Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Kebenaran


__ADS_3

Ternyata tempat tinggal Joya dan Rion yang baru tidak hanya di datangi oleh Rian. Tetapi saat ini Rindi pun datang dengan derai tangis dan duduk bersimpuh di hadapan sang putra.


"Bunda tidak perlu minta maaf. Terimakasih sudah membesarkan ku selama ini, Aku mencintai Bunda, dulu atau sekarang, aku tetap pitra Ibu. Tidak perduli dari rahim siapa aku dilahirkan, Bunda tetap orang tua ku, aku tidak akan pernah lupa" Rion kemudian membawa tubuh Rindi untuk duduk di sofa.


"Nak," Entah kenapa, kali ini pembicaraan terdengar lebih serius. Rion ikut menatap Bundanya sekarang. "Bunda datang, karena ingin bertemu dengan mu, sudah lama, sejak kejadian malam itu, kita tidak pernah bicara lebih hangat seperti ini." Rindi menatap putra bungsunya lembut, mereka terlihat akrab, meski itu tidak sepenuhnya benar.


Tes!


Tes!


Air mata jatuh secara spontan pada pipi Rindi. Meskipun matanya tak berpaling sedetikpun dari menatap Rion di hadapannya, air mata itu jatuh berkali-kali walaupun Rion hanya menatapnya dalam diam.


"Awalnya Bunda memang berpikiran sama seperti yang kamu pikirkan, setelah gadis itu datang dan meminta pertanggung jawaban, Bunda percaya jika itu mutlak kesalahan kamu, Bunda merasa gagal menjadi orang tua."


Tatapan Rindi nanar, seolah kembali pada kejadian bertahun-tahun silam.


Rindi menatap putra keduanya dengan tatapan kecewa. Bagaimana tidak? Rion yang baru lulus sekolah menengah atas diberitakan telah menghamili seorang gadis.


Satu Minggu setelah kesepakatan dua belah pihak keluarga, Rindi mulai mencurigai gelagat putra pertamanya, sesekali Rian terlihat melamun dan mengumpat tiba-tiba. Rian seperti tengah memendam kegelisahan dan seperti ada pikiran yang membebani.


Waktu berlalu dengan cepat, Usia kehamilan wanita bernama Riri itu sudah bisa dilakukan tes DNA, untuk itu keluarga mereka dengan senang hati menunggu hasil. Namun, sehari sebelum hasil tes itu keluar, Rindi memergoki Rian sedang berdebat dengan suaminya, kedua pria itu tampak saling emosi. Bahkan sepertinya Rian sempat memukul wajah Ayahnya.


Dari sana Rindi memaksa keduanya berkata jujur, persoalan apa yang membuat keduanya terlibat perdebatan dan juga saling dikuasai amarah.

__ADS_1


"Ternyata gadis itu hamil anak Rian, Bun." Ucap Dermawan dengan tatapan tajam ke arah Rian. kala itu Rindi sempat melihat raut kaget dari putranya, namun Rindi pikir itu reflek alami karena Rian terlalu terkejut Ayahnya membongkar ke bobrokannya.


Sangking kagetnya dengan kabar tersebut, Rindi sampai terduduk lemas di lantai. Dermawan mendekati istrinya dan bersimpuh di hadapan Rindi. Dermawan meraih tangan istrinya yang dingin, membawanya masuk dalam dua tangan yang saling mengatup.


"Kita hanya perlu merahasiakan ini Bun. Saat ini Rian baru saja menitih karir, kita tidak mungkin merusak namanya dan membuat semuanya sia-sia " Dermawan menatap istrinya penuh permohonan.


"Sampai kapan kita merahasiakan hal besar seperti ini, Ayah?" meski pertanyaan itu di tujukan kepada Suaminya, tetapi Rindi memfokuskan pandangannya pada Rian.


"Beri waktu sampai Rian siap mengatakan semuanya, Bun." Kata Rian dengan tangan terkepal kuat.


Kebenaran yang Rindi ketahui tak mengubah apapun. Karena Rindi terlalu takut pada kemungkinan buruk yang terjadi jika sampai dia jujur pada Rion.


Sampai bertahun-tahun pun Rindi mempercayai bahwa Jio adalah putra Rian, karena wajah mereka bagai pinang di belah dua. Hanya saja kenyataan itu ternyata patah beberapa menit yang lalu, saat Rindi memergoki Rian keluar dari rumah yang saat ini di pijaknya.


"Ayah sialan!!!! hu..huhu..hu..hu" tubuh Rian terguncang dengan lutut yang jatuh ke tanah.


"Drama apa yang ku mainkan ini Tuhan .... Dia membenciku karena hal yang tidak ku lakukan." Rian menangis sesenggukan di samping pintu mobilnya. Sampai beberapa saat Rian masih menunduk sambil sesekali mengusap pipinya. Sampai pada saat Rindi meletakkan telapak tangannya di pundak pria itu.


Rindi dapat melihat bahwa Rian sangat terkejut melihatnya. Anak pertamanya itu sampai membuka bibirnya lebar.


Satu yang Rindi ketahui. Dermawan benar-benar lelaki yang tidak pantas menyandang gelar sebagai seorang Suami sekaligus Ayah. Lelaki itu selingkuh tetapi tidak berani bertanggung jawab. Menekan beberapa pihak demi keuntungannya sendiri.


Ya Benar. Rian adalah pengacara. Tetapi di hadapkan dengan dua pilihan sulit dia tidak bisa mengelak.

__ADS_1


Dibenci Rion dan Bundanya, atau melihat sang Bunda yang akan patah hati karena mengetahui perselingkuhan suaminya dan akan diceraikan.


Rian sangat menyayangi Rion, dan itu tulus. Jika bisa dia memang ingin mengakui jika dia adalah Ayah biologis Jio, tetapi melihat keadaan Jio dia tidak mau berbohong. Tuhan tau niatnya, tapi belum ada jalan untuk membongkar semuanya, terlebih beberapa kali tekanan darah Bundanya kambuh. Rian terlalu takut kehilangan wanita yang sudah melahirkannya itu. Jangankan di tinggal mati, untuk melihat kesedihan sang Bunda saja Rian tidak sanggup.


Rion menoleh pada Rian yang berdiri diam seperti patung di ambang pintu. Ini seperti adegan drama yang mengharukan. Rindi berdiri di antara dua putranya yang memiliki paras tampan dan menakjubkan.


Bertahun-tahun lamanya dua orang itu saling menyimpan kebencian dan bertahan dengan luka hati masing-masing. Dan sekarang, keduanya tiba-tiba saling menatap iba satu sama lain.


Joya menangis haru di tempatnya, tetapi tangisan itu mereda dengan cepat, dia melihat Jio datang dengan di gendong suster mendekat ke arah mereka.


Tidak hanya Joya, tetapi kedua lelaki itu langsung menatap kearah Rindi. Mereka jelas khawatir dengan emosional Rindi, takut dengan reaksi Bunda mereka, karena ternyata Jio bukanlah cucunya seperti yang selama ini wanita itu pikirkan, tetapi justru anak suaminya dari wanita lain.


Jio menatap Rindi yang selama ini dianggap sebagai neneknya, lalu mulai membuka bibir mungilnya. "Selamat siang Nenek." Suara Jio seperti sebuah cahaya terang untuk hari yang gelap. Sayangnya, Rindi tidak menjawab, bahkan tidak berekspresi apapun.


Perawat yang mendampingi, akan semakin membawa Jio mendekat, tetapi Joya langsung meminta perawat segera membawa Jio kembali kekamar, dengan alasan Jio tidak boleh terlalu lama menekuk badannya untuk di gendong.


****


Rion menyusul istrinya ke dalam kamar setelah hampir tiga jam pria itu meninggalkan rumah bersama Rian dan Rindi.


Joya menatap sosok Rion di cermin. Pria itu duduk di tepi kasur, tangannya membuka kancing kemeja yang dikenakan, melepas dari badannya, membuat tubuh atletis nya terpampang begitu saja. Rion melempar senyum ke arah Joya, dan Joya membalasnya dari pantulan cermin.


Joya pikir Rion akan segera berlalu kekamar mandi, ternyata pikirannya salah. Setelah menanggalkan kemejanya pria itu mendekati Joya yang sedang menyisir rambutnya. Joya yang terkejut hanya mematung saat tiba-tiba Rion mengambil sisir di tangannya dan mengantikan pekerjaannya untuk menyisir rambut.

__ADS_1


"Aku tidak tau harus senang atau sedih, Joy. Aku tidak tau."


__ADS_2