yang tengah sibuk dengan buku menu di hadapannya.


"Mau menikah dengan ku?" Tanya Joya to the points.


Rion tak menanggapi meskipun pria itu sempat menghentikan tangannya yang sibuk membalik buku menu.


"Mau menikah dengan ku?" Tanya Joya mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


Rion pada akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya langsung menatap Joya yang juga tengah menatapnya.


Joya tersenyum manis dan memiringkan wajahnya, matanya berkedip lambat, seolah menunggu jawaban dari pertanyaannya.


Joya nekat melamar duluan. Dia sudah sangat berpikir, dan ini adalah langkah terbaik menurutnya. Dari pada setiap hari dadanya terus berdebar-debar, pikirannya tidak mau beranjak dari sosok pria di hadapannya. Rion seolah membuat segala yang ada pada dirinya terkontaminasi, hati, pikiran dan segalanya bisa terus terhubung dengan Rion.


"Kenapa?" Rion masih saja menatap Joya.


"Aku ingin menjaga Jio bersama mu, mewujudkan keinginannya untuk menjadi bundanya beneran"


"Ini bukan keputusan kecil Joy, ketika aku telah mengikat wanita dengan yang namanya pernikahan, aku tidak akan melepaskan wanita itu, karena dalam kamus hidup ku menikah hanya untuk satu kali, dengan ataupun tanpa cinta, aku tidak akan menghendaki adanya perceraian"


Bohong sekali jika setiap perkataan sederhana pria itu tidak membuat jantung Joya terus berdebar. Jantung Joya terasa tidak sehat setiap kali mendengar kalimat dari Rion.


"Jadi, apa kau mau menikah dengan ku?"


Joya merasa dirinya seperti kupu-kupu malam yang tengah menawarkan harga diri, Joya pun dapat melihat wajah Rion yang sempat menegang.


"Aku belum mencintaimu." mata itu bagai bidik panah yang siap membidik tepat di relung hati Joya. Tapi ....


Untuk Rion sendiri begitu kaget dengan kalimat ajakan itu, baginya Joya adalah wanita yang masuk dalam kriteria wanita idamannya. Masalahnya Rion masih merasa kurang layak dan takut. Menikah juga bukan berpusat pada jawaban Iya, atau tidak. Menikah adalah sebuah tanggung jawab, Rion tau Joya adalah wanita yang pernah gagal sebelumnya, menerima Joya berarti dia harus bisa berusaha jauh lebih baik dari mantan suami Joya sebelumnya. Karena akan ada perbandingan tak kasat mata ketika perjalanan kisah rumah tangganya dimulai nanti. Kata 'dulu' pasti akan membayangi biduk rumah tangganya. Yang dulu begini, yang dulu begitu, itu akan tetap ada, dan Rion belum percaya diri bisa membahagiakan Joya, saat hidupnya sendiri masih tidak karuan.


****


"Langsung pulang, dan jangan kemana-mana" Pesan Rion saat Joya menolak untuk diantarkan pulang dari rumah sakit.


Joya memang tidak pernah sadar bagaimana Rion terus menjaga disekelilingnya, mengitarinya seperti Medan magnet, pria yang pastinya memiliki tanggung jawab yang tidak diragukan lagi, meskipun dia terlihat santai dan masih muda pikiran dan sikapnya sangat dewasa.


Joya yang di beri pesan seperti itu langsung mengangguk dan melambaikan tangannya pergi dari sana, untung beberapa saat ojek pesanannya datang, gegas Joya memakai helm dan duduk di boncengan belakang.


Sampai di rumahnya, Joya langsung berganti pakaian, gosok gigi, shalat isya dan langsung tidur sampai pagi. Bahkan Joya sampai lupa menghubungi pegawai kedainya. Ketika pagi ia mendapati ponselnya bergetar di atas nakas, Joya meraihnya dan perlahan bangun dari ranjang, sambil menyesuaikan dengan cahaya silau ponselnya Joya melihat ada cukup banyak pesan dan panggilan masuk dari Rian sejak semalam. Joya belum sempat memeriksa satu persatu saat pria itu malah menelponnya.

__ADS_1


Meski agak kaget Joya tetap mengangkatnya.


"Assalamualaikum" sapa ramah dari kakak Rion itu.


"Waalaikumsalam," suara Joya masih agak parau.


"Bisa nanti kita bertemu? Aku ingin membicarakan hal penting dengan mu" Bukannya merasa di ajak, Joya justru merasa seperti sedang di perintah oleh pimpinan komandan barak militer.


****


Rian mengirimkan pesan pada Joya, memberitahu jika dia sudah menunggunya di depan.


Rian terlihat memakai kemeja rapi yang lengannya di gulung sampai siku, pria itu segera melepas kaca mata hitamnya untuk tersenyum pada Joya. Sangat tampan dan harusnya bisa membuat dada Joya berdebar, tapi nyatanya tidak.


Joya dapat melihat Rian terlihat akrab dengan satpam perumahan, mungkin karena Rian sering berkunjung ke rumah Rion sehingga tak heran para satpam kompleks mengenalnya.


"Dari mana semalam, aku mencari ke kedai tidak ada, dan kerumah juga nggak ada" tanya Rian saat baru saja Joya duduk di sampingnya.


Joya cukup terkejut. "Aku kerumah sakit, melihat Jio" Joya tetap menjawab.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku?"


Joya langsung menoleh, Joya pikir ' untuk apa dia bilang?'


"Aku bisa mengantarmu"


"Ku pikir aku bisa sendiri, aku sudah terbiasa bepergian"


"Naik ojek sangat berbahaya Joya, apalagi malam-malam, bagaimana Rion membiarkan mu pulang dengan ojol?" Tiba-tiba nada bicara Rian menegas.


Joya mengerutkan dahi. Bagaimana Rian justru menyalahkan Rion? lagian pria ini terlalu berlebihan menurutnya.

__ADS_1


"Aku tidak suka."


Belum apa-apa Joya seperti serba diatur. Walaupun bukan sesuatu yang buruk, tetapi terlalu berlebihan jika naik motor saja dipermasalahkan. Joya pilih diam dan tidak mau lanjut membahasnya lagi, tiba-tiba Joya merasa tidak nyaman bersama Rian. Kenyataannya Rian terlihat seperti pria yang akan mengekang pasangannya.


__ADS_2