
Seorang pria paruh baya duduk di kursi putar, duduk menghadap jendela yang dari sana terlihat antrian kendaraan di jalan raya. Pria itu menatap jauh disana, dengan kepalan asap rokok yang sedang dia hisap.
Sudah tiga hari pria itu berada disini. Di hotel pusat kota, saat pria itu sedang tengelam dengan lamunannya, sepasang tangan lentik melingkar di lehernya.
"Dad, aku masih ingin disini." Rengek nya terdengar manja.
"Pergilah, bukankah aku sudah membayar mu!" suara itu begitu dingin, berbanding terbalik dengan wajahnya yang tampak lemah lembut.
"Tapi ..." sosok wanita itu muncul dibalik punggung, wanita yang begitu cantik dengan tubuh yang hanya dibalut oleh sehelai handuk. Tubuhnya sangat indah dan ranum, dadanya terlihat berukuran cukup besar, benar-benar ukuran yang banyak diinginkan para wanita, sayang dia adalah wanita bayaran yang hanya mencari materi dengan cara jual d*ri.
"Sahara, pergilah!" tekan si pria yang tak lain adalah Ayah dari dua lelaki yang bernama Rian dan Rion.
Si wanita tampak kesal dengan pengusiran Dermawan, tetapi hanya bisa menurut karena pekerjaannya memang sudah selesai.
Setelah kepergian wanita muda bernama Sahara itu, Dermawan mengusap wajahnya gusar. Sejak pagi pikirannya tidak tenang. Semalam dia mimpi bertemu dengan mendiang Riri, wanita yang pernah menjadi simpanannya.
Bertahun- tahun. Dermawan membayar orang-orang untuk menghapus semua informasi tentang kecelakaan yang menimpa wanita itu, agar keluarganya tidak tau hal yang sebenarnya. Kenyataannya Riri meninggal karena tekanan darinya, satu jam sebelum kejadian Dermawan sempat mendatangi Riri di kamar yang ditempati oleh wanita itu dan meminta menemuinya di lantai atas. Dermawan kesal karena wanita muda itu bercerita kasian kepada Rion yang harus menanggung segalanya, wanita itu tiba-tiba berubah pikiran untuk pergi dari kediaman mereka karena tidak mau Rion bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pria itu lakukan. Dermawan gelap mata, bayangan kehancuran keluarga membuatnya mengancam wanita yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Ancaman yang tentu begitu ampuh untuk menekan Riri.
Setelah menyemburkan ancaman, dermawan pergi dengan tergesa beberapa asisten rumah tangga adalah orang-orang nya, jadi Dermawan tidak perlu khawatir. Itu mengapa hingga kini kasus kematian Riri tidak diketahui dengan jelas selain hanya informasi jika wanita itu jatuh dari tangga.
Dermawan sangat mencintai Rindi, kehamilan Riri untuknya hanya sebuah kesalahan. Riri yang mengoda nya lebih dulu, memperkenalkan kembali daun muda yang segar yang kini justru membuatnya ketagihan untuk melakukan dosa itu.
*****
__ADS_1
"Kamu ..." suara Rubiah serak menahan tangis dan juga rasa kecewa. Dia berpikir yang menjenguknya adalah Hamdan, tetapi ternyata Ayenir.
Wanita itu duduk dihadapan Rubiah, menyodorkan bingkisan yang berisi makanan dan beberapa baju baru.
"Ibu apa kabar?" tanya nya lembut. Ayenir memindai penampilan Ibu mertuanya yang tampak menyedihkan, hati wanita itu terenyuh.
"Dimana Hamdan?" tidak terduga ternyata Rubiah memilih menanyakan Hamdan. Wanita itu menitihkan air matanya, tiba-tiba penyesalan mendera hatinya. Meskipun berkali-kali dia membodohi Hamdan, pria itu begitu mudah memaafkannya, Hamdan memiliki rasa bakti yang besar sampai banyak mengorbankan kebahagiaan.
Mengingat itu, Rubiah menyesal, betapa baik Hamdan padanya, Hamdan sangat berbakti, bahkan cinta dan sayang anak itu melebihi cinta seorang anak kandung. Mengapa setelah seperti ini dia baru sadar? Saat semua sudah terlambat dan semua tak akan pernah kembali sama.
****
Jantung Joya berdebar semakin cepat, saat melihat lelaki itu tersenyum manis padanya.
Deg
Deg
Dengan putus asa Joya menoleh kearah cermin melihat pantulan dirinya yang terlihat bodoh di cermin, wajah nya memerah tiba-tiba.
'Aku sudah gila' jeritnya dalam hati.
Pikiran Joya menerawang, tiba-tiba dia gugup takut kalau ada cela pada dirinya, pada tubuhnya pada wajahnya, bahkan pada ketiaknya sekalipun. Reflek Joya mengangkat tangannya memastikan bahwa gurun itu gundul tak sisa barang se akar rumput pun ada disana. Dan Joya lega saat melihat lipatan itu bersih mulus dan harum.
__ADS_1
Joya terus mengabsen seluruh bagian terperinci tubuhnya, sampai-sampai tidak menyadari sepasang tangan kokoh telah memeluk pinggangnya.
"Cantik."
Deg!
Suara berat yang khas. Perlahan tapi pasti detak jantung Joya kembali menggila. Dengan senyuman manis dan seindah itu, siapa yang dapat menolak pesonanya? Joya gelagapan saat suaminya memeluk nya begitu erat dari belakang, dengan keadaan pria itu yang tidak mengenakan pakaian di bagian tubuhnya yang atletis.
Joya sekilas menatap cermin dan menemukan bayangan Rion yang wajahnya pun memerah, itu membuat Joya terpaku pada pesona lagi dan lagi. Membuat Joya sadar jika pada dasarnya Rion memang pria pemalu berparas tampan yang membuatnya semakin jatuh cinta.
Wajah Rion mendekat ke arah wajah Joya, membuat Joya menutup matanya, tetapi hingga beberapa saat tidak terjadi sesuatu membuat Joya mengintip penasaran apa yang pria itu lakukan.
Joya membuka matanya perlahan dan menemukan Rion yang terus menatapnya dalam diam . Secara mendadak Rion mengendong tubuh Joya yang sempat kaku karena terkejut, Rion membaringkan tubuh Joya dengan lembut ke atas kasur. Rion ikut merangkak berada di atas tubuh Joya menumpukan tangannya di sisi kanan kiri kepala Joya.
Mata mereka saling mengunci, Joya menatap suaminya dengan sendu dan penuh rasa hormat. Melihat itu Rion menurunkan tubuhnya tanpa jarak, menempelkan kepalanya pada dada Joya yang berdetak kencang, Joya juga langsung memeluknya tanpa sungkan.
Tangan kecil Joya dengan pelan mulai bergerak menelusuri dada Rion yang tampak kekar. Merambat semakin jauh, sampai rasanya tidak mungkin untuk di ceritakan lebih jauh apa yang Suami - Istri lakukan jika tangan sang wanita menyentuh banyak hal pada tubuh lelakinya.
Ini cinta, cinta yang berbeda , yang tidak pernah Rion dapatkan sebelumnya. Dua manusia kesepian yang akhirnya di persatukan Tuhan dengan benang merah takdir.
Rion meraih tangan Joya untuk di arahkan keatas bibirnya, dalam hati Joya memuji kesabaran Rion, Rion tidak memaksakan kehendak yang dia mau meskipun Joya bisa merasakan sesuatu yang sudah ingin meledak disana.
"Wahai Joya istri ku, sekarang kebenaran atas diriku sudah kau ketahui, saat ini, sekarang, apakah kamu ridho jika aku meminta hak ku? Dan memberi nafkah batin untuk mu yang tidak dapat dipenuhi selama ini?" Suara itu begitu lembut, penuturan yang santun dan justru terdengar bagai syair di pendengaran Joya.
__ADS_1
"Mas ..." Air mata Joya mengalir, tidak menyangka di usia Rion yang muda dan bahkan belum berpengalaman tetapi ternyata memiliki pemikiran yang selembut itu. Itu bukan seperti kalimat permintaan, tetapi justru terdengar seperti ajakan yang memang sudah dinanti oleh Joya.