Suamiku Milik Ibunya

Suamiku Milik Ibunya
Beda cerita.


__ADS_3

Hamdan menatap ibunya tak percaya, karena perkataan wanita itu yang begitu menusuk untuk di dengar. Bagaimana mungkin Rubiah langsung menengadahkan tangannya untuk meminta uang belanja sementara Hamdan saja baru saja pulang dari pengadilan.


Bukan hanya itu. Rubiah juga menyayangkan Hamdan tak sekalian menceraikan Ayenir.


"Ibu lakuin ini juga karena Ibu sayang kamu Hamdan, karena Ibu tidak ingin kamu punya istri yang tidak berguna!" Tekan Rubiah, tatkala Hamdan hendak berlalu sambil menarik Ayenir.


"Sayang itu menjaga, Bu! Ibu tau caraku menyayangi Ibu sepenuhnya. Ya, sepenuhnya bodoh. Ibu tau benar itu?" Hamdan mengeleng pelan.


Pukulan nasib membuat Hamdan limbung dalam lubang luka dan tak percaya. Bagaimana bisa wanita yang begitu ia hormati, begitu ia sayangi. Menjadi tak punya hati. Bahkan untuk mengasihinya yang katanya putra semata wayangnya saja tak wanita itu lakukan.


Ayenir hendak bersujud di kaki Rubiah, tetapi Hamdan lebih dulu menahan pundak wanita itu. Lelaki itu menatap mata basah wanita yang berstatus sebagai istrinya. Kemudian kepalanya menggeleng, memberi isyarat agar Ayenir tak perlu melakukannya.


"Apa-apaan kamu Hamdan?" Suara Rubiah melengking tinggi, saat Hamdan melewatinya dengan Ayenir di belakangnya.


Hamdan tak menghiraukan, dan pura-pura tak mendengar perkataan Ibunya. Jiwa dan raganya lelah. Lelah dalam artian sesungguhnya.


****


Joya pulang bersama dengan kedua orang tuanya. Meskipun dirinya kehilangan impian dan juga Hamdan. Tetapi hatinya lega, setidaknya dirinya bisa bebas berekspresi.


Sakit tak berdarah perasaan wanita yang dimadu. Hancur se hancur kepingan debu melihat suami yang selalu perhatian, berubah cuek.


Kini, Joya tidak perlu mengemis perhatian Hamdan. Joya tidak perlu berpura-pura kuat lagi, ia sudah melepaskannya dan sedang berupaya melupakan.


"Ayah sama Bunda harus secepatnya kembali, kamu masih mau disini dulu?" Ayah Joya menatap spion tengah guna melihat putrinya yang duduk bersama sang Bunda.


"Ya, Ayah. Nanti jika sudah siap, Joya akan pulang" jawab Joya mengenggam tangan Bundanya.


***


Hari berlalu dengan cepat. Joya yang niatnya ingin lari pagi malah jadinya duduk di taman memperhatikan orang lalu lalang, jika dulu paginya sibuk berkutat di dapur. Kini paginya lebih senggang.


Tidak ada yang perlu dimasakkan. Joya menghirup udara dalam-dalam.


Rupanya perpisahan tak sesakit yang dia bayangkan. Buktinya ia masih mampu menikmati hari ini.


Joya bangga pada dirinya sendiri. Mengenyahkan Hamdan dari pusat dunianya. Faktanya tak sesulit yang ia bayangkan. Joya hanya perlu mendoktrin diri bahwa ia pasti bisa berhenti. Dan ya, Joya berhasil menghentikannya, menjadikan Hamdan sebagai poros kehidupannya. Joya berhasil.

__ADS_1


Tidak mudah pada awalnya. Namun, nyatanya Joya mampu. Meskipun sepulang dari pengadilan Joya mengunci diri dan menangis tanpa henti.


Hari kedua bukan lagi tangis membahana. Hanya berupa lelehan kecil air matanya yang jatuh. Joya mulai menghapus potret kebersamaan mereka, tidak hanya dari ponsel dan dunia Maya, tapi juga dari hati yang masih lara.


Joya POV


Aku pikir, karena cintaku yang terlalu besar pada mas Hamdan , akan membuat aku sekarat saat berpisah dengannya, tapi dugaan ku salah.


Aku baik-baik saja. Bahkan beberapa hari ini aku sudah mulai menerima jalan yang di takdirkan sang pencipta untuk ku.


Author POV


Bercerai dengan Hamdan tak membuat Joya kesepian. Toh ada kedua orang tuanya, masih tetap memperhatikannya, bahkan kini ada beberapa temannya yang selalu support.


"Setahuku, melamun di pagi hari itu kurang baik!" Joya terkejut saat ada seseorang yang melambaikan tangannya di dekat wajahnya. "Jangan tengelam dalam pikiran, tidak baik!" Joya terseyum canggung.


"Abang, kok disini?" Ternyata lelaki itu adalah Rian.


"Joging!" balas Rian terseyum, sambil mendudukkan dirinya di samping Joya.


"Abang tinggal di sekitar dini?" tanya Joya kaget. Karena jika benar Rian tinggal di kompleks perumahan yang ia tempati, berarti begitu jauh pria itu ketika harus pergi ke firma hukum.


Joya menanggapinya dengan senyum pengertian.


Karena hari sudah semakin siang, akhirnya Joya berpamitan lebih dulu untuk pulang. Namun siapa sangka Rian justru mengantarnya dengan berjalan kaki beriringan.


"Disana rumah adikku!" Rian menunjuk bangunan yang serupa dengan milik Joya hanya beda blok dan terhalang tanah lapang. Tetapi mata tetap bisa melihat bangunan berwarna silver dengan pagar hitam tinggi yang di tunjuk Rian.


Tampak di sana beberapa mobil terparkir. Kemungkinan perkataan Rian benar, jika ia sedang ada acara bersama keluarganya.


Tin


Tin


Joya menoleh saat klakson mobil berbunyi. Dan tidak lama kaca mobil Pajero Sport yang berjalan pelan melewati pagar rumahnya diturunkan si pengemudi.


"Abang ngapain?" Suara seorang pria terdengar bertanya pada Rian.

__ADS_1


Joya ikut memperhatikan wajah si pria yang memangil Rian dengan sebutan Abang. Seketika Joya merasa tidak asing dengan wajah itu. Tapi siapa?


"Nganterin teman pulang joging!" Ucapan Rian mampu membuat Joya tersadar dari keterpakuannya.


"Joy, ini Rion. Adikku." meskipun pemuda itu tidak melihat kearah Joya, terapi Rian memperkenalkannya.


"Hai!" sapa Joya sedikit tersenyum.


Saat pria itu menoleh. Saat itu Joya mengingat sekilas bayangan dimana dia dulu pernah bertemu dengan adik Rian. Dan Joya langsung menunduk malu saat mengingat siapa pria itu.


Pemuda itu. Adalah pria yang waktu itu membayar minumannya. Pria itu yang dulu menolongnya saat Joya lupa membawa dompet.


Tidak ada kata basa-basi setelahnya. Karena sepertinya dua kakak beradik itu sedang buru-buru.


Joya juga buru-buru masuk kedalam rumahnya. Perasaannya tiba-tiba tak karuan. Pantas saja saat bertemu pertama kali dengan Rian Joya merasa pria itu mirip dengan seseorang. Ternyata pria yang pernah membantunya beberapa hari yang sudah lalu adalah adik Rian.


"Dia tetangga ku!" Gunam Joya pada diri sendiri.


****


"Ampun Bu!!!"


Napas Hamdan memburu saat melihat dengan kepalanya sendiri Rubiah menjambak rambut Ayenir yang sedang memeluk sapu.


"Apa-apaan Ibu ini???" Hamdan menghempas tangan Rubiah kasar. Ya Allah... dia begitu terenyuh melihat keadaan Istrinya.


Mata Rubiah mendelik pada Hamdan. Tetapi tidak lama, karena setelahnya wajahnya menjadi memelas seperti orang yang paling terzolimi di muka bumi.


"Istri mu keterlaluan Hamdan. Ibu hanya minta uang untuk membeli gula, tapi Ayenir tidak mau sama sekali memberi uang kepada Ibu!" air mata Rubiah berdesakan keluar.


Ayenir meremas tangannya. Itu fitnah. Rubiah bukan meminta uang untuk membeli apapun. Akan tetapi Rubiah memintanya untuk menyerahkan semua uang yang diberikan Hamdan padanya. Bahkan Rubiah mengatainya wanita tak berguna tak perlu mendapatkan apapun!


"Ya Allah.... Hanya dua puluh ribu Hamdan, tapi Ayenir tidak mau memberi pada Ibu."


"Cukup Ibu...!!!" Ayenir mendekati suaminya.


"Demi Allah, Mas. Bukan begitu kebenarannya!"

__ADS_1


Hamdan memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan.


Kejadian seperti ini pernah menimpa Joya dulu. Sayang dulu Hamdan tidak melihat adegan sebenarnya. Sedangkan saat ini Hamdan sempat melihat bahwa Ibunya lah yang melukai Ayenir. Apakah dulu Joya juga tidak benar-benar ingin menampar ibunya. Mungkinkah kala itu Joya terlalu kesal???


__ADS_2