
Mas ..." Air mata Joya mengalir, tidak menyangka di usia Rion yang muda dan bahkan belum berpengalaman tetapi ternyata memiliki pemikiran yang selembut itu. Itu bukan seperti kalimat permintaan, tetapi justru terdengar seperti ajakan yang memang sudah dinanti oleh Joya.
Rion menghapus air mata Joya dengan Ibu jarinya, seulas senyum hangat muncul di bibir lelaki 23 tahun itu.
Matanya tampak bercahaya dari tempat Joya melihat, seolah sedang berbinar di bawah cahaya lampu.
Joya mengangguk saat Rion menatap kancing baju tidur yang dia kenakan, senyum Rion langsung mengembang saat itu juga. Tangannya hampir saja menyentuh anak kancing saat tiba-tiba suara ketukan pintu beruntun membuat lelaki itu menoleh.
"Pak Rion, Bu Joya, Jio .... Tolong Jio!"
Suara dari arah pintu membuat Joya dan Rion sama-sama bertukar pandang, sebelum keduanya sama-sama melompat untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka wajah panik perawat menjadi pemandangan pertama.
"Jio-Jio kejang-kejang."
"Apa??" pekik Joya dan Rion bersamaan. Secepat kilat Joya dan Rion berlari ke kamar Jio. Disana mereka melihat Dokter yang sedang melakukan tindakan.
"Apa-apa yang terjadi?" bata Joya.
"Bu, panas Jio sampai 41,1 derajat Celsius." Kepanikan terjadi begitu saja, seperti waktu yang berjalan sangat cepat bagi mereka saat tubuh kecil itu terguncang hebat.
Rion juga langsung memegangi tubuh Jio yang kejang-kejang, mata anak itu mendelik, dan sudah ada sesuatu yang mengganjal bibir Jio agar anak itu tak sampai mengigit lidah.
"Jio ..." lirih Joya sambil menitikkan air mata saat menatap dada anak itu terguncang, tangannya mengenggam erat dengan bibir membiru.
Jio akan segera dibawa ke rumah sakit, saat tiba-tiba suara napas tersendat-sendat itu terdengar, Jio sudah tidak lagi mendelik, tetapi mata anak itu kehilangan hitamnya, dadanya terus berbunyi dan berdenyut cepat, tubuhnya lemas dan memucat.
Rion mengendong tubuh ringkih Jio dalam dekapannya, tapi langsung mematung saat tiba-tiba dari hidung Jio mengeluarkan darah.
"Dokter." Rion membalikkan badannya dan menunjukkan apa yang dialami Jio.
"Tolong baringkan!" perintah Dokter yang langsung memeriksa kembali tubuh Jio begitu Rion sudah membaringkannya.
Joya dan Rion masih dapat melihat kedutan di leher anak laki-laki empat tahun itu, tetapi kenyataan pahitnya kepala Dokter itu justru mengeleng.
__ADS_1
"Dokter," lirih Joya saat mendengar ucapan Dokter itu.
Seperti mimpi, ketika bahkan Dokter sudah mencatat waktu kematian anak tak berdosa itu.
Joya memalingkan wajahnya untuk menatap Rion. Lelaki itu tampak begitu lemas, bahkan Rion seperti tidak merespon apapun.
Joya membuang napasnya dan memberanikan diri untuk mendekati sang suami.
"Mas, Jio sudah sembuh, dia sudah tidak merasakan sakit lagi." lirih Joya mengenggam tangan Rion.
Tidak ada reaksi apapun dari Rion beberapa saat, tetapi beberapa detik kemudian, kepala Rion tampak mengangguk, sebelum akhirnya pria itu mendekati tubuh kecil yang kini sudah tak terbujur kaku.
*****
Pada akhirnya Jio di makamkan pagi harinya. Kali ini Dermawan datang dengan wajah syok bukan main. Tetapi tak satupun dari putranya memperdulikannya, Rian dan Rion memilih acuh dan pura-pura tidak tahu menahu.
Dermawan bahkan tidak menyadari jika sepanjang pemakaman istrinya tidak ada, dasar laki-laki brengsek.
Rian menarik tangan Rion sebelum pria yang kini tampak kusut itu hendak naik kedalam mobil.
Rian menatap Ayahnya yang masih berjongkok di atas gundukan tanah yang bertuliskan nama Jio diatasnya. Sengaja hanya Jio karena semua tau Ayah kandung Jio tidak mau mengakui keberadaan anak itu.
Kemudian saat melihat di dalam mobil Rion, Rian melihat sosok Joya yang kini sedang memperhatikan mereka. Joya mungkin tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi Joya bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.
"Jangan sia-siakan Joya, I,on. Seperti janjimu kemarin, kamu harus menempati nya. Jadilah pria yang bertanggung jawab. Jangan melihat bagaimana Ayah kita, tetapi lihatlah akibat yang ditimbulkan Ayah karena kebodohannya. Ambil pelajaran itu, kita melihat bunda tersakiti seolah hati kita tercabik-cabik, istrimu kelak adalah seorang Ibu dari anak-anak mu, jaga dia, cintai dia sebagaimana kita mencintai wanita yang telah melahirkan kita."
Rion sempat speechless dengan kalimat-kalimat yang disampaikan Rian, tetapi akhirnya dia mengangguk.
Mereka saling berjabat tangan, Rian membukakan pintu mobil untuk Rion, Rion tidak menolaknya, Rion masuk dan segera duduk di samping Joya.
"Joy, titip adikku ya."
Joya tersenyum hangat, sementara Rion hanya diam, ada penyesalan yang memang dirasakan oleh hatinya ketika mengingat di masa lalu pernah membenci Abangnya.
Mobil mereka meninggalkan pemakaman pun juga seseorang disana yang tampak menunduk dengan segala keresahannya.
__ADS_1
Rubiah menatap sendu wajah Ayenir yang berada di hadapannya.
"Ada yang layak diberi kesempatan kedua, tapi ada yang tak layak diberi kesempatan kedua dan hanya diberi maaf. Ku pikir mas Hamdan adalah orang yang layak diberi kesempatan kedua, tetapi Mba Joya tidak mau, dan kini mba Joya sudah menikah." Terang Ayenir ikut merasa sedih karena Hamdan.
Terlihat acuh, tetapi kebenarannya Rubiah begitu khusyuk mendengar cerita menantu nya itu. Hatinya tersentuh, meskipun pernah begitu membenci Ayenir tetapi ada rasa haru ketika Ayenir justru masih sudi menjenguknya.
"Aku akan tetap meninggalkan mas Hamdan jika aku sudah siap, Bu!"
***
Rion beranjak ke kamar Jio menyusul istrinya. "Apa yang kamu kerjakan?" tanya Rion yang mengejutkan Joya di dalam kamar Jio.
"Mas!" Joya mengelus dadanya karena terkejut. Tadi nya Joya berniat akan membereskan kamar Jio dari berbagai macam hal yang bisa membuat mereka terbayang-bayang jika Jio masih ada. Joya ingin sedikit mengubah isi kamar, tetapi lupa jika Rion menyusul.
Tidak ada pengajian apapun. Mengingat mereka tidak kenal banyak orang di negara ini.
"Maaf mengejutkan mu" lirih Rion yang di balas Joya dengan senyum tipis.
Rion juga ikut tersenyum. Rion mulai memiliki perasaan pada Joya, mungkin cinta itu sebenarnya sudah tumbuh sejak pandangan pertama tetapi Rion tidak begitu pandai menilainya.
Tidak banyak yang Rion tahu tentang Istrinya, selain Joya adalah seorang janda. Tanpa Rion tau cerita perjalanan cinta Joya sampai menjadi seorang janda. Rion sendiri juga tidak ada niat mencari tahu lebih banyak lagi, karena takut mengingatkan Joya pada kenangan buruk masa lalu. Yang penting bagi Rion adalah dia bisa menerima Joya apa adanya.
Cup!
Mata Rion membulat saat bibir lembut tiba-tiba mendarat di atas bibirnya.
Keduanya saling memaku pandang, sampai pada akhirnya Joya menurunkan baju tidurnya melalui bahu.
"Gigit aku agar kecemasan yang ada pada dirimu mereda" bisik Joya membangkitkan gairah yang semalam sempat menggelora. "Jio sudah tenang disana tidak lagi merasakan sakit, kini mas bisa membagi beban denganku. Sentuh aku, Mas"
Tubuh Joya kembali melayang seperti semalam, bedanya kini keadaannya sudah lebih terbuka. Begitu punggungnya menyentuh kasur, tubuh Rion juga langsung menekan dirinya.
Bukan, bukan Rion yang agresif melainkan Joya, dengan cepat Joya berguling kesamping dan berpindah posisi menjadi yang di atas.
"Aku akan melakukan untuk mu!"
__ADS_1
Hanya itu hal terakhir yang wanita itu ucapkan sebelum tangannya dengan lincah membuang segala penghalang pada tubuhnya sendiri maupun pakaian yang dikenakan suaminya.