Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Joya-Rion


__ADS_3

"BERHENTI!!!!"


Entah kebetulan atau memang takdir baik memihak kepada Rion. Tiba-tiba aparat kepolisian tiba di gudang tempatnya di paksa untuk membuat kesepakatan.


Petugas mengacungkan senjatanya ke arah Rian yang baru saja memukul Rion.


Dermawan buru-buru menjelaskan keadaan yang di curigai itu, tapi bagaimana pihak kepolisian percaya begitu saja saat melihat wajah Rion yang babak belur.


Anak, katanya? Keluarga macam apa yang semena-mena begitu? Alasan Dermawan tidak dapat diterima oleh pihak kepolisian, oleh karena itu mereka dibawa ke kantor polisi.


Rion meminta tolong kepada pihak kepolisian untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Dermawan dan Rian tidak memiliki kuasa untuk mencegah karena mereka masih di interogasi.


Polisi sudah menanyakan perihal hubungan mereka, dan Rion juga mengatakan jika mereka memang satu keluarga, tetapi untuk alasan mereka yang menyandra nya Rion meminta pihak kepolisian untuk menanyakannya sendiri pada Ayah dan Abangnya.


"Terimakasih, Pak" Pihak kepolisian benar-benar mengantarkan Rion sampai ruang rawat Jio. Melihat kedatangan suaminya bersama dengan polisi Joya kaget luar biasa, apalagi melihat keadaan Rion yang penuh lebam.


Oknum kepolisian itu juga sempat menanyai Joya, mungkin untuk memastikan bahwa Rion adalah suaminya.


"Siapa yang melakukannya, Mas." Begitu polisi pergi, Joya langsung menghampiri suaminya.


"Akh" Rion meringis saat Joya menyentuh bibirnya yang jontor. Joya juga langsung memanggil perawat untuk memeriksa keadaan Rion. Setelah mendapatkan penanganan dan perawat sudah mengobati Rion, barulah Joya ikut duduk di sofa tempat Rion kini berbaring.


"Aku tidak apa-apa," Rion tampak menenangkan istrinya, tetapi bagaimana Joya bisa tenang jika keadaan suaminya seperti ini.


Mata mereka saling terkunci, sebelum akhirnya Rion memutus lebih dulu.

__ADS_1


"Apa kamu sudah makan?" tanya Rion penuh perhatian.


Joya tidak langsung menjawab, wanita itu justru semakin menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah suaminya. "Apa mereka yang melakukannya?" tanya Joya, mengabaikan pertanyaan Rion sebelumnya.


Rion ingin mendudukkan dirinya, akan tetapi Joya mencegahnya." Tidak perlu bangun, Mas. Jawab saja pertanyaan ku"


Walaupun sudah berusaha terlihat tegar di depan semua orang tetapi sebenarnya Rion tau dunianya sedang tidak baik-baik saja, sedang tidak mudah tapi harus tetap dijalani demi putranya, dia harus kuat demi Jio, dan juga demi Joya saat ini. Karena dia kini menjadi kepala keluarga, dan hanya dia yang dipunya Jio.


Joya memandangi wajah suaminya yang baru tertidur, napasnya lembut dan bibirnya yang terkoyak sedikit terbuka.


Rion adalah orang yang sangat dekat dengan putranya, wajar jika Jio merasa sangat khawatir jika tau Rion terluka, meskipun Jio belum sepenuhnya paham. Beruntunglah Jio sejak makan malam sudah terlelap membuat Joya tak perlu menjawab pertanyaan anak laki-laki itu yang pasti menanyakan Ayahnya pergi kemana dan kapan pulang.


Sejak menikah dengan Rion, Joya memantau perkembangan kedai nya dari ponsel, Joya mementingkan kepentingan Jio, memprioritaskan kesehatan anak itu, memaksimalkan seluruh waktunya.


Bagaimana Joya tidak ikut sesak merasakannya. Padahal seharusnya mereka memang harus saling menjaga dan menguatkan. Tetapi kadang ada beberapa hal yang membuatnya tidak mudah.


Hingga menjelang subuh, Joya baru bisa tidur. Wanita itu tidur duduk di tengah-tengah Rion dan Jio, Joya duduk di kursi biasa, di samping brankar Jio dan di samping sofa tempat Rion terlelap.


"Apa boleh aku ingin mengikatmu seumur hidup? Membesarkan Jio bersama mu? " Rion mengenggam tangan Joya "Kita memang belum saling mengenal jauh, tetapi ku harap kamu menerimaku di dalam hidup mu, aku ingin menjaga kalian, kau tidak harus mencintaiku"


Joya membuka matanya, ketika mendengar suara-suara kecil. Begitu matanya terbuka dengan sadar, Joya melihat wajah Rion yang begitu dekat dengan wajahnya, bahkan Joya merasakan tangan Rion tengah mengenggam tangannya.


"Kita akan melaluinya bersama. Kamu tidak mungkin sendiri selamanya, aku mau menemanimu" Joya mencium punggung tangan Rion yang membuat pria itu agak kaget .


Begitu pagi mereka dilalui, ternyata Joya sempat mendengar ucapan suaminya subuh dini hari. Dan setelah mendengar jawaban Joya secara langsung, Rion tak membuang waktu, dan langsung menghubungi Ayah mertuanya.

__ADS_1


"Bawa anak Ayah kemanapun, jaga dia begitu juga dengan Jio. Ayah dan Bunda yakin Tuhan akan menyisakan kebahagiaan untuk anak-anak baik seperti kalian" Rion bersyukur mendapatkan dukungan dari keluarga Joya.


"Doakan kami, Ayah" hanya itu yang mampu Rion ucapkan sebagai salam perpisahan.


Siang itu. Pada akhirnya Rion benar-benar membawa Joya dan Jio pergi, dari rumah sakit sampai kerumah baru mereka nyatanya membutuhkan waktu sekitar 20 jam.


Ya, Rion bukan membawa Joya ke rumah dekat rumah sakit seperti rencananya sebelum di sekap keluarganya, Rion kini memilih meninggalkan tanah kelahirannya.


Karena lelah dan mengantuk, begitu mereka tiba di rumah baru mereka langsung terlelap. Bahkan Joya dan Rion tidur saling bergenggaman tangan dengan Jio yang berada di tengah-tengah mereka.


Joya turun pelan-pelan dari ranjang setelah melepas tangannya dari genggaman Rion agar tidak terbangun. Joya ingin membersihkan diri, tidak sadar jika suara derasnya air shower pada akhirnya membangunkan Rion.


Joya sudah memakai jubah mandi dan menggulung rambutnya yang basah saat Rion ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Oh, Maaf, A-aku lupa!" Rion berucap gugup, sepertinya pria itu benar-benar lupa jika kini dia sudah memiliki istri.


Itu benar, tadi begitu mendengar suara air, Rion pikir ada keran yang bocor, dia segera bangun dan ingin memeriksanya, tetapi dugaannya salah. Beruntunglah Joya sudah memakai jubah mandi.


Berbeda dengan Rion, Joya malah terlihat lebih santai, wanita itu hanya tersenyum simpul dan keluar dari kamar mandi.


Rion mandi cukup lama berharap bisa menenggelamkan kerisauannya. Dia dan Joya memang sudah menikah tapi mungkin tidak akan bisa serta merta me jadi layaknya suami istri sebagaimana mestinya.


Ketika Rion keluar Jio masih tidur. Sepertinya Joya sudah memperbaiki letak tidurnya sehingga lebih nyaman. Rion masuk keruang wardrobe, dan ternyata Joya masih disana, belum berpakaian, cuma memakai jubah mandinya tadi.


"Mas, ada yang perlu kita bicarakan" Joya bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri suaminya, akan tetapi kakinya menginjak tali jubah mandinya sendiri yang tadi menggantung saat duduk, membuatnya oleng dan hampir jatuh menghantam sofa, beruntungnya Rion cepat membaca situasi pria itu segera menangkap tubuh Joya yang membuat keduanya terpelanting dan berakhir Joya yang jatuh di atas tubuh Rion yang polos dibagikan atasnya.

__ADS_1


Keduanya mematung, saat merasakan sentuhan kulit dengan kulit yang menempel tanpa sekat, bahkan bibir mereka saling bersentuhan.


Rasa perih memang sempat Rion rasakan saat bibir Joya mendarat tepat di atas bibirnya yang terluka, akan tetapi rasa itu berubah menjadi sensasi hangat dan rasa aneh melingkupi perasaannya.


__ADS_2