Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Ketegasan


__ADS_3

Perdebatan antara Hamdan dan Rubiah terhenti begitu tiba-tiba dari pintu masuk tiga sosok yang membuat Hamdan terdiam.


"Kenapa harus orang tua dari pihak perempuan yang selalu khawatir dengan rumah tangga anaknya? Takut anaknya nggak makan, takut anaknya ingin sesuatu nggak kebeli. Kenapa nggak orang tua dari pihak laki-laki yang khawatir? Takut anaknya ngak bisa ngemban tanggung jawab, tidak bisa menafkahi Istrinya?!


Kenapa selalu berpikir menantu akan menghabiskan duit anaknya, dan selalu jadi penghasut. Bukankah istri bahagia rejeki akan lancar?" Serentelan pertanyaan Ayah mertuanya membuat Hamdan membeku.


" A-Ayah!" bata Hamdan menyapa. Di tatapnya sendu Joya yang di himpit badan kedua orang tuanya.


"Anda, jangan ikut campur!" Rubiah membuka suaranya.


Mama Joya tertawa." Itu yang seharusnya anda lakukan!"


"Apa maksudmu?" tantang Rubiah.


"Cukup, Bu!" Hamdan mencegah Ibunya yang sudah sangat tidak sopan pada orang tua istrinya.


"Mereka harus tau, kalau anaknya nggak becus jadi istri, mereka harus tau kalau anaknya cuma bisa menghabiskan uang kamu!" Seru Rubiah tak tau malu.


"Menghabiskan uang suami itu memang tugas istri Bu, dan sebagai seorang suami sudah menjadi tugasnya memberikan yang terbaik untuk istrinya, Hamdan, meminta putriku untuk di jadikan istri, harusnya Hamdan tau meminta Joya dari saya berarti mengantikan peran saya untuk memenuhi kebutuhannya dan memastikan Joya bahagia seperti saat kami merawatnya!" tegas Papa Joya.


"Anda pikir putraku budak yang harus memenuhi segala keinginan putrimu ha..?"


Kedua orang tua Joya mengeleng miris.


"Bu, tolong, jangan ikut campur!" Iba Hamdan.


"Ceraikan saja Joya Hamdan, sudah mandul, tak tau diri pula, lagian kini Ayenir sedang mengandung, jauh lebih membutuhkan perhatian mu ketimbang Joya yang manja itu"


Semua orang di ruangan itu memusatkan perhatiannya pada Rubiah, mereka seolah tidak percaya ada seorang Ibu yang tega membiarkan rumah tangga anaknya hancur.


"Jangan khawatir, kami juga tidak rela anak semata wayang kami memiliki suami melempem seperti Hamdan." Sinis Ayah Joya.


"Ayah..!" Hamdan menjatuhkan lututnya di hadapan Ayah mertuanya.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu Hamdan?" sentak Rubiah, meraih tangan Hamdan dan di tariknya untuk berdiri.


"Sombong sekali kalian!" Hardik Rubiah. Matanya menyorot marah pada Joya.


"Jangan bawa apapun dari rumah ini!"


Joya menoleh, wajah sombong Ibu mertuanya terpampang di sana.


"Segala yang di beli mengunakan uang Hamdan. Aku tidak ridho, kamu membawa barang yang dibeli oleh putraku!" Sargah Rubiah menatap angkuh semua orang.


Tawa orang tua Joya pecah.


"Bu, Ibu tidak perlu khawatir Joya akan membawa barang yang berada di rumah ini, itu tidak akan terjadi, semua akan tetap utuh pada tempatnya, karena semua ini di beli mengunakan uang Ayah seutuhnya, tidak ada sepeserpun uang mas Hamdan!" Joya membuka suaranya.


Rubiah malah mendelikan mata, bibirnya mencabik seolah-olah meledek.


Hamdan hanya bisa menunduk tak berkutik, tidak bisa memilih antara Ibu dan keluarganya.


"Kamu harus mengambil keputusan Hamdan. Percaya sama Ibu mereka akan menyesal sudah membanggakan wanita mandul seperti Joya"


Joya yang di sebut namanya hanya mampu memejamkan matanya rapat, meratapi nasibnya yang mendapatkan Ibu mertua kejam seperti itu.


Sementara kedua orangtuanya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak mendebat karena mereka sadar menghadapi orang gila tidak harus menggila juga.


"Maaf, Bu, kali ini aku nggak bisa menuruti keinginan Ibu. Aku nggak mungkin bisa menceraikan Joya," jerit Hamdan.


"Maaf, tolong jangan bertengkar di rumah Saya, dan untuk Anda! Joya menatap Ibu mertua nya yang akan menjadi mantan. Joya menyeka air mata yang sempat jatuh.


" Saya berharap, perempuan yang anda pilihkan untuk mas Hamdan adalah wanita yang tepat untuk mas Hamdan. Perempuan yang bisa mendampingi mas Hamdan dengan sangat baik" Joya melirik Ayenir yang hanya menunduk. "Melebihi kesanggupan saya yang terhalang restu" Joya hampir tak kuasa menahan tangis, satu isakan lolos dari bibirnya, mencoba mengigit bibirnya kuat-kuat. Berusaha untuk melanjutkan kalimatnya sampai selesai. "Sepertinya apa yang saya abdikan untuk mas Hamdan tidak bermakna untuk Anda, sepertinya ketulusan cinta saya tak cukup untuk menjadi menantu Anda dan sepertinya karena saya sudah merasa kalah, pada akhirnya saya memilih mundur"


"Sayang" Hamdan terperangah mendengar ucapan Joya.


"Silahkan kalian tinggalkan rumah ini sekarang juga!" Joya berkata tegas.

__ADS_1


Ibu Hamdan mengamuk, ketika dengan terang-terangan Joya mengusir mereka.


Joya yang sudah terlampau muak memang sudah menceritakan semua pada kedua orang tuanya. Sebagai orang tua yang hanya memiliki seorang putri, rasa sakit hati dan kecewa tidak bisa mereka tahan.


Kini , Tanpa rasa kasihan mereka mengambil alih semua yang sudah di berikan pada suami putrinya. Suami tak berguna seperti Hamdan.


Tidak ada gunanya lagi untuk Joya mempertahankan bahtera rumah tangganya. Pengorbanan dua tahun ini nyatanya sia-sia belaka. Bahkan Hamdan akan segera mendapatkan seorang anak dari madu yang di hadirkan Ibunya.


Kini dia sedang berada dikamar bersama Hamdan yang sedang membereskan pakaiannya.


"Apa nggak ada lagi yang bisa mas lakukan agar adek mau mempertahankan rumah tangga kita? Mas mau menceraikan Ayenir, Dek. Semua akan Mas lakukan demi keutuhan pernikahan kita," ucap Hamdan sambil menatap Joya yang hanya diam.


"Kaca yang telah pecah selamanya tak akan bisa utuh lagi. Serpihannya justru melukai saat kita memaksakan untuk menggunakannya lagi."


Pandangan Hamdan kian buram, seperti ada seseorang yang menuangkan air di matanya sampai tak berhenti mengalir.


Dia masih menangis, terisak-isak tanpa harapan lagi. Satu-satunya sosok yang jadi penyemangat, penguat, penuntun, pusat hatinya kini telah membuangnya, dia tak akan Sudi memeluknya lagi seperti dulu.


Hamdan masih tak tau harus apa. Ia tak pernah menyangka akan kehilangan perempuan yang begitu ia cintai selama ini, seorang wanita yang sudah di perjuangkannya dengan cara tak mudah. Rasanya seperti mimpi kala Joya menuntutnya untuk menjatuhkan talak. Mengapa keinginannya untuk berbakti justru membawa malapetaka seperti ini?


"Peluk Mas, Joy;" Iba Hamdan dengan bibir bergetar.


Sungguh seluruh dunia akan tau seberapa besar cinta mereka antara satu dengan yang lain, akan tetapi takdir tak memihak kepada mereka, tidak hanya terhalang restu Ibu Hamdan, kini kehadiran Ayenir dan calon anak Hamdan umpama jurang yang memaksa mereka terhalang jarak dan tidak bisa mengapai utuh kembali meski ingin.


Joya memenuhi permintaan Hamdan, menganggap ini adalah kebersamaan terakhir mereka. Hamdan juga sebenarnya akan langsung terbang ke Jakarta untuk dua hari kedepan karena pekerjaan.


Sebenarnya Joya tidak tega mengusir suaminya di saat yang tidak tepat seperti ini, akan tetapi dia harus tetap tega.


Sementara itu. Meskipun cukup lama Joya memeluknya, Hamdan belum puas menuntaskan perasaannya. Sampai kapan pun, Hamdan tak akan pernah merasa puas, sebab tak ada yang benar-benar dapat ia ikhlaskan. Ini hanyalah sebuah hiburan yang disuguhkan oleh Joya. Mungkin suatu hari nanti pundak ini akan benar-benar tak bisa ia miliki lagi. Joya adalah sosok perempuan yang akan ia kagumi sepanjang perjalanan hidupnya.


"Hati-hati, Mas. Safe flight, ya!" bisik Joya.


Hamdan di bantu Joya untuk yang terakhir kalinya menyiapkan keperluannya untuk pergi keluar kota. Dua koper terpisah, dan sudah di bagi oleh Joya. Ya, yang terakhir, karena ini hari terakhir Hamdan berada di rumah ini, dan mungkin juga untuk Joya.

__ADS_1


__ADS_2