
Joya dan Rion saling tatap, sebelum akhirnya mereka saling tertawa. Rion bahkan sampai meringis karena bibirnya yang terasa perih saat di gerakkan.
"Maaf" Ucap keduanya bersamaan. Dan itu sukses membuat tawa mereka kembali berderai.
Joya bangun dari atas tubuh Rion, dan langsung membantu Rion untuk duduk. Rion juga tidak menolak, dan menyambut uluran tangan istrinya.
"Aku sudah siapkan pakaian, maaf jika tidak sesuai dengan selera Mas."
Rion mengangguk, lantas menghampiri baju yang sudah Joya siapkan.
"Aku tidak terlalu memperhatikan pakaian. Asal bersih dan pantas aku pakai kok" Rion langsung mengenakan kaos oblong putih yang Joya siapkan.
"Awalnya aku pikir akan sangat aman kita berada di negara ini, akan tetapi ternyata dugaan ku meleset. Bahkan kata seorang yang bekerja untuk ku, saat ini Bang Rian sudah menyusul kita." Rion mengucapkan dengan wajah tenang. Seperti tidak ada beban dalam Kalimatnya, terapi yang bisa Joya tangkap tidak begitu. Rion memendam kepedihan. Hanya saja terlalu pintar menyembunyikannya.
"Mas," Joya menarik tangan Rion, membantu lelaki itu mengobati bagian wajahnya yang masih memar dengan mengoleskan salep.
"Maaf ya, ini salah satu alasanku dulu sempat menjauhi mu, aku sadar wanita yang akan menjadi pendampingku akan mengalami tekanan seperti ini, hidupku sudah rumit, aku sempat ragu melanjutkan pernikahan kita, aku tidak tega melihat anak dan istri ku jadi tertekan karena diriku..." Rion bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya, saat tiba-tiba sosok yang paling dia hindari muncul di hadapannya.
"Apa kamu pikir, akan bisa kabur dan lari seperti ini? Pengecut!" Rian datang dengan dua orang yang mengawalnya.
"Liat lah, Joy! Bahkan pria yang kau pilih tak lebih dari seorang pengecut" bibir Rian mengeluarkan seringainya, menatap Rion mencemooh.
Ekspresi Rion mengelap. Tatapan iblis menyorot kearah Rian yang sedikit gentar karena tidak pernah melihat sosok Rion seperti ini sebelumnya.
"Kita sama-sama dewasa tidak seharusnya mengurusi masalah satu sama lain." ucap Rion penuh peringatan.
__ADS_1
"Begitu?" kilat emosi terbit di mata Rian.
"Ya. Karena hubungan kita tidak akan pernah seperti Kaka dan adik pada umumnya."
Rian mencengkram erat kerah Rion yang tersenyum sinis kearahnya.
"Pengecut" maki Rian.
"Terserah apa kata Abang. Tetapi setidaknya aku bukan pria pecundang, walau aku memiliki anak diluar pernikahan aku tidak menelantarkannya, memberikan haknya dan juga berusaha membahagiakannya dengan semampuku!" Rion mendorong tubuh Rian yang tiba-tiba menegang setelah kalimat yang di sampaikan nya.
"Dan satu lagi. Tidak melimpahkan kesalahanku pada orang lain yang tak tahu apa-apa." Setelah mengucapkan itu Rion merangkul pinggang Joya, menariknya rapat ke sampingnya dengan posesif.
Rian mengepalkan tangannya kuat ketika menangkap nada mengejek dan menyindir dari ucapan Rion.
Syok
Itu yang melingkupi seluruh hati Joya. Tak jauh beda dengan Rian yang langsung bungkam oleh perkataan yang baru saja Rion ucapkan.
Joya ikut menitihkan air mata mendengar ungkapan Rion yang merasa tidak pernah meniduri seorang wanita, apalagi menghamilinya. Meski sepahit apapun perasaannya, Rion tetap jalani, pada akhirnya kebenaran akan bekerja entah dengan jalan apapun, dan itu tidak luput dari kuasa Tuhan.
Bukan soal fitnah saja yang tengah membuat Rion sakit hati, akan tetapi ada skandal besar lain yang tengah menggeluti pikirannya. Salah satunya adalah informasi baru-baru ini yang Rion dengar dari salah satu rekan Ayahnya yang baru saja terlibat suatu bisnis dengannya.
Entah keceplosan, atau itu cara Tuhan untuk menunjukkan suatu kebenaran yang sudah lama tertutup rapat. Tetapi tentunya informasi itu tak mengubah lara hatinya namun justru menambahi perih hatinya, bagai di tabur garam, bahkan cuka di atas luka menganga.
Masih segar di ingatannya saat malam sebelum Ayahnya dan Rian menyergapnya bagai Sandra.
__ADS_1
Rion baru saja menemui rekan kerjanya yang bernama Hendro, pria paruh baya yang seumuran dengan Ayahnya Dermawan. Basa-basi pertemuan itu berlanjut hingga usai pembahasan kesepakatan. Tiba-tiba Hendro menanyakan hal yang pria itu sendiri terkejut setelah menanyakannya.
"Apakah gadis yang bernama Riri itu sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan Ayahmu? Dia gadis yang manis, beberapa kali menjadi tamu di kantor Ayah mu, aku sempat melihatnya, gadis yang sangat ramah dan menarik sepertinya, sayang karena istriku harus rutin cuci darah akhirnya aku memilih tinggal di Singapura menemani isteri berobat sampai sembuh baru setahun belakangan ini bisa kembali menetap di sini"
Awalnya pria bernama Hendro itu terlihat santai, akan tetapi melihat tatapan Rion yang berubah tajam, pria itu tampak gelagapan. Bahkan Hendro buru-buru pamit pulang, Rion yang hendak mengejarnya malah tiba-tiba di pukul pundaknya dari belakang. Dan sadar-sadar sudah di ruangan lembab yang tak berpenghuni.
"Aku menjauhi kalian, supaya kalian tidak perlu menghindar dengan kebenaran. Ku pikir jika aku pergi setidaknya Abang ataupun Ayah tidak perlu terus berpura-pura, Aku sudah menemukan kebahagiaan ku yang tidak pernah ku dapati selama aku kalian jadikan kambing hitam, aku sudah mendapatkan wanita yang kucintai dan memiliki putra yang cerdas, tolong ... lebih baik memang seperti ini"
Rian hanya bisa termangu, menatap keduanya datar, Rion yang biasanya datar dengan seorang wanita tampak lebih hangat kini, meskipun tidak terlihat romantis. Bagaimana Joya bisa percaya jika dia sudah jatuh cinta jika sikapnya terlihat biasa saja.
"Tolong Bang! Biarkan aku hidup damai bersama keluargaku, biar bagaimanapun kita tetap keluarga, selama ini aku sangat menghormatimu, juga perduli dengan perasaan mu, tolong jangan buat aku benar-benar kehilangan rasa hormat pada kalian semua"
Rian dapat melihat tatapan mata sang adik yang penuh ancaman. Rian tidak bisa menjawab atau membantah segala yang Rion tuduhkan, bukan tidak bisa. Tapi belum saatnya.
Rian menatap Joya lembut, tetapi tiba-tiba Rion menarik Joya secepat kilat kebelakang tubuhnya.
"Aku tidak suka ada pria yang terang-terangan menatap istri ku dengan tatapan lapar." Sangat berani dan jantan teguran yang Rion berikan. Dibelakang tubuh suaminya, Joya tidak tau harus bagaimana bereaksi, ini terlalu tiba-tiba. Tidak hanya pengakuan cinta Rion di depan Rian, tetapi juga ungkapan cemburu yang baru saja pria itu semburkan terus terang.
"Apa kamu benar-benar mencintai Joya? Yang kulihat tidak seperti itu." meski hatinya sedang dalam kehancuran yang sesungguhnya, Rian tak melewatkan kesempatan untuk membuat Rion terpojokkan.
"Haruskah kami berciuman panas di depan mata Abang? Kami tidak keberatan untuk melakukannya, tetapi bagaimana jika Abang ikut terbawa suasana? Pada siapa Abang akan melampiaskan? Apakah harus hadir Jio yang lain setelah ini?"
Telak!
Ucapan Rion membungkam mulut manis Rian. Wajah Rian memerah, pria itu memutar tubuhnya 180% dan melangkah pergi meninggalkan rumah yang baru saja ia datangi beberapa saat setelah hampir enam jam mencari informasi letak rumah itu.
__ADS_1