
Joya memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya setelah memilih pergi dari Hamdan, keputusan Joya untuk menepi ternyata tidak salah, wanita dengan rambut sebahu itu merasa lebih bahagia.
Berbeda dengan Joya, hidup Hamdan kacau balau.
Tidak hanya lelah karena tuntutan dari ibunya, Hamdan juga lelah dengan ketidak berdayaan nya.
Malam hari selalu di habiskan Hamdan dengan melamun. Esok dia akan kembali ke kota tempat tinggal yang kini di sewa nya untuk Rubiah dan Ayenir. Tempat tinggal yang masih di lingkungan rumahnya bersama Joya.
"Kangen banget sama istri!" celoteh kawan Hamdan yang bernama Jali.
"Iya nih, anak ku juga sudah nelpon terus, kangen Ayah katanya" Eko yang duduk di hadapan Hamdan ikut menimpali.
"Aku juga bakalan senang kalau segera dapat momongan, istri juga sudah siap kayaknya jadi Ibu" Mail, pria yang duduk tepat di samping Hamdan ikut bersuara. Mereka berempat adalah kawan satu tim, mereka mewakili perusahaan untuk datang ke kota besar ini.
Hanya Hamdan yang sedari tadi memainkan gelas kopi nya.
"Bagaimana dengan mu, Dan? Melamun Mulu, nggak rindu bini?" Mail menyenggol lengan Hamdan.
Hamdan hanya menatap ketiga temannya sebelum mengangguk. Sungguh pikirannya melayang buana, sampai saat ini Joya nya belum mau menjawab panggilan telepon darinya.
Hamdan berharap, perpisahan mereka ini hanya sementara, mengharap Joya mengusir dia, Ibu dan madunya karena kesal. Dan pernikahan mereka masih bisa di selamatkan.
"Kenapa sih, Dan?" Eko menepuk Hamdan, seraya bertanya dengan serius.
"Lagi ada masalah sama istri?" tanya Jali.
Kali ini ketiga temannya menatap Hamdan serius. Hamdan menghela napas dalam sebelum mengangguk.
"Istri ku marah, mengusir ku dari rumah dan sepertinya dia benar-benar marah karena sampai sekarang telpon dariku tak dihiraukannya"
"Ah, masalah serius rupanya?"Jali menimpali.
"Aku menikah lagi" jujur Hamdan.
"Gilaaa!! Untuk menghidupi satu istri dengan gaji kita ini sudah mepet, apalagi di bagi dua?" Jali sekali lagi menanggapi ucapan Hamdan.
Kedua teman Hamdan mengangguk setuju perihal ucapan Jali.
__ADS_1
Hamdan pada akhirnya menceritakan kemalangan rumah tangganya, dan ketiga temannya tak ada yang menyela ceritanya sampai Hamdan selesai.
Jali menepuk pundak Hamdan, begitu Hamdan menyelesaikan ceritanya.
"Tidak mudah memang Dan, tapi, kamu sudah salah sejak awal, untuk mempertahankan istri pertama mu itu akan lebih menyakitinya, sedangkan untuk melepaskan yang kedua tidak mungkin, karena saat ini sedang hamil. Satu-satunya cara adalah membebaskan istri pertamamu, dia juga berhak bahagia!" Nasehat Jali.
"Aku sangat mencintai istri ku, Li!" bantah Hamdan.
"Justru itu, mempertahankannya justru semakin membuatnya menderita, kamu sendiri bilang, jika ibumu tak menyukainya, untuk apa memaksakan kehendak mu, jika bahkan kamu tak mampu memberikan kebahagiaan untuk nya?" Dari ketiga temannya. Jali tampak yang paling perduli dengan rumah tangga Hamdan. Sementara yang lain hanya ikut mendengarkan.
Hamdan benar-benar merasa bersalah, tak di pungkiri ucapan Jali ada benarnya, akan tetapi untuk melepaskan Joya, Hamdan tidak rela, dan tak akan pernah rela.
Cintanya sangat besar pada Joya, wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sulit bagi Hamdan untuk merelakan Joya lepas darinya. Biarlah dia terkesan egois, Hamdan benar-benar tidak mau berpisah dengan istrinya itu.
Sementara itu, Seorang wanita sedang kebingungan di tempatnya mengantri minuman. Karena begitu tiba gilirannya, dan minuman pesanannya sudah tersaji, Joya tak menemukan dompetnya di dalam tas.
'Aduh, bagaimana ini?' Bingungnya bertanya dalam hati.
"Matcha jumbo, sekalian dengan miliknya" Saat Joya akan mengatakan permohonan maafnya, seorang pria mengatakan pesanannya dan berbaik hati membayarkan punyanya sekalian.
"Dompetnya tadi saya yang bawa, kebetulan saya tadi tinggal ke toilet" ucapan pria asing itu terdengar seperti membela Joya, yang membuat Joya sampai harus memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah sang pria.
Ibu itu hendak kembali bersuara, tetapi minuman pesanan pria asing itu sudah ready dan dengan cepat pria itu merangkul bahu Joya untuk dipeluknya.
"Ayo sayang!" katanya yang membuat Joya terbelalak.
Begitu mereka menjauh dari kedai minuman itu, sang pria meninggalkan Joya begitu saja.
Meninggalkan Joya dengan jutaan tanda tanya.
Joya menatap bungkusan di tangannya, tidak hanya ada minuman pesanannya saja, tetapi satu minuman pria asing itu masih ia pegang.
"Makasih" ucapnya pada orang yang sedang lalu lalang.
...****************...
__ADS_1
Malam ini hujan sedang menguyur sebagian besar kota dimana Hamdan tinggal. Satu jam yang lalu Hamdan sampai. Kini Hamdan sedang berada di kamar rumah kontrakannya.
"Kopi nya mas!" Tiba-tiba Ayenir masuk dan meletakkan secangkir kopi di meja plastik samping ranjang.
"Hmmmm" gumam Hamdan sambil membuka matanya. "Ngapain berdiri di sana, duduklah!" titah Hamdan.
Hamdan memang tidak mencintai wanita ini, tetapi biar bagaimanapun wanita ini sekarang sedang mengandung anaknya, membuatnya tidak tega terus membencinya.
Ayenir yang di suruh Hamdan duduk, tidak bisa menolak, dan memberanikan diri duduk di samping suaminya.
Gadis itu hanya menunduk dan memilih dasternya gugup.
"Apa dia baik-baik saja?" Ayenir terperanjat saat merasakan tangan Hamdan menyentuh permukaan perutnya yang tertutup daster.
"I-iya mas" jawab wanita itu terbata.
"Kamu sendiri, bagaimana?" basa-basi Hamdan pada istri keduanya.
"Alhamdulillah saya baik!"
Kini suasana kembali hening. Hamdan juga hanya sesaat menyentuh perut wanita itu, hanya untuk memberi perhatian kecil terhadap calon anaknya.
"Mas, maafkan saya!" tiba-tiba Ayenir meminta maaf. " Saat itu saya benar-benar tidak tau jika mas Hamdan begitu mencintai Mba Joya"
Hamdan tau kemana arah pembicaraan Ayenir, dia membiarkan Ayenir mengutarakan perasaannya. Namun, belum sempat wanita itu bicara lebih banyak. Ketukan pintu dari Rubiah membuat wanita itu gelagapan.
"I-iya, Bu?" Hamdan bisa melihat wajah itu berubah pucat saat mendengar suara ibunya. Karena kaget kah? Atau takut? Tapi Ayenir adalah wanita pilihan ibunya, wanita yang beruntung bisa di terima Rubiah dengan tangan terbuka. Pikir Hamdan.
...----------------...
"Sudah minta Hamdan?" Rubiah membuka telapak tangannya.
Ayenir menunduk dalam. " Belum, Bu" katanya pelan.
"Selama tadi, kamu ngapain aja?" sentak nya sengit.
"Mas Hamdan masih capek Bu, Ayenir tidak tega mau minta uang"
__ADS_1
"Halah, alesan kamu! Hamdan pasti tidak keberatan meski harus hutang kalau itu untuk keperluan anaknya. Kamu ini gimana sih?" Kesal Rubiah, karena Ayenir tidak berhasil meminta uang untuk alasan beli susu hamil.
Ayenir hanya mampu meremas tangannya. Sebenarnya sejak awal dia memang tidak ingin menuruti rencana Ibu mertuanya, mengingat uang yang ia minta untuk membeli susu itu hanya akal-akalan Rubiah. jika benar Hamdan memberikan uang itu kemungkinan besar Rubiah lah yang akan menggunakannya.